NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Dibawah Sinar Bulan

Tiga pembunuh itu bergerak dengan kesunyian yang menyeramkan. Mereka bukan lagi pengawal desa yang hanya mengandalkan otot dan gertakan. Mereka adalah profesional yang mengerti cara membunuh se'efisien mungkin. Di dalam dunia ini, tentara bayaran sering kali memiliki berkah tipe pengintai atau peningkatan indra. Arlan bisa merasakan tatapan mata mereka yang dingin di balik topeng kain hitam itu, seolah-olah dia sudah dianggap sebagai mayat yang sedang berjalan.

Arlan berdiri tegak, tangannya masih mengepal di samping tubuhnya. Dia tidak memiliki senjata, namun tubuhnya yang kecil dan lincah kini telah diselimuti oleh aura Gerbang Pertama yang bergetar hebat. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Meskipun jantungnya berdegup kencang karena adrenalin, otot-otot di kaki dan lengannya terasa jauh lebih ringan. Teknik tidur saat bergerak yang tadi diajarkan kakek tua itu mulai memberikan efek nyata. Arlan tidak lagi menggunakan seluruh tenaganya untuk berdiri tegak. Dia membiarkan sebagian ototnya beristirahat sementara sebagian lainnya bersiap untuk meledakkan kekuatan.

Salah satu pembunuh yang memegang busur kecil kembali menarik tali busurnya. Tanpa suara, tiga anak panah meluncur sekaligus ke arah dada, leher, dan kaki Arlan. Ini adalah teknik Menembus Angin, sebuah kemampuan untuk membagi target serangan dalam waktu yang bersamaan.

Arlan tidak panik. Dalam pandangannya yang kini jauh lebih fokus, gerakan anak panah itu seolah-olah meninggalkan jejak cahaya di udara. Arlan memutar tubuhnya ke arah kiri, sebuah gerakan yang sangat efisien. Anak panah pertama melewati dadanya, anak panah kedua dia tepis menggunakan punggung telapak tangan yang sudah diperkeras oleh energi internal, dan anak panah ketiga dia hindari hanya dengan mengangkat kaki kirinya sedikit.

Takk! Takk!

Anak panah itu menancap di tanah dan pohon di belakangnya.

Melihat serangan jarak jauh gagal, dua pembunuh lainnya yang memegang belati segera melesat maju dari dua sisi yang berbeda. Mereka bergerak secara sinkron, menciptakan serangan jepitan yang sulit untuk dihindari. Pembunuh di sebelah kanan mengincar ulu hati, sementara pembunuh di sebelah kiri mengincar urat nadi di paha Arlan.

"Terlalu lambat," bisik Arlan.

Di kehidupan sebelumnya, Adit sering menghadapi musuh yang mencoba menjebaknya dalam kesepakatan bisnis yang terlihat menguntungkan dari dua sisi namun sebenarnya mematikan. Prinsipnya sama jangan terpaku pada dua serangan itu, tapi carilah satu titik lemah di antara keduanya.

Arlan melompat maju, bukan mundur. Dia justru masuk ke ruang kosong di antara kedua pembunuh tersebut. Dengan menggunakan kecepatan dari Gerbang Pertama, Arlan meraih pergelangan tangan pembunuh di sebelah kanan dan memutarnya dengan teknik pengunci sendi yang sangat brutal.

Krakkk!

Suara patahan tulang terdengar nyaring di kesunyian hutan. Pembunuh itu mengerang kesakitan saat belatinya jatuh ke tanah. Arlan tidak berhenti di situ. Dia menggunakan tubuh pembunuh yang sedang kesakitan itu sebagai tameng untuk menahan serangan belati dari pembunuh di sebelah kiri.

Srettt!

Belati itu justru menusuk bahu rekannya sendiri. Pembunuh di sebelah kiri tertegun sejenak karena serangannya mengenai kawan sendiri. Celah kecil itu adalah semua yang dibutuhkan oleh Arlan.

Arlan melepaskan pegangannya dan meluncurkan serangan telapak tangan terbuka ke arah rahang pembunuh di sebelah kiri. Ini adalah teknik Getaran Internal. Arlan mengirimkan gelombang energi langsung melalui tulang rahang menuju otak lawan.

Pembunuh itu seketika jatuh pingsan dengan mata putih yang terlihat, tubuhnya kejang-kejang di tanah.

Kini tinggal satu pembunuh yang memegang busur. Dia tampak sangat terkejut melihat dua rekannya yang profesional jatuh hanya dalam hitungan detik oleh seorang anak kecil. Dia mencoba untuk melarikan diri ke balik pepohonan, menyadari bahwa targetnya bukan lagi seorang anak biasa, melainkan seekor monster kecil.

"Jangan biarkan dia pergi," suara kakek tua terdengar dari atas batu besar. "Seorang predator yang membiarkan mangsanya lolos hanya akan membawa masalah besar di masa depan. Ingat apa yang terjadi di kehidupanmu sebelumnya, Adit? Kamu membiarkan Rendra lolos satu kali, dan dia menghancurkan mu."

Mendengar nama Rendra disebut, mata Arlan berkilat dengan amarah yang dingin. Ingatan tentang pengkhianatan itu seolah menjadi energi tambahan bagi tubuhnya. Arlan mengambil salah satu belati yang jatuh di tanah. Dia menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh sisa energi dari Gerbang Pertama ke lengan kanannya.

Arlan melempar belati itu dengan teknik putaran horizontal. Belati itu melesat membelah udara, menciptakan suara desingan yang tajam.

Jleb!

Belati itu menancap tepat di tengah punggung pembunuh yang sedang melarikan diri itu. Pembunuh itu tersungkur ke depan dan tidak bergerak lagi.

Hutan kembali menjadi sunyi. Arlan berdiri di tengah tiga mayat itu, napasnya mulai tidak stabil. Menggunakan Gerbang Pertama secara terus menerus dan mulai menyentuh Gerbang Kedua benar-benar menguras cadangan energinya. Dia merasa penglihatannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat.

Kakek tua itu melompat turun dari batu dan berjalan menghampiri Arlan. Dia memeriksa mayat-mayat itu satu per satu dengan wajah yang sangat santai, seolah olah dia baru saja menonton pertunjukan sirkus yang biasa saja.

"Tidak buruk untuk seorang pemula," ucap kakek itu. "Tapi kamu terlalu banyak membuang gerakan. Kamu mematahkan lengan pembunuh pertama dengan tenaga yang terlalu besar. Seharusnya cukup dengan sedikit tekanan pada sarafnya, dan dia akan lumpuh tanpa membuang energimu. Taijutsu adalah tentang efisiensi, bukan sekadar kekerasan fisik."

Arlan hanya diam, mencoba mengatur pernapasannya kembali. Dia duduk bersila di tanah, mencoba mengistirahatkan tubuhnya sesuai dengan teknik yang dipelajarinya tadi.

"Sekarang, lakukan tugas yang paling penting," kakek itu menunjuk ke arah mayat-mayat tersebut. "Periksa barang bawaan mereka. Di dunia ini, barang milik musuh yang kalah adalah hak milik pemenang. Jangan pernah meninggalkan apa pun yang berharga."

Arlan bangkit dengan susah payah dan mulai menggeledah tubuh ketiga pembunuh itu. Dia menemukan kantong berisi koin perak, beberapa ramuan pemulih energi tingkat rendah, dan sebuah peta wilayah hutan utara yang sangat detail. Namun, yang paling menarik perhatian Arlan adalah sebuah lencana perak kecil dengan simbol kepala serigala.

"Itu adalah simbol dari Kelompok Serigala Hitam," kakek itu menjelaskan sambil mengintip dari balik bahu Arlan. "Mereka adalah organisasi pembunuh bayaran tingkat menengah yang cukup terkenal di wilayah ini. Gort pasti menghabiskan seluruh tabungannya untuk menyewa mereka."

Arlan mengepalkan lencana itu. "Berarti mereka akan mengirim lebih banyak orang lagi setelah ini?"

"Mungkin," jawab kakek itu sambil mengangkat bahu. "Tapi biasanya mereka tidak akan bergerak dalam waktu dekat karena mereka butuh waktu untuk menyelidiki kenapa tim pertama mereka gagal. Itu memberimu waktu sekitar dua sampai tiga minggu untuk berlatih."

Arlan memasukkan koin perak dan ramuan itu ke dalam kantongnya. Dia merasa sedikit lebih tenang sekarang karena memiliki modal untuk melanjutkan perjalanannya. "Ayo kita lanjutkan ke kota itu. Aku ingin menjual inti mana ini dan membeli sesuatu untuk Ibu."

Kakek itu tertawa. "Kamu masih memikirkan ibumu di saat seperti ini? Sifatmu itu bisa menjadi kekuatanmu, tapi juga bisa menjadi kelemahan terbesarmu, Arlan. Tapi baiklah, kota terdekat ada di balik bukit ini. Namanya Kota Oksis. Itu adalah kota perdagangan bebas di mana tidak ada yang peduli siapa kamu selama kamu punya uang."

Mereka kembali berjalan menembus kegelapan hutan. Arlan terus mencoba mempertahankan kondisi tidurnya saat bergerak. Kali ini terasa sedikit lebih mudah. Dia merasa rasa sakit di ototnya mulai mereda lebih cepat dari biasanya. Ini adalah efek penyembuhan dari Gerbang Kedua yang mulai terbangun secara perlahan.

Setelah berjalan selama dua jam lagi, mereka akhirnya sampai di puncak bukit. Di bawah sana, terlihat kelap kelip lampu dari sebuah kota yang cukup besar. Kota Oksis dikelilingi oleh tembok batu tinggi dengan menara pengawas di setiap sudutnya. Suasana kota itu terlihat sangat sibuk bahkan di malam hari.

"Ingat satu hal, Arlan," ucap kakek itu sebelum mereka menuruni bukit. "Di Kota Oksis, jangan pernah mempercayai siapa pun. Bahkan orang yang terlihat paling baik sekalipun bisa saja sedang merencanakan cara untuk menggorok lehermu. Dunia ini jauh lebih busuk daripada yang kamu bayangkan."

Arlan menatap cahaya kota itu dengan tatapan yang dingin. "Aku sudah tahu itu sejak lama. Aku tidak datang ke sana untuk mencari teman. Aku datang ke sana untuk mencari kekuatan."

Kakek itu tersenyum puas. "Bagus. Mari kita lihat, apakah kamu bisa bertahan di sarang ular itu tanpa menggunakan berkah dewa."

Mereka melangkah menuruni bukit menuju gerbang kota Oksis. Arlan membawa beban yang berat di pundaknya, baik secara fisik maupun mental. Namun, dia merasa jauh lebih siap sekarang. Setiap langkah yang dia ambil adalah langkah menjauh dari masa lalunya yang lemah dan langkah mendekat menuju takdirnya sebagai pendekar yang akan mengguncang dunia.

Di dalam pikirannya, Arlan sudah mulai menyusun strategi. Dia akan menggunakan uang dari pembunuh bayaran ini untuk membeli bahan-bahan kimia yang bisa dia gunakan untuk membuat racun atau obat obatan pelatih tubuh. Pengalamannya sebagai orang sukses di dunia lama membantunya untuk selalu berpikir beberapa langkah di depan orang lain.

"Selamat datang di dunia yang sesungguhnya, Arlan Vandermir," gumamnya pada diri sendiri saat dia melihat gerbang besar kota Oksis mulai terbuka di hadapannya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!