Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN BIKIN AKU TERBIASA
BAB 28 — JANGAN BIKIN AKU TERBIASA
Sejak malam Keisha mengucapkan terima kasih dengan tulus pada Arsen, semuanya terasa berubah... sedikit demi sedikit.
Tidak ada perubahan yang besar dan heboh.
Tidak ada drama yang berlebihan.
Namun cukup terasa, sangat terasa.
Ia tak lagi langsung mengusir Arsen begitu pria itu datang.
Ia mulai membiarkan pria itu duduk santai minum kopi di ruang tamu.
Ia bahkan berhenti memprotes saat Leo dengan lantang memanggil “Papa”.
Dan yang paling berbahaya bagi hatinya...
Ia mulai sadar betul kapan Arsen datang dan kapan pria itu belum muncul.
Pagi itu rumah terasa aneh. Terlalu sepi.
Tidak ada suara mesin mobil hitam besar yang berhenti di depan pagar.
Tidak ada suara langkah kaki panjang yang masuk ke ruang tamu.
Dan yang paling jelas... tidak ada aroma parfum kayu yang khas dan selalu tertinggal di udara.
Keisha turun tangga sambil berusaha pura-pura biasa saja, seolah ia tidak mencari-cari sosok itu.
Ibunya yang sedang menyapu lantai menoleh sambil tersenyum jahil.
“Cari siapa?”
“Enggak. Enggak cari siapa-siapa,” jawabnya cepat, wajahnya sok tenang.
“Belum datang ya?”
“Siapa sih?!”
Ibunya tertawa kecil melihat tingkah putrinya yang ketahuan. Keisha langsung buru-buru masuk ke dapur menghindari pertanyaan.
Tak lama kemudian Leo datang membawa roti tawar di tangannya.
“Mama... Papa mana?”
Keisha menjawab terlalu cepat dan ketus.
“Bukan papamu!”
Leo mengunyah rotinya dengan tenang dan polos.
“Iya tapi... mana dia?”
“Aku enggak tahu.”
Anak itu mengangguk-angguk lalu menatap ibunya lekat-lekat.
“Mama kangen ya?”
BYUR!
Keisha hampir melempar sendok yang dipegangnya karena kaget dan malu.
Siang berganti, namun Arsen tetap tidak muncul.
Tidak ada pesan singkat.
Tidak ada telepon.
Sama sekali tidak ada kabar.
Keisha kesal setengah mati... dan ia kesal karena dirinya sendiri yang merasa kesal!
Ia mencoba fokus bekerja dari rumah, tapi jari-jarinya terus salah mengetik, pikirannya melayang entah ke mana.
Nadia bahkan sampai mengirim pesan:
“Kamu kenapa sih hari ini? Draft desainmu berantakan banget, kayak orang linglung.”
Keisha membalas singkat:
“Lagi banyak pikiran.”
Nadia menjawab secepat kilat:
“Atau lagi kangen bodyguard tajir itu? Ngaku aja!”
Keisha langsung melempar ponselnya ke sofa. Sialan, temannya tahu saja.
Menjelang sore, langit mendung dan hujan mulai turun rintik-rintik.
Leo duduk di dekat jendela, menatap keluar dengan wajah sedih.
“Mama... Papa bohong ya?”
Keisha menoleh menatap punggung kecil anaknya.
“Kenapa bilang begitu?”
“Katanya mau datang tiap hari. Katanya janji.”
Ada rasa aneh yang mencubit dada Keisha. Sesak.
Ia segera duduk dan memeluk bahu anak itu erat-erat.
“Mungkin... dia lagi sibuk kerja sayang. Pasti ada alasannya.”
Namun entah kenapa, kalimat itu justru terasa mengecewakan bagi dirinya sendiri.
Jam delapan malam.
Ting... tong...
Bel pintu berbunyi nyaring memecah kesunyian.
“PAPAAAAA!!!”
Leo berteriak sekuat tenaga dan berlari secepat kilat menuju pintu.
Keisha berdiri terlalu cepat dari sofa, jantungnya tiba-tiba berpacu kencang.
Pintu dibuka.
Arsen berdiri di sana di bawah guyuran hujan kecil.
Kemejanya kusut dan agak basah.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya terlihat sangat lelah, lesu, dan kuyu.
Dan yang paling membuat Keisha kaku... ada plester kecil berwarna kulit menempel di pelipis kirinya. Ada bekas luka di sana.
“Apa yang terjadi?!” tanya Keisha langsung, nadanya tak sadar meninggi.
Arsen menatapnya sebentar dengan mata yang berat.
“Masalah kerja.”
Leo langsung memeluk erat kaki ayahnya.
“Kamu lamaaaa banget! Leo nungguin!”
“Maaf ya,” bisik pria itu sambil mengusap kepala anaknya, lalu berjalan masuk perlahan. Langkah kakinya tampak lebih berat dari biasanya.
Di ruang tamu, Arsen duduk di sofa sambil memijat tengkuknya yang terlihat kaku sekali.
Ibunya langsung sigap membawa semangkuk sup hangat.
Ayahnya mulai bertanya soal bisnis dan kondisi jalan.
Leo sibuk menunjukkan gambar-gambar barunya agar ayahnya tersenyum lagi.
Namun mata Keisha hanya terpaku pada luka kecil di wajah pria itu. Tidak bisa fokus ke hal lain.
“Kamu berantem?” tanyanya tajam.
Arsen menoleh padanya.
“Cuma kecelakaan kecil.”
“Kecelakaan apa? Jatuh dari motor?”
“Tabrakan ringan di jalan. Tidak apa-apa.”
“Kamu ke rumah sakit?”
“Tidak perlu. Cuma lecet doang.”
“Kamu ini memang keras kepala!” gerutu Keisha kesal.
Ia lalu bangkit dan pergi mengambil kotak P3K dari dapur.
Seluruh ruangan seketika menjadi hening saat Keisha duduk bersimpuh di karpet, tepat di hadapan Arsen.
Ia membuka plester lama dengan sangat hati-hati dan perlahan.
Arsen tidak berkedip sedikit pun. Matanya tak lepas menatap wajah wanita itu yang terlihat sangat serius dan fokus.
“Jangan bergerak,” kata Keisha pelan.
“Aku tidak berniat,” jawab Arsen berbisik.
Jarak mereka terlalu dekat.
Sangat dekat.
Keisha bisa merasakan napas hangat pria itu menyentuh wajahnya.
Tangannya sedikit gemetar saat membersihkan area luka dengan kapas dan cairan antiseptik.
“Kamu kan bisa istirahat di rumahmu sendiri yang lebih nyaman,” gumam Keisha mencoba mencairkan suasana.
“Aku lebih memilih ke sini.”
“Kenapa sih? Apa susah sekali istirahat?”
Arsen menjawab pelan, suaranya rendah dan dalam.
“Karena kalau hari ini aku tidak melihat kamu dan Leo... hariku rasanya makin buruk dan hancur.”
Tangan Keisha berhenti bergerak sesaat.
Ia buru-buru pura-pura fokus menempelkan plester baru agar Arsen tidak melihat wajahnya yang memanas.
Jantungnya berdetak kacau balau.
Setelah selesai, Keisha berdiri dengan cepat ingin menjauh.
Namun tangannya tertahan.
Arsen menangkap pergelangan tangannya dengan lembut, tidak kuat tapi cukup untuk menahannya di sana.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Sentuhan kulit itu membuat udara di sekitar mereka seakan berubah menjadi listrik.
Keisha menatap tangan mereka yang bersentuhan, lalu mendongak menatap mata pria itu.
“Lepas,” katanya pelan, bukan perintah yang tegas.
Arsen melepaskannya perlahan, namun tatapannya tak pernah berpindah dari wajahnya.
Malam makin larut.
Leo sudah tertidur pulas di kamarnya.
Ayah dan ibu Keisha juga sudah masuk ke kamar untuk istirahat.
Kini tinggal mereka berdua duduk di teras depan, ditemani suara hujan yang turun pelan dan udara yang dingin.
Arsen duduk bersandar pada tiang, tampak jauh lebih letih dan rapuh dari biasanya.
“Masalah besar?” tanya Keisha memecah keheningan, suaranya lembut.
“Biasa. Orang-orang yang tidak suka melihat kita sukses.”
“Itu bukan jawaban. Wajahmu kelihatan sekali capeknya.”
Arsen tersenyum tipis, senyum yang terlihat lelah namun tulus.
“Ada orang lama yang mencoba menjatuhkan perusahaan. Banyak hal yang harus diurus sekaligus.”
“Kamu bisa atasi kan?”
“Aku selalu bisa. Aku Arsen, kan?”
“Lalu kenapa wajahmu seperti dunia mau runtuh?”
Arsen menoleh perlahan, menatap lurus ke manik mata wanita itu.
“Karena seharian aku sibuk bertarung dan berpikir keras... aku sadar satu hal. Tempat yang paling ingin aku datangi dan aku tuju cuma satu.”
Keisha menahan napas. Dadanya sesak.
“Arsen...”
“Aku capek pura-pura santai terus. Aku capek bersandiwara.”
Tatapannya dalam, jujur, dan sangat membingungkan hati Keisha.
“Aku suka datang ke sini. Aku suka dengar suara teriak Leo. Aku suka ayahmu yang suka debat sama aku. Aku suka ibumu yang cerewet menyuruhku makan.”
Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.
Lalu suaranya melunak menjadi bisikan.
“Dan... aku paling suka melihat kamu.”
Keisha terpaku. Ia sama sekali tidak bisa berkata-kata.
Arsen akhirnya berdiri dari duduknya.
Ia melangkah maju sedikit, kini jarak mereka sangat dekat, hampir tak berjarak.
“Jangan bikin aku terbiasa,” kata Keisha lirih, hampir tak terdengar. Ia takut. Takut kalau terbiasa, ia akan hancur lagi kalau pria itu pergi nanti.
Arsen tersenyum kecil, senyum yang penuh makna.
“Kamu terlambat.”
“Kenapa?”
“Karena... aku sudah terbiasa.”
Matanya menatap bibir wanita itu sesaat, penuh kerinduan, lalu ia memaksa dirinya sendiri mundur selangkah. Menahan diri.
“Aku pulang.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Saat melihat punggung Arsen menghilang dan mobilnya pergi menjauh, Keisha merasa kecewa.
Sangat kecewa.
Karena sadar... ia juga sudah terbiasa.
Bersambung...