Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Gala Maya
Malam itu, gedung Yayasan Seni Nasional terlihat seperti istana cahaya yang terapung di tengah kegelapan Jakarta. Karpet merah membentang panjang, menyambut tamu-tamu dengan gelar yang lebih panjang dari nama asli mereka. Aroma parfum niche yang mahal dan denting gelas sampanye menciptakan simfoni kemewahan yang biasanya akan membuat Zeva ingin segera melarikan diri ke bengkel.
Namun malam ini, Zeva tidak melarikan diri.
Ia keluar dari mobil limusin Adrian dengan keanggunan yang tidak dipaksakan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat yang jatuh sempurna di tubuhnya—bukan putih gading atau warna pastel yang biasa dikenakan para sosialita. Gaun itu memiliki belahan tinggi di paha yang menunjukkan sepatu bot kulit berhak tinggi yang ramping, bukan stiletto rapuh. Rambutnya dibiarkan terurai dengan gaya sleek back, menonjolkan anting berlian tunggal yang merupakan warisan Nenek Adrian.
"Kau terlihat berbahaya," bisik Adrian saat ia menawarkan lengannya pada Zeva.
"Gue emang bahaya, Adrian. Jangan bilang gue nggak kasih peringatan," balas Zeva dengan senyum tipis yang mematikan.
Begitu mereka masuk ke dalam aula utama, perhatian seluruh ruangan tersedot pada mereka. Maya sudah berada di sana, berdiri di tengah lingkaran kolega bisnis kelas atas. Ia mengenakan gaun berwarna emas yang berkilau, tampak seperti matahari yang dikelilingi oleh planet-planet kecil. Begitu melihat Adrian dan Zeva, Maya memberikan tanda pada kelompoknya dan berjalan menghampiri dengan langkah anggun.
"Adrian, kau datang!" Maya menyapa dengan nada akrab, mengabaikan kehadiran Zeva sejenak. "Dan Zevanya... aku terkejut. Kau tampak sangat... berbeda. Hitam? Apakah kau sedang berkabung untuk sesuatu?"
Zeva tidak berkedip. "Hitam itu warna mesin yang paling kuat, Mbak Maya. Dia nggak gampang kotor kalau kena debu. Berbeda dengan emas; kalau kegores sedikit, harganya langsung jatuh, kan?"
Maya tertawa kecil, meski matanya berkilat tajam. "Filosofi yang unik. Ayo, aku ingin mengenalkan kalian pada kurator seni dari Paris. Kita sedang membahas koleksi lukisan abad ke-19 yang baru saja aku sumbangkan."
Maya menggiring mereka menuju sekelompok orang yang tampak sangat serius. Di sana, Maya mulai meluncurkan serangannya. Ia berbicara dalam bahasa Prancis yang fasih dengan sang kurator, lalu dengan sengaja menoleh pada Zeva.
"Maaf, Zevanya, aku lupa kau mungkin tidak mengerti. Kami sedang membahas teknik chiaroscuro pada lukisan ini. Bagaimana menurutmu? Apakah pencahayaannya terasa terlalu dramatis untuk seleramu yang... sederhana?"
Semua orang di lingkaran itu menatap Zeva, menunggu ia mempermalukan dirinya sendiri. Adrian hendak membuka suara untuk membela, namun Zeva menahan lengan Adrian.
Zeva melangkah mendekati lukisan yang dimaksud. Ia menatapnya sejenak, lalu menoleh pada sang kurator. "Saya nggak tahu istilah Prancisnya apa," ujar Zeva dengan suara lantang dan tenang. "Tapi dalam dunia mekanik, cahaya dan bayangan itu soal presisi. Lukisan ini... dia mencoba menyembunyikan retakan di sudut kiri bawah dengan bayangan yang gelap, kan?"
Sang kurator tertegun, lalu mendekat ke lukisan itu. "Luar biasa. Anda benar, Mademoiselle. Ada restorasi kecil di sana yang hampir tidak terlihat. Bagaimana Anda tahu?"
"Karena kalau mesin motor ditutup pake cat tebel buat nutupin karatan, gue bisa liat dari jauh," jawab Zeva santai. "Seni atau mesin, kalau ada yang disembunyiin, biasanya kelihatan dari cara cahayanya jatuh nggak rata."
Adrian tersenyum bangga, sementara Maya menggertakkan giginya. Satu poin untuk Zeva.
Acara berlanjut ke jamuan makan malam formal. Maya telah mengatur agar posisi duduk Zeva berada di antara dua kritikus seni paling pedas di Jakarta dan seorang menteri yang dikenal sangat kaku soal etiket. Adrian duduk agak jauh di meja utama bersama Kakek Wijaya.
Sepanjang makan malam, Maya terus memancing diskusi tentang topik-topik yang ia anggap akan membuat Zeva tampak bodoh: kebijakan fiskal Uni Eropa, sejarah opera di Wina, hingga perbedaan antara anggur Bordeaux dan Burgundy.
"Zevanya," panggil Maya dari meja seberang, memancing perhatian semua tamu. "Kudengar kau sedang menjalankan proyek yayasan sosial di pasar. Sangat mulia. Tapi apakah kau tidak merasa itu hanya... pemborosan anggaran? Bukankah lebih baik uang itu digunakan untuk mendukung galeri seni seperti ini?"
Ruangan menjadi sunyi. Ini adalah serangan langsung pada kredibilitas Zeva sebagai pemimpin yayasan.
Zeva meletakkan garpunya dengan suara denting yang tegas. Ia menatap Maya, lalu menatap menteri yang duduk di sampingnya.
"Mbak Maya, seni itu indah. Tapi seni nggak bisa bikin anak pedagang pasar sekolah. Seni nggak bisa benerin kabel listrik yang konslet yang bisa ngebakar seluruh pasar," ujar Zeva. "Bagi saya, galeri seni ini adalah pajangan. Tapi pasar? Pasar itu nadinya kota ini. Kalau nadinya berhenti, orang-orang di sini nggak bakal bisa beli lukisan lagi karena ekonominya mati."
Zeva menoleh pada sang menteri. "Pak, Bapak lebih suka liat rakyat Bapak pinter apresiasi lukisan tapi laper, atau rakyat yang punya modal usaha dan bisa makan cukup setiap hari?"
Menteri itu terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Argumen yang sangat praktis, Nona Zevanya. Saya setuju, fundamental ekonomi memang dimulai dari akar rumput."
Sekali lagi, jebakan Maya berbalik menjadi panggung bagi Zeva.
Merasa terdesak, Maya memutuskan untuk melakukan langkah terakhir yang lebih personal. Saat sesi dansa dimulai, Maya berhasil mencegat Zeva di area balkon yang sepi, jauh dari keramaian dan jangkauan Adrian.
"Kau pikir kau sudah menang?" desis Maya, topeng keanggunannya kini retak sepenuhnya. "Kau hanya gadis jalanan yang beruntung bisa memoles diri. Tapi kau tidak akan pernah memiliki hati Adrian sepenuhnya. Kau tahu apa yang ada di laci meja kerjanya? Foto kami saat di London. Dia tidak pernah membuangnya."
Zeva merasakan dadanya berdenyut sakit, teringat keraguan Adrian di kantor waktu itu. "Foto itu cuma kertas, Maya. Sama kayak lu, indah dilihat tapi nggak punya fungsi."
"Kertas itu punya sejarah," balas Maya licik. "Malam ini, setelah acara ini selesai, Adrian sudah berjanji akan menemuiku di hotel tempatku menginap untuk 'menyelesaikan' urusan kami. Kau pikir kenapa dia tidak membawamu duduk di meja utama bersamanya? Karena kau hanyalah tameng publiknya."
Zeva terdiam. Ia melihat Adrian di kejauhan, sedang tertawa bersama Kakek Wijaya. Rasa ragu mulai merayap kembali. Namun, ia teringat kunci pas yang ia berikan pada Adrian semalam.
Zeva tidak membalas makian Maya. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol speaker. Ternyata, sejak awal percakapan di balkon, Zeva sudah terhubung dalam panggilan suara dengan Adrian yang mengenakan earpiece nirkabel di bawah meja utamanya.
"Adrian, lu denger kan?" tanya Zeva dingin.
Langkah kaki terdengar mendekat. Adrian muncul dari balik pilar, wajahnya tampak sangat marah namun juga kecewa. Ia tidak menatap Zeva, melainkan menatap Maya dengan tatapan yang bisa membekukan api.
"Menemuimu di hotel, Maya?" suara Adrian terdengar rendah dan berbahaya. "Kapan aku menjanjikan hal itu?"
Maya memucat. "Adrian... aku... aku hanya ingin..."
"Kau hanya ingin menghancurkan apa yang tidak bisa kau miliki," potong Adrian. Ia berdiri di samping Zeva dan merangkul pinggangnya dengan erat. "Foto yang kau bicarakan itu? Aku sudah membakarnya pagi tadi, tepat sebelum aku berangkat menjemput Zeva. Aku tidak butuh sejarah yang penuh kebohongan."
Kakek Wijaya juga muncul di belakang Adrian, tampak sangat tidak senang. "Maya, aku menghargai sumbangan keluargamu. Tapi perilaku ini... ini memalukan. Siska, pastikan sumbangan lukisan dari Nyonya Maya dikembalikan besok pagi. Alfarezel tidak menerima sumbangan dari orang yang mencoba merusak keluarga kami."
Maya berdiri mematung saat Adrian dan Zeva berjalan melewatinya tanpa menoleh lagi.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Zeva hanya diam menatap jendela. Adrenalinnya sudah habis, menyisakan kelelahan yang luar biasa.
"Kau hebat tadi," puji Adrian lembut. "Soal restorasi lukisan itu... aku benar-benar terkesan."
"Gue cuma jujur, Adrian," sahut Zeva pelan. "Tapi soal foto itu... lu beneran udah bakar?"
Adrian mengambil ponselnya, menunjukkan sebuah video pendek di mana ia membakar selembar foto tua di sebuah asbak perak. "Aku tidak ingin ada celah lagi bagi siapa pun untuk meragukan pilihanku, Zeva. Termasuk dirimu."
Zeva menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Malam ini ia belajar bahwa kelas sosial bisa dipalsukan dengan baju mahal dan bahasa asing, tapi karakter sejati akan selalu bersinar di bawah tekanan, seperti mesin yang diuji di lintasan balap yang paling ekstrem.
"Adrian," bisik Zeva.
"Ya?"
"Besok... gue mau kita beneran ke pasar. Tanpa jas, tanpa gaun. Gue mau makan bakso urat paling pedes bareng lu."
Adrian mengecup puncak kepala Zeva. "Apapun untukmu, Nona Direktur."
Namun, di kegelapan malam, Maya tidak menangis. Ia justru menghubungi seseorang di ponselnya. "Rencana A gagal. Kita gunakan Rencana B. Hubungi mantan suamiku di Singapura. Beritahu dia, Adrian Alfarezel punya kelemahan baru yang sangat berharga."
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan