NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Ruang Ajaib: Dunia Yang Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Ruang Ajaib / Dunia Lain / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Aureliana Virestha terbiasa hidup dalam bayang-bayang, diremehkan dan disalahkan oleh dunia yang tidak pernah memberinya tempat.

Namun di ambang kematian, ia menemukan sesuatu yang mengubah segalanya sebuah ruang misterius yang hanya bisa ia akses sendiri. Awalnya hanyalah tempat penyimpanan sederhana, tetapi perlahan ruang itu menunjukkan keajaiban yang melampaui logika.

Saat dunia di luar mulai kacau dan manusia saling mengkhianati, Aureliana menyadari bahwa kekuatan ini bisa menjadi kunci untuk bertahan dan bangkit. Di tengah ancaman, rahasia, dan pilihan yang berat, ia harus menentukan apakah akan terus menjadi orang yang diinjak, atau menciptakan dunianya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 - Pertemuan

Sore itu, langit menggantung rendah dengan warna kelabu yang membuat suasana terasa lebih berat dari biasanya, seolah udara ikut menekan setiap langkah yang diambil. Aureliana Virestha berdiri di balik dinding bangunan kosong, tubuhnya merapat pada permukaan yang dingin sambil menahan napas sejenak untuk mendengarkan keadaan di luar. Ia tidak pernah lagi keluar tanpa memastikan situasi, karena dunia yang ia kenal sudah berubah menjadi tempat yang menuntut kewaspadaan di setiap detik.

Beberapa hari terakhir membuatnya semakin terbiasa untuk tidak berlama-lama berada di luar, bukan karena rasa takut yang berlebihan, tetapi karena pengalaman telah mengajarinya bahwa satu kelengahan saja cukup untuk membawa masalah. Ia mengatur waktu dengan hati-hati, memilih kapan harus keluar dan kapan harus kembali, memastikan semua langkahnya memiliki tujuan yang jelas. Cara berpikir itu membuat gerakannya lebih efisien, tetapi juga membuatnya semakin tertutup dari hal-hal yang tidak terduga.

Aureliana menarik napas pelan sebelum akhirnya melangkah keluar dari perlindungannya, membiarkan matanya langsung menyesuaikan dengan keadaan jalan yang tampak lengang di depannya. Ia tidak tertipu oleh kesunyian itu, karena justru dalam keadaan seperti inilah bahaya sering tersembunyi tanpa terlihat. Langkahnya ringan, tetapi penuh perhitungan, dengan pandangan yang terus berpindah dari satu sudut ke sudut lain.

Tujuannya sederhana, hanya mencari beberapa barang tambahan yang bisa ia gunakan untuk memperkuat persediaannya, tanpa mengambil risiko yang tidak perlu. Ia tidak berniat berlama-lama, tidak pula ingin menarik perhatian, karena semakin sedikit jejak yang ia tinggalkan, semakin kecil kemungkinan orang lain memperhatikannya. Namun rencana itu terhenti ketika sebuah suara pelan terdengar dari arah gang sempit di samping bangunan.

Suara itu tidak seperti teriakan atau langkah kaki yang biasa ia dengar di tempat lain, melainkan sesuatu yang lebih lemah dan terputus-putus. Seperti seseorang yang berusaha bernapas dengan sisa tenaga yang ada, berjuang agar tetap sadar meskipun tubuhnya hampir menyerah. Aureliana langsung membeku di tempat, tubuhnya menegang sementara pikirannya mencoba memproses kemungkinan yang ada.

Ia tidak menoleh langsung, membiarkan dirinya tetap diam beberapa detik sambil mendengarkan apakah suara itu akan muncul lagi. Instingnya mengatakan untuk menjauh, untuk menghindari hal yang tidak ia pahami, dan untuk tidak mengambil risiko yang bisa merusak semua yang telah ia bangun. Namun suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, membuatnya tidak bisa lagi berpura-pura tidak mendengarnya.

Perlahan, Aureliana menoleh ke arah gang itu dengan gerakan yang hati-hati, seolah takut menarik perhatian sesuatu yang mungkin bersembunyi di dalamnya. Lorong sempit itu terlihat gelap, dengan bayangan yang menumpuk di sudut-sudutnya, cukup dalam untuk menyembunyikan seseorang tanpa terlihat dari luar. Ia menelan ludah pelan, merasakan ketegangan yang mulai merambat di tubuhnya.

Pikirannya langsung bekerja, memecah situasi menjadi berbagai kemungkinan yang tidak semuanya bisa ia terima dengan mudah. Ini bisa saja jebakan yang sengaja dibuat untuk menarik orang seperti dirinya, atau seseorang yang benar-benar membutuhkan bantuan dan tidak memiliki pilihan lain. Tidak ada cara pasti untuk membedakan keduanya tanpa mendekat, dan itulah yang membuat langkah berikutnya terasa berat.

Aureliana berdiri diam cukup lama, membiarkan waktu berjalan sementara pikirannya terus berputar mencari keputusan yang paling masuk akal. Ia sudah melihat cukup banyak untuk tahu bahwa manusia bisa berubah dengan cepat, bahkan menjadi sesuatu yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa melupakan wajah-wajah yang pernah ia lihat, orang-orang yang kehilangan segalanya tanpa sempat bertahan.

Ia mengingat wanita tua yang berdiri sendirian di jalan, mengingat bagaimana dirinya dulu berada di posisi yang sama, berharap ada seseorang yang mau berhenti sejenak. Ingatan itu tidak memaksanya untuk bertindak, tetapi cukup untuk membuatnya tidak bisa langsung pergi begitu saja. Tangannya mengepal tanpa sadar, menahan konflik yang muncul di dalam dirinya.

“Kalau aku pergi sekarang…”

Kalimat itu berhenti di tenggorokannya, tidak pernah benar-benar keluar, tetapi maknanya sudah cukup jelas baginya sendiri.

Aureliana menghela napas panjang sebelum akhirnya mengambil satu langkah ke arah gang itu, membiarkan kakinya bergerak meskipun pikirannya masih dipenuhi keraguan. Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya, seolah tubuhnya menolak keputusan yang belum sepenuhnya ia yakini. Ia tidak masuk terlalu dalam, hanya cukup untuk memastikan apa yang sebenarnya ada di dalam.

Di sudut gelap, ia melihat sosok seorang pria muda yang tergeletak di lantai dengan kondisi yang jelas tidak baik. Pakaiannya kotor dan kusut, sementara noda darah terlihat di sisi lengannya, menandakan luka yang belum tertangani dengan benar. Napasnya tidak stabil, naik turun dengan ritme yang tidak teratur, seolah setiap tarikan membutuhkan usaha yang besar.

Aureliana berhenti beberapa langkah dari sana, menjaga jarak sambil mengamati dengan teliti setiap detail yang bisa ia tangkap. Ia tidak melihat tanda-tanda orang lain di sekitar, tidak ada bayangan yang bergerak, dan tidak ada suara tambahan yang mencurigakan. Namun itu tidak cukup untuk membuatnya benar-benar lengah, karena ia tahu situasi bisa berubah dalam hitungan detik.

Ia melangkah satu langkah lebih dekat, cukup untuk memastikan bahwa pria itu masih sadar meskipun kondisinya lemah.

“Dengar…”

Suaranya rendah, tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas untuk menarik perhatian.

Pria itu sedikit menggerakkan kepalanya, matanya berusaha fokus meskipun pandangannya tampak kabur. Bibirnya bergerak pelan sebelum akhirnya suara serak keluar dengan susah payah.

“Air…”

Permintaan itu sederhana, tetapi cara ia mengucapkannya menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan itu.

Aureliana tidak langsung bergerak, membiarkan dirinya berdiri diam sambil mempertimbangkan risiko dari tindakan yang akan ia ambil. Jika ia membantu, ia harus menggunakan sesuatu dari ruang, dan itu berarti membuka kemungkinan yang selama ini ia jaga. Jika ia membawa pria ini pergi, risikonya jauh lebih besar, dan ia tidak yakin siap menghadapi konsekuensinya.

Namun jika ia meninggalkannya begitu saja, jawabannya juga sudah jelas tanpa perlu dipikirkan terlalu jauh.

Aureliana menutup mata sejenak, membiarkan ingatan dan logika bertemu dalam satu titik sebelum akhirnya mengambil keputusan. Ia membuka mata kembali dengan tatapan yang masih waspada, tetapi tidak lagi sepenuhnya dingin seperti sebelumnya. Ia melangkah sedikit lebih dekat, tetap menjaga jarak aman sambil mengeluarkan botol kecil dari tasnya.

Air dari ruang.

Ia membuka tutupnya perlahan, lalu meletakkannya di dekat pria itu tanpa menyentuhnya secara langsung.

“Minum pelan.”

Nada suaranya tetap datar, tetapi tidak lagi setegas sebelumnya.

Pria itu bergerak dengan susah payah, tangannya gemetar saat meraih botol tersebut seolah takut kehilangannya. Aureliana memperhatikan setiap gerakan dengan fokus, siap mundur kapan saja jika ada tanda yang tidak ia sukai. Namun pria itu hanya minum, perlahan, dengan cara seseorang yang sudah terlalu lama menahan haus.

Setelah beberapa tegukan, ia terbatuk pelan, tetapi napasnya mulai lebih teratur dibanding sebelumnya. Matanya terbuka sedikit lebih lebar, meskipun masih tampak lemah.

“Terima kasih…”

Suaranya nyaris hilang, tetapi cukup untuk terdengar.

Aureliana tidak menjawab, tidak memberi respons yang bisa membuka percakapan lebih jauh. Ia tetap mengamati, memastikan tidak ada perubahan yang mencurigakan sebelum akhirnya mengambil langkah berikutnya. Setelah beberapa detik yang terasa lebih lama dari biasanya, ia mengeluarkan kain bersih dari tasnya dan melemparkannya ke arah pria itu.

“Tekan lukanya.”

Instruksi itu singkat dan jelas, tanpa tambahan yang tidak perlu.

Pria itu mengangguk lemah, mencoba mengikuti arahan meskipun gerakannya masih terbatas. Aureliana tidak menunggu lebih lama, karena ia tahu setiap detik tambahan di tempat itu hanya meningkatkan risiko. Ia mundur perlahan, menjaga jarak sambil tetap mengawasi sampai yakin tidak ada ancaman yang muncul.

Sebelum berbalik, ia sempat menatap pria itu sekali lagi, memastikan kondisinya sedikit lebih baik dibanding saat ia pertama kali melihatnya. Keputusan yang ia ambil tidak sempurna, tetapi cukup untuk memberinya kesempatan bertahan lebih lama.

Aureliana menarik napas dalam sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan gang itu, langkahnya cepat tetapi tetap terkontrol. Ia tidak langsung kembali ke ruang, melainkan memastikan jarak terlebih dahulu sambil mengamati apakah ada yang mengikuti atau memperhatikan. Hanya setelah merasa cukup aman, ia menghilang dari dunia nyata dan kembali ke tempat yang selama ini menjadi perlindungannya.

Begitu muncul di dalam ruang, ia berdiri diam beberapa detik, membiarkan pikirannya menyesuaikan diri setelah kejadian yang baru saja terjadi. Keheningan di sekelilingnya terasa kontras dengan situasi di luar, tetapi tidak sepenuhnya menenangkan seperti biasanya. Bayangan gang sempit itu masih terbayang jelas di pikirannya.

Aureliana menghela napas pelan, menyadari bahwa keputusan yang ia ambil tidak bisa dianggap ringan. Ia tidak menyesal, tetapi juga tidak merasa sepenuhnya lega, karena ia tahu tindakan seperti itu membuka kemungkinan yang selama ini ia hindari. Namun di sisi lain, ia juga tidak bisa sepenuhnya menutup diri tanpa kehilangan sesuatu yang membuatnya tetap manusia.

Ia menatap sekeliling ruang itu dengan pandangan yang lebih dalam, menyadari bahwa tempat ini tidak lagi hanya menjadi tempat untuk bersembunyi. Perlahan, ruang ini berubah menjadi bagian dari dirinya, tempat di mana ia membuat keputusan yang akan menentukan arah hidupnya ke depan.

Aureliana duduk perlahan di tanah, tangannya terlipat di pangkuan sementara pikirannya mulai tenang sedikit demi sedikit. Ia memilih untuk menolong, tetapi tetap menjaga batas yang ia anggap perlu. Mungkin itu bukan pilihan yang sempurna, tetapi cukup untuk menjaga keseimbangan yang selama ini ia pertahankan.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

1
SENJA
hapalin cara masuk dan keluar ruang dimensi nya 🤭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
mampir kak
Andira Rahmawati
kok bisa keluar masuk dgn bebas pdhl ststusnya msh pasien..
Andira Rahmawati
hadir thorr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!