Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 15
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah kelabu transparan yang membingkai ranjang king-size itu. Di luar sana, suara debur ombak Samudra Hindia terdengar sayup-sayup, sebuah melodi alam yang menenangkan.
Yvone terbangun perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan yang luar biasa menyelimuti tubuhnya, sebuah kontras yang nyaman dari dinginnya udara pendingin ruangan. Hal kedua yang ia sadari adalah aroma yang menguar tebal di udara aroma vetiver, cedarwood, dan wangi maskulin yang begitu khas.
Mata Yvone terbuka lambat-lambat. Pandangannya langsung bertabrakan dengan kemeja tidur katun berwarna gelap.
Jantung Yvone seakan berhenti berdetak saat ia menyadari posisinya. Ia tidak sedang memeluk guling. Ia sedang meringkuk nyaman di dalam dekapan Dylan Alexander Hartono. Kepala Yvone bersandar di dada bidang pria itu, sementara lengan kokoh Dylan melingkar posesif di pinggangnya, menarik tubuh Yvone merapat hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.
Sialnya lagi, salah satu kaki Yvone tersangkut di antara kedua kaki Dylan, sebuah posisi intim yang biasanya hanya dimiliki oleh pasangan yang benar-benar dimabuk asmara.
Panik mulai merayap. Yvone mengingat pertengkaran kecil mereka semalam tentang 'garis batas imajiner' di tengah kasur. Melihat posisinya sekarang, Yvone jelas telah melintasi garis itu tanpa sadar di tengah malam dan mencari sumber kehangatan.
Dengan gerakan sangat pelan, Yvone mencoba mengangkat lengan berat Dylan dari pinggangnya. Ia menahan napas, berdoa agar pria itu belum bangun.
Namun, tepat saat jemari Yvone menyentuh lengan Dylan, otot di bawah kulit pria itu menegang. Cengkeraman lengan besar itu di pinggang Yvone justru mengerat, menarik Yvone kembali jatuh ke dada bidangnya.
"Garis imajinermu ternyata tidak sekuat yang kau perkirakan, Yvone."
Suara bariton itu terdengar sangat serak, berat, dan khas getaran orang yang baru bangun tidur. Suara yang mampu membuat lutut wanita mana pun lemas.
Yvone mendongak dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus. Dylan tengah menatapnya. Mata kelam pria itu sedikit menyipit karena kantuk, namun kilat kemenangannya terlihat sangat jelas.
"A-Aku tidak sengaja," Yvone tergagap, meletakkan kedua telapak tangannya di dada Dylan untuk mendorong tubuh pria itu. Anehnya, ia bisa merasakan ritme detak jantung Dylan yang stabil dan kuat di bawah telapak tangannya. "Lepaskan. Aku mau bangun."
Bukannya melepaskan, Dylan justru menggeser tubuhnya sedikit hingga ia berada di posisi setengah menindih Yvone. Rambut pria itu berantakan, menutupi sebagian dahinya, melunturkan kesan CEO kejam dan menggantinya dengan aura pria berbahaya yang baru saja keluar dari sarangnya.
"Kau yang menerobos masuk ke wilayahku," bisik Dylan, wajahnya menunduk hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Napas pagi pria itu hangat menerpa wajah Yvone. "Di duniaku, pelanggar batas wilayah harus membayar denda."
Yvone menelan ludah dengan susah payah. Matanya terpaku pada bibir pria itu. "T-Tuan Hartono, kita punya banyak hal yang harus diurus hari ini. Proyek—"
Sebuah ketukan pelan dari arah pintu kamar menyelamatkan kewarasan Yvone.
"Maaf mengganggu, Bos," suara berat kepala keamanan terdengar dari luar. "Laporan pagi dari Jakarta sudah masuk ke saluran aman."
Mata Dylan terpejam sesaat, rahangnya mengeras karena gangguan itu. Ia menarik napas panjang, lalu berguling menjauh, membebaskan Yvone dari kurungannya. Hawa dingin seketika menerpa tubuh Yvone saat kehangatan pria itu menghilang.
"Aku akan turun sepuluh menit lagi," seru Dylan dengan nada datar yang sudah kembali ke mode bisnis.
Tanpa menatap Yvone lagi, pria itu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Yvone yang masih berbaring dengan dada naik-turun dan pikiran yang kacau balau.
Sangkar emas ini mungkin berada di pulau surga, namun bahaya terbesarnya kini bukanlah serangan politik, melainkan pesona mematikan dari pria yang mengurungnya.
Menjelang siang, ruang tamu vila yang berkonsep open-space itu telah diubah menjadi ruang kerja virtual.
Sesuai instruksi Dylan, tim IT telah menyiapkan sebuah layar monitor besar dan kamera web dengan koneksi satelit terenkripsi. Yvone duduk bersila di atas sofa rotan melingkar, memangku tablet desainnya. Di layar besar di hadapannya, wajah Rangga Susilo tampak cerah.
"Aku harus mengakui, kau membuatku sangat iri, Yvone," kekeh Rangga dari seberang panggilan. Pria itu tampak sedang duduk di kantor biro arsitekturnya di Jakarta. "Di saat aku harus menghirup asap, kau mengkarantina dirimu di sebuah vila eksotis. Apakah latar belakang itu asli? Itu terlihat seperti tebing di Uluwatu."
"Ini... ya, ini semacam tempat liburan keluarga suamiku," jawab Yvone sedikit gugup, mengingat peringatan Dylan agar tidak membocorkan lokasi presisi mereka. "Suamiku memiliki urusan bisnis mendadak di sini, dan karena keadaan sedang... kurang kondusif di Jakarta, beliau memintaku ikut."
Rangga tersenyum, meski ada kilat kegetiran di matanya. "Suamimu benar-benar pria yang sangat menjunjung tinggi keamanan ya. Tapi syukurlah koneksi kita masih aman. Bagaimana dengan sketsa area lobby butik hotelnya? Apakah kau sudah memutuskan jenis marmer yang akan kita pakai untuk meja resepsionis?"
Yvone segera beralih ke mode profesional. "Ya. Aku sudah mengirimkan failnya. Aku berpikir untuk menggunakan marmer Carrara yang di-finishing matte. Kita tidak ingin pantulan cahayanya terlalu menyilaukan tamu saat siang hari."
Mereka berdua pun larut dalam diskusi teknis. Selama hampir empat puluh lima menit, Yvone sepenuhnya melupakan ketegangan paginya. Ia dan Rangga berdebat kecil, melempar ide, dan sesekali tertawa saat Rangga menceritakan kekonyolan para tukang di lokasi proyek.
Tanpa Yvone sadari, di lantai dua, sepasang mata kelam tengah menatapnya dari balik pagar balkon kaca.
Dylan bersandar di pagar balkon, memegang cangkir kopi hitamnya. Pria itu baru saja selesai melakukan briefing keamanan dengan Marco. Nadia Pramudya mulai menggerakkan media-media kuning di Jakarta untuk mengendus keberadaan Yvone, persis seperti prediksinya.
Namun, bukan laporan Marco yang membuat rahang Dylan mengeras. Melainkan suara tawa renyah Yvone yang menggema dari lantai bawah.
Tawa yang jujur, bebas, dan ringan. Tawa yang tidak pernah sekalipun wanita itu tunjukkan kepadanya.
Mata Dylan menatap tajam ke arah layar monitor tempat wajah arsitek muda itu berada. Rangga Susilo. Pria yang menjadi 'tameng sosial' bagi istrinya, namun di saat yang sama, menjadi ancaman bagi ego teritorial sang miliarder.
Dengan langkah pelan namun pasti, Dylan berjalan menuruni tangga kayu.
Di bawah, Yvone sedang menjelaskan tentang pemilihan lampu chandelier. "Jadi, aku pikir lampu gantung rotan akan memberikan kesan yang jauh lebih organik dibandingkan—"
Tiba-tiba, bayangan tinggi besar menutupi cahaya dari arah jendela.
Yvone menoleh dan terkesiap kecil. Dylan berjalan melewati sofa Yvone menuju kitchen island terbuka yang berada tak jauh dari sana.
Itu bukan masalah. Masalahnya adalah, pria itu baru selesai berenang.
Dylan hanya mengenakan celana pendek hitam yang basah. Tubuh bagian atasnya sama sekali tidak tertutup kain. Otot dadanya yang bidang, perut six-pack-nya yang terpahat sempurna, serta bahunya yang lebar terekspos dengan jelas. Tetesan air dari rambut hitamnya mengalir menuruni leher dan dadanya, memancarkan aura maskulinitas yang brutal dan kejam.
Suara Rangga di layar monitor seketika terhenti.
"Eh... Yvone?" Rangga berdeham canggung, matanya di layar jelas menangkap sosok pria bertelanjang dada yang dengan santai melintas di belakang Yvone.
Wajah Yvone seketika memerah padam hingga ke telinga. Ia menatap Dylan dengan panik, mencoba memberikan isyarat mata agar pria itu menyingkir dari tangkapan kamera.
Namun Dylan Alexander Hartono tidak pernah menyingkir untuk siapa pun.
Pria itu menuangkan air es ke dalam gelasnya, menegaknya perlahan, lalu berbalik dan berjalan menghampiri Yvone. Alih-alih menjauh, Dylan justru memosisikan tubuhnya tepat di belakang sofa yang diduduki Yvone. Ia membungkuk sedikit, meletakkan satu lengannya yang basah ke sandaran sofa, mengurung Yvone secara halus, dan menatap lurus ke arah kamera web.
"Maaf mengganggu meeting kalian," ucap Dylan dengan suaranya yang dalam, berat, dan sama sekali tidak terdengar menyesal. Matanya menatap wajah Rangga di layar dengan sorot intimidasi yang biasa ia gunakan untuk menghancurkan musuh bisnisnya. "Tapi kurasa istriku butuh istirahat. Dia terlalu kelelahan... semalaman."
Mata Yvone membelalak. Ia hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar penekanan kata 'semalaman' yang diucapkan Dylan.
Di seberang sana, wajah Rangga tampak sedikit pias. Arsitek itu berusaha mempertahankan senyum profesionalnya, meskipun jelas terlihat ia merasa terintimidasi. "Ah, tentu. Tentu saja, Pak Hartono. Kami juga sudah hampir selesai. Yvone, kita... kita lanjutkan besok saja."
"Pastikan besok tidak memakan waktu lebih dari satu jam," potong Dylan dingin. "Aku tidak suka istriku terlalu lama menatap layar komputer saat kami sedang menikmati liburan kami."
"B-Baik. Selamat siang, Yvone. Pak Hartono."
Klik. Sambungan video terputus.
Yvone segera menutup tabletnya dengan kasar dan berputar menatap Dylan yang masih membungkuk di belakangnya. Air menetes dari rambut pria itu ke bahu Yvone yang tertutup blus tipis.
"Apa yang baru saja kau lakukan?!" desis Yvone, campuran antara rasa malu dan kesal meledak di dadanya. "Kau sengaja lewat tanpa baju dan bicara seperti itu padanya! Kau mempermalukanku, Dylan!"
Dylan menegakkan tubuhnya, menatap Yvone dengan wajah tanpa dosa yang justru terlihat sangat arogan. "Aku berada di rumahku sendiri. Aku bebas memakai atau tidak memakai baju apa pun yang kumau."
"Kau mengancamnya!" Yvone berdiri, berkacak pinggang. Ia tidak lagi peduli dengan status miliarder pria itu. "Kau bilang dia adalah perisai sosialku. Bagaimana aku bisa bekerja jika kau mengintimidasinya setiap kali kami bicara?!"
"Aku membiarkanmu bekerja dengannya, bukan bercumbu virtual dengannya," desis Dylan, suaranya merendah, kehilangan nada santainya.
Dylan melangkah maju memutari sofa, mendekati Yvone.
"Kami berdiskusi soal marmer!" Yvone tidak mundur selangkah pun, meskipun hawa dingin dari tubuh basah pria itu mulai menyapu kulitnya. "Jika kau tidak suka mendengarnya, kenapa kau tidak diam di ruang kerjamu saja?!"
"Karena tawa manismu itu mengganggu konsentrasiku, Yvone!"
Bentakan Dylan menggelegar, membungkam Yvone seketika. Ruangan luas itu hening, hanya menyisakan suara embusan napas Dylan yang memberat.
Pria itu menatap Yvone dengan rahang terkatup rapat. Sebuah penemuan yang mengejutkan baru saja ia akui keras-keras, menyentak egonya sendiri. Ia, Dylan Alexander Hartono yang tak pernah peduli pada hal-hal remeh, baru saja kehilangan fokus kerjanya hanya karena cemburu mendengar tawa istrinya.
Melihat Yvone yang mematung, ekspresi keras Dylan perlahan memudar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gunakan sisa hari ini untuk beristirahat," ucap Dylan pelan, suaranya terdengar lelah. "Nanti sore sebelum matahari terbenam, temui aku di teras belakang. Ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu."
Tanpa menunggu persetujuan Yvone, pria itu berbalik dan melangkah pergi, membawa serta badai emosi yang baru saja ia ciptakan, meninggalkan Yvone sendirian mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu gila.
Sinar matahari sore di Uluwatu memiliki warna magis—campuran antara keemasan, ungu pucat, dan jingga kemerahan.
Pukul setengah enam, Yvone melangkah keluar ke teras belakang yang berlapis kayu ulin. Ia telah mengganti pakaiannya dengan sebuah maxi dress berbahan katun ringan yang nyaman. Angin laut langsung menyibak rambut dan ujung gaunnya.
Di ujung teras, dekat dengan tangga berbatu yang menurun langsung menuju area pantai pribadi, Dylan berdiri membelakanginya. Pria itu sudah berpakaian rapi, mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang berwarna krem.
Mendengar langkah kaki Yvone, Dylan berbalik. Senja di belakangnya membuat sosok pria itu tampak seperti siluet, namun Yvone bisa melihat tatapannya yang tak lagi memancarkan kemarahan atau arogansi. Hanya ada keheningan yang tenang.
"Turunlah ke pantai bersamaku," ajak Dylan, mengulurkan tangannya.
Yvone menatap tangan besar itu sejenak. Jika ini adalah Jakarta, uluran tangan itu adalah perintah untuk bersandiwara di depan publik. Namun di sini, tidak ada wartawan, tidak ada elit politik, tidak ada kamera. Ini hanyalah mereka berdua.
Dengan tarikan napas pelan, Yvone meletakkan tangannya di atas telapak tangan Dylan. Genggaman pria itu erat dan melindungi, menuntunnya menuruni tangga batu yang agak curam.
Begitu kaki mereka menyentuh pasir putih yang halus, Yvone melepaskan sandal jepitnya, membiarkan ombak kecil menyapu ujung kakinya. Pemandangan di hadapan mereka sangat luar biasa. Tebing tinggi mengapit pantai kecil itu, menjadikannya sepotong surga yang tersembunyi dari dunia luar.
Mereka berjalan bersisian dalam diam. Hanya suara alam yang menemani. Kemarahan siang tadi seolah telah tersapu oleh angin laut.
"Kau tidak pernah bertanya kenapa aku memilih tempat ini sebagai lokasi evakuasi," ucap Dylan tiba-tiba, suaranya tenang, menyatu dengan deru ombak.
Yvone menoleh. "Aku berasumsi ini adalah properti teraman milik Alexander Group."
"Ini adalah properti paling tidak menguntungkan milik perusahaanku," ralat Dylan. Ia menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah cakrawala. "Vila ini, pantai ini... dulu adalah milik ayahku."
Yvone terpaku. Ini adalah pertama kalinya Dylan menyinggung tentang keluarganya tanpa nada sinis.
"Ayahku, Abraham Hartono, bukanlah pria berdarah dingin sepertiku," Dylan mulai bercerita, suaranya sangat rendah, seolah ia sedang menggali luka lama yang telah lama terkubur. "Dia adalah pria yang hangat. Dia membeli lahan ini dua puluh tahun lalu. Dia berencana membangun sebuah sanctuary, tempat pelarian bagi keluarga kami dari busuknya politik ibu kota."
Dylan menunduk, menatap pasir di bawah kakinya. Cengkeraman tangannya di sisi tubuhnya mengerat.
"Tapi sebelum vila pertama selesai dibangun, dia dibunuh," bisik Dylan, nada suaranya bergetar menahan pedih yang berusia belasan tahun. "Sebuah kecelakaan helikopter yang direkayasa oleh Hadi dan kroni-kroninya saat ayahku menolak menyetorkan dana kampanye ilegal untuk mereka."
Napas Yvone tertahan. Ia merasakan denyut nyeri di dadanya mendengar kenyataan itu. Di usianya yang masih sangat muda, pria tangguh di hadapannya ini telah dipaksa melihat dunia dengan cara yang paling brutal.
"Sejak hari itu," Dylan mengangkat kepalanya, menatap Yvone dengan mata kelam yang menyimpan badai kesedihan. "Aku belajar bahwa kelemahan sekecil apa pun akan membunuhmu. Aku mengubah diriku menjadi monster yang lebih menakutkan dari mereka. Aku membekukan hatiku, karena memiliki perasaan berarti memiliki titik buta. Aku tidak akan membiarkan siapa pun yang berharga bagiku diambil lagi."
Mata Dylan mengunci mata Yvone, dan di detik itu, Yvone akhirnya memahami segalanya.
Pengekangan pria itu, perlindungannya yang berlebihan, posesivitasnya semua itu bukanlah bentuk arogansi tiran. Itu adalah mekanisme pertahanan diri dari seorang anak laki-laki yang trauma kehilangan keluarganya. Dan ketika ancaman racun dari Nadia menimpa ayah Yvone semalam, trauma itu kembali terpicu.
Tanpa berpikir dua kali, Yvone melangkah maju. Ia mengangkat tangannya yang gemetar dan meletakkannya di atas dada bidang Dylan, tepat di atas jantung pria itu yang berdetak kencang.
"Kau bukan monster, Dylan," bisik Yvone, matanya berkaca-kaca menatap suaminya. "Monster tidak akan repot-repot menerbangkan dokter spesialis ke dalam penjara secara diam-diam. Monster tidak akan mempertaruhkan mega-proyek triliunan hanya untuk melindungi seorang istri kontrak."
Dylan menunduk, menatap tangan mungil yang menempel di dadanya. Pria itu perlahan mengangkat tangannya sendiri, menutupi punggung tangan Yvone dengan telapak tangannya yang besar, menahan sentuhan itu di sana.
"Kau membawa bahaya ke dalam hidupku, Yvone Larasati," gumam Dylan parau, jarak di antara mereka semakin menipis. "Sejak kau menandatangani kertas itu, kau telah meretakkan setiap pertahanan yang kubangun selama lima belas tahun."
"Aku tidak berniat menghancurkanmu," balas Yvone lembut, air mata pertama jatuh ke pipinya. "Aku hanya... aku hanya ingin kita selamat."
Mata kelam Dylan terpaku pada setetes air mata yang meluncur di pipi Yvone. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh kelembutan yang menyayat hati, Dylan mengangkat ibu jarinya, menghapus air mata itu.
"Kita akan selamat," bisik Dylan bergetar di udara senja. "Karena di pulau ini, aku tidak akan membiarkan iblis mana pun menyentuh milikku."