NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Berbusa Putih

Suara lenguhan parau dan hantaman tubuh-tubuh berat ke tanah membuat fajar terasa seperti neraka jahanam.

Saskia terbangun oleh suara itu. Bukan suara ayam berkokok. Bukan suara burung pagi. Tapi suara sapi yang sekarat. Ia melompat dari kursi di depan monitor CCTV, hampir tersandung kabel, dan berlari ke kandang belakang.

Pemandangan yang menyambutnya membuat darahnya membeku.

Dara. Tergeletak miring di jerami. Mulutnya berbusa putih. Lidahnya menjulur, berwarna kebiruan. Keempat kakinya menendang-nendang lemah, kejang-kejang tanpa ritme. Matanya terbuka lebar, pupilnya mengecil jadi titik hitam kecil.

Di sebelahnya, sapi kedua. Posisi sama. Gejala sama. Sapi ketiga. Keempat.

"TIDAK! TIDAK! TIDAK!"

Saskia berlari ke palung minum. Airnya masih penuh. Tapi sekarang ia tahu kenapa. Racun. Seseorang meracuni airnya. Tapi tidak semua sapi minum. Dara menolak. Tiga lainnya menolak. Yang minum... yang minum adalah sapi-sapi yang baru datang. Sapi-sapi Wagyu yang baru tiba dari pengiriman kedua. Sembilan ekor. Sembilan ekor sapi yang masih dalam masa adaptasi, yang belum terlatih untuk menolak air yang tidak dikenalnya.

Sembilan ekor. Semuanya tergeletak.

"Julian! Julian, telepon ambulans hewan! SEKARANG!"

Julian, asisten barunya yang baru seminggu bekerja, berlari masuk dengan wajah pucat. "Ambulans hewan? Di desa ini? Mbak, nggak ada!"

"Telepon Daniel! Cepat!"

Saskia tidak menunggu jawaban. Ia berlari ke setiap sapi, memeriksa gejalanya satu per satu. Mulut berbusa. Lidah kebiruan. Pupil mengecil. Kejang-kejang ritmis lalu melemah. Otot-otot leher kaku.

Sianida.

Gejalanya terlalu khas. Terlalu sempurna. Sianida menghambat enzim sitokrom oksidase di mitokondria. Sel-sel tubuh tidak bisa menggunakan oksigen. Darah penuh oksigen, tapi jaringan mati lemas. Itu sebabnya lidah kebiruan tapi darah arteri tetap merah terang. Itu sebabnya kejang-kejang seperti epilepsi. Itu sebabnya...

"Waktu. Aku butuh waktu."

Tidak ada antidotum untuk sianida pada sapi. Natrium tiosulfat bisa membantu, tapi itu harus diberikan dalam hitungan menit setelah keracunan. Dan di kandangnya, di desa Malang Selatan, tidak ada natrium tiosulfat. Tidak ada apapun.

Kecuali satu hal.

Saskia berlari ke monitor CCTV. Jemarinya menekan tombol power. Mati. Semua panel mati.

"Aku tidak bisa..."

Ia tidak bisa ke pohon besar. Satpam ada di depan. Julian ada di kandang. Mereka akan melihat. Mereka akan tahu. Tapi sembilan sapinya sekarat. Waktu: tiga puluh menit. Mungkin kurang.

"Julian! Keluar! Sekarang! Bawa satpam! Tutup pintu depan! Jangan biarkan siapapun masuk!"

"Mbak, tapi—"

"KELUAR!"

Julian mundur, wajahnya ketakutan. Ia belum pernah melihat Saskia seperti ini. Matanya liar. Suaranya bergetar tapi keras seperti bentakan. Tangannya sudah berdarah entah sejak kapan.

Pintu depan tertutup. Langkah kaki menjauh.

Saskia jatuh berlutut di tengah kandang. Sembilan sapi tergeletak di sekelilingnya. Bau busa dan keringat dan ketakutan memenuhi udara. Di luar, matahari mulai terbit, mengirim cahaya jingga melalui celah-celah dinding.

Ia menutup mata. Masuk ke ruang spasial.

Langit keemasan. Rumput hijau. Batu besar dengan mata airnya. Tapi kali ini Saskia tidak berlutut dengan tenang. Ia membanting kedua tangannya ke dalam air, menciduk sebanyak-banyaknya, tidak peduli dengan peringatan di batu: "Setiap Tetes Adalah Nyawa."

"Sembilan sapi. Masing-masing butuh minimal tiga tetes. Dua puluh tujuh tetes. Aku tahu aku akan mati. Terserah."

Air Suci mengalir deras di telapak tangannya. Lebih banyak dari yang pernah ia ambil sebelumnya. Jauh lebih banyak. Ia merasakan tarikan di dadanya, seperti ada tangan raksasa yang meremas jantungnya dari dalam. Tapi ia terus menciduk. Terus menciduk.

Ia kembali ke dunia nyata.

Darah langsung menetes dari hidungnya. Bukan beberapa tetes. Aliran deras yang langsung membasahi bibir, dagu, leher. Tapi ia tidak peduli. Ia merangkak ke sapi pertama.

"Dara... bukan. Dara di kandang lain. Ini sapi baru. Nomor 07. Tidak apa. Minum."

Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes. Sapi itu tersentak. Kejangnya berhenti. Matanya yang tadinya mengecil, mulai melebar lagi.

"Bagus. Bagus. Berhasil."

Sapi kedua. Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes.

Sapi ketiga. Darah mulai menetes dari telinganya sekarang. Hangat, mengalir di samping wajahnya. Pendengarannya mulai berdengung. Tapi ia terus bergerak.

Sapi keempat. Kelima. Keenam. Pandangannya mulai kabur di tepi. Ada bintik-bintik hitam menari di depan matanya. Tapi ia terus merangkak. Lututnya lecet. Telapak tangannya berdarah bukan cuma dari hidung, tapi dari luka-luka kecil akibat merangkak di lantai kandang yang kasar.

Sapi ketujuh. Kedelapan. Air Suci di telapak tangannya hampir habis. Ia harus kembali ke ruang spasial. Tapi tubuhnya sudah terlalu lemah. Terlalu banyak darah yang keluar. Dari hidung. Dari telinga. Sekarang dari sudut matanya. Darah. Bukan air mata.

"Satu lagi. Tinggal satu lagi."

Sapi kesembilan. Yang terbesar. Nomor tag 03. Yang hampir mencapai grade A5. Yang paling mahal. Yang paling berharga.

Saskia merangkak ke arahnya. Tangannya yang berdarah menuangkan sisa Air Suci ke mulut sapi itu.

Satu tetes.

Dua tetes.

Tiga tetes.

Sapi itu diam. Nafasnya masih tersengal. Busanya masih mengalir. Matanya masih mengecil.

"Tidak... tidak... kenapa tidak...?"

Ia menuangkan lagi. Sisa-sisa terakhir dari telapak tangannya. Tidak ada lagi. Air Suci sudah habis.

Sapi itu tetap diam.

Lalu nafasnya berhenti.

"Bangun. BANGUN!"

Saskia menampar pipi sapi itu. Menekan dadanya. Mencoba resusitasi jantung. Tapi sapi seberat enam ratus kilogram tidak bisa disadarkan dengan tangan manusia. Dan Air Sucinya sudah habis. Dan tubuhnya sendiri sudah tidak bisa lagi masuk ke ruang spasial.

Darah terus mengalir dari hidungnya, dari telinganya, dari sudut matanya. Pandangannya tinggal setengah. Setengah lainnya gelap.

"Delapan," bisiknya. "Delapan selamat. Satu mati lagi."

Satu Wagyu raksasa membeku di depan matanya yang mulai digenangi darah. Ia tumbang.

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!