NovelToon NovelToon
Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Kembalinya Putri Yang Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Ilyar Justina dijatuhi hukuman pengasingan setelah dituduh merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, Raja Tyraven. Ia dikirim ke Dakrossa—penjara paling kejam di Kekaisaran Eldrath, tempat para penjahat paling berbahaya dibuang. Semua orang yakin gadis lemah lembut yang bahkan tak bisa bertarung itu tak akan bertahan lama di sana.

Namun, tahun-tahun berlalu, dan Ilyar kembali. Bukan sebagai sosok yang sama, melainkan seseorang dengan aura dingin dan kegilaan yang mengendap di balik senyumnya. Di hadapan saudara-saudaranya yang dipenuhi kebencian, ia hanya tersenyum tipis. “Sepertinya kalian sangat senang dengan kepulanganku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Bagi Ilyar, salah satu keuntungan terbesar berada di Dakrossa adalah memiliki Solomon dan Menthia yang berpihak pada ayahnya.

Setelah diobati oleh Menthia, dilarut malam Solomon mengajaknya ke suatu tempat melalui lorong rahasia yang terhubung ke bangunan di luar penjara Dakrossa, masih dalam lingkaran benteng. Katanya, itu adalah bangunan pribadi milik Solomon.

Dia memegang suluh sembari jalan beriringan bersama Ilyar pada koridor lengang, ada pintu di ujungnya. Tanpa melepas suluh yang berkobar di tangan kiri, Solomon menggerakkan tangan kanan untuk mendorong pintu.

Aroma besi berkarat segera menyeruak bersamaan terpaan angin mengibarkan rambut merah Ilyar. Sebuah ruangan berdinding batu dipenuhi alat-alat latihan fisik tersuguhkan dan ada seorang pemuda berpunggung lebar berdiri dengan gagal setelah menjatuhkan batu besar dari tangan kirinya.

Dia memiliki perawakan tinggi, kulit agak pucat yang tampak kontras dengan rambut hitam dan mata merah kelam yang kini berkikat tajam kala bersitatap dengannya. Ilyar menelan ludah setelah mengenalinya. Pria itu adalah orang sama yang dia temui di perpustakaan. Namun, leher serta sepasamg kaki tangannya tidak dijerat borgol rune padahal Ilyar yakin pemuda itu sangat berbahaya.

"Sepertinya kalian sudah saling bertemu," kata Solomon.

Graven langsung menyambar kaus linen krem yang tergeletak, mengenakannya secara perlahan lalu mendekati Solomon tanpa sepatah kata, tetapi perhatiannya tak lekang dari Ilyar.

"Ya, kami sempat bertemu di perpustakaan," jawab Ilyar.

Kerutan di wajah Ilyar membuat Solomon agak mengernyit. "Kamu tidak tahu siapa dia?" tanyanya seraya melirik Graven.

"Graven Callisto Elvareth. Kamu bisa memanggilku Graven," ucap Graven.

Sepasang mata Ilyar membelalak seketika.

Sementara, Solomon merangkul Graven, membawanya agak menjauh dari Ilyar lalu membicarakan sesuatu. Ilyar memperhatikan dari kejauhan dan Graven sesekali melirik setiap kali Solomon menyinggung nama gadis itu.

"Tapi aku belum pernah melatih seseorang."

"Kalau begitu kamu bisa mencobanya."

"Aku tidak yakin."

"Ini tidak jauh berbeda seperti Agor mengajarimu."

Raut wajah Graven berubah masam. "Apa Anda tahu latihan macam apa yang harus kulalui di bawah ajarannya? Gadis itu tidak akan sanggup, terlebih harus berlatih di ruang tertutup seperti ini."

"Setidaknya apa yang dia terima bisa digunakan. Lakukan saja, lagi pula kamu punya waktu luang dan sebentar lagi anak itu akan melakukan hal yang lebih gila demi bertahan hidup," jelas Solomon.

"Kenapa bukan Anda saja yang mengajarinya?"

"Tidak sempat. Orang tua ini punya banyak urusan di luar Dakrossa," jawab Solomon agak tak acuh.

"Jadi, bagaimana?" lanjut Solomon.

Graven memandangi Ilyar agak lama lalu mengembuskan napas seiring kepala mengangguk.

"Ya, akan kulakukan."

Solomon mengulas senyum penuh kemenangan. Meski terlihat tidak peduli, tampaknya Graven cukup menaruh perhatian pada anak perempuan Agor. Lagipula situasi mereka tidak lebih dan tidak kurang hampir sama. Bocah-bocah ini harus berada dalam pengawasan dan perlindungannya sampai Agor sadar.

Saat ini, Dakrossa adalah satu-satunya tempat teraman bagi Ilyar dan Graven. Tidak ada yang tahu kapan musuh di luar Dakrossa mampu mendobrak pertahanannya, maka dari itu sebelum semua terjadi, Solomon berharap baik Ilyar maupun Graven bisa bertambah kuat dari waktu ke waktu.

"Apa yang kalian bicarakan?" Ilyar akhirnya bertanya ketika kedua pria itu selesai berbincang dan menghampirinya.

"Orang-orang akan berpikir kamu berada di lantai tujuh untuk perenungan, tapi kenyataannya kamu akan mendekam di sini selama dua minggu bersama Graven."

Ilyar langsung memusatkan atensi pada Graven yang menatapnya tanpa berkedip. "Di ruangan ini?"

Solomon mengedarkan pandang pada ruang batu yang menjadi tempat latihan khusus bagi Graven. "Ya. Kamu akan berada di sini sembari berlatih bersama Graven."

Graven melipat tangan depan dada. "Apa kamu sudah membaca buku yang kutinggalkan?"

Ilyar teringat pada buku di perpustakaan itu kemudian mengangguk. "Ya, sudah."

"Kalau begitu kita akan menerapkannya secara langsung."

"Sekarang?"

Raut wajah Graven yang melunak menjadi keras dalam sedetik. Sorot matanya kian mengintimidasi ketika mendelik ke arah Ilyar, membuat gadis itu sedikit beringsut mundur karena merasa tertekan.

"Aku tidak suka buang-buang waktu. Jika kamu punya banyak waktu luang, berbaringlah tanpa melakukan apa pun."

Bibir Ilyar terkatup rapat seiring rahang mengeras. Kalimat yang meluncur cepat dari Graven terdengar cukup pedas, namun dia tidak boleh tersinggung atau menangis karena kalimat-kalimat semacam itu. Bersabar adalah kunci utama agar dia tidak kehilangan banyak kesempatan di depan mata.

Katanya, di usia muda, Graven telah meraih banyak pencapaian. Membawa pulang kemenangan di sejumlah garnisun dan tidak pernah kembali dengan kegagalan. Dia disebut-sebut sebagai dewa kematian ketika berhadapan dengan banyak musuh, tidak kenal takut apalagi belas kasih.

"Apa kamu siap?" Graven bertanya untuk kesekian kali.

Ilyar memandangi Graven lekat. Sejujurnya dia penuh keraguan, tapi tanpa mencoba apa pun, tidak ada yang tahu seperti apa akhirnya.

"Jika ragu, sebaiknya kamu berdiam diri di ruang perenungan selama dua pekan."

Graven mengatakan itu dengan nada seolah tidak peduli, tapi sorot matanya amat menantikan jawaban meluncur dari bibir kecil penuh Ilyar.

"Aku akan tetap di sin jadi mohon bantuannya!"

Ilyar membungkuk dan Graven agak terkesiap.

Solomon menahan senyum melihat interaksi keduanya kemudian diam-diam menarik diri, tapi sebelum itu dia sudah memberi tahu aturannya. Ada tiga ruangan di ruang latihan ini. Pertama kamar mandi dan dua lainnya adalah ruang istirahat tanpa pintu. Hanya ada meja batu yang dijadikan sebagai tempat berbaring. Tidak ada bantal atau sebagainya. Meski mereka berada di pihak yang sama, Solomon tidak punya keinginan untuk memanjakan mereka.

***

Istana Kerajaan Tyraven

Kerajaan Tyraven berada di ambang kehancuran saat terjadinya kekosongan kekuasaan karena sang penguasa terbaring koma, untungnya saat ini para dewan bangsawan telah telah mengambil alih dan menstabilkan segalanya. Namun, hal baik ini justru membuat Ravena selaku permaisuri kerajaan Tyraven gusar bukan main.

Dia berpikir jika suaminya terbaring tak berdaya, kekuasaan akan berada dalam genggamannya, tapi para dewan bangsawan yang begitu loyal membuatnya tidak berkutik.

"Apa tidak ada kabar dari Dakrossa?" Ravena bertanya pada kepala dayangnya.

"Belum, Permaisuri."

"Sebentar lagi genap sebulan, jika Morvak tidak juga berhasil maka eksekusinya tetap berjalan lagi pula apa susahnya membunuh gadis itu?!" Ravena mencekal kuat kaki piala berisi red wine sampai permukaan airnya beriak ganas.

"Kenapa begitu gelisah, Ibu? Lagi pula dia tidak akan pernah kembali, jangan mencemaskan hal yang tidak perlu."

Seorang pemuda baru saja masuk lalu mendaratkan ciuman singkat pada pipi Ravena. Itu adalah putranya. Theron Castemar Valgard, usianya hanya terpaut tiga tahun dengan Ilyar.

"Anak itu telah menunjukkan sesuatu yang tidak biasa. Bagaimana ibu bisa tenang? Selain itu dia juga meminta kita untuk tidak menyepelekan keberadaannya."

Theron mengembuskan napas. Kecemasan ibunya sungguh membuat muak. Dia tahu apa penyebanya, itu karena ibunya gagal membunuh Ilyar dengan racun, katanya gadis itu tidak mengalami apa-apa setelah mengonsumsi racun yang tercampur dalam makanan.

Ilyar Justina Valgard. Anak tertua yang hanya hidup di balik setumpuk buku dan berakhir menyedihkan sebagai kambing hitam. Sejauh ini, Theron tidak pernah berpikir bahwa anak pertama itu bisa tumbuh lebih kuat.

Ilyar selalu menunduk ketakutan setiap kali berpapasan dengan saudara-saudara yang lain dan orang macam itu dianggap bisa jadi ancaman di masa depan?

Pfftt... Theron menahan tawa di ujung bibir. Membayangkannya saja sungguh menggelikan, jadi dia segera menenangkan ibunya melalui usapan lembut di punggung. "Bersabarlah, Ibu. Sebentar lagi kita akan mndengar kabar baik dari Dakrossa lalu setelahnya mengadakan pesta untuk kematian anak itu."

1
Mila Sari
Thor upnya yg banyak donk,,
Iry: malam ya beb
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
Diam...mengamati...berakhir EKSEKUSI😐😐😐
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya tambah seru aja thor..
Iry: hehehe iya beb
total 1 replies
Firniawati
ayo kak up lagi yg banyak 😍
Iry: sabar yahhhh, mungkin malam
total 1 replies
PengGeng EN SifHa
intrik..ambisius & haus akan valisldasi disebuah kerajaan..memang sangat membagongkan..baik didunia nyata maupun cerita❤️❤️❤️❤️
Gesang
seruuuuu👍👍👍
Firniawati
sangat bagus ceritanya seru tidak monoton dan membosanka,,terus semangat ya kk othor 🥰
Iry: waaaahhh makasih banyak❤
total 1 replies
Firniawati
kak kapan update lagi?
Iry: aku update hari ini
total 1 replies
EL MARIA
kok sama kaya yg di fizo yaa.... yg di fizo udh tamat dari lama ini autor nya sama kah
CaH KangKung,
👣👣
𝐀⃝🥀Weny
lanjut lagi thor.. ceritamu yang ini tambah seru dan penuh tantangan😊
𝐀⃝🥀Weny: yeeey.. thanks thor❤️❤️❤️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!