NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Perang yang Mendekat

Beberapa hari berlalu sejak kepulangan mereka ke ibu kota, dan meski suasana di dalam istana masih dipenuhi rasa syukur dan kebahagiaan, udara di luar terasa mulai berubah. Kabar-kabar dari selatan mulai berdatangan satu per satu, membawa serta rasa cemas dan waspada. Pedagang yang datang dari daerah itu bercerita bahwa ada sesuatu yang tidak beres, bahwa jalan-jalan yang biasanya ramai kini terasa sepi, bahwa banyak orang yang bersenjata terlihat bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dan bahwa para bangsawan di sana telah menutup gerbang tanah mereka dan tak lagi menerima tamu atau utusan dari ibu kota.

Taylor dan Elizabeth duduk bersama Raja dan para penasihat di dalam ruang rapat yang sunyi, membaca laporan-laporan yang masuk dan mendengar keterangan dari orang-orang yang dikirim untuk mengamati keadaan. Wajah mereka semua kini serius, karena mereka sadar bahwa masa damai yang mereka rasakan beberapa hari yang lalu hanyalah jeda singkat sebelum badai yang sesungguhnya datang.

“Mereka telah memutuskan untuk bertindak dengan kekerasan,” kata Raja dengan suara yang berat dan tenang, namun di dalam suaranya tergambar kekhawatiran yang mendalam. “Selama ini mereka berusaha bekerja secara diam-diam, menyebarkan kebohongan dan memecah belah, tapi sekarang mereka sadar bahwa rencana halus mereka telah gagal, dan mereka tak punya jalan lain selain mengangkat senjata. Mereka berpikir bahwa dengan kekuatan dan jumlah pasukan, mereka bisa merebut takhta dan melakukan apa saja yang mereka inginkan.”

“Mereka salah menghitung,” kata Taylor dengan tegas, matanya menyala dengan tekad yang kuat. “Mereka berpikir bahwa perang ini hanya soal siapa yang memiliki lebih banyak pedang dan lebih banyak kuda. Mereka lupa bahwa kekuatan terbesar kita bukan terletak pada senjata atau pasukan, tapi terletak pada hati rakyat yang kini bersatu di belakang kita. Mereka berjuang untuk kekuasaan dan kekayaan, tapi kita berjuang untuk keadilan, untuk persatuan, dan untuk masa depan seluruh negeri. Perjuangan mereka hanya didorong oleh keserakahan dan amarah, sedangkan perjuangan kita didorong oleh kebenaran dan keyakinan. Itulah perbedaan terbesar antara kita, dan itulah alasan mengapa mereka pasti akan kalah.”

Elizabeth duduk di sampingnya, memegang tangan suaminya dengan erat, dan berbicara dengan suara yang lembut namun penuh kekuatan. “Mereka berpikir bahwa mereka bisa memisahkan negeri ini menjadi bagian-bagian kecil yang bisa mereka kuasai satu per satu. Tapi mereka tak menyadari bahwa benih persatuan telah kita tanam di setiap hati rakyat, dari puncak gunung di utara sampai ke tepi pantai di selatan. Orang-orang yang dulu merasa terasingkan, orang-orang yang dulu merasa tak dihargai, kini tahu bahwa mereka adalah bagian dari satu keluarga besar. Jika mereka mengangkat senjata, mereka tak hanya berperang melawan kita, tapi mereka berperang melawan seluruh rakyat yang telah bangkit dan bersatu. Dan tak ada perang yang bisa dimenangkan oleh mereka yang berjuang melawan hati dan keinginan rakyatnya sendiri.”

Mendengar kata-kata itu, hati mereka semua menjadi semakin kuat dan yakin. Mereka tahu bahwa jalan yang ada di depan mereka akan penuh dengan duri dan darah, mereka tahu bahwa banyak nyawa yang akan terancam dan banyak kesedihan yang akan datang, tapi mereka juga tahu bahwa mereka berjalan di jalan yang benar, dan bahwa kebenaran dan keadilan pada akhirnya pasti akan menang.

Segera, persiapan dimulai dengan cepat dan teratur. Raja memerintahkan agar seluruh pasukan kerajaan disiapkan dan dikumpulkan di tempat-tempat yang strategis, agar senjata dan perbekalan disiapkan dalam jumlah yang cukup, dan agar benteng-benteng di sekeliling ibu kota dan di sepanjang jalan raya diperkuat pertahanannya. Para utusan dikirim ke setiap daerah di seluruh negeri, membawa kabar tentang apa yang terjadi dan mengajak setiap orang, dari yang tertinggi sampai yang terendah, untuk berdiri bersama-sama mempertahankan tanah air dan kedamaian yang telah mereka bangun.

Tanggapan yang mereka terima sungguh luar biasa. Dari desa-desa kecil di lembah, dari permukiman di antara pegunungan, dari kota-kota di tepi sungai dan pantai, rakyat datang berbondong-bondong menyatakan kesediaan mereka untuk berjuang. Mereka datang membawa senjata yang mereka miliki, membawa perbekalan yang mereka siapkan, dan membawa semangat yang takkan bisa dipadamkan oleh apa pun. Banyak dari mereka adalah orang yang dulu merasa terasingkan, orang yang dulu merasa tak dihargai, orang yang dulu bahkan mungkin pernah mendengar kata-kata kebohongan dari musuh dan sempat ragu. Tapi kini mereka datang dengan hati yang terbuka dan tekad yang bulat, siap berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan pemimpin mereka dan negeri yang kini mereka anggap sebagai milik mereka sendiri.

Bahkan Kael dan rombongan pengawal hutan dari wilayah utara pun telah kembali ke tanah mereka, namun mereka tak tinggal diam. Begitu mendengar kabar bahwa perang akan datang, mereka segera mengumpulkan orang-orang terkuat dan terlatih dari antara suku-suku mereka, membentuk pasukan yang tangguh, dan bergerak menuju ibu kota untuk bergabung dengan pasukan kerajaan. Mereka berkata bahwa darah yang telah mereka tumpahkan bersama-sama di lembah kabut telah membuat mereka menjadi saudara, dan bahwa mereka takkan tinggal diam sementara saudara mereka di bagian lain negeri sedang terancam bahaya.

Namun di tengah semangat dan persiapan itu, masih ada hal yang membuat hati mereka merasa berat. Mereka tahu bahwa di pihak musuh, banyak dari orang yang akan berperang hanyalah orang biasa, orang yang dipaksa atau ditipu untuk berperang, orang yang sebenarnya tak memiliki dendam atau keinginan untuk berperang melawan saudara mereka sendiri. Mereka adalah orang yang hidup di bawah kekuasaan para bangsawan di selatan, orang yang selama ini dibohongi dan ditindas, orang yang diajari untuk membenci tanpa alasan dan untuk berperang tanpa tujuan yang jelas.

“Kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menghindari pertumpahan darah yang tak perlu,” kata Taylor saat mereka membahas strategi perang. “Kita tak berperang melawan rakyat selatan, kita berperang melawan orang-orang yang berkuasa dan berniat jahat yang memanfaatkan mereka. Banyak dari orang yang akan berperang melawan kita hanyalah korban dari kebohongan dan penipuan. Jika kita bisa, kita harus memberi mereka kesempatan untuk membuka mata mereka, untuk memahami kebenaran, dan untuk kembali ke jalan yang benar tanpa harus menumpahkan darah saudara sendiri.”

Para penasihat dan para pemimpin pasukan setuju dengan pandangan itu. Mereka menyadari bahwa kemenangan yang dicapai dengan membunuh ribuan orang yang tidak bersalah bukanlah kemenangan yang sesungguhnya, melainkan kekalahan yang akan meninggalkan luka yang takkan pernah bisa sembuh di dalam hati negeri ini. Tujuan mereka bukan hanya untuk mengalahkan musuh di medan perang, tapi juga untuk menyatukan kembali hati-hati yang telah terpecah, untuk menyembuhkan luka yang telah dibuat oleh kebohongan, dan untuk membangun masa depan di mana semua orang bisa hidup berdampingan dalam damai dan persaudaraan.

Sementara itu, di daerah selatan, para bangsawan yang dipimpin oleh Lord Marcus juga sibuk dengan persiapan mereka. Mereka telah mengumpulkan semua pasukan yang mereka miliki, merekrut orang-orang dari berbagai tempat, memaksa mereka untuk bergabung, atau menipu mereka dengan kata-kata yang manis dan janji-janji yang takkan pernah mereka tepati. Mereka mengumpulkan perbekalan, senjata, dan kuda dalam jumlah yang besar, dan mereka mengatur rencana perang dengan penuh keyakinan bahwa mereka akan menang dengan mudah.

Namun di dalam hati mereka, tersimpan rasa takut dan keraguan yang terus tumbuh semakin besar dari hari ke hari. Mereka melihat bahwa semangat rakyat di pihak mereka tak sebesar semangat rakyat di pihak lawan. Mereka melihat bahwa banyak dari orang yang mereka pimpin berjalan dengan langkah yang berat dan wajah yang suram, tanpa senyum dan tanpa semangat. Mereka mendengar bisik-bisik dan pembicaraan di antara rakyat mereka sendiri, pembicaraan yang menyatakan keraguan dan ketidakpuasan, pembicaraan yang menyatakan bahwa mereka tak mengerti mengapa mereka harus berperang melawan saudara mereka sendiri.

“Jangan biarkan keraguan masuk ke dalam hati kalian,” kata Lord Marcus dalam sebuah pertemuan dengan para pemimpin bawahannya, berusaha menutupi ketakutannya sendiri dengan suara yang keras dan tegas. “Mereka yang ada di ibu kota hanyalah orang muda yang naif, orang yang terlalu lembut dan terlalu banyak berbicara tentang keadilan dan persaudaraan. Mereka tak tahu bagaimana cara berperang, dan mereka tak tahu bagaimana cara memerintah. Rakyat yang mereka miliki hanyalah orang-orang biasa yang tak terlatih, orang yang tak memiliki keahlian atau kekuatan untuk bertarung. Kita memiliki pasukan yang terlatih, kita memiliki senjata yang lebih baik, dan kita memiliki kekayaan yang tak terbatas. Dalam waktu singkat, kita akan mencapai gerbang ibu kota, kita akan merebut takhta, dan kita akan mengatur negeri ini sesuai dengan keinginan kita sendiri.”

Namun kata-kata itu tak mampu menghilangkan keraguan yang ada di dalam hati orang-orang yang mendengarnya. Mereka semua telah mendengar kabar tentang apa yang terjadi di wilayah utara, mereka telah mendengar bagaimana rakyat yang dulu terasingkan kini bersatu dengan pemimpin mereka, mereka telah mendengar bagaimana pasukan pembunuh yang mereka kirim untuk membunuh Taylor dan Elizabeth justru dikalahkan dan ditangkap. Mereka tahu bahwa lawan yang mereka hadapi bukanlah lawan yang lemah atau tak berpengalaman, dan mereka mulai menyadari bahwa perang yang mereka mulai ini mungkin bukanlah perang yang mudah untuk dimenangkan.

Setelah dua minggu penuh dengan persiapan dan pergerakan, akhirnya kedua pihak mulai bergerak saling mendekat. Pasukan kerajaan bergerak keluar dari ibu kota, bergerak menuju ke selatan dan berhenti di sebuah tempat yang datar dan luas, tempat yang dikenal sebagai Padang Rumput Panjang, sebuah tempat yang terletak di antara dua sungai besar dan menjadi jalan utama yang menghubungkan wilayah utara dan selatan. Tempat ini dipilih sebagai medan pertempuran, karena tanahnya yang luas memungkinkan kedua pasukan untuk bergerak dengan leluasa, dan karena posisinya yang strategis membuat mereka bisa mengawasi setiap gerakan musuh dengan jelas.

Beberapa hari kemudian, pasukan dari selatan akhirnya tiba juga. Mereka berbaris di seberang sungai, membentuk barisan yang panjang dan padat, dengan bendera-bendera yang berkibar di atas tiang dan senjata-senjata yang berkilau terkena sinar matahari. Jumlah mereka memang terlihat lebih banyak dari pasukan kerajaan, dan senjata serta baju besi yang mereka miliki juga terlihat lebih mewah dan mahal. Dari kejauhan, mereka memang terlihat seperti pasukan yang kuat dan tak terkalahkan, dan banyak orang yang melihatnya merasa cemas dan takut, berpikir bahwa mereka mungkin akan kalah dalam pertarungan yang akan datang.

Namun jika dilihat dengan lebih dekat, ada perbedaan yang jelas antara kedua pasukan itu. Di pihak kerajaan, wajah setiap orang bersinar dengan keyakinan dan semangat. Mereka berdiri tegak dan teguh, menatap musuh di seberang sungai dengan mata yang tajam dan berani, tanpa rasa takut atau ragu. Mereka berdiri berdampingan sebagai saudara, saling menjaga dan saling mendukung, karena mereka tahu bahwa mereka berjuang untuk sesuatu yang benar dan mulia.

Di pihak musuh, sebaliknya, meski jumlah mereka banyak dan senjata mereka terlihat bagus, wajah banyak dari mereka terlihat suram dan penuh keraguan. Mereka berdiri dalam barisan, tapi di dalam hati mereka tak memiliki semangat yang membara. Mereka melihat ke arah lawan, dan mereka tak melihat musuh yang kejam dan jahat seperti yang telah diceritakan oleh para bangsawan mereka. Sebaliknya, mereka melihat orang-orang yang berdiri dengan kepala tegak dan wajah yang damai, mereka melihat orang-orang yang berdiri untuk membela keadilan dan persatuan, dan mereka mulai menyadari bahwa apa yang telah mereka dengar selama ini mungkin hanyalah kebohongan belaka.

Pagi hari sebelum pertempuran dimulai, kabut tebal turun dan menyelimuti seluruh padang dan sungai, membuat pandangan menjadi kabur dan suara menjadi samar-samar. Udara terasa dingin dan hening, seolah alam sendiri sedang menahan napas, menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi. Burung-burung terbang menjauh ke tempat yang aman, dan hewan-hewan kecil bersembunyi di dalam tanah dan di balik batu, merasakan bahwa bahaya besar sedang mengancam.

Taylor dan Elizabeth berdiri di depan barisan pasukan mereka, dikelilingi oleh Raja, para pemimpin pasukan, dan para pengawal terpercaya mereka. Mereka memandang ke arah seberang sungai, menatap barisan musuh yang tersembunyi sebagian oleh kabut, dan di dalam hati mereka mereka berdoa agar pertumpahan darah bisa dihindari, dan agar kebenaran bisa menyentuh hati orang-orang yang telah ditipu dan dipaksa untuk berperang.

“Kita akan mengirim utusan untuk berbicara dengan mereka sekali lagi sebelum pertempuran dimulai,” kata Taylor dengan suara yang tenang namun tegas. “Kita akan memberi mereka kesempatan terakhir untuk mendengar kebenaran, untuk meletakkan senjata mereka, dan untuk kembali ke jalan yang benar. Kita takkan memaksakan kehendak kita pada mereka, tapi kita akan menunjukkan kepada mereka apa yang benar dan apa yang salah. Jika mereka mau mendengar, maka perang bisa dihindari dan damai bisa tercapai. Jika mereka menolak, maka kita harus berjuang, dan kita akan berjuang dengan segenap kekuatan kita untuk melindungi apa yang kita cintai dan apa yang kita percayai.”

Maka, seorang utusan yang membawa bendera putih tanda damai dikirim menyeberangi sungai, berjalan perlahan menuju ke barisan musuh, membawa pesan dari Taylor dan Raja. Pesan itu berisi ajakan untuk berdamai, penjelasan tentang kebenaran di balik pertikaian ini, dan tawaran untuk memberi ampunan kepada siapa saja yang mau meletakkan senjata dan kembali ke pihak kebenaran.

Namun saat utusan itu tiba di barisan depan musuh dan menyampaikan pesan itu, jawaban yang mereka terima hanyalah tawa sinis dan kata-kata kasar dari para pemimpin mereka. Lord Marcus sendiri yang datang maju dan berbicara dengan suara yang keras dan penuh amarah.

“Kami tak mau mendengar kata-kata manis dan kebohongan dari kalian!” teriaknya, suaranya terdengar melintasi sungai dan sampai ke telinga orang-orang di pihak kerajaan. “Kami tahu apa yang kalian inginkan, dan kami tahu apa yang kalian rencanakan. Kalian ingin mengambil kekuasaan kami, kalian ingin merampas hak-hak kami, dan kalian ingin membuat kami menjadi budak di tanah kami sendiri. Kami takkan pernah menyerah, dan kami takkan pernah berdamai dengan kalian. Hari ini kita akan bertarung sampai salah satu pihak hancur dan tak tersisa lagi, dan hanya orang yang menang yang berhak hidup dan memerintah!”

Mendengar jawaban itu, hati mereka semua menjadi semakin berat, namun di saat yang sama tekad mereka menjadi semakin kuat. Mereka telah melakukan segala cara untuk menghindari pertumpahan darah, mereka telah memberi kesempatan sampai yang terakhir, namun musuh mereka telah menolak dengan tegas. Kini tak ada jalan lain yang tersisa. Pertempuran tak lagi bisa dihindari.

Saat matahari mulai naik tinggi dan kabut perlahan mulai terangkat, kedua pihak mulai bersiap untuk bertarung. Suara terompet dan gendang terdengar bergema di seluruh padang, menandakan bahwa pertempuran akan segera dimulai. Pedang-pedang ditarik dari sarungnya, panah-panah dipasang di busur, dan setiap orang memegang senjata mereka dengan erat, siap untuk bergerak maju dan bertarung.

Di Padang Rumput Panjang, di antara dua sungai yang mengalir tenang, di bawah langit yang luas dan biru, dua kekuatan yang berlawanan kini berdiri berhadapan satu sama lain. Di satu sisi ada mereka yang berjuang untuk kebenaran, untuk keadilan, dan untuk persatuan. Di sisi lain ada mereka yang berjuang untuk keserakahan, untuk kekuasaan, dan untuk kebohongan.

Pertarungan terbesar dalam sejarah negeri ini akhirnya akan segera dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!