Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#20
Pagi itu, atmosfer di universitas terasa sangat berbeda. Langit yang biasanya cerah kini tertutup mendung tipis, seolah alam pun tahu bahwa badai besar baru saja mendarat di koridor akademik ini.
Kesunyian fajar yang pecah oleh suara sirine polisi di gerbang utama seketika membangkitkan kegaduhan yang luar biasa. Mahasiswa yang baru saja tiba untuk jam kuliah pertama berkumpul di pinggir jalan, saling berbisik dengan mata yang membelalak lebar.
Di dalam gedung Fakultas Psikologi, Elowen duduk mematung di kursinya. Ruangan kelas yang biasanya tenang kini dipenuhi oleh dengung desas-desus yang menyesakkan. Kabar tentang penangkapan seorang mahasiswa yang diduga menjadi pengedar barang haram sekaligus pemakai berat menyebar secepat api di atas rumput kering.
"Katanya dia sudah diincar lama," bisik seorang mahasiswi di baris depan. "Kabarnya dia pengedar besar yang memasok ke klub-klub malam ternama."
"Bukannya dia mahasiswa berprestasi?" sahut yang lain. "Siapa sih pria itu? Aku penasaran bagaimana wajahnya saat diborgol."
Elowen tidak menyahut. Jantungnya berdegup kencang, sebuah firasat buruk mencengkeram ulu hatinya sejak ia menginjakkan kaki di kampus.
Matanya secara tidak sengaja tertuju pada Jeff yang duduk di barisan paling sudut. Sejak pagi tadi, Jeff sama sekali tidak menatap ke arahnya. Pria itu tampak sangat tenang, fokus pada bukunya, seolah kejadian di parkiran hotel jam tiga pagi tadi hanyalah mimpi buruk yang sudah ia hapus.
Elowen tahu dirinya salah. Ia tahu pengkhianatannya adalah luka yang fatal bagi pria sesempurna Jeff. Namun, ketenangan Jeff pagi ini justru terasa lebih mengerikan daripada ledakan kemarahan mana pun. Ada sesuatu yang sangat salah di balik punggung tegak pria itu.
Sementara itu, di seberang lapangan, gedung Fakultas Bisnis sudah seperti sarang lebah yang diganggu. Empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap masuk ke dalam ruang kelas utama, memecah kesunyian diskusi pagi. Dosen yang sedang mengajar terdiam kaku saat salah satu petugas mengeluarkan surat perintah.
"Saudara Ezzra Velasquez, Anda kami tahan atas dugaan kepemilikan dan pengedaran narkotika golongan satu," ucap petugas itu dengan suara lantang.
Seluruh kelas tersentak. Kai, Mike, dan Suarez yang duduk di barisan belakang langsung berdiri tegak. Wajah mereka memerah karena amarah yang luar biasa. Mereka tahu siapa Ezzra. Pria itu memang nakal, urakkan, dan hobi balapan liar, tapi narkoba? Itu adalah garis merah yang tidak pernah Ezzra sentuh.
"Apa-apaan ini?! Kalian pasti bercanda!" teriak Kai sambil merangsek maju, menghalangi polisi yang mencoba mendekati meja Ezzra.
"Minggir, Dik. Jangan menghalangi tugas kepolisian," tegas petugas itu.
"Kalau Ezzra dituduh jadi pemakai dan pengedar, bawa kami juga!" Suarez ikut berteriak gila, tangannya mencengkeram lengan salah satu polisi. "Kami selalu bersamanya setiap hari. Kalau dia kotor, kami juga kotor! Bawa kami semua!"
Mike yang biasanya tenang kini ikut memasang badan. Mereka tidak akan membiarkan sahabat mereka, yang selama ini terlihat begitu keren dengan segala pemberontakannya, dituduh menjadi sampah masyarakat.
Ezzra sendiri, yang menjadi pusat perhatian, justru tampak paling tenang di ruangan itu. Ia menutup bukunya dengan pelan, lalu berdiri dengan gaya yang sangat santai. Ia melirik teman-temannya yang sedang mengamuk, lalu beralih pada petugas polisi yang memegang borgol.
"Aku keren kan?" ucap Ezzra bangga, menoleh ke arah Kai sambil menyunggingkan senyum miring yang provokatif. Ia sama sekali tidak terlihat takut. "Aku bahkan belum pernah menyentuh barang laknat itu seumur hidupku."
"Ezzra, tutup mulutmu! Jangan bercanda sekarang!" Mike memperingatkan dengan nada khawatir.
"Tidak apa-apa," Ezzra menepuk bahu mereka satu per satu saat polisi mulai menggiringnya keluar. "Aku malah akan menunggu dengan sangat baik siapa yang berani memfitnah diriku sampai sejauh ini. Kalian tahu kan? Keluargaku hebat. Pengacaraku bisa membeli seluruh kantor polisi ini jika mereka mau."
"Dasar gila!" umpat Suarez, meskipun matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya dikawal oleh lima orang polisi menuju gerbang universitas. Mereka bertiga tetap mengikuti dari belakang, tidak peduli dengan tatapan menghina dari mahasiswa lain di sepanjang koridor.
Pikiran Ezzra saat itu sangat jernih. Ia langsung teringat pada Jeff Feel-Lizzie. Ia tahu siapa yang berada di balik semua ini. Jeff baru saja ia khianati jam tiga pagi tadi, dan ini adalah balasan instan dari sang 'Malaikat' yang terluka. Ezzra tersenyum pahit.
Kau main cantik, Jeff, batinnya. Namun, ia akan menghadapi ini dengan sombong. Bagaimanapun, ia adalah pemenang di atas ranjang semalam.
Di gedung Psikologi, kabar penangkapan Ezzra akhirnya sampai melalui pesan berantai. Elowen yang baru saja membaca pesan itu di grup angkatan langsung merasa dunianya runtuh. Ia berdiri dengan kasar, membuat kursinya terjatuh ke lantai dengan bunyi dentuman keras. Tanpa peduli pada dosen yang sedang mengajar, ia berlari keluar kelas.
Ia berlari seperti orang gila menuju gerbang utama, menembus kerumunan mahasiswa yang sedang menyoraki Ezzra dengan kata-kata kasar. Napasnya tersengal, air mata mulai membasahi pipinya. Ia tidak menyangka Jeff akan bertindak sejauh ini untuk menghancurkan Ezzra.
Saat ia sampai di dekat mobil polisi, ia melihat Ezzra yang sedang digiring dengan borgol yang melingkar di pergelangan tangannya. Ezzra tampak begitu tenang, namun sorot matanya yang tajam tetap mencari satu sosok.
"EZZRA!" teriak Elowen sekuat tenaga.
Langkah kaki polisi terhenti. Kerumunan mahasiswa terdiam seketika. Kai, Suarez, dan Mike menoleh ke arah datangnya suara itu dengan wajah bingung.
Elowen menerobos kerumunan, berdiri tepat di depan Ezzra. Di bawah tatapan ribuan pasang mata, ia berteriak dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "SAYANG! AKU MENCINTAIMU! AKU TIDAK PERCAYA BERITA SAMPAH ITU!"
Keheningan yang mematikan menyelimuti gerbang universitas. Rahang Kai seolah jatuh ke lantai. Suarez dan Mike saling berpandangan dengan wajah yang pucat pasi.
"Kekasihmu? Elowen?" suara Kai pecah karena keterkejutan yang luar biasa. "Dasar brengsek gila! Dia kekasih sahabatmu sendiri, bajingan!"
Ezzra hanya mengangguk pelan, lalu tersenyum tengil ke arah teman-temannya yang kini tampak ingin memukulnya sekaligus melindunginya. "Wah, wah... kau benar-benar berani, El," gumam Ezzra pelan, matanya berkilat penuh damba pada Elowen.
"Kau gila, Ezzra. Benar-benar gila," gumam Mike, menyadari bahwa pengkhianatan ini jauh lebih besar daripada sekadar urusan narkoba.
Dari kejauhan, di lantai dua gedung Psikologi, Jeff berdiri di balik jendela kaca yang gelap. Ia menatap pemandangan di gerbang itu dengan wajah tanpa ekspresi. Namun, jemarinya mencengkeram pinggiran jendela hingga memutih.
"Selamat membusuk di penjara, Ezzra," bisik Jeff dengan suara yang sangat dingin, seolah datang dari liang kubur. "Kau sampah. Dan sampah harus dibuang ke tempat yang seharusnya."
Jeff menatap Elowen yang masih menangis memandangi mobil polisi yang mulai bergerak pergi. Di matanya, Elowen bukan lagi kekasih yang harus ia lindungi, melainkan sebuah bidak yang harus ia hancurkan karena telah berani menyentuh api. Permainan ini baru saja naik ke tingkat yang paling mematikan.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...