"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Luruh
Paris di musim gugur yang hampir habis ini tampak seperti lukisan yang sengaja dibiarkan memudar. Langitnya yang abu-abu menggantung rendah di atas atap-atap gedung berarsitektur Haussmann, membawa hawa dingin yang mulai menggigit tulang. Aku berdiri di depan jendela apartemenku di Le Marais, menatap jalanan berbatu yang basah sisa hujan semalam. Di bawah sana, orang-orang berjalan terburu-buru dengan mantel tebal, seolah setiap detik yang mereka habiskan di udara terbuka adalah sebuah perjuangan.
Ini adalah hari ketiga dari "masa cuti" yang diberikan Bastian. Cuti yang lebih terasa seperti pengasingan.
Aku menatap ponselku yang tergeletak bisu di atas meja makan marmer. Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada koordinasi audit. Tidak ada suara bariton yang biasanya menanyakan apakah aku sudah sarapan. Hanya ada keheningan yang menyesakkan, jenis keheningan yang membuat telingamu berdenging dan pikiranmu mulai memutar ulang setiap kesalahan dengan resolusi yang terlalu tajam.
Di jari manisku, cincin berlian emerald itu masih melingkar. Ia tampak indah, namun terasa berat—seperti jangkar yang menarikku ke dasar samudera keraguan. Bastian memintaku untuk memikirkan apakah aku mencintainya sebagai pria atau sebagai proyek riset. Pertanyaan itu terus menghujamku, membuatku menyadari betapa tipisnya garis antara perlindungan dan penguasaan.
Aku menghela napas, uap tipis keluar dari mulutku di dalam ruangan yang pemanasnya sengaja kumatikan sedikit. Aku ingin merasakan dingin ini. Aku ingin merasakan apa yang Bastian rasakan saat aku membohonginya di meja makan malam itu. Dingin. Terabaikan. Tidak dianggap.
Aku memutuskan untuk keluar. Aku tidak bisa terus terkurung di ruangan empat kali empat ini bersama hantu-hantu pikiranku sendiri. Aku mengenakan mantel wol panjang berwarna unta (camel), melilitkan syal kasmir di leher, dan melangkah keluar menuju jantung kota Paris.
Aku berjalan tanpa tujuan. Melewati Place des Vosges yang sepi, menyusuri pinggiran Sungai Seine yang airnya tampak keruh dan gelap. Di sepanjang jalan, penjual buku bekas (bouquinistes) mulai menutup lapak mereka karena angin yang semakin kencang. Aroma crepe hangat dan cokelat panas tercium dari kedai-kedai kecil, namun seleraku sudah lama mati.
Langkahku membawaku ke Jardin des Tuileries. Kursi-kursi besi hijau yang biasanya penuh dengan pasangan yang bercengkerama kini banyak yang kosong dan basah. Aku duduk di salah satu kursi, menatap patung-patung marmer yang tampak kaku dalam kedinginan.
Di sinilah aku, Arelia. Wanita yang berhasil menaklukkan Jakarta, Marseille, dan meja sidang di Paris. Wanita yang dipuji sebagai analis jenius. Namun di sini, di bawah langit Paris yang acuh tak acuh, aku merasa seperti serpihan daun kering yang luruh dari dahan. Selama bertahun-tahun, aku membangun identitas sebagai "penyelamat". Aku menyelamatkan Kaivan dari ketidakmampuannya, aku menyelamatkan Bastian dari sabotase keluarganya.
Tapi siapa yang menyelamatkanku dari diriku sendiri?
Aku menyadari bahwa selama ini, tindakanku untuk melindungi Bastian sebenarnya adalah bentuk kesombonganku. Aku merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya. Aku memperlakukannya seperti subjek data yang harus dijaga dari anomali, bukan sebagai pria dewasa yang memiliki kedaulatan atas hidup dan masalahnya sendiri. Aku telah melukai harga dirinya dengan cara yang paling halus: dengan tidak mempercayainya untuk memikul bebannya sendiri.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Jantungku melonjak, berharap itu adalah nama Bastian.
Namun, itu adalah Maya.
"Rel, lu lagi di mana?" suara Maya terdengar cemas di seberang sana. Di Jakarta mungkin sudah tengah malam, tapi dia tidak pernah tidur jika ada masalah.
"Aku lagi di Tuileries, May. Kenapa?"
"Genta baru saja menghubungiku. Dia tidak berani langsung ke lu karena perintah Bastian untuk membiarkan lu tenang. Tapi ini darurat, Rel. Elena... dia tidak pergi ke bandara. Genta kehilangan jejaknya setelah dia keluar dari kantor pengacaranya dua jam lalu."
Aku langsung berdiri, rasa dingin di tubuhku seketika berganti dengan aliran adrenalin yang membakar. "Maksudmu dia kabur?"
"Lebih buruk dari itu. Genta mendeteksi ada penarikan dana besar secara tunai dari rekening gelap Aristhoteles. Elena sepertinya sudah tidak peduli lagi dengan hukum. Dia sudah kehilangan segalanya—posisinya di perusahaan, reputasinya di Eropa, bahkan ayahnya sudah memutus hubungan dengannya. Orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dilepaskan adalah orang yang paling berbahaya, Rel."
"Bastian. Di mana Bastian sekarang?" tanyaku, suaraku mulai gemetar.
"Bastian ada di kantor pusat. Dia sedang ada pertemuan malam dengan dewan komisaris internasional untuk merayakan kemenangan kemarin. Genta sudah memperketat keamanan di sana, tapi Elena tahu semua 'jalan tikus' di gedung itu karena dia pernah ikut merancangnya dulu."
Aku menutup telepon tanpa menunggu jawaban Maya. Aku berlari menuju tepi jalan, melambaikan tangan dengan liar ke arah taksi yang lewat.
"Ke Arrondissement ke-8. Cepat!" perintahku pada supir taksi, suaraku parau.
Sepanjang perjalanan, pikiranku berkecamuk. Aku baru saja berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menjadi "penyelamat" yang sok tahu. Tapi bagaimana aku bisa diam saja saat tahu ada bahaya yang mengancam? Apakah aku harus menelepon Bastian? Tidak, dia mungkin tidak akan mengangkat telepon dariku. Dan jika aku salah, aku hanya akan semakin merusak kepercayaannya.
Taksi itu terjebak macet di dekat Place de la Concorde. Aku melihat arloji di pergelangan tanganku. Jam tujuh malam. Pertemuan dewan komisaris biasanya selesai pada jam ini, dan Bastian kemungkinan besar akan menuju area parkir bawah tanah untuk pulang.
"Turunkan aku di sini!" aku melempar beberapa lembar uang Euro ke arah supir dan berlari menembus kerumunan orang.
Lari di atas trotoar Paris yang licin dengan sepatu bot berhak tinggi adalah kegilaan, tapi aku tidak peduli. Napas duniaku terasa pendek. Paru-paruku terbakar oleh udara dingin. Setiap langkah yang kuambil terasa seperti sedang mengejar waktu yang sengaja melarikan diri.
Begitu aku sampai di depan gedung kantor pusat Adhitama Group, suasananya tampak normal. Penjaga keamanan berdiri di depan pintu kaca besar. Namun, aku tidak masuk lewat depan. Aku tahu Bastian lebih suka keluar lewat pintu samping yang langsung menuju area parkir privat untuk menghindari wartawan yang masih berkumpul di lobi utama.
Aku memutari gedung, menuju pintu besi kecil di gang samping. Pintu itu biasanya terkunci secara elektronik. Aku merogoh tasku, mencari kartu akses yang—syukurlah—belum dinonaktifkan oleh Bastian.
Beep. Lampu hijau menyala. Pintu terbuka.
Area parkir bawah tanah itu luas, sunyi, dan beraroma beton basah. Lampu neon yang berpendar pucat menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Aku berjalan dengan hati-hati, berusaha meredam suara langkah kakiku.
Di ujung area parkir, aku melihat mobil sedan hitam Bastian. Mesinnya sudah menyala, lampu depannya membelah kegelapan. Bastian sedang berdiri di samping pintu mobil, tampak sedang bicara melalui ponselnya. Dia terlihat lelah, bahunya merosot, kepalanya tertunduk. Hatiku perih melihatnya. Dia terlihat begitu rapuh di tengah kemegahan yang ia miliki.
Tiba-tiba, aku melihat sebuah gerakan di balik salah satu pilar beton besar, hanya beberapa meter di belakang Bastian.
Sesosok wanita muncul. Ia mengenakan mantel hitam panjang, rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Di tangannya, ada sesuatu yang berkilau di bawah lampu neon.
Pisau. Atau mungkin senjata tajam lainnya.
Itu Elena.
"Bastian!" teriakku sekuat tenaga, suaraku menggema di seluruh area parkir.
Bastian terlonjak, ia memutar tubuhnya. Di saat yang sama, Elena berlari ke arahnya dengan kecepatan orang yang sudah kehilangan akal sehat. Matanya melotot, mulutnya mengeluarkan suara geraman yang tidak manusiawi.
"Kamu menghancurkanku, Bastian! Kamu memilih wanita sampah ini daripada aku!" teriak Elena.
Aku tidak berpikir. Logikaku yang biasanya membedah data kini hanya memiliki satu instruksi: lari. Aku menerjang ke arah mereka. Bastian mencoba menahan tangan Elena, namun Elena memiliki kekuatan keputusasaan yang luar biasa. Mereka bergulat di samping mobil.
Aku sampai di sana tepat saat Elena mengayunkan tangannya. Aku mendorong Bastian ke samping, mencoba menjauhkan dia dari jangkauan Elena. Aku merasakan sebuah entakan keras di bahuku, diikuti oleh rasa panas yang menjalar dengan cepat.
Srak.
Gaun di bawah mantelku robek. Rasa sakit yang tajam menusuk sarafku, membuat pandanganku berkunang-kunang sejenak. Aku jatuh terduduk di lantai beton yang dingin.
"Arelia!" teriak Bastian. Suaranya penuh dengan horor yang belum pernah kudengar.
Bastian dengan cepat melumpuhkan Elena, menjatuhkan wanita itu ke lantai dan menahan tangannya hingga senjata tajam di tangannya terlepas. Genta dan tim keamanan tiba hanya beberapa detik kemudian, seolah-olah mereka baru saja tersentak dari kegelapan. Mereka meringkus Elena yang terus meronta dan berteriak secara histeris tentang pengkhianatan dan cinta yang gagal.
Bastian tidak peduli pada Elena. Ia langsung berlutut di sampingku. Tangannya yang gemetar menyentuh bahuku yang kini mulai basah oleh warna merah yang pekat.
"Arelia... kenapa? Kenapa kamu lakukan ini?" suaranya pecah. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kaku.
Aku tersenyum tipis, meskipun rasa nyeri mulai mendominasi seluruh kesadaranku. "Karena... aku lebih suka bahuku yang terluka... daripada melihat hatimu yang hancur lagi, Bastian."
"Bodoh! Kamu benar-benar wanita bodoh!" Bastian menarikku ke dalam pelukannya, menekan lukaku dengan syalnya. "Aku memintamu untuk berpikir, bukan untuk mati demi aku!"
"Aku... aku sudah berpikir," bisikku, suaraku mulai melemah. Udara di area parkir ini terasa semakin dingin. "Aku mencintaimu... bukan sebagai proyek. Tapi sebagai... pria yang membuatku ingin berhenti... menjadi perisai."
"Jangan bicara lagi. Genta! Panggil ambulans! Cepat!" teriak Bastian pada timnya.
Aku menatap langit-langit area parkir yang kusam. Di kejauhan, aku melihat Elena diseret pergi, suaranya perlahan hilang. Hantu masa lalu itu akhirnya benar-benar luruh, namun ia meninggalkan luka yang nyata.
Bastian terus membisikkan namaku, memohon agar aku tetap terjaga. Aku menatap matanya—mata yang kini tidak lagi beku, mata yang dipenuhi dengan ketakutan kehilangan yang sangat manusiawi. Di saat itu, aku menyadari bahwa retakan di antara kami tidak akan sembuh dengan data atau kemenangan hukum. Ia hanya bisa sembuh dengan kerapuhan yang jujur.
"Bastian..."
"Ya, sayang? Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
"Cincinnya... jangan biarkan... jatuh," aku menyentuh tangannya dengan jariku yang lemah.
"Tidak akan. Cincin itu akan tetap di sana selamanya. Aku bersumpah," Bastian mencium keningku, air matanya jatuh di pipiku, terasa hangat di tengah kedinginan yang mulai menguasai.
Kesadaranku perlahan mulai memudar saat suara sirine ambulans mulai terdengar mendekat, membelah kesunyian malam Paris. Aku tidak lagi merasa takut. Untuk pertama kalinya, aku merasa tugas penyelamatanku benar-benar selesai. Bukan karena aku berhasil mengalahkan musuh, tapi karena aku berhasil menunjukkan bahwa di balik semua perhitungan logikaku, ada hati yang rela luruh demi cinta.
Malam itu, di bawah tanah Paris, sejarah lama kami benar-benar berakhir. Dan saat aku menutup mata, aku tahu bahwa jika aku bangun nanti, dunia yang menungguku adalah dunia di mana aku tidak perlu lagi menjadi perisai. Aku hanya perlu menjadi Arelia.
Aku terbangun di sebuah ruangan yang serba putih dan beraroma antiseptik yang tajam. Cahaya matahari pagi Paris yang lembut masuk melalui jendela besar di samping tempat tidurku. Bahuku terasa kaku dan nyeri, terbalut perban tebal, namun rasa sakit itu tidak lagi terasa mengancam.
Aku menoleh perlahan.
Di samping tempat tidurku, Bastian sedang tertidur di kursi, masih mengenakan kemeja yang sama dengan malam itu, namun kini tampak sangat kusut. Tangannya masih menggenggam tanganku dengan erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, aku akan menghilang.
Aku memperhatikan wajahnya saat tertidur. Dia terlihat sangat tenang, tanpa beban rahasia atau tanggung jawab perusahaan yang biasanya menghiasi dahinya.
Aku menggerakkan jariku pelan. Bastian langsung terjaga. Matanya yang merah menatapku dengan binar kelegaan yang begitu luar biasa hingga dadaku terasa sesak.
"Arelia... kamu bangun," suaranya serak. Ia segera berdiri dan mencium tanganku berulang kali.
"Sudah berapa lama?" tanyaku, suaraku masih lemah.
"Dua belas jam sejak operasi kecil semalam. Dokter bilang lukanya cukup dalam, tapi tidak mengenai pembuluh darah utama. Kamu sangat beruntung, Rel." Bastian duduk di tepi tempat tidur, menatapku dengan intensitas yang dalam. "Atau mungkin aku yang sangat beruntung."
"Elena?"
Bastian menghela napas, wajahnya sedikit mengeras saat menyebut nama itu. "Dia sudah dalam pengawasan polisi dan psikiater. Ayahnya secara resmi sudah melepaskan semua tanggung jawab hukum atas dirinya. Dia akan dievakuasi kembali ke fasilitas tertutup di Singapura besok. Dia tidak akan pernah bisa mendekatimu lagi, Arelia. Tidak di Paris, tidak di mana pun."
Aku mengangguk pelan. Rasa damai yang aneh menyelimuti hatiku. Musuh terbesar kami bukan lagi Elena, melainkan keheningan di antara kami.
"Bastian," panggilku. "Tentang pertanyaamu... aku punya jawabannya."
Bastian terdiam, ia tampak menahan napas.
"Aku mencintaimu karena kamu adalah orang pertama yang membuatku merasa bahwa kepintaranku bukanlah alat, tapi sebuah anugerah. Aku mencintaimu bukan karena aku ingin menyelamatkanmu, tapi karena aku merasa aku aman saat berada di sampingmu. Maafkan aku jika caraku melindungimu justru melukaimu. Aku baru belajar bagaimana caranya menjadi pasangan yang nyata, bukan asisten yang serba bisa."
Bastian menunduk, ia meletakkan dahinya di atas tanganku yang terbalut infus. "Aku juga minta maaf, Rel. Aku terlalu keras padamu. Aku terlalu takut rahasia itu akan merusak segalanya, padahal yang merusak segalanya adalah ketidakyakinanku padamu. Semalam... saat aku melihatmu terluka demi aku, aku menyadari bahwa aku tidak peduli pada semua rahasia ayahku atau integritas perusahaan. Aku hanya peduli padamu."
Ia mendongak, matanya kini berkilau oleh harapan. "Satu minggu cutimu sudah berakhir, Nona Direktur Riset. Dan aku ingin memberikan kontrak baru untukmu."
"Kontrak apa?" tanyaku sambil tersenyum tipis.
"Kontrak seumur hidup. Tanpa masa percobaan. Tanpa klausul rahasia. Hanya ada aku, kamu, dan semua kejujuran yang kita miliki," Bastian merogoh sakunya dan mengeluarkan cincin berlian emerald yang semalam sempat ia lepas untuk operasi. Ia memasangkannya kembali ke jariku dengan sangat hati-hati.
"Maukah kamu memulai lagi bersamaku? Benar-benar dari nol?"
Aku menatap cincin itu, lalu menatap pria di depanku. Pria yang telah membawaku dari kegelapan Jakarta menuju cahaya Paris. Pria yang nyaris jadi milikku, dan kini benar-benar menjadi tujuanku.
"Ya, Bastian. Mari kita mulai lagi," jawabku mantap.
Di luar jendela, musim gugur di Paris perlahan luruh, bersiap menyambut musim dingin yang baru. Namun di dalam ruangan ini, aku merasakan kehangatan yang tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh musim apa pun.
Nyaris jadi kita?
Tidak. Kalimat itu benar-benar sudah berakhir. Kami bukan lagi sebuah "nyaris". Kami adalah sebuah kepastian. Dan saat Bastian mengecup bibirku dengan kelembutan yang memabukkan, aku tahu bahwa setiap luka dan air mata yang kulalui hanyalah persiapan untuk momen ini.
Aku adalah Arelia. Dan hidupku baru saja dimulai.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain