Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kaca kantor polisi terasa lebih hangat bagi Sulfi. Meski jejak trauma masih menyisakan sedikit pucat di wajahnya, ia melangkah dengan dagu tegak.
Sulfi datang ke kantor polisi dan memberikan kesaksiannya secara resmi untuk menjerat Bima ke dalam lubang kehinaan yang paling dalam.
Di ruang pemeriksaan yang tenang, Sulfi duduk di hadapan penyidik.
Di sisi kiri dan kanannya, dua pilar kekuatannya berdiri kokoh. Zaidan dan Yuana yang menemani Sulfi, memberikan rasa aman yang tak ternilai harganya.
Zaidan terus menggenggam tangan istrinya di bawah meja, menyalurkan keberanian lewat sentuhan hangat, sementara Yuana memastikan setiap poin kesaksian Sulfi tercatat secara akurat sesuai prosedur hukum.
"Malam itu, saya melihat mobil yang sama dengan yang menabrak klien saya, berada di lokasi kejadian suami saya," ucap Sulfi dengan suara yang semakin stabil.
Ia menceritakan setiap detail teror, setiap pesan ancaman, hingga detik-detik mengerikan di mana ia harus kehilangan belahan jiwanya.
Penyidik mendengarkan dengan saksama, sementara kamera perekam di sudut ruangan mengabadikan setiap kata sebagai bukti yang tak terbantahkan.
Bima, yang saat itu berada di sel tahanan tidak jauh dari sana, tidak akan menyangka bahwa wanita yang dulu ia remehkan kini telah berubah menjadi badai yang menghancurkan benteng kebohongannya.
Setelah berjam-jam memberikan keterangan, Sulfi akhirnya menandatangani berkas kesaksiannya.
Ia mengembuskan napas panjang, seolah-olah ada bongkahan batu besar yang baru saja terangkat dari dadanya.
"Terima kasih sudah bertahan, Sayang," bisik Zaidan sambil merangkul pundak Sulfi saat mereka berjalan keluar ruangan.
Yuana tersenyum bangga melihat keteguhan sahabatnya.
"Ini adalah akhir dari pelariannya, Mbak. Besok, seluruh dunia akan tahu siapa Bima sebenarnya."
Di koridor kantor polisi yang sibuk itu, Sulfi merasa dirinya telah benar-benar pulang.
Bukan hanya pulang ke rumah, tapi pulang ke dalam kedamaian jiwa yang selama ini dirampas darinya.
Dengan Zaidan di sampingnya, ia tahu bahwa babak kelam itu kini telah resmi ditutup dengan tinta keadilan.
Baru saja Sulfi menghirup udara lega di koridor, seorang petugas piket mendekat dengan sikap hormat.
Ia menyampaikan bahwa Kompol memanggil mereka bertiga untuk segera menuju ruang kerjanya.
Langkah Zaidan, Sulfi, dan Yuana pun terarah ke ruangan berpintu kayu jati besar di ujung lorong utama.
Begitu pintu dibuka, suasana serius langsung menyergap.
Di ruangan Kompol ada jaksa umum yang menunggu mereka, duduk tegak dengan beberapa tumpukan map tebal di atas meja kerja Kompol Hendrawan.
Jaksa senior tersebut dikenal sebagai sosok yang tak kenal kompromi dalam menangani kasus-kasus kelas kakap.
"Silakan duduk," sambut Kompol Hendrawan dengan nada suara yang berat namun penuh rasa hormat.
"Perkenalkan, ini Bapak Prasetyo dari Kejaksaan Agung. Beliau yang akan mengawal langsung tuntutan untuk kasus Bima."
Jaksa Prasetyo membetulkan letak kacamatanya, menatap Sulfi dengan pandangan empati sekaligus profesional.
"Saya sudah membaca ringkasan kesaksian Anda yang baru saja selesai, Bu Sulfi. Sangat kuat. Kedatangan saya di sini untuk memastikan bahwa dakwaan yang kita susun tidak hanya berlapis, tapi juga tidak bisa ditembus oleh pengacara mana pun."
Yuana segera mengambil posisi di samping Sulfi, siap berdiskusi secara teknis sebagai sesama praktisi hukum.
"Kami sudah menyiapkan sinkronisasi antara bukti digital dan keterangan saksi kunci, Pak Jaksa," timpal Yuana dengan sigap.
Zaidan yang duduk di sebelah Sulfi merapatkan genggaman tangannya.
Ia tahu, kehadiran jaksa umum di ruangan Kompol pada tahap sepagi ini menandakan bahwa negara tidak main-main.
Kasus ini bukan lagi sekadar urusan pribadi, melainkan perang terbuka melawan ketidakadilan yang selama ini dilindungi oleh harta.
"Kita akan menjeratnya dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana sebagai dakwaan primer," tegas Jaksa Prasetyo sambil mengetuk map di depannya.
"Ditambah dengan kasus tabrak lari dan intimidasi terhadap saksi. Bima tidak akan melihat dunia luar untuk waktu yang sangat lama."
Mendengar pernyataan tegas dari pihak kejaksaan di hadapan Kompol, Sulfi merasa perjuangannya selama bertahun-tahun akhirnya mendapatkan pengakuan tertinggi.
Di ruangan itu, di hadapan para penegak hukum yang berintegritas, ia tahu bahwa hari-hari penuh ketakutan itu telah berakhir, digantikan oleh barisan hukum yang siap menghancurkan kesombongan Bima.
Setelah kesepakatan strategi hukum tercapai, Jaksa berpamitan dengan jabat tangan erat, meninggalkan ruangan dengan membawa berkas-berkas yang akan menjadi senjata di pengadilan nanti.
Ketegangan yang tadinya memenuhi ruangan perlahan mencair, digantikan oleh rasa lapar yang mendadak menyerang setelah berjam-jam fokus pada kasus.
Yuana mengajak suami dan mereka mencari makan di luar kantor polisi untuk merayakan kemajuan besar hari ini. Namun, saat mereka baru saja berjalan menuju parkiran, Sulfi menghentikan langkahnya.
"Aku ingin makan sop buntut," ucap Sulfi dengan nada yang sangat yakin, seolah lidahnya sudah bisa merasakan gurihnya kuah kaldu yang hangat.
Yuana melirik ke arah sahabatnya itu dengan kening berkerut.
Ia teringat kejadian kemarin di gedung pernikahan, di mana Sulfi makan berkali-kali namun tetap merasa lapar.
Sebagai sesama wanita, insting Yuana mulai bekerja.
"Apa kamu ngidam?" tanya Yuana dengan nada penuh selidik namun penuh harap.
"Entahlah, aku hanya tiba-tiba ingin sekali menghirup kuah sop yang panas," jawab Sulfi sambil merapatkan jaketnya, wajahnya tampak sedikit merona.
Tanpa banyak bicara, Yuana mengajak Sulfi ke ruang kesehatan yang ada di lingkungan kantor polisi sebelum mereka benar-benar pergi.
Ia menemui petugas medis di sana dan membeli sebuah alat uji.
Ia meminta agar Sulfi melakukan tes kehamilan saat itu juga.
"Coba saja, Mbak. Daripada penasaran," paksa Yuana lembut.
Zaidan menunggu di lorong dengan perasaan tidak karuan, sementara Yuana menunggu di luar pintu toilet, jantungnya ikut berdegup kencang.
Di dalam, Sulfi menatap benda kecil di tangannya dengan napas tertahan.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Sulfi tidak berani melihat hasilnya.
Ia keluar dengan tangan gemetar dan menyodorkan alat itu kepada Yuana tanpa kata-kata.
Yuana menerima alat itu, matanya membelalak melihat dua garis merah yang tampak sangat jelas.
"Alhamdulillah, positif!" ucap Yuana dengan suara riang yang hampir memekik, langsung memeluk Sulfi dengan erat.
Zaidan yang mendengar teriakan itu segera menghampiri.
Saat melihat hasil di tangan Yuana, air mata bahagia tak terbendung lagi di pelupuk matanya.
Di tengah perjuangan mereka menuntut keadilan bagi masa lalu, Tuhan menitipkan sebuah nyawa baru sebagai simbol harapan masa depan.
Perjalanan menuju warung sop buntut siang itu pun berubah menjadi perjalanan penuh syukur yang tak akan pernah mereka lupakan.
Mobil SUV hitam itu melaju pelan membelah jalanan kota, menciptakan ruang privat yang penuh dengan kehangatan di tengah riuhnya berita penangkapan Bima.
Di dalam kabin yang sejuk, di perjalanan Zaidan menggenggam tangan istrinya yang sedang ngidam itu dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskan satu detik pun momen kebahagiaan ini.
Sesekali Zaidan membawa punggung tangan Sulfi ke bibirnya, mengecupnya lama dengan mata terpejam.
Perasaan syukur membuncah di dadanya; di saat ia sedang berjuang menghancurkan monster dari masa lalu Sulfi, Tuhan justru memberikan hadiah terindah sebagai pelengkap masa depan mereka.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menjaga dirimu dan titipan ini," bisik Zaidan lembut, suaranya sedikit bergetar karena haru.
Sulfi hanya tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Zaidan.
Rasa lapar akan sop buntut yang tadi menggebu kini bercampur dengan rasa tenang yang luar biasa.
Ketakutannya pada Bima seolah menguap, berganti dengan naluri seorang ibu yang ingin memberikan dunia yang aman bagi janin di rahimnya.
"Mas, jadi setelah makan sop buntut, aku boleh minta es campur juga?" tanya Sulfi dengan nada manja yang membuat Zaidan tertawa kecil.
"Tentu, Sayang. Apapun. Jangankan es campur, kalau kamu minta bintang di langit pun akan Mas usahakan," jawab Zaidan jenaka sambil mengusap lembut perut Sulfi yang masih rata.
Yuana yang duduk di bangku belakang hanya bisa tersenyum lebar melihat kemesraan sahabatnya.
Ia sengaja mengalihkan pandangan ke luar jendela, memberikan ruang bagi pasangan itu untuk merayakan keajaiban kecil mereka.
Di tengah rencana tuntutan hukum yang berat dan bayang-bayang persidangan yang melelahkan, kehadiran nyawa baru ini menjadi bahan bakar semangat yang tak padam bagi mereka semua untuk segera menuntaskan kasus Bima seadil-adilnya.