Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panah Busur di Atas Pelana
Setelah sesi peragaan busana adat selesai, atmosfer di lapangan utama yang sangat luas itu mendadak berubah menjadi lebih tegang dan penuh antisipasi. Pembawa acara mengumumkan bahwa agenda berikutnya adalah unjuk ketangkasan dan atraksi dari perwakilan kelas. Beberapa siswa dari kelas lain telah menampilkan seni bela diri, tari kolosal, hingga teater pendek. Namun, puncak dari segala ketangkasan sore itu terjadi ketika pembatas gerbang besar di sudut lapangan dibuka lebar.
Dari balik gerbang, deru langkah kaki hewan berkuku keras terdengar berdentum di atas tanah pembatas paving, menciptakan suara klak-klik yang ritmis dan bertenaga. Dua ekor kuda besar berpawakan gagah melangkah masuk ke tengah lapangan, seketika memicu gelombang histeris dan sorak-sorai pemujaan yang membahana dari ribuan pasang mata di tepi lapangan.
Rebecca muncul di atas pelana seekor kuda jantan besar berambut hitam legam yang tampak jinak namun berwibawa di bawah kendalinya. Penampilannya kali ini benar-benar bertransformasi, memancarkan aura modest-fashion yang luar biasa kuat, anggun, sekaligus tangguh.
Ia mengenakan baju gamis modern berwarna hitam polos yang menutup rapat hingga ke leher, membungkus siluet tubuh jam pasirnya yang sangat proporsional dengan potongan kain yang elegan dan jatuh dengan anggun di sisi pelana. Kepala dan lehernya tertutup rapat oleh kombinasi hijab pashmina hitam yang dipadukan dengan turban yang melingkar rapi di atasnya. Di balik turban tersebut, rambut asli Rebecca yang hitam pekat, panjang, dan bergelombang sengaja dibiarkan terurai anggun, menjuntai di atas bahu dan dadanya yang dibalut gamis. Bagian dahinya dibingkai oleh poni depan model tipis ( see-through bangs ), sementara selembar cadar sutra hitam menutupi sebagian besar wajah kecilnya, terikat rapi oleh tali kain di sela rambut hitamnya.
Meskipun sebagian wajahnya tertutup, pesona wajah porselennya tetap memancar magis. Kulit di sekitar pelipisnya tampak putih bersih, kontras dengan warna hitam busananya. Di balik celah cadar, tatapan matanya yang tenang menampilkan warna bola mata hijau lembut yang sangat langka dan memikat. Saat embusan angin lapangan menyingkap sedikit kain sutranya, tampak belahan bibirnya yang berwarna merah cerah alami memberikan kesan kontemporer yang segar tanpa polesan lipstik tebal.
Kedua tangan Rebecca yang kecil dan mulus memegang sebuah busur panah kayu tradisional dengan cengkeraman yang sangat mantap. Tangan kanannya dengan tenang menarik tali busur, menahan sebilah anak panah dengan bulu putih di ujungnya, siap membidik sasaran kapan saja dari atas kuda yang bergerak.
Di samping kanan Rebecca, Sagara menunggangi seekor kuda putih yang bersih dan berotot. Sagara tampil memukau layaknya seorang pangeran dari Timur Tengah yang gagah. Ia mengenakan jubah gamis pria dengan luaran jubah panjang (bisht) berpotongan tegas, lengkap dengan sorban yang terikat rapi di kepalanya, mempertegas struktur rahangnya yang tampan dan ekspresi wajahnya yang super dingin. Perpaduan kontras antara Rebecca di atas kuda hitam dengan gamis gelapnya, serta Sagara di atas kuda putih dengan jubah terangnya, menciptakan pemandangan epik yang luar biasa megah.
*Hiaaa!*
Dengan satu hentakan tumit yang presisi, Rebecca dan Sagara memacu kuda mereka secara bersamaan. Kedua kuda besar itu melesat, memotong garis tengah lapangan luas dan mulai berputar mengelilingi area dengan kecepatan yang konstan namun mematikan. Angin lapangan berembus kencang, membuat jubah Sagara berkibar gagah dan gaun gamis serta rambut panjang bergelombang Rebecca melambai anggun di udara, menyebarkan aroma wangi melati yang samar ke arah penonton.
Sorak-sorai penonton semakin histeris dari jarak jauh saat melihat ketenangan Rebecca yang tetap berdiri stabil di atas sanggurdi pelana sembari terus mempertahankan bidikan busur panahnya ke arah papan sasaran di ujung lapangan.
Di atas panggung juri, Gus Adrian kembali dibuat terpaku. Sepasang mata hitam pekat sang Gus menajam, menatap lurus menembus debu tipis lapangan ke arah sosok bercadar sutra hitam dengan mata hijau lembut tersebut. Keberanian, ketangguhan, dan keanggunan berkelas yang ditampilkan Rebecca di atas kuda hitam itu seolah meruntuhkan sisa-sisa batasan dingin di dalam benak sang dosen, mengunci perhatiannya sepenuhnya pada dinamika gerakan sang gadis malam itu.
...****************...
Meskipun aura yang terpancar dari atas pelana tampak begitu megah dan sinematik, kebenaran mutlaknya adalah Rebecca dan Sagara pada dasarnya memiliki frekuensi otak yang sama - sama geser jika sudah disatukan. Begitu mereka menyelesaikan putaran kedua mengelilingi lapangan utama yang luas dan melambatkan laju kuda di depan barisan juri, ketegangan epik yang tadi dibangun mendadak runtuh, digantikan oleh gelombang komedi spontan yang tak terduga.
"Sagara," bisik Rebecca dari balik cadar sutra hitamnya, suaranya yang jernih terdengar agak teredam namun penuh penekanan. "Kuda putihmu ini sepertinya naksir dengan kuda hitamku. Dari tadi dia mepet - mepet terus sampai kain gamisku hampir tersangkut di sanggurdimu."
Sagara, yang wajah tampannya masih dipasang dalam mode "Pangeran Timur Tengah yang Dingin", sama sekali tidak menoleh. Bibirnya hanya bergerak sedikit di balik sorbannya. "Jangan percaya dirimu, Re. Kudaku ini cuma mau berbisik pada kudamu, menanyakan kenapa penunggangnya memakai cadar tapi rambut panjangnya dibiarkan berkibar seperti hantu penunggu laboratorium biologi."
"Mulutmu, Sagara. Mau ku lepas anak panah ini tepat di blangkon maksudku sorbanmu?" ancam Rebecca. Mata hijau lembutnya yang langka memicing tajam, namun ekspresi itu justru terlihat sangat menggemaskan karena tertutup cadar.
Aksi konyol yang sebenarnya dimulai ketika mereka harus melakukan penghormatan terakhir di depan panggung utama. Sagara yang bernuansa gagah berniat melakukan manuver keren dengan membuat kuda putihnya mengangkat kedua kaki depannya (rearing). Namun, alih-alih terlihat gagah, kuda putih itu justru mengeluarkan suara ringkikan yang terlalu nyaring dan mendadak berbalik membelakangi panggung juri, menampilkan bagian belakang kudanya tepat di hadapan kepala sekolah.
Sagara yang panik namun tetap berusaha menjaga wajah datar dan dinginnya, langsung menarik tali kekang dengan kaku. "Aduh, maaf, Pak Juri. Kuda saya pemalu, dia tidak biasa menghadap kamera," celetuk Sagara dengan pengeras suara portabel yang terpasang di pelananya, suaranya terdengar kaku namun isinya luar biasa absurd.
Rebecca yang menyaksikan hal itu tidak bisa menahan tawa. Tubuhnya yang terbalut gamis hitam modern bergoyang halus karena tawa yang tertahan di balik cadar. Untuk menutupi kesalahan Sagara, Rebecca dengan cekatan mengangkat busur panah kayunya, membidik papan sasaran di ujung lapangan dengan gaya yang sangat teatrikal, lalu melepas anak panah berbulu putih itu.
Sreeett... Takk!
Anak panah itu melesat mulus, namun karena angin lapangan yang tiba-tiba berembus kencang, ujungnya tidak mengenai titik tengah papan, melainkan menancap tepat di buah nanas hiasan yang menjadi dekorasi di atas tenda juri, tepat setengah meter di atas kepala Gus Adrian.
"Target terkunci, Gus. Bonus buah segar untuk juri," ucap Rebecca spontan melalui mikrofon kecil yang terhubung ke pelananya, nadanya datar seolah-olah hal itu adalah bagian dari koreografi.
Seketika itu juga, keheningan aula luar ruangan pecah. Suara tawa dari ribuan murid kelas sepuluh hingga dua belas meledak bersamaan. Para guru pamong yang berada di barisan depan bahkan sampai memegangi perut mereka, terpingkal-pingkal melihat kontras luar biasa antara penampilan mereka yang bak sepasang kekasih bangsawan yang anggun dengan tabiat asli mereka yang sekonyol itu. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat lucu saling melengkapi dalam kegagahan namun tidak ragu merusak reputasi keren masing-masing demi sebuah lelucon.
Di atas panggung, Kepala Sekolah tertawa lepas sembari bertepuk tangan, diikuti oleh para juri lain yang menganggap aksi "nanas hiasan" Rebecca adalah hiburan terbaik hari itu. Namun, bagaimana dengan Gus Adrian?
Pria tampan berhati dingin itu menatap anak panah berbulu putih yang masih bergetar di atas dekorasi nanas di atas kepalanya. Ia kemudian menurunkan pandangannya, menatap lurus ke arah Rebecca yang kini sedang sibuk menepuk leher kuda hitamnya sembari membetulkan letak turban hitamnya yang sedikit miring. Di balik wajah kakunya yang masih terkejut, sudut bibir Gus Adrian perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat hangat sebuah senyuman yang lahir karena melihat sisi jenaka dan menggemaskan dari gadis porselen bermata hijau yang terus-menerus menjungkirbalikkan dunia akademisnya yang membosankan.