Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Lahir di Lantai
Lantai granit itu terasa sedingin es di bawah punggungnya yang basah.
Otot rahimnya memilin paksa tanpa peringatan. Rasa nyeri merobek pangkal panggul, sekuat hantaman godam besi bertubi-tubi. Cairan kental berbau karat menggenang luas di bawah bokongnya, menodai gaun sutra putih yang kini robek dan kotor.
"Lo yakin mau nunggu sampai pagi?" Suara Haryo serak di luar sana. Terdengar bunyi gesekan keras pantat bot pada lantai kayu teras. Korek api menyala sesaat, memicu bau tajam tembakau murahan.
"Tugas kita cuma nunggu dia mati." Jawaban pria kedua terdengar kesal. Nada suaranya bergetar menahan dingin. "Nggak usah bikin ribet. Nyonya Kania udah bayar mahal buat tutup mulut kita."
"Tapi ini istrinya Adrian Halim, Bego." Nada panik naik satu oktaf. "Lo tahu reputasi Halim, kan? Kalau dia tahu istrinya dibuang ke gudang berjamur ini, kepala kita berdua bakal digantung di gerbang tol besok pagi."
"Makanya pastiin bayi itu nggak pernah lahir. Kalau bayi itu hidup, Kania tamat. Otomatis Halim bakal seret kita semua ke neraka. Sekarang lo duduk aja dan isap rokok lo."
Keringat asin mengalir deras masuk ke sudut bibir. Giginya beradu keras membelah kesunyian gudang gelap. Gigitan di bibir bawahnya menembus daging sampai darah segar menyapa ujung lidah.
"Brengsek," umpatnya lirih tertahan.
Maureen tidak pernah mengenal rasa takut. Ia membunuh puluhan target elit, bos kartel, dan agen ganda tanpa membiarkan detak jantungnya meleset sedikit pun. Sakit fisik adalah sarapan paginya. Patahan tulang akibat ledakan pabrik beberapa saat lalu masih segar di memorinya.
Namun rasa sakit melahirkan ini menembus batas kewarasan. Ini bukan sekadar sayatan pisau interogasi atau peluru tajam yang merobek jaringan otot. Ini adalah pembelahan tubuh secara paksa dari dalam ke luar.
"Bocah, lo harus kerja sama denganku malam ini," bisiknya sangat pelan. Tangan kirinya membelai perut bundar yang kini mengeras bagai batu. "Keluar sekarang atau kita berdua mati membusuk di sini."
Bayi di dalam sana merespons seketika dengan tekanan brutal ke dasar panggul.
Kepalanya mulai menerobos turun ke jalan lahir.
Napas Sabrina tercekik di tenggorokan. Tulang kemaluannya serasa dipatahkan hidup-hidup. Ia mendongak kasar. Matanya menatap tajam tumpukan sarang laba-laba di langit-langit berdebu, mencari titik buta visual untuk memisahkan fungsi otaknya dari penderitaan tubuh bawahnya.
Metode disosiasi. Taktik bertahan hidup pertama di kamp pelatihan Ordo Sutra. Pindahkan titik pusat rasa sakit ke area luar tubuh.
Genggaman tangan kanannya mengerat kuat pada paku besi tebal berkarat yang ia temukan beberapa saat lalu. Ujung kasarnya ia tekan dalam-dalam membelah telapak tangannya sendiri. Darah segar menetes ke ubin kotor. Sensasi perih tajam dari luka sayat logam efektif memblokir sinyal nyeri dari rahimnya.
Sabrina asli memang lemah. Pewaris takhta keluarga Tanjung yang penakut, naif, dan selalu menangis sendirian di sudut kamar saat dimanipulasi keluarganya atau ditatap dingin oleh suaminya. Tapi jiwa yang mengisi cangkang rapuh ini sekarang adalah monster haus darah.
Hormon keibuan Sabrina menabrak insting pembunuh Maureen. Fusi dua entitas ini memicu ledakan predator baru yang protektif secara brutal.
"Coba saja sentuh anakku," desisnya parau dengan dada bergemuruh. Udara basah keluar dari mulutnya membentuk uap tipis. "Coba saja masuk ke sini."
Kontraksi puncak memukul pinggang belakangnya. Tanpa jeda. Tanpa belas kasihan.
Sabrina menekuk kedua lututnya terbuka lebar. Kaki pucatnya gemetar hebat menahan bobot di atas licinnya cairan ketuban. Ia memusatkan sisa tenaga dorong di otot inti perutnya.
Tarik napas. Tahan di dada. Dorong.
Pinggulnya terangkat sedikit dari lantai granit. Ia menolak mengeluarkan jeritan. Hanya raungan rendah yang tertahan rapat di balik tenggorokannya. Otot lehernya menegang, urat kebiruan menonjol di pelipisnya.
"Eh, gue denger bunyi benturan dari dalem sana." Haryo menghentikan isapan rokoknya tiba-tiba.
"Tikus nyari makan. Udah lo duduk aja diem."
Air ketuban bercampur gumpalan darah menyembur deras ke ubin.
Mahkota kepala bayi itu berhasil melewati cincin panggul. Tulang rawan itu bergeser memutar, lalu sisa bahu dan tubuh kecilnya meluncur leluasa dengan satu dorongan panjang terakhir.
Plop.
Napas Sabrina putus-putus. Dadanya naik turun agresif memompa oksigen masuk ke paru-paru yang nyaris meledak.
Sebuah gumpalan daging kemerahan tergeletak pasif di antara kedua telapak kakinya. Dilapisi lemak putih verniks dan lendir pekat berbau amis. Rambutnya lebat dan hitam legam, ciri genetik absolut dominan milik Adrianus Halim yang tercetak jelas di ingatan Sabrina. Pria tiran itu meninggalkan benihnya di tubuh rapuh ini.
"Napas, Jagoan. Ayo napas," perintah Sabrina cepat.
Tangan kirinya menjulur lurus menyapu ubin dingin, menarik tubuh kecil basah itu mendekat ke perutnya. Jarinya menepuk pelan punggung kecil yang membiru.
Satu detik. Dua detik.
Bayi itu tersentak kecil. Mulut mungilnya membuka lebar.
Oeeekkk! Oeeeekkkk!
Tangisan keras pecah memenuhi ruang udara. Lengkingan tajam bayi baru lahir menembus tebalnya kayu jati, merobek malam sunyi lereng gunung tak berpenghuni.
Kiamat kecil dimulai.
"Bangsat! Suara bayi!" Langkah sepatu bot Haryo menghentak kayu teras secara brutal. "Perempuan itu beranak! Dobrak pintunya!"
Kepanikan malas di luar sana menguap dalam hitungan milidetik, berganti menjadi tindakan beringas. Gagang pintu besi ditekan paksa ke bawah, ditarik keras dari luar. Berbunyi klik besi yang terkunci rapat.
"Minggir lo! Biar gue tendang aja!"
Brak!
Daun pintu bergetar hebat menerima benturan keras. Debu dan kotoran atap berjatuhan ke tubuh Sabrina.
Sabrina menyapukan telapak tangan kirinya menyusuri punggung basah bayinya. Kulit mungil itu menggeliat liar. Detak jantung bergetar super cepat melawannya. Rasa beku lantai granit mendadak musnah dibakar gelombang panas yang menjalar liar dari rongga dada.
Ibu melindungi anaknya. Naluri terkuat mamalia menyala menyilaukan mata rantai makanan.
"Ssst, anak pintar," bisiknya memuji. Ia mengecup puncak kepala bayinya. Aroma amis darah dan besi menyengat saraf hidungnya, anehnya justru menenangkan jiwa pembunuhnya.
Telapak tangannya dengan hati-hati membekap mulut bayi itu sedikit celah, sekadar meredam lengkingan tangisan agar tidak memancing musuh bergerak lebih cepat. Anak itu meronta, mencari kebebasan dan oksigen di udara bebas.
"Tahan sebentar," gumam Sabrina, kelopak matanya menyipit menajam menatap pintu yang mulai melengkung. "Ibu bakal bersihin sampah di depan sana dulu."
Sabrina melakukan kalkulasi ancaman dalam sekejap mata. Posisinya telentang terbuka di tanah. Otot kakinya mati rasa, kehabisan darah, tulang kemaluan ngilu hebat akibat robekan jalan lahir.
Bertarung tangan kosong jarak dekat melawan dua pria sehat membawa senjata tajam sama halnya dengan menyerahkan leher untuk digorok.
Paku berkarat di genggaman tangannya cukup tebal untuk menembus jaringan otot leher satu preman bodoh. Masalahnya pria kedua akan punya cukup sisa waktu untuk menghujamkan pisau ke arah wajahnya atau merampas bayinya.
Tali pusar ini akar masalahnya.
Tali biru keunguan sebesar ibu jari itu berdenyut ritmis. Terikat kuat dari pusar bayinya menembus lurus masuk ke liang lahirnya, menyambung langsung dengan plasenta yang belum keluar dari rahim. Ia terikat secara harfiah. Radius gerak serangnya terpotong habis, menyisakan ruang kurang dari lima puluh sentimeter.
Jika ia memaksakan diri berdiri dan melompat maju, plasenta itu akan tertarik paksa. Robekan masif di dalam rahim menyusul.
Pendarahan hebat akan membuat nyawanya melayang kurang dari tiga menit. Mati konyol kehabisan darah sama sekali bukan reputasi tempur Maureen.
Ia butuh kebebasan bergerak. Ia harus memotong ikatan daging ini sekarang juga.
"Haryo, mundur selangkah! Dorong bareng-bareng! Satu, dua..."
Brak!
Retakan panjang membelah vertikal dari tengah sampai bawah pintu. Serpihan kayu melesat terlempar ke dinding ruangan.
Sabrina segera menopang bobot tubuhnya menggunakan siku kanan. Tangan kirinya memeluk bayinya sangat rapat ke dada, menyembunyikannya dari ancaman fisik. Ia menyeret panggulnya mundur secara asimetris.
Sakit menyayat hati kembali menyengat tanpa ampun. Sensasi pedih jalan lahir bergesekan langsung dengan ubin dingin. Darah segar melukis jejak merah gelap di belakangnya seiring pergeseran tubuhnya.
Napasnya keluar masuk cepat lewat celah gigi. Tiga meter di sebelah kanannya berdiri bayangan meja rias usang berjamur. Ujung jarinya mencengkeram lantai mencari gaya gesek tambahan. Beban gravitasinya terasa naik berlipat ganda.
"Ayo masuk sini, brengsek," tantangnya dalam monolog diam. Netranya mengunci jarak ke arah pintu yang nyaris hancur.
Satu benturan besar lagi dan kayu itu akan rubuh menimpa lantai.
"Dobrak masuk!"
Sabrina mencapai kaki meja rias tua itu sesaat sebelum engsel bawah pintu menyerah. Keringat deras membanjiri matanya. Tangan kanannya merayap buta menyapu lantai berjamur di bawah tumpukan kaki kayu. Debu basah menempel di kulit tangannya.
Ia melepaskan paku besinya. Suara dentingan logam pelan terdengar bergeser. Benda tumpul itu tidak akan bekerja maksimal untuk rencana penyelamatan mandiri ini. Ia butuh sesuatu yang jauh lebih tipis. Lebih pipih dan sanggup membelah serat otot dengan mulus.
Di rak bawah meja rias, jemarinya meraba ujung tajam pecahan kaca dari cermin yang sudah retak.