“[Ikan Langka! Hadiah 100 Emas!]”
Beni hanyalah nelayan miskin yang hidup penuh penderitaan. Ia dikhianati istrinya, dijebak hingga terlilit hutang, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun saat berlayar di tengah badai, ia malah tersesat ke lautan misterius yang dipenuhi bahaya. Di sanalah sebuah sistem aneh tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dengan bantuan sistem pengumpul emas, bisakah Ye Fan mengubah nasibnya dan menjadi orang terkaya di lautan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kerajinan
Beni terjaga saat sinar matahari mulai memudar, menyisakan semburat jingga yang membiaskan cahaya redup ke dalam rumahnya yang kayu.
Ia mengusap wajahnya yang masih terasa berat, lalu bangkit berdiri dengan gerakan malas.
Pandangannya tidak sengaja tertuju pada sebuah bingkai foto tua yang tergantung miring di dinding, foto masa SMA-nya di kota kecil tempat ia berbelanja kemarin.
Dalam foto itu, Beni tampak kurus dan kikuk, berdiri di pojok dengan seragam yang sedikit kedodoran. Di sampingnya, terlihat sosok Kai dan gerombolan antek-anteknya yang tertawa meremehkan.
Ingatan itu datang seperti gelombang air pasang yang pahit. Dulu, ia adalah bulan-bulanan mereka hanya karena ia berasal dari keluarga miskin.
Beni bukan pengecut, ia selalu melawan, meski akhirnya selalu berakhir dengan babak belur karena dikeroyok oleh gerombolan Kai yang pengecut.
"Cih," Beni meludah ke lantai, matanya menyipit penuh kebencian. "Kalau saja aku bertemu kalian sekarang... aku tidak akan sudi beradu tinju. Aku akan membuat kalian berlutut memohon di hadapanku."
Ia membuang muka, mencoba mengusir bayangan masa lalu yang membakar dadanya. Ia kemudian memfokuskan pikirannya pada sistem. "Lupakan soal masa lalu. Sekarang, aku harus fokus bagaimana cara memutar uang."
Ia membuka menu [Inventaris]. Di sana, tertumpuk sepuluh ikat rumput laut bercahaya yang ia kumpulkan semalam saat memancing dengan sia-sia.
DING!
[Inventaris: 10 Rumput Laut Bercahaya (Status: Sampah)]
Beni menatap layar itu dengan bibir mencebik. "Sampah, katanya? Sistem, kau ini terlalu cepat menghakimi." Ia mengambil satu ikat rumput laut tersebut. Teksturnya terasa kenyal, sedikit berlendir, dan memancarkan cahaya biru neon yang cukup terang di kegelapan sore.
Sebuah ide gila melintas di kepalanya. "Kalau aku jadikan aksesoris... kalung, gelang, atau hiasan meja yang bisa menyala di malam hari? Orang kota selalu suka barang-barang unik dan 'estetik'. Kalau aku jual online, harganya pasti bisa berkali-kali lipat daripada sekadar dijual ke pengepul ikan."
Namun, jiwa penasaran Beni tidak berhenti di situ. Ia memeriksa kembali benda itu. "Kalau bisa dijadikan perhiasan, berarti harus bisa diolah. Tapi sebelum itu..."
Ia menempelkan ujung rumput laut itu ke lidahnya. Rasa asin dan hambar mendominasi. "Rasanya... ya, seperti rumput laut biasa yang habis mandi di air sabun."
Ia memutuskan untuk membawanya ke dapur kecilnya. "Mari kita lihat apakah benda bercahaya ini punya rasa, atau cuma jadi pajangan saja."
Beni menyalakan kompor gas tua, menyiapkan wajan, bawang putih, dan sedikit cabai.
Ia mencincang rumput laut itu dengan pisau dapur, teksturnya yang unik membuatnya mengeluarkan percikan cahaya kecil setiap kali terpotong.
Ia menumisnya dengan minyak panas. Sesaat kemudian, dapur yang semula berbau apek berubah menjadi harum yang sangat menggugah selera, perpaduan aroma laut dalam dan rempah-rempah yang tajam.
Beni menatap masakannya. "Warnanya... sedikit mengerikan. Biru kehijauan, seperti makanan alien."
Ia menyendok sedikit tumis itu ke piring plastik. Dengan ragu, ia memasukkan sesendok ke dalam mulutnya. Matanya yang semula menyipit penuh keraguan langsung melebar.
Sensasi gurih yang eksplosif menyebar di lidahnya, diikuti dengan rasa segar yang membuat tenggorokannya terasa dingin, seolah ia baru saja meminum air dari mata air pegunungan yang paling murni.
"Enak!" serunya tanpa sadar. "Ini jauh lebih enak daripada sayur kangkung manapun di pasar!"
Setelah menghabiskan sepiring tumis itu, Beni merasa energinya pulih secara drastis. Tubuhnya terasa lebih enteng dan pikirannya jauh lebih jernih. "Sistem, kau dengar itu? Ini bukan sekadar rumput laut, ini adalah sumber energi!"
Ia tidak membuang waktu. Sisa rumput laut lainnya ia jemur dengan teknik khusus agar cahayanya tetap stabil, lalu ia mulai memotongnya menjadi bagian-bagian kecil.
Dengan sisa tali pancing berkualitas yang ia beli di kota dan sedikit kawat tembaga, ia mulai merangkai rumput laut itu menjadi liontin-liontin cantik.
Ia menyusunnya sedemikian rupa, membungkus serat rumput laut dengan kawat hingga membentuk pola yang tampak seperti perhiasan mistis.
Saat ruangan sudah benar-benar gelap, ia mematikan lampu. Ruangan itu seketika diterangi oleh cahaya biru lembut dari hasil karya tangannya.
"Sempurna," bisik Beni bangga. Ia memotret karya itu dengan ponsel tuanya, mengeditnya sebentar, dan mengunggahnya ke situs jual-beli online dengan deskripsi: 'Perhiasan Kristal Laut Terlarang - Bercahaya Alami Tanpa Baterai'.
"Mereka tidak akan curiga. lagi pula mereka tidak tahu bagaimana cara buatnya haha."