NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Surat Bersih Tanpa Syarat

****

Jarum jam dinding di ruang kelas XII MIPA 2 tepat menunjukkan pukul tiga sore lewat beberapa menit ketika bel panjang tanda berakhirnya seluruh jam pelajaran sekolah berdering nyaring. Suara itu seolah menjadi penanda berakhirnya ketegangan yang sejak pagi tadi menggantung rendah di atas kepalaku. Seiring dengan riuh rendah langkah kaki para murid yang berhamburan merapikan tas ransel mereka untuk bergegas pulang, aku masih terduduk diam di barisan bangku paling depan. Sinar matahari sore yang mulai condong ke barat menerobos masuk lewat celah jendela kaca koridor, menyinari pergelangan tangan kananku tempat gelang perak dengan bandul bintang kecil pemberian Saka melingkar dengan indah.

"Mik, lo gak mau langsung balik?" tanya Risa sambil menyampirkan tas ranselnya di bahu kiri, menatapku dengan binar mata yang kini jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. "Mobil minibus perak anak-anak pangkalan IPS udah stand-by lagi di jalur belakang kantin kayak kemarin, lho."

Aku tersenyum tipis, meraba draf amplop cokelat tebal bermaterai resmi yang sejak siang tadi tersimpan aman di dalam tas ranselku. "Gue mau langsung balik kok, Ris. Cuma mau memastikan sesuatu aja dulu di koridor luar sebelum jalan."

Amplop cokelat tebal yang kupegang itu adalah bukti nyata dari kemenangan mutlak Saka di ruang Kepala Sekolah kemarin sore. Tepat jam sepuluh pagi tadi, seorang kurir resmi dari Yayasan Dirgantara Pendidikan datang ke sekolah hanya untuk menyerahkan draf bersih dokumen beasiswa penuh kuliahku untuk tahun depan. Kontrak itu datang tanpa ada lembar klausul tambahan, tanpa syarat pemerasan emosional, dan bersih total dari jeratan manipulasi psikologis yang biasa digunakan oleh Devan Dirgantara untuk mengurung kebebasan hidupku. Sanksi skorsing dua minggu untuk sang mantan Ketua OSIS pun dipastikan berjalan mutlak tanpa ada kompromi dari pihak dinas kesiswaan kota.

"Ya udah, kalau gitu kita jalan bareng ke bawah. Gue nemenin lo sampai pintu belakang kantin," ucap Risa sambil menarik lengan almamaterku lembut.

Kami berdua berjalan beriringan menyusuri selasar koridor kelas dua belas yang perlahan-lahan mulai sepi dari lalu lalang murid. Namun, baru saja langkah kaki kami menapak di belokan anak tangga pertama menuju lantai dasar, sebuah siluet tubuh tinggi tegap yang sangat kukenal sudah berdiri tegap bersandar di balik tembok pilar beton.

Saka Aditya.

Cowok ugal-ugalan dari jurusan IPS itu berdiri di sana menantang angin sore yang sejuk. Setelan seragam putih abu-abunya terpasang dengan sangat rapi mematuhi aturan sekolah—baju dimasukkan dengan sempurna, dasi terpasang kencang, dan almamater biru tuanya terkancing rapi. Namun, potongan rambut pendek barunya yang hitam bersih tidak mampu menyembunyikan aura berandal luar sekolah yang sangat kuat yang memancar dari dalam dirinya. Seringai tipis nan ugal-ugalan yang sangat khas terukir di sudut bibirnya yang tampan saat mata elangnya menangkap kedatanganku tepat pada pukul tiga sore ini.

"Sore, cewek keras kepala," sapa Saka dengan nada suara baritonnya yang serak, rendah, namun memiliki penekanan tak terbantahkan yang seketika membuat dadaku berdesir aneh. Dia melangkah maju dua langkah, langsung memotong jarak di antara kami hingga tubuh tingginya menjulang kokoh memberikan perlindungan mutlak bagi diriku.

"Sore, Sak. Lo kok udah di sini aja? Gak ada jadwal kumpul bareng anak-anak pangkalan IPS sore ini?" tanyaku sambil mendongak, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di kedua pipiku.

Saka terkekeh sinis, sebuah tawa lirih yang terdengar begitu seksi namun sarat akan keagresifan tulus yang selalu berhasil mengunci seluruh fokus kesadaranku. Dia meraih pergelangan tangan kananku dengan satu gerakan cepat yang sangat posesif, membiarkan bandul bintang kecil di gelang perakku menekan kulitku dengan mantap.

"Jadwal pangkalan bisa digeser nanti malam, Mikaela. Sore ini, tugas utama gue cuma memastikan kalau draf bersih beasiswa tanpa syarat dari yayasan keluarga Devan bener-bener udah sampai ke tangan lo tanpa ada cacat sedikit pun," geram Saka rendah, matanya menyipit tajam melirik ke arah tas ranselku tempat draf berkas itu disimpan.

"Udah sampai kok, Sak. Tadi pagi jam sepuluh langsung diantar ke kelas lewat guru piket. Semuanya bersih, gak ada klausul tambahan tentang Devan atau ancaman denda administrasi lagi," jawabku tulus, menatap lekat-lekat ke arah wajah tegasnya yang berada sangat dekat.

"Bagus," seringai tajam Saka semakin melebar, memancarkan pesona *bad boy* versi patuh aturan yang jauh lebih tak dapat diprediksi pergerakannya. "Si ular manipulatif itu bener-bener udah kehilangan seluruh giginya di dalam sekolah ini setelah bapaknya ketakutan setengah mati pas gue ancam pake draf rekaman suara digital kemarin sore. Tapi lo harus tetap ingat satu hal, Mik..."

Saka menjeda kalimatnya sesaat, memajukan posisi tubuhnya hingga aku bisa merasakan dengan jelas kehangatan tubuhnya yang tegap dan aroma parfum maskulinnya yang menguar kuat di udara koridor sore yang sepi.

"Meskipun draf bersih beasiswa itu udah lo pegang, pengawasan gue terhadap keselamatan lo di luar sekolah gak bakal pernah berkurang satu senti pun. Sifat berandal dan keagresifan gue gak hilang hanya karena pakaian seragam gue sekarang terkancing rapi menuruti sistem kaku sekolah. Sisa masa skorsing dua minggu Devan di rumah adalah waktu yang sangat rawan. Dia pasti lagi memutar otak di luar sana buat mencari cara ugal-ugalan baru untuk membalas dendam," tutur Saka dengan untaian kalimat yang begitu matang, taktis, namun sarat akan obsesi protektif yang teramat pekat.

Risa yang berdiri di belakangku hanya bisa menggelengkan kepala pasrah melihat bagaimana posesifnya cara perlindungan yang diberikan oleh Saka sore itu. "Duh, ampun deh, bener-bener gak dikasih celah sedikit pun ya si Mika buat lepas dari pandangan lo, Sak. Ya udah, karena tugas gue menjaga Mika di kelas udah selesai sore ini, gue duluan ya ke parkiran mobil depan. Gak sudi gue lama-lama berdiri di sini cuma buat jadi penonton hubungan *red flag* kalian!" cetus Risa ketus yang dibuat-buat, lalu berjalan melintasi kami menuruni tangga dengan langkah kaki yang cepat.

Setelah kepergian Risa, suasana di belokan tangga koridor lantai dua itu mendadak terasa jauh lebih sunyi dan intim. Saka menurunkan kembali tangannya, namun jemarinya kini mengunci erat sela-sela jari tangan kananku, menggenggamnya dengan kehangatan luar biasa yang seolah menyalurkan getaran kekuatan ke dalam seluruh aliran darahku.

"Sore ini lo gak usah ikut ke pangkalan IPS belakang pasar lama dulu, Mik. Reno dan anak-anak pangkalan udah sterilin jalur pulang komplek lo pake minibus perak di bawah," ucap Saka, nada suaranya berubah menjadi jauh lebih serius namun tetap tenang. "Gue mau lo langsung pulang ke rumah, istirahat yang cukup, dan biarkan draf bersih beasiswa itu jadi jaminan ketenangan pikiran lo malam ini."

"Lo sendiri mau ke mana setelah ini, Sak?" tanyaku cemas, meremas balik jemari tangan kokohnya karena ada sisa kekhawatiran yang kembali mencuat di dalam benakku tentang pergerakan balasan dari kubu Devan di luar sekolah.

Saka mengeluarkan tawa lirih yang sangat dingin, sebuah seringai kemenangan yang sarat akan rencana pertahanan tingkat tinggi kembali terukir di wajah tampannya. "Gue mau mampir sebentar ke pangkalan bengkel tua, Mik. Gue mau menyuruh anak-anak buat mengunci total seluruh akses informasi luar sekolah yang berhubungan dengan lingkungan tempat tinggal lo. Gue gak bakal memberikan celah sekecil apa pun bagi Devan Dirgantara buat mengirim mata-mata baru atau menggunakan kekuatan modal keluarganya untuk mengusik kebebasan hidup lo lagi di luar sana. Selama gelang bintang ini masih melingkar di tangan lo... lo adalah hak milik perlindungan mutlak dari seorang Saka Aditya, dan gak akan ada satu pun kekuatan yang bisa merebutnya dari gue."

Gue tertegun mematung di hadapannya, menatap kagum sekaligus diliputi rasa aman yang luar biasa pekat mendengar untaian janji nekat penuh proteksi beracun dari mulut cowok di hadapanku ini. Saka Aditya benar-benar membuktikan bahwa di bawah lingkaran keagresifan tulus miliknya, dia siap menjelma menjadi benteng pertahanan paling kokoh yang tidak akan pernah bisa dihancurkan atau dibeli oleh draf hukum modal mana pun di dunia nyata. Aku mengangguk pelan sebagai tanda kepatuhan mutlak pada perintah posesifnya sore ini. Sumbu konflik asmara berkarakter *red flag* penuh adrenalin ini memang telah resmi dimenangkan secara mutlak di dalam sistem kaku sekolah, namun dengan pergerakan plot yang kian hari kian taktis dan padat konfrontasi, aku tahu kami selalu siap menghadapi badai baru apa pun yang sedang dirancang oleh takdir di luar dinding SMA Tunas Bangsa di masa depan.

### **Komentar Penulis (Author's Corner)**

> **Selamat sore seluruh pembaca setia novel RED FLAG!** kalian bisa langsung menikmati kelanjutan kisah asmara ugal-ugalan penuh proteksi beracun ini tanpa salah waktu nyapa lagi ya!

> Di Bab 34 ini, kepuasan kita bener-bener lengkap setelah melihat draf bersih dokumen beasiswa penuh tanpa syarat resmi jatuh ke tangan Mikaela tanpa ada lagi intervensi dari kubu keluarga besar Dirgantara. Langkah taktis Saka Aditya yang sukses mengombinasikan kerapian seragam sekolah dengan keagresifan berandal luar sekolah terbukti ampuh mengunci mati seluruh pergerakan manipulasi psikologis milik Devan!

> Momen interaksi manis namun sangat posesif antara Saka dan Mika di belokan tangga koridor pada jam tiga sore tadi bener-bener nunjukin esensi sejati dari karakter *red flag* protektif yang bikin candu dan selalu dinanti-nantikan kelanjutannya. Tapi ingat, sisa masa skorsing dua minggu Devan di rumah adalah bom waktu baru yang patut kita waspadai bersama anak-anak pangkalan IPS!

> Kira-kira langkah pertahanan ekstrem seperti apa lagi yang bakal disiapkan oleh Saka di pangkalan bengkel tua pasar lama malam ini untuk mengantisipasi serangan balik dari Devan? Yuk, jangan sampai ketinggalan kelanjutan kisahnya besok sore! Langsung klik tombol **Like** di bawah, berikan **Vote** yang banyak untuk kelancaran novel kita di NovelToon, dan ramaikan selalu kolom **Komentar** dengan seluruh teori gila kalian! Sampai berjumpa di Bab 35 besok sore jam tiga tepat, *keep reading, stay sharp, and stay alert, guys!*

>

1
Indah Sari Nurwahyuningtyas
tapi bagus ga si kalo si saka sama devan kerja sama buat dapetin Mikaela kan jadi seru
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!