Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
"Apa Sesil baik-baik saja, mbak?." Perasaan Vania tiba-tiba tidak enak hingga wanita itu memutuskan menghubungi mbak Atun untuk menanyakan kabar putrinya.
"Non Sesil baik-baik saja, Bu. Ini baru saja selesai mandi." Mbak Atun terpaksa berdusta demi menuruti keinginan Sesil. Ya, sejauh itu Sesil memikirkan ibunya, bocah itu tidak ingin sampai kejadian yang sempat menimpa dirinya beberapa saat lalu membuat ibunya kepikiran hingga tak fokus dalam bekerja. Jika ibunya tidak fokus bekerja tentu akan semakin lama berada di sana.
"Syukurlah, mbak. Tadinya aku pikir terjadi apa-apa pada Sesil, soalnya tiba-tiba perasaanku nggak enak, mbak." Vania pun lega.
"Maafkan mbak Atun yang telah lalai dalam menjaga Non Sesil, Bu." Sesal mbak Atun dalam hati.
"Kalau begitu sudah dulu ya mbak. Aku mau lanjut kerja dulu." Bahkan hingga sinar mentari telah tergantikan oleh cahaya rembulan, Vania masih sibuk bekerja, mengecek satu persatu fasilitas kamar hotel, apakah sudah sesuai dengan standar yang diinginkan atau belum.
"Sudah kubilang Sesil pasti baik-baik saja, kau tidak perlu terlalu mencemaskannya! lagipula, putrimu itu adalah gadis kecil yang cerdas. Sesil pasti pandai menjaga diri. Apalagi selama ini mbak Atun selalu merawat dan menjaganya dengan baik." Kata Cika setelah Vania selesai berbicara dengan mbak Atun melalui sambungan telepon.
"Kau tahu sendiri, hanya Sesil yang kumiliki di dunia ini. Jika sampai terjadi apa-apa padanya, aku pasti tidak akan sanggup melanjutkan hidup, Cika." Mendengar kata-kata Vania, Cika pun memeluk sahabatnya itu.
"Jangan bicara seperti itu, Vania! Tuhan pasti akan selalu melindungi putrimu. Sekarang lebih baik kita fokus menyelesaikan pekerjaan agar bisa segera pulang dan kau bisa kembali bertemu dengan Sesil!." Kata Cika dan Vania pun mengangguk setuju.
Di saat Vania sedang fokus pada pekerjaannya, di belahan kota yang berbeda Sandi masih saja kepikiran dengan ucapan ibunya sore tadi.
"Rupanya dia adalah anak dari wanita yang akan menikah denganku." Jujur, saat melihat wajah Sesil, Sandi sudah bisa menebak seperti apa kecantikan yang dimiliki oleh ibunya. Karena biasanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Tetapi, bukan hal itu yang menjadi pemikiran Sandi saat ini, melainkan bocah perempuan tadi. Ya, Entah mengapa, Sandi merasa bocah perempuan itu mampu menarik perhatiannya. Ia yang sebelumnya tidak terlalu suka pada anak-anak, kali ini merasa tidak demikian. Mungkin karena bocah itu cerdas atau seperti apa, Sandi sendiri tak paham dengan perasaannya.
Sandi yang baru selesai mandi dan berpakaian lengkap memilih beranjak dari kamar untuk mengalihkan pikirannya. Namun, baru saja melangkahkan kaki keluar dari kamarnya, pandangan Sandi malah disuguhkan oleh senyuman manis Sesil yang melintas di depan kamarnya. Ya, kamar yang ditempati oleh Sesil dan mbak Atun tepat berada disebelah kamar Sandi. Entah apa maksud dan tujuan Bu Dinda hingga menempatkan Sesil dan juga Mbak Atun di kamar itu, bukannya di kamar tamu.
"Hai, Om." Gadis kecil itu melebarkan senyum seraya melambaikan tangan pada Sandi.
"Hai." Tanpa sadar Sandi pun ikut melebarkan senyum pada bocah itu.
"Eh...kamu mau pergi kemana?." Sandi gegas menyusul langkah Sesil Ketika melihat gadis kecil itu hendak berjalan ke arah tangga. Sesil mungkin pandai berbicara, tapi dia tetaplah seorang bocah yang belum sepenuhnya bisa menjaga diri dari hal-hal yang bisa saja membahayakannya.
Sandi meraih dan menggenggam tangan Sesil.
"Ayo turun bareng Om!."Kata Sandi.
"Makasih ya Om."
"Ya Tuhan... mengapa setiap kali melihat senyuman bocah ini, hatiku terasa begitu hangat?." Batin Sandi, semakin tak paham dengan keanehan yang terjadi pada dirinya.
"Apa Sesil sudah makan malam?."
"Sudah Om, tadi disuapin sama mbak Atun." jawab Sesil.
Mendengar kata disuapi, Sandi kembali tersenyum. Bocah ini tetaplah seorang anak kecil yang masih membutuhkan bantuan dari orang dewasa, hanya caranya berbicara dan sikapnya saja yang lebih dewasa dari anak seusianya.
Di taman depan, di sinilah Sandi dan Sesil berada sekarang. Tadi Sesil berkata ingin melihat bintang hingga Sandi pun berinisiatif mengajak bocah itu ke taman depan untuk menyaksikan indahnya bintang-bintang yang menghiasi malam.
"Bintang-bintangnya cantik ya Om." Kata Sesil seraya mengarahkan pandangannya ke langit.
"Tentu saja." Balas Sandi tanpa mengalihkan pandangannya dari indahnya bintang-bintang.
"Tetapi, secantik apapun bintang dilangit masih cantikan mamahnya Sesil. Sesil jadi kangen mamah deh, Om." Menyaksikan indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit membuat Sesil teringat pada ibunya.
Dari pujian Sesil pada sosok ibunya, Sandi bisa menebak sebesar apa rasa cinta dan sayang bocah perempuan itu terhadap ibunya.
"Memangnya mamah kamu kemana?." Tanya Sandi seraya mengalihkan pandangannya pada Sesil.
"Mamah lagi kerja ke luar kota, dan baru akan kembali beberapa hari kedepan, Om." jawab Sesil dengan wajah polosnya.
"Begitu ya." Kata Sandi dan Sesil pun mengangguk.
"Sejak mamah mengandung Sesil, papah sudah meninggal makanya mamah terpaksa harus bekerja, Om." Sesil mengutarakan kalimat yang biasa di ucapkan ibunya setiap kali ia bertanya mengapa ibunya setiap hari meninggalkannya untuk bekerja.
Deg
Dari pengakuan Sesil, Sandi dapat menebak bahwa bocah itu tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah.
"Seandainya papah masih ada, mamah pasti tidak perlu meninggalkan Sesil demi pekerjaan." Gumaman bocah itu terdengar begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya, tidak terkecuali Sandi.
"Non Sesil....Non...." Tiba-tiba terdengar suara mbak Atun menyerukan nama Sesil, mencari keberadaan bocah itu.
"Sesil di sini, mbak." Mbak Atun lantas beranjak ke sumber suara.
"Maaf tuan, tadinya saya pikir Non Sesil di sini sendirian." Kata mbak Atun.
"Tadi Sesil ingin melihat bintang mbak, makanya saya ajak ke sini." Jawab Sandi seadanya dan mbak Atun pun mengangguk paham.
"Sudah larut malam, sebaiknya Sesil masuk ke dalam!." Kata Sandi sambil mengusap lembut puncak kepala Sesil.
"Kalau begitu Sesil masuk dulu ya Om." Pamit Sesil.
Sandi mengangguk seraya mengulas senyum.
Tak berselang lama, terdengar suara ibu.
"Baru sehari bertemu, tapi kelihatannya kalian sudah cukup dekat."
"Sandi hanya sekedar menemani bocah itu melihat bintang, mah." Balas Sandi.
"Sudah larut malam, sebaiknya kamu juga masuk dan beristirahat!." Kata ibu setelahnya.
Sandi mengangguk kemudian beranjak dari posisinya hendak kembali ke kamar untuk beristirahat.
Setibanya di kamar, Sandi merebahkan tubuhnya telentang diatas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba Sandi kembali teringat akan kejadian lima tahun lalu.
"Bagaimana nasib gadis itu sekarang?." Gumam Sandi kembali diselimuti perasaan bersalah.
Jujur, salah satu alasan Sandi sampai enggan mencari calon istri adalah karena perasaan bersalahnya pada gadis itu. Gadis yang telah dinodai nya, namun hingga detik ini tak ketahui Sandi sosoknya.
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆
ditunggu lagiii upnyaaa thorrrr