NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Ilusi Dan Kebangkitan Sang Penjaga

Episode 3**3**

Tanah di bawah kaki Reno bergetar hebat, seolah-olah ada sesuatu yang sangat besar sedang menggeliat di dalam perut bumi. Tangan raksasa yang terbuat dari jalinan tengkorak putih dan akar pohon hitam yang membusuk itu melesat naik, mencoba mencengkeram kaki Reno dengan kecepatan yang mengejutkan.

"Vibrasi Tanah: Langkah Ringan!"

Reno melompat ke udara, memutar tubuhnya dengan anggun. Namun, kabut di sekelilingnya seolah-olah memiliki berat, menahan gerakannya dan membuatnya jatuh lebih lambat dari biasanya.

SRAK!

Salah satu jari tengkorak itu berhasil menggores sepatu bot Reno. Seketika, rasa dingin yang membekukan merambat naik, mencoba mematikan saraf di kakinya.

"Reno, jangan biarkan dia menyentuh kulitmu secara langsung!" Nidhogg memperingatkan, ia merayap turun ke lengan Reno, tubuhnya mengeluarkan aura ungu yang tajam. "Ini adalah Akar Kematian, sisa-sisa energi dari binatang purba yang membusuk di lembah ini. Jika kau tertangkap, jiwamu akan diseret masuk ke dalam tanah untuk menjadi nutrisi mereka!"

Reno mendarat di atas sebuah batu besar yang menonjol. Ia tidak panik. Ia menarik napas dalam, memfokuskan energi Arus Bumi untuk menghalau rasa dingin di kakinya. "Nidhogg, kau bilang ada penjaga fragmen. Apakah tangan ini bagian darinya?"

"Bukan. Ini hanya antibodi dari lembah ini. Penjaga yang sebenarnya ada di depan, dan dia jauh lebih buruk dari ini," jawab Nidhogg.

Baru saja Reno hendak bergerak maju, kabut di depannya mendadak berputar dan membentuk siluet-siluet yang sangat ia kenali. Bukan hanya Maya, tapi kesepuluh istrinya dari kehidupan lama muncul secara bersamaan. Mereka berdiri melingkar, mengenakan gaun sutra indah yang kontras dengan latar belakang lembah yang mati.

"Mas Arka... kenapa kau lebih memilih cacing menjijikkan ini daripada kami?" suara mereka bergema secara bersamaan, menciptakan harmoni yang menyakitkan telinga.

"Kembalilah, Mas... kami sudah menyiapkan makan malam yang enak... kami tidak akan menuntut banyak lagi darimu..."

Reno memejamkan mata, giginya bergetar. Bayangan masa lalu itu menyerangnya tepat di titik terlemahnya: rasa lelah yang membekas di jiwanya. Ia teringat bagaimana setiap malam ia harus membagi dirinya untuk memuaskan keinginan sepuluh orang, bagaimana ia harus tersenyum di depan kamera padahal jantungnya sudah hampir berhenti karena kelelahan.

"Kalian... bukan mereka," bisik Reno. "Mereka sudah mati bersama Arka. Aku adalah Reno."

"Tapi jiwamu tetaplah Arka, Mas... jiwa yang lelah dan ingin dicintai..." salah satu ilusi mendekat, tangannya yang pucat terulur untuk menyentuh pipi Reno.

Tepat saat tangan ilusi itu hampir menyentuh wajahnya, Reno merasakan sengatan panas dari tato naga di tangannya.

"RENO! BANGUN! JANGAN BIARKAN KABUT ITU MEMAKAN PIKIRANMU!" Nidhogg berteriak, ia melepaskan pekikan jiwa yang sangat keras hingga membuyarkan ilusi tersebut selama sesaat.

Reno tersentak. Ia melihat ke bawah dan menyadari bahwa ia hampir saja melangkah masuk ke dalam mulut lubang besar yang penuh dengan duri akar. Ilusi itu hampir saja membawanya menuju kematian.

"Terima kasih, Nidhogg," ucap Reno, keringat dingin membasahi dahinya. "Aku tidak akan goyah lagi. Masa lalu adalah sejarah, dan aku di sini untuk menulis masa depan."

Reno menghentakkan kakinya ke tanah. "Vibrasi Tanah: Gelombang Penghancur!"

BOOM!

Gelombang energi meledak dari kaki Reno, menghancurkan tangan tengkorak yang mencoba mengejarnya. Ia tidak lagi ragu. Ia berlari menembus kabut dengan kecepatan penuh, mengikuti denyut energi dari fragmen naga yang semakin kuat.

Setelah berlari selama lima belas menit, kabut perlahan-lahan sedikit menipis, memperlihatkan sebuah gua raksasa yang mulutnya menyerupai rahang naga yang terbuka. Di depan mulut gua tersebut, berdiri sesosok makhluk yang membuat Reno menghentikan langkahnya secara instan.

Makhluk itu adalah seekor Kelabang Tulang Raksasa. Panjangnya mencapai dua puluh meter, dengan tubuh yang terdiri dari ribuan segmen tulang putih yang keras. Setiap kakinya adalah sebilah pedang tulang yang tajam, dan dari mulutnya keluar cairan hijau yang bisa melelehkan batu.

Namun, yang paling mengerikan adalah di atas kepala kelabang itu, terdapat sebuah bola kristal ungu yang tertanam kuat. Di dalam kristal itulah, fragmen jiwa naga milik Nidhogg bersemayam.

"Itu dia... sang Penjaga," Nidhogg mendesis, matanya yang merah darah berkilat penuh amarah. "Kelabang itu telah menyerap energi fragmen ku selama ratusan tahun untuk mempertahankan hidupnya. Dia bukan lagi binatang biasa, dia adalah Mayat Hidup Tingkat Perak Tahap Puncak!"

"Perak Tahap Puncak?" Reno menelan ludah. "Bahkan Vance yang menggunakan Darah Iblis tidak sekuat ini."

"Benar. Dan kita tidak bisa menggunakan cara biasa. Jika kau menyerang tubuhnya, pedang tulangnya akan mencincang mu dalam sekejap. Kita harus menghancurkan kristal di kepalanya!"

Reno memperhatikan pola gerakan kelabang tersebut. Makhluk itu tampak sedang tertidur, namun setiap kali Reno bergerak sedikit saja, antena di kepalanya akan bergetar.

"Reno! Berhenti!" sebuah suara teriakan terdengar dari arah samping.

Reno menoleh dan melihat Baron, pemuda bertubuh raksasa, sedang bersembunyi di balik bongkahan batu besar. Beruang Armor Besinya tampak terluka parah, beberapa bagian zirahnya hancur.

"Baron? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Reno pelan.

"Jangan mendekat ke sana!" Baron memperingatkan dengan suara gemetar. "Aku mencoba mencuri kristal itu tadi, tapi kelabang itu hampir saja memotong beruangku menjadi dua bagian hanya dengan satu ayunan kaki. Dia terlalu kuat! Kita harus bergabung dengan murid lain untuk mengalahkannya!"

Reno menatap Baron, lalu menatap kelabang itu. "Bergabung? Dan membagi hadiahnya dengan delapan orang? Tidak, terima kasih."

Baron terbelalak. "Kau gila? Kau pikir cacing mu itu bisa melawan monster sebesar itu sendirian?"

"Cacingku mungkin kecil, tapi dia punya dendam yang sangat besar pada makhluk yang mencuri kekuatannya," jawab Reno tenang.

Reno melangkah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tidak lagi menyembunyikan auranya. Seketika, Kelabang Tulang itu membuka matanya sepuluh mata kecil berwarna hijau yang menatap Reno dengan kebencian murni.

KREK... KREK... KREK...

Kelabang itu mulai bergerak, suara kakinya yang menghantam batu terdengar seperti rentetan tembakan. Ia melesat menuju Reno dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran sebesar itu.

"Nidhogg, gunakan 'Shadow Fusion' (Penyatuan Bayangan)!"

Reno tidak menghindar. Ia justru berlari menyambut terjangan kelabang tersebut. Saat mereka hampir bertabrakan, tubuh Reno mendadak menghilang, menyatu dengan bayangan yang dihasilkan oleh tubuh besar kelabang itu sendiri.

"Mana dia?!" Baron yang menonton dari jauh sampai berdiri karena terkejut.

Reno muncul kembali tepat di punggung kelabang itu, berlari di atas ruas-ruas tulang punggungnya menuju ke arah kepala. Kelabang itu meronta, mencoba mengayunkan kaki-kaki pedangnya ke punggungnya sendiri untuk menyingkirkan Reno.

"Vibrasi Tanah: Langkah Lengket!"

Kaki Reno seolah menempel kuat pada tulang kelabang, memungkinkannya untuk tetap berdiri meski kelabang itu berguling-guling. Reno sudah hampir sampai di bagian kepala.

"Nidhogg, berikan aku seluruh energimu untuk satu pukulan ini!"

Nidhogg melilit tangan kanan Reno, mengubah tangan Reno menjadi seolah olah dilapisi oleh sarung tangan naga hitam yang besar. Energi ungu-hitam terkumpul di kepalan tangan Reno, menciptakan tekanan udara yang membuat kabut di sekitarnya tersibak.

"Tinjau Arus: PEMBELAH JIWA!"

Reno melompat dan menghantamkan tinjunya tepat ke arah kristal ungu di kepala kelabang.

CRACK!

Kristal itu tidak hancur seketika, namun sebuah retakan besar muncul. Kelabang itu mengeluarkan suara lengkingan yang sangat menyakitkan, dan energi fragmen naga di dalamnya mulai bocor keluar, membungkus tubuh Reno.

"Reno! Tahan! Jangan lepaskan! Energinya mulai mengalir!" Nidhogg berseru kegirangan.

Namun, di saat kritis itu, sebuah anak panah bercahaya perak melesat dari kegelapan kabut dan menghantam bahu Reno, melemparnya jatuh dari kepala kelabang.

"Ugh!" Reno terjatuh ke tanah, ia melihat ke arah asal anak panah itu.

Di sana, berdiri seorang murid dengan jubah biru tua bukan Kael, tapi seseorang yang lebih senior. "Terima kasih telah membukakan kristalnya untukku, Reno. Sekarang, biarkan Gerhana Hitam mengambil sisanya."

Reno meringis kesakitan, darah mulai membasahi bahunya. Ia menyadari bahwa di Lembah Kabut ini, musuh terbesarnya bukanlah monster tulang, melainkan manusia yang selalu menunggu di balik bayangan.

"Gerhana Hitam... kalian benar-benar tidak pernah belajar," desis Reno sambil mencoba bangkit kembali.

Petualangan di dalam lembah ini baru saja mencapai titik yang paling berbahaya. Kelabang yang mengamuk, musuh yang mengintai, dan fragmen jiwa yang hampir dalam genggaman. Reno harus memilih: menyelamatkan nyawanya atau mengejar kekuatannya.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!