"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Gelombang yang Tak Terbendung
Malam di pesisir Yogyakarta semakin larut, menyisakan suara debur ombak yang menghantam tebing di bawah resort. Di dalam kamar, cahaya remang dari lampu dinding kayu menciptakan bayangan panjang yang menari-nari. Mika sudah benar-benar meringkuk di dalam botol parfum yang tertutup rapat, memberikan privasi mutlak bagi pasangan itu.
Baskara baru saja keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, memperlihatkan otot dada dan perut yang keras hasil disiplinnya selama ini. Arini yang sedang duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur sutra tipis, mendadak merasa udara di kamar itu menjadi sangat panas.
"Bas..." bisik Arini, namun suaranya tertelan saat Baskara melangkah mendekat dengan tatapan yang sangat gelap—tatapan seorang pemburu yang telah menemukan mangsanya.
Baskara tidak menjawab. Ia langsung memerangkap tubuh Arini di bawahnya saat Arini merebah ke kasur. Tangan Baskara yang besar mencengkeram kedua pergelangan tangan Arini, menguncinya di atas kepala dengan satu tangan.
"Aku sudah bersabar sangat lama, Arini," suara Baskara terdengar parau dan berat, bergetar tepat di depan bibir Arini. "Menjagamu dari hantu, menjagamu dari ayahku... tapi malam ini, aku tidak akan menjagamu dariku."
Baskara mencium Arini dengan cara yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ini bukan lagi ciuman penenang; ini adalah ciuman yang menuntut, agresif, dan penuh dominasi. Setiap sentuhannya terasa posesif, seolah ia ingin memastikan bahwa setiap inci kulit Arini adalah wilayah kekuasaannya.
Arini mengerang kecil, merasakan tubuhnya seolah terbakar. Dominasi Baskara begitu nyata hingga Arini merasa kewalahan. Tenaga pria itu luar biasa, mencerminkan betapa besarnya gairah yang ia tekan selama berbulan-bulan sejak mereka bertemu.
Setiap kali Arini mencoba mengatur napas, Baskara justru membawanya kembali ke puncak gelombang yang lebih tinggi. Ia tidak membiarkan Arini lepas, melakukan hubungan itu berkali-kali dengan stamina yang seolah tidak ada habisnya. Baskara seolah ingin menumpahkan semua rasa takut kehilangan, kemarahan pada masa lalu, dan cintanya yang dalam melalui penyatuan fisik itu.
"Bas... cukup... aku lelah," rintih Arini dengan napas terputus-putus saat fajar hampir menyingsing.
Baskara menghentikan gerakannya sejenak, menatap wajah Arini yang memerah dengan peluh yang membasahi dahi. Ia mengusap rambut Arini yang berantakan, lalu mengecup kening istrinya dengan sangat posesif. "Satu kali lagi, Sayang. Biarkan aku memastikan kamu benar-benar milikku."
Saat semuanya berakhir, Arini merasa tubuhnya benar-benar remuk, namun di saat yang sama ia merasa sangat utuh. Ia terkapar lemas di dada bidang Baskara, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang seperti genderang perang yang baru saja usai.
Baskara menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, lalu memeluk Arini dengan sangat erat, tidak memberikan ruang sedikit pun bagi udara untuk lewat di antara mereka.
"Maafkan aku jika terlalu kasar," bisik Baskara, suaranya kini kembali lembut namun tetap mengandung nada kepemilikan. "Aku hanya... tidak tahu cara lain untuk menunjukkan betapa gila aku mencintaimu."
Arini hanya bisa menyandarkan kepalanya dengan lemas, terlalu lelah bahkan untuk membalas dengan kata-kata. Ia memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh Baskara yang melindunginya. Malam ini, bukan hantu yang membuatnya kewalahan, melainkan cinta luar biasa dari sang Jaksa yang selama ini tampak sedingin es.
Di luar, matahari mulai mengintip dari ufuk timur, membawa pagi pertama mereka sebagai pasangan yang benar-benar menyatu di tanah istimewa ini.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣