"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Pelabuhan di Balik Batu
Armada Bintang Besi membelah kesunyian sabuk asteroid dengan presisi yang mematikan. Di depan mereka, sebuah asteroid raksasa seukuran kota kecil perlahan membuka bagian tengahnya, menampakkan hangar rahasia yang tersembunyi di balik lapisan batu dan es purba. Ini adalah The Forge, pangkalan rahasia yang dibangun Vex selama bertahun-tahun sebagai tempat persembunyian terakhir para pemberontak.
Andra berdiri di jendela observasi, melihat bagaimana kapal-kapal perang mereka satu per satu "ditelan" oleh asteroid tersebut. Di pelukannya, Elara masih terlelap. Wajah anak itu tampak jauh lebih tenang sekarang, meski sesekali keningnya berkerut, seolah-olah sistem di kepalanya masih mencoba menyesuaikan diri dengan realitas baru di luar tabung laboratorium.
"Tempat ini cukup aman untuk sementara waktu," suara Vex terdengar dari speaker di ruangan itu. "Sinyal kita teredam oleh radiasi mineral asteroid ini. 'The Void' tidak akan bisa melacak kita, setidaknya untuk beberapa minggu ke depan."
Andra mengangguk pelan. "Bagus. Aku butuh waktu untuk memahami apa yang sebenarnya ada di dalam kepala Elara, dan bagaimana kita bisa menggunakan data yang aku curi dari Antartika."
Begitu kapal induk Nemesis bersandar sempurna, Andra langsung membawa Elara ke ruang medis khusus yang sudah disiapkan di dalam pangkalan. Siska mengikuti dari belakang, membawa tas kecil berisi barang-barang yang mereka selamatkan dari bumi. Jagal sudah sibuk di gudang senjata, memastikan persediaan amunisi mereka cukup untuk menghadapi apa yang akan datang.
Di dalam ruang medis The Forge, Andra meletakkan Elara di tempat tidur yang jauh lebih nyaman daripada yang ada di kapal. Dia menatap layar monitor yang menampilkan aliran energi di tubuh Elara. Garis-garis emas itu bergerak dengan pola yang sangat mirip dengan milik Andra, tapi ada satu perbedaan besar: Frekuensinya jauh lebih murni.
"Dia bukan cuma kloning, Andra," Siska berbisik sambil duduk di kursi di samping tempat tidur. "Dia adalah versi yang lebih disempurnakan. Kalau kamu adalah prototipe yang berhasil kabur, dia adalah produk final yang mereka harapkan bisa mengendalikan seluruh jaringan sistem di dunia."
Andra mengusap wajahnya dengan kasar. "Artinya, selama Elara bersamaku, aku membawa target paling terang di seluruh galaksi. Mereka tidak akan pernah berhenti mencarinya."
"Tapi kamu tidak akan menyerahkannya, kan?" tanya Siska.
Andra menatap Siska dengan tajam. "Tidak akan pernah. Bahkan jika aku harus menghabiskan setiap keping saldo yang aku miliki untuk membangun benteng di sekelilingnya."
Sesuai ucapannya, Andra langsung memanggil Sistem dalam pikirannya. Sistem, buka menu konstruksi pangkalan. Aku ingin memperkuat pertahanan asteroid ini. Pasang sistem pengecoh sinyal tingkat tinggi dan meriam plasma otomatis di setiap sudut luar.
[Memproses Permintaan Konstruksi Strategis...] [Estimasi Biaya: 2.500 Kristal.] [Status: Saldo Mencukupi. Memulai Pembangunan...]
Andra bisa merasakan getaran kecil di dinding pangkalan saat drone-drone konstruksi mulai bekerja di permukaan asteroid. Dia tidak peduli lagi dengan biaya. Di titik ini, uang hanyalah angka yang harus diubah menjadi perlindungan.
Beberapa jam kemudian, Elara terbangun. Dia tidak lagi berteriak atau meledakkan ruangan. Dia hanya duduk diam, menatap tangannya sendiri yang sesekali mengeluarkan percikan cahaya emas kecil.
"Andra?" suaranya kecil dan ragu.
Andra segera mendekat. "Ya, Elara. Aku di sini. Kamu lapar?"
Gadis kecil itu menggeleng, lalu menunjuk ke arah kepalanya. "Ada suara di sini. Banyak sekali. Seperti orang-orang yang sedang bicara di pasar, tapi aku tidak bisa melihat mereka."
Andra tertegun. Dia tahu perasaan itu. Itu adalah arus data dari satelit-satelit 'The Void' yang mencoba terhubung dengan siapa pun yang memiliki sistem aktif. "Jangan dengarkan mereka, Elara. Cobalah untuk fokus pada detak jantungmu sendiri. Bayangkan ada sebuah kotak besar di kepalamu, dan masukkan semua suara berisik itu ke dalamnya lalu kunci."
Elara memejamkan mata, mencoba mengikuti instruksi Andra. Perlahan, percikan cahaya di tangannya meredup. "Sudah agak tenang. Terima kasih... Kakak."
Kata "Kakak" itu menghantam Andra lebih keras daripada pukulan Eksekutor di Orion. Dia menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Sama-sama. Sekarang, istirahatlah lagi. Siska akan menjagamu di sini."
Andra melangkah keluar dari ruang medis menuju ruang strategi utama di mana Vex dan Jagal sudah menunggunya. Di tengah ruangan, sebuah hologram besar menampilkan planet Mars dan bulan-bulannya.
"Ini adalah markas besar mereka yang sebenarnya, Andra," kata Vex sambil menunjuk ke kawah raksasa di permukaan Mars. "Fasilitas Ares Prime. Di sanalah para petinggi 'The Void' tinggal. Mereka tidak lagi hidup seperti manusia biasa. Mereka mengunggah kesadaran mereka ke dalam server raksasa dan mengendalikan dunia lewat sana."
"Jadi kita tidak menyerang manusia, tapi menyerang komputer?" tanya Jagal sambil membersihkan laras senjatanya.
"Lebih dari itu," jawab Vex. "Kita menyerang jantung dari sistem yang menjajah kita semua. Kalau server itu hancur, semua sistem di kepala orang-orang di Bumi akan terputus. Mereka akan bebas, tapi kekacauan besar akan terjadi."
Andra menatap hologram Mars itu dengan dingin. Dia teringat data dari ayahnya. Ayahnya juga mungkin ada di sana, atau setidaknya apa yang tersisa darinya. "Berapa banyak pasukan yang kita punya?"
"Kita punya lima kapal induk dan sekitar tiga ratus pilot tempur," jawab Vex. "Tapi mereka punya ribuan drone dan sistem pertahanan otomatis yang bisa menghancurkan kita bahkan sebelum kita masuk ke atmosfer Mars."
Andra tersenyum miring. Dia teringat sesuatu yang baru saja terbuka di menunya setelah dia menyelamatkan Elara. "Bagaimana kalau aku bilang, aku bisa membuat seluruh drone mereka berhenti berfungsi hanya dengan satu perintah?"
Vex dan Jagal saling pandang, bingung.
"Sistem Elara dan sistemku kalau digabungkan bisa menciptakan sinyal interferensi masal," jelas Andra. "Itu risiko besar bagi Elara, tapi itu satu-satunya cara kita bisa menang tanpa harus mengorbankan seluruh pasukan kita."
"Andra, dia masih kecil," sela Jagal dengan suara berat. "Kita ini tentara, kita yang harusnya mati duluan, bukan dia."
"Aku tidak akan membiarkan dia terluka, Jagal. Aku yang akan menjadi antenanya. Dia hanya perlu memberikan frekuensi dasarnya padaku," kata Andra. "Tapi sebelum itu, kita harus memastikan pangkalan ini tidak bisa ditembus. Vex, aku mau kamu melatih semua pilotmu dengan simulasi tempur terbaru yang akan aku kirimkan ke sistem kalian."
Andra menghabiskan sisa hari itu dengan bekerja di depan terminal data. Dia mengirimkan berbagai algoritma tempur yang dia beli dari Sistem ke seluruh unit tempur Bintang Besi. Dia juga memesan suplai makanan dan obat-obatan dalam jumlah besar menggunakan saldo Shopee-nya yang masih terhubung secara ajaib melewati dimensi galaksi.
Di tengah kesibukannya, dia sempat melihat Siska sedang membacakan buku cerita untuk Elara di layar monitor keamanan. Pemandangan itu membuatnya teringat pada mimpinya dulu—mimpi sederhana tentang memiliki keluarga dan hidup tenang tanpa harus dikejar-kejar penagih hutang atau robot pembunuh.
Tapi dunia tidak sesederhana itu lagi. Dia sekarang adalah "Sistem Kaya Mendadak" yang berjalan, dan setiap langkahnya adalah ancaman bagi penguasa lama.
Andra berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dia berjalan menuju balkon luar hangar, menatap ribuan asteroid yang melayang di sekitarnya. Dia tahu, ketenangan ini hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
"Kalian boleh punya planet, kalian boleh punya teknologi," gumam Andra sambil mengepalkan tangannya yang mulai bercahaya emas. "Tapi aku punya sesuatu yang tidak kalian mengerti: alasan untuk tetap menjadi manusia."
Malam itu, di kedalaman sabuk asteroid, Andra mempersiapkan segalanya. Dia tidak lagi hanya seorang kurir yang beruntung. Dia adalah seorang panglima perang yang sedang bersiap untuk merebut kembali masa depan dari tangan para dewa digital.