NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: BAYANG-BAYANG DI ATAS MARMER

Laluna berdiri terpaku di balik meja konter, tangannya masih memegang kotak donat yang kini terasa seberat batu.

Kata-kata Darma mekanik tua itu, seperti racun yang merambat pelan, membekukan udara hangat di dalam ruko.

Di hadapannya, Darma tampak seperti hantu dari masa lalu yang dipaksa bangkit oleh rasa bersalah.

"Eksekusi?" suara Laluna nyaris tak terdengar.

"Apa maksud Anda? Kakek Surya sudah mengatakan bahwa itu adalah sabotase dari pihak luar..."

"Surya hanya menceritakan bagian yang membuatnya tetap terlihat seperti pahlawan, Nona,"

Darma menatap Laluna dengan mata yang keruh namun tajam.

"Ayah Reihan tahu kabel itu dipotong. Dia tahu siapa yang melakukannya. Tapi dia memilih untuk menyalahkan kakekmu, Wijaya, karena dia diancam. Jika dia tidak mengorbankan nama Wijaya, maka kau bayi kecil yang saat itu ada di ayunan tidak akan pernah melihat hari esok."

Bumi melangkah maju, spatulanya terangkat meski tangannya sedikit gemetar.

"Bapak jangan sembarangan bicara! Mbak Luna sudah cukup menderita karena urusan keluarga ini!"

Darma menghela napas, ia meletakkan sebuah kunci pas tua yang sudah berkarat di atas meja.

"Kunci ini... saya temukan di bawah kolong truk hari itu. Ada inisial kecil di sana. Inisial yang hanya dimiliki oleh satu orang di dewan direksi Arta Wiguna."

Tepat saat itu, pintu ruko terbanting terbuka. Reihan masuk dengan napas memburu, jasnya sudah dilepas, dan kemeja putihnya sedikit kusut. Di belakangnya, Dimas berjaga di ambang pintu dengan tatapan waspada.

Reihan langsung menarik Laluna ke belakang tubuhnya. Matanya terpaku pada Darma.

"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di tokoku?"

"Tuan Reihan... Anda sangat mirip dengan ayah Anda saat sedang marah," ucap Darma pelan.

"Reihan, dia Darma. Mekanik kakek dulu," bisik Laluna, tangannya meremas lengan kemeja Reihan.

"Dia bilang... kecelakaan itu adalah eksekusi."

Reihan menatap kunci pas di atas meja. Ia meraihnya, memeriksanya dengan teliti, dan seketika wajahnya berubah pucat pasi. Ia mengenali inisial itu. Bukan milik Malik, bukan milik Baskoro. Inisial itu adalah simbol dari orang yang paling dipercayai Kakek Surya selama tiga puluh tahun terakhir.

"Tuan Hendra..." desis Reihan.

Hendra adalah Kepala Keamanan dan Logistik Arta Wiguna, pria yang seringkali disebut sebagai "tangan kanan" yang menjaga rahasia-rahasia kotor keluarga agar tidak tercium publik.

"Reihan, kita harus ke Bogor. Sekarang," ucap Laluna tegas.

"Jika Hendra terlibat, artinya Kakek Surya sedang dalam bahaya. Dia satu-satunya yang tersisa yang memegang kunci kebenaran."

"Tidak, Luna. Kau tetap di sini bersama Bumi. Dimas akan menjagamu," perintah Reihan.

"Tidak kali ini, Mas CEO!" potong Bumi sambil menyambar tas ranselnya.

"Kalau urusannya sudah 'hutang darah', orang desa seperti saya lebih tahu cara menghadapinya daripada bodyguard berjas ini. Kita berangkat semua!"

Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa kecil dari arah pintu belakang dapur.

Sesosok pria paruh baya dengan rambut yang dicukur rapi dan senyum yang sangat ramah masuk. Dia adalah Hendra. Di tangannya, ia memegang sebuah bungkusan donat "Khay" yang baru saja ia beli dari ruko cadangan.

"Wah, reuni yang sangat menarik," ucap Hendra.

"Reihan, kau seharusnya tidak perlu repot-repot membongkar arsip bawah tanah. Aku bisa menceritakannya padamu sambil minum kopi."

Hendra tidak datang sendiri.

Beberapa pria dengan pakaian sipil namun memiliki postur militer mulai mengepung ruko dari arah depan dan belakang.

"Hendra... kau pelayan setia kakekku," ucap Reihan, suaranya sedingin es.

"Pelayan? Tidak, Reihan. Aku adalah penjaga keseimbangan," Hendra mengambil satu donat dari bungkusannya dan menggigitnya dengan santai.

"Ayahmu terlalu lemah. Dia ingin mengembalikan segalanya pada Wijaya hanya karena rasa bersalah yang tidak berguna. Jika itu terjadi, Arta Wiguna akan hancur. Aku melakukannya untuk menyelamatkan perusahaan... dan untuk menyelamatkan kakekmu dari kebodohan ayahmu"

Laluna melangkah maju dari balik punggung Reihan.

"Dengan cara membunuh kakekku? Dengan cara memfitnah keluarga kami?"

"Dunia bisnis tidak mengenal kata maaf, Nona Laluna,"

Hendra menatapnya dengan pandangan dingin.

"Dan sekarang, karena kalian semua sudah tahu terlalu banyak, sepertinya rencana resepsi di Bogor harus dibatalkan. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita buat sedikit 'kebocoran gas' lagi di ruko indah ini?"

Bumi langsung berdiri di depan Laluna.

"Coba saja kalau berani! Spatula saya ini sudah saya beri doa penolak bala!"

Di sela-sela intimidasi itu, Dimas yang sejak tadi diam di pintu, tiba-tiba menekan sebuah tombol di jam tangannya.

"Tuan Hendra, maaf mengganggu. Tapi saya sudah menyiarkan pembicaraan ini secara langsung ke seluruh iPad dewan direksi dan juga ke ponsel Kakek Surya di Bogor melalui jaringan satelit pribadi."

Wajah Hendra yang tadinya tenang seketika mengeras.

"Selamat datang di era digital, Tuan Hendra," tambah Dimas dengan nada yang sangat datar namun mematikan.

1
Fia Ayu
Astaga, bacanya deg deg kan mulu tiap babnya, mau stop tp yo penasaran 😥
Fia Ayu
Berat banget alurnya,,, sebenernya aku gk suka baca novel yg alurnya berat, tp klo berenti aku penasaran bagaimana ini weee😭
Rini Hasmira
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!