Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Darah di Hutan Kabut
Hari itu, Arga melangkah lebih dalam ke Hutan Timur daripada sebelumnya.
Kabut tipis menggantung di antara pepohonan raksasa, membuat jarak pandang terbatas pada beberapa meter saja. Udara terasa lebih berat di sini, lebih lembap, dengan aroma tanah basah bercampur sesuatu yang asam—bau monster yang lebih kuat. Di kejauhan, suara-suara aneh terdengar samar. Bukan lolongan serigala atau geraman beruang. Ini suara yang lebih dalam, lebih menggetarkan.
Kawasan dalam, pikir Arga. Di sinilah monster-monster setara Pemurnian Qi tahap kelima ke atas berkeliaran.
Benang Perak di Dantian-nya kini sepanjang hampir empat ruas jari. Retakan di sumbatan meridiannya semakin lebar, memungkinkan Qi yang ia serap setara dengan kultivator tahap kedua puncak. Masih jauh dari cukup untuk menghadapi monster di kawasan ini—tapi ia tidak punya pilihan. Pertumbuhan Benang Perak melambat jika ia hanya menghadapi Serigala Bulan Sabit. Ia butuh tantangan lebih besar.
Teknik Langkah Bayangan Bulan kini sudah bisa ia gunakan dengan lebih lancar. Bukan tingkat mahir, tapi cukup untuk menghindari serangan cepat. Itu modal utamanya hari ini.
Ia berhenti di dekat pohon besar dengan batang berlumut. Jejak cakar segar menggores kulit pohon itu—tiga garis paralel sedalam dua jari. Cakar Macan Kabut. Monster setara tahap kelima awal. Cepat, senyap, dan memiliki kemampuan menyamar di antara kabut.
Sempurna.
Arga tidak perlu menunggu lama. Kabut di sekitarnya tiba-tiba menebal. Terlalu cepat untuk perubahan alami. Ia menegang, mengaktifkan Langkah Bayangan Bulan dalam kesiapannya.
Sraaat!
Cakaran dari samping. Arga memutar tubuhnya, merasakan angin dari cakar yang meleset beberapa senti dari wajahnya. Ia melompat mundur, mencari sumber serangan. Tapi kabut terlalu tebal. Ia hanya melihat bayangan samar—sosok seukuran harimau besar dengan mata kuning berpendar.
Ia menggunakan kabut untuk berkamuflase.
Arga mengatur napas. Ia tidak bisa mengandalkan mata. Ia menutupnya, membiarkan indra lain bekerja. Telinganya menangkap desiran langkah ringan di atas daun kering. Kulitnya merasakan perubahan aliran udara.
Di sana.
Ia melompat ke kiri, dan cakar Macan Kabut kembali meleset. Kali ini, Arga membalas. Pisaunya menusuk ke arah sumber serangan, mengenai sesuatu yang keras.
Cakar dan bulu. Tidak melukainya.
Macan itu menggeram. Kabut semakin menebal. Arga tahu ia tidak bisa bertahan selamanya. Ia harus memancing monster itu keluar dari persembunyiannya.
Dengan sengaja, ia melangkah mundur ke area yang lebih terbuka—sebuah lapangan kecil di antara pepohonan. Kabut di sini lebih tipis. Macan Kabut mengikutinya, gerakannya kini lebih terlihat.
Itu dia.
Monster itu menerjang. Arga menghindar dengan Langkah Bayangan Bulan, tapi kali ini ia tidak mundur. Ia melangkah ke samping dan menusukkan pisaunya ke kaki depan Macan Kabut.
Crassh!
Kali ini mengenai daging. Darah hitam menetes. Macan itu meraung kesakitan, tapi bukannya mundur, ia malah semakin ganas. Cakarnya menyambar ke arah kepala Arga.
Terlalu cepat—
Braakk!
Cakar itu mengenai bahunya, merobek baju dan kulit. Arga terpental, menghantam batang pohon. Pandangannya berkunang-kunang. Bahunya terasa seperti terbakar.
Tapi ia tidak punya waktu untuk merasakan sakit. Macan Kabut sudah menerjang lagi, rahangnya terbuka mengincar leher.
Arga melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Ia tidak menghindar. Ia menusukkan pisaunya lurus ke depan.
Crassshhh!
Pisau itu masuk ke dalam mulut Macan Kabut, menembus langit-langit lunaknya. Monster itu menjerit histeris, tubuhnya mengejang, lalu roboh di atas Arga.
Berat. Panas. Darah monster mengucur membasahi tubuhnya.
Tapi di dalam Dantian-nya, Benang Perak berdenyut kencang. Sekali, dua kali, tiga kali. Lalu tumbuh—dari hampir empat ruas jari menjadi hampir lima.
Arga mendorong bangkai Macan Kabut itu dan bangkit dengan susah payah. Bahunya robek, darahnya sendiri bercampur dengan darah monster. Tapi ia tersenyum.
Hampir lima ruas jari. Tinggal sedikit lagi menuju enam.
---
"Wah, wah... lihat apa yang kita dapat di sini."
Suara itu datang dari arah kabut. Arga menoleh, waspada.
Dua sosok muncul dari balik pepohonan. Pemuda pertama berusia sekitar sembilan belas tahun, tinggi kurus dengan jubah merah marun—warna Klan Wirya. Di pinggangnya terselip pedang dengan gagang berhias batu giok. Pemuda kedua lebih pendek, gemuk, dengan ekspresi licik di wajahnya.
"Seekor Macan Kabut mati," kata pemuda tinggi itu sambil menatap bangkai monster. "Dan seorang bocah lusuh yang hampir mati. Menarik."
Arga mengenali warna jubah itu. Klan Wirya. Saingan utama Klan Sanjaya. Dari aura mereka, yang tinggi adalah kultivator tahap keempat, yang gemuk tahap ketiga.
"Aku sedang tidak mencari masalah," kata Arga datar. "Ambil bangkai itu kalau mau. Aku pergi."
Ia berbalik hendak pergi, tapi pemuda gemuk itu melangkah menghalangi jalannya.
"Hei, hei, tunggu dulu." Ia menyeringai. "Kau dari Klan Sanjaya, kan? Aku kenal wajahmu. Kau si sampah klan itu. Arga, bukan?"
Arga tidak menjawab.
Pemuda tinggi itu tertawa. "Si sampah klan membunuh Macan Kabut sendirian? Jangan bercanda. Pasti ada orang lain yang melukainya, lalu kau datang untuk mengambil kredit."
"Terserah apa yang kau pikirkan." Arga mencoba melangkah lagi.
Tapi pemuda gemuk itu mendorongnya. "Jangan sombong, sampah. Kau tahu siapa kami? Aku Beni, dan ini kakakku, Rudi. Kami perwakilan Klan Wirya untuk Festival Perebutan Warisan. Kau yang katanya juga akan ikut festival? Memalukan saja."
Rudi—yang tinggi—melipat tangan. "Klan Sanjaya pasti sudah putus asa sampai mengirim sampah sepertimu. Tapi tidak apa-apa. Paling tidak, kau bisa jadi hiburan. Mungkin kau akan menangis di arena seperti tahun lalu?"
Mereka berdua tertawa.
Arga menatap mereka dengan ekspresi kosong. Di dalam hatinya, ia menghitung. Dua lawan. Satu tahap keempat, satu tahap ketiga. Aku terluka. Tidak sebanding.
"Kalian sudah selesai?" tanyanya datar.
Tawa mereka terhenti. Rudi menatapnya dengan mata menyipit. "Kau berani bicara seperti itu padaku, sampah?"
Ia melangkah maju, tangannya terangkat—siap menampar.
Arga tidak bergerak. Ia hanya menatap mata Rudi dengan tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Tamparan itu turun.
Dan Arga menghilang.
Bukan benar-benar menghilang. Ia hanya menggunakan Langkah Bayangan Bulan—bergerak ke samping dengan kecepatan yang tidak disangka oleh Rudi. Tamparan itu mengenai udara kosong.
"Apa—?"
Sebelum Rudi sempat bereaksi, Arga sudah berada di belakangnya. Pisaunya yang masih berlumuran darah Macan Kabut menempel di leher pemuda itu.
"Kalau aku mau, kau sudah mati," bisik Arga.
Seluruh lapangan membeku. Beni menatap dengan mulut ternganga. Rudi tidak berani bergerak, merasakan dinginnya pisau di lehernya.
"Ta-tapi... kau hanya sampah... bagaimana—"
"Aku tidak peduli apa sebutan kalian untukku." Suara Arga tetap datar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat bulu kuduk kedua pemuda itu meremang. "Yang penting, jangan ganggu aku lagi. Mengerti?"
Rudi menelan ludah. "Me-mengerti."
Arga menurunkan pisaunya dan melangkah mundur. Tanpa menoleh, ia berjalan pergi, menghilang ke dalam kabut.
Beni dan Rudi hanya bisa berdiri terpaku. Butuh waktu beberapa saat sebelum Rudi menyentuh lehernya sendiri—tidak ada luka, tapi ada rasa dingin yang tertinggal.
"Siapa... siapa dia sebenarnya?" bisik Beni.
Rudi tidak menjawab. Ia menatap ke arah hilangnya Arga dengan ekspresi campuran takut dan marah.
---
Malam itu, Arga membersihkan lukanya di kamar. Sari sudah terbiasa dengan pemandangan ini—Tuan Mudanya pulang dengan luka-luka. Ia tidak lagi panik, hanya menyiapkan ramuan herbal dengan gerakan cekatan.
"Tuan Muda, Festival tinggal sebulan lebih," katanya sambil membalut bahu Arga. "Apa kau akan baik-baik saja?"
Arga menatap liontin giok di dadanya. Benang Perak kini sepanjang lima ruas jari, berdenyut stabil.
"Aku akan lebih dari baik-baik saja, Sari."
Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku... aku hanya tidak ingin Tuan Muda terluka lagi."
Arga meletakkan tangannya di kepala Sari. Sebuah gestur yang asing baginya, tapi terasa alami untuk tubuh ini.
"Aku berjanji," katanya pelan. "Tidak akan ada yang bisa melukaiku lagi."
Di luar jendela, bulan purnama menggantung rendah. Cahayanya yang perak masuk melalui celah dinding, jatuh tepat di atas liontin giok yang berdenyut pelan.
Seolah memberkati janji itu.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga