Apa jadinya jika Elena, seorang Letnan Militer jenius dari masa depan terjebak di tubuh Rania Belmont. Nona bangsawan lemah yang selalu di siksa oleh Selir Ayah nya?
Di dunia baru ini, Elena bukan hanya harus membalas dendam pada mereka yang menyiksanya, tapi juga memikul beban berat dari sebuah Sistem. Mencegah Kiamat.
Caranya? Dengan menjinakkan Aron Gild, Raja Tirani berdarah dingin yang kekuatannya bisa menghancurkan dunia jika suasana hatinya memburuk.
Bagi dunia, Aron adalah monster, tapi bagi Elena, Aron adalah bayi besar yang haus kasih Sayang.
"Dunia ini bisa hancur besok, aku tidak peduli, tapi jika kamu yang pergi, aku sendiri yang akan memastikan tidak ada satu pun manusia yang tersisa di bumi ini untuk meratapi kematianmu, kamu adalah rumahku, Rania, dan rumahku tidak boleh tergores sedikit pun," ucap Aron posesif.
"Sial! Kalau dia se manis ini, indikator kiamatnya memang turun, tapi jantungku yang malah mau meledak!" batin Rania, mengigit bibir bawah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERDEBATAN MANIS
Aron menyeringai sinis, lalu dia bangkit berdiri dan merapikan jubah kebesarannya yang sedikit berantakan akibat kekacauan tadi, berjalan perlahan menuju meja kerjanya, mengambil segelas wine merah dan memutarnya perlahan.
"Biarkan mereka takut, ketakutan akan membuat mereka patuh," jawab Aron dingin sebelum menyesap minumannya.
"Soal Duke Victor, katakan padanya jika dia berani melangkah ke area pribadiku, aku akan menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap Kaisar," ucap Aron, tegas.
"Dan pastikan Duke Victor mendapatkan surat cerainya malam ini, dan soal dua wanita itu, biarkan mereka tetap hidup untuk sementara. Aku ingin Lady ku sendiri yang memutuskan bagaimana cara menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya," lanjut Aron.
"Baik, Yang Mulia," jawab Dav patuh.
Aron kemudian berjalan kembali ke arah sofa, ia duduk di lantai tepat di samping kepala Rania, membiarkan martabatnya sebagai penguasa tertinggi kekaisaran jatuh begitu saja demi bisa berada dekat dengan gadis itu.
Aron meraih tangan Rania yang terkulai lemas dan menggenggamnya erat.
"Kamu bilang kamu bukan milik siapa-siapa, Nona Melati?" gumam Aron dengan tawa rendah yang terdengar gelap.
"Sayangnya, aku tidak pernah menerima kata tidak dalam kamus hidupku, kamu sudah masuk ke sarang harimau, dan aku tidak akan membiarkanmu keluar, bahkan jika kamu memohon padaku," gumam Aron, posesif.
Cup
Dengan lancang nya, Kaisar yang terkenal dingin dan anti dengan perempuan itu mencium punggung tangan Rania dengan lembut, namun tatapan matanya berkilat penuh obsesi yang mendalam.
Aron tahu bahwa ada rahasia besar yang di sembunyikan gadis itu, tapi apapun itu dia tidak perduli, selagi gadis itu tidak menjauh dari sisinya.
"Istirahatlah yang cukup, Lady ku," bisik Aron lagi sambil menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa.
"Karena saat kamu bangun nanti, aku tidak akan membiarkanmu lari dari perjanjian yang baru saja kita buat melalui ciuman tadi," gumam Aron.
Aron terus memperhatikan wajah Rania, pria itu memicingkan mata nya, saat melihat kelopak mata Rania, bergerak samar.
"Oh ternyata, kau sudah bangun Hem," batin Aron, tersenyum miring.
"Sampai kapan kamu mau pura-pura tidur, Nona Melati?" tanya Aron tiba-tiba dengan suara rendah yang menggoda.
Tidak ada jawaban, Rania masih bergeming dengan mata terpejam rapat, membuat Aron terkekeh pelan.
"Kalau kamu tidak bangun dalam hitungan ketiga, aku akan menganggap ini sebagai undangan untuk melanjutkan ciuman yang tadi," lanjut Aron, nada suaranya berubah menjadi lebih serak.
"Satu..."
"Dua..."
Seketika, mata hitam jernih Rania terbuka lebar, dia langsung duduk tegak dengan gerakan cepat, mengabaikan rasa pening yang masih berputar di kepalanya, tatapannya tajam dan penuh permusuhan.
"Berhenti bersikap menjijikkan, Yang Mulia. Kamu pikir ancaman murahan itu mempan padaku?" semprot Rania sambil merapikan gaunnya dengan kasar.
Bukan nya marah, justru Aron tersenyum puas melihat reaksi galak gadis nya, sangat menikmati amarah Rania.
"Ternyata benar, kamu jauh lebih cantik saat sedang marah," puji Aron dengan tatapan yang tidak lepas dari wajah Rania.
"Tidak perlu merayu ku, karena itu tidak akan membuatku luluh," ucap Rania mendengus sinis, dia menatap Aron dengan pandangan meremehkan.
Rania mencoba berdiri, namun kakinya sedikit lemas, membuatnya hampir terjatuh kembali.
"Hati-hati," ucap Aron khawatir, dengan sigap, tangan Aron menangkap lengannya, menahan tubuh gadis itu agar tetap stabil.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri," ucap Rania sambil menepis tangan Aron dengan kuat.
"Kamu baru saja kehilangan banyak energi, jangan keras kepala," jawab Aron, suaranya sedikit meninggi namun tetap terdengar lembut.
"Duduk dan minum air ini, aku tidak mau Lady-ku mati konyol, sebelum kita melanjutkan ciuman yang tadi," ucap Aron, santai.
"Kau!"
Geram Rania, dengan pipi memanas.
"Berhenti membahas itu, anggap saja itu tidak pernah terjadi," ucap Rania, kesal sekaligus malu.
Aron tertawa kecil melihat pipi merona Rania, dia menyerahkan segelas air putih yang sudah dia siapkan.
Sementara Rania menatap gelas itu dengan curiga, seolah-olah air di dalamnya telah dicampur racun paling mematikan di kekaisaran.
"Minum, Rania, aku tidak se picik itu untuk meracuni orang yang baru saja mencium ku," ucap Aron, memutar bola matanya malas.
Rania merampas gelas itu dan meminumnya hingga tandas, dia merasa sedikit lebih baik, namun emosinya masih membara.
"Sekarang, biarkan aku pergi. Ayah dan Kakakku pasti sedang mengkhawatirkan ku" perintah Rania, datar.
"Aku tidak ingin di kurung oleh kaisar gila ini, karena aku belum memberikan hukuman untuk mereka berdua," batin Rania.
Aron bangkit dari kursinya, berjalan memutari sofa hingga dia berdiri tepat di depan Rania, mengurung gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sandaran sofa di kiri dan kanan kepala Rania.
"Kenapa terburu-buru? Bukankah kamu bilang ingin bertahan hidup? Di sini, di sisiku, kamu tidak perlu lagi berakting menyedihkan hanya untuk mendapatkan perlindungan," bisik Aron, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rania.
Rania menyeringai dingin, mendongak menatap Aron tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kamu salah paham, Yang Mulia, aku tidak butuh perlindunganmu, atau siapapun, aku hanya butuh kamu tidak menghalangi jalanku saat aku sedang membakar sampah-sampah itu," ucap Rania, menggelengkan kepalanya.
Aron terdiam sejenak, lalu tawa rendahnya kembali terdengar, menarik diri nya sedikit, memberikan ruang napas bagi Rania, namun tatapan matanya tetap mengunci gadis itu.
"Menarik. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?" tawar Aron dengan kilat licik di matanya.
"Aku akan memberikanmu kebebasan untuk menghancurkan siapapun yang kamu mau, dan sebagai gantinya... kamu harus tetap pawang untuk kegelapanku," lanjut Aron, tersenyum misterius.
Rania menaikkan satu alisnya, tampak menimbang-nimbang tawaran yang cukup menguntungkan itu.
"Tidak tertarik, tanpa ijin dari Anda pun aku bisa menghancurkan siapapun," jawab Rania, mengangkat bahunya acuh.
"Hey gadis keras kepala, aku ini seorang kaisar kalau kamu lupa," ucap Aron, tersenyum miring.
"Terus? Apa peduliku," jawab Rania, memutar bola matanya malas.
Kaisar Aron menghela nafas nya panjang, dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ternyata gadis nya ini cukup keras kepala.
Ding
"Terima tawaran Kaisar Aron, untuk menjaga suasana hati nya."
"Sistem sialan!" batin Rania, geram.
"Berikan ciuman untuk membuat hati Kaisar Aron semakin terikat pada Anda, hadiah bukti kematian Duches Eleanor."
Deg
Rania menegang, bukan karena misi gila dari sistem, tapi karena hadiah yang akan di berikan.
"Bukti kematian Ibu Rania?" bisik Rania pelan.
"Apa? Kamu berbicara apa Hem?" tanya Kaisar Aron, menatap Rania.
Rania menghela nafas nya panjang, dan balik menatap Kaisar Aron.
"Tidak ada syarat aneh-aneh seperti harus jadi Permaisuri atau semacamnya?" tanya Rania.
Kaisar Aron mendekatkan bibirnya ke telinga Rania, membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Rania berdiri.
sehat selalu buat autor paling the best lah pokoknya 👏👏👏👏