NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Tidak Semua Orang Ramah

Tidak terasa sudah satu bulan Luna bekerja di Dimitri Group.

Awalnya semuanya berjalan cukup baik.

Ia mulai memahami ritme kerja divisi Public Relations.

Mulai mengenal banyak rekan kerja.

Dan semakin percaya diri dengan kemampuannya.

Bahkan beberapa tugas yang diberikan Amanda berhasil diselesaikannya dengan baik.

Namun seiring berjalannya waktu, Luna mulai menyadari satu hal.

Masalah terbesar di kantornya bukan pekerjaan.

Melainkan manusia.

---

Hari itu Luna dan Sisil baru saja tiba di kantor.

Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi.

Namun meja mereka sudah dipenuhi map dan dokumen.

Sisil langsung menghela napas panjang.

"Lagi."

Luna menatap tumpukan dokumen itu.

"Rita?"

Sisil mengangguk.

"Siapa lagi?"

Luna menghela napas pelan.

Sudah hampir tiga minggu terakhir mereka mengalami hal yang sama.

Rita dan Adel adalah dua staf senior di divisi mereka.

Keduanya sudah bekerja lebih dari tujuh tahun di perusahaan.

Secara jabatan mereka bukan atasan.

Bahkan Amanda tetap kepala tim mereka.

Namun karena masa kerja yang panjang, hampir semua karyawan baru cenderung segan kepada mereka.

Dan sayangnya...

Keduanya sangat menikmati posisi itu.

---

"Luna."

Suara Rita terdengar dari kejauhan.

Wanita berusia awal tiga puluhan itu berjalan menghampiri sambil membawa beberapa berkas tambahan.

"Tolong data ini direkap sebelum makan siang."

Luna menerima map itu.

Namun saat melihat isinya, ia sedikit terkejut.

Tugas tersebut sebenarnya bukan bagian Public Relations.

Melainkan administrasi divisi lain.

"Bu Rita, ini dari divisi procurement ya?"

Rita tersenyum tipis.

"Iya."

"Tapi..."

"Kenapa?"

Luna langsung menghentikan kalimatnya.

Ia tidak ingin mencari masalah.

"Baik, Bu."

Rita mengangguk puas lalu pergi.

Begitu wanita itu menjauh, Sisil langsung mendekat.

"Aku yakin dia sengaja."

Luna hanya tersenyum kecil.

"Biar aja."

"Biar aja gimana?"

Sisil langsung kesal.

"Itu bukan kerjaan kita."

Luna tahu.

Sangat tahu.

Namun selama ini ia memilih diam.

---

Di sisi lain.

Amanda sebenarnya beberapa kali menegur Rita dan Adel secara halus.

Namun keduanya cukup pintar.

Mereka selalu membuat semuanya terlihat seperti bentuk "bimbingan kepada junior."

Akibatnya tidak ada alasan kuat untuk menegur mereka secara langsung.

Dan Luna tidak pernah melapor.

Jadi masalah itu terus berulang.

---

Siang harinya.

Saat jam makan siang tiba, Luna dan Sisil duduk bersama di kantin.

Sisil masih terlihat kesal.

"Aku capek."

kata Sisil.

Luna tertawa kecil.

"Baru satu bulan."

"Justru itu."

Sisil menusuk ayam gorengnya.

"Aku pikir dunia kerja serem karena pekerjaan."

"Ternyata karena senior."

Luna hampir tertawa.

Kalimat itu memang ada benarnya.

---

"Tapi kamu hebat sih."

kata Sisil tiba-tiba.

Luna mengernyit.

"Apa?"

"Kamu sabar banget."

Luna tersenyum tipis.

"Sebenarnya aku juga kesel."

"Nggak kelihatan."

"Aku cuma nggak mau ribut."

Sisil mengangguk pelan.

Ia mulai memahami karakter Luna.

Wanita itu memang bukan tipe yang suka konflik.

---

Namun masalah tidak berhenti di situ.

Beberapa hari kemudian.

Saat Luna sedang menyusun materi untuk acara perusahaan, Rita kembali datang.

Kali ini tatapannya tertuju pada tas yang dibawa Luna.

Tas berwarna krem sederhana.

Elegan namun tidak mencolok.

"Hmm."

gumam Rita.

Luna mengangkat kepala.

"Iya, Bu?"

Rita tersenyum.

"Tas kamu lucu."

"Terima kasih."

"Harganya mahal ya?"

Luna sedikit bingung.

"Tidak juga."

Rita mengamati tas itu beberapa detik.

"Lihatannya bukan barang murah."

Luna tersenyum sopan.

"Oh, ini?"

Ia mengangkat tasnya sedikit.

"KW kok."

Rita terlihat terkejut.

"Serius?"

"Iya."

Luna mengangguk santai.

Padahal sebenarnya tas itu adalah hadiah ulang tahun dari Kakek Dimitri beberapa minggu lalu.

Dan tentu saja bukan barang KW.

Namun Luna tidak ingin menjelaskan.

Semakin sedikit orang tahu tentang kehidupannya, semakin baik.

---

Sayangnya percakapan itu tidak berhenti di sana.

Sejak hari itu Rita semakin sering memperhatikan penampilan Luna.

Mulai dari jam tangan.

Sepatu.

Sampai blazer yang dikenakannya.

"Hari ini pakai sepatu baru ya?"

tanya Rita suatu pagi.

Luna tersenyum.

"Hadiah."

"Wah."

Rita mengangguk.

"Pacarnya kaya?"

Luna hampir tersedak kopi.

Pacar?

Kalau wanita itu tahu siapa suaminya mungkin dia tidak akan bisa tidur semalaman.

Namun Luna hanya tersenyum.

"Nggak juga."

---

Di meja sebelah.

Sisil yang mendengar percakapan itu langsung memutar mata.

Begitu Rita pergi, ia berbisik,

"Aku nggak suka dia."

Luna tertawa kecil.

"Sisil."

"Aku serius."

"Kamu nggak capek apa ngurusin hidup orang lain?"

Luna hanya menggeleng pelan.

Ia sudah terbiasa menghadapi berbagai macam karakter manusia.

Dan selama belum keterlaluan, ia memilih mengabaikannya.

---

Sore itu.

Luna mendapat telepon dari Alex.

"Udah pulang?"

tanya Alex.

"Belum."

"Lembur?"

"Sedikit."

Alex mengernyit meski Luna tidak bisa melihatnya.

"Kamu sering lembur akhir-akhir ini."

Luna tersenyum kecil.

"Biasa."

Namun sebenarnya sebagian pekerjaan itu bukan tugasnya.

Hanya saja Luna tidak pernah menceritakannya kepada Alex.

Karena ia tahu persis apa yang akan terjadi.

Alex pasti akan turun tangan.

Dan Luna tidak ingin mendapatkan perlakuan khusus.

---

Malamnya.

Saat mereka makan malam bersama, Alex memperhatikan istrinya.

"Kamu capek."

bukan pertanyaan.

Melainkan pernyataan.

Luna mengangkat kepala.

"Kelihatan?"

"Iya."

Luna tertawa kecil.

"Mungkin karena kerja."

Alex tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru berubah sedikit tajam.

Karena selama beberapa minggu terakhir ia sebenarnya sudah menerima laporan tidak resmi dari Ryan.

Tentang bagaimana beberapa senior di lantai 23 sering melimpahkan pekerjaan kepada staf baru.

Namun Alex memilih diam.

Karena ia ingin Luna berkembang dengan kemampuannya sendiri.

Bukan karena campur tangan dirinya.

Setidaknya untuk saat ini.

---

Keesokan harinya.

Saat Luna dan Sisil kembali datang ke kantor, mereka tidak tahu bahwa sesuatu sedang berubah.

Di lantai 40.

Ryan baru saja menyerahkan laporan evaluasi karyawan kepada Alex.

Dan di dalam laporan itu terdapat beberapa catatan mengenai perilaku Rita dan Adel.

Alex membaca dokumen tersebut perlahan.

Sangat perlahan.

Sementara Ryan yang duduk di depannya hanya bisa tersenyum kecil.

Karena ia tahu satu hal.

Alex mungkin bisa diam sebagai CEO.

Namun sebagai suami?

Kesabarannya memiliki batas.

Dan tanpa disadari Rita dan Adel...

Mereka mulai mendekati batas itu.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!