NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:921
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Waktunya Endric!

Ketukan itu muncul tepat saat Endric menyentuh gagang pintu. Tiga kali, pelan, seperti sengaja ditahan agar tidak terlalu mencolok.

Tok... tok... tok...

Endric langsung membeku. Ia bahkan belum sempat membuka pintu. Tangannya masih menggantung di udara, jari-jarinya kaku di dekat gagang. Namun, suara itu jelas berasal dari sisi dalam rumah, dari arah ruang tengah.

Endric menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.

“Gue sendirian, kan...” bisiknya.

Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang terasa lebih padat dari sebelumnya.

Ruangan di dalam tampak sama seperti tadi pagi. Meja kayu, kursi, dan jendela yang tertutup setengah. Tidak ada tanda-tanda siapa pun di dalam. Namun, suasananya terasa berbeda, seolah ada sesuatu yang mengisi ruang itu tanpa terlihat.

Tok... tok... tok...

Kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Suara itu datang dari arah lantai.

Endric mengerutkan kening. Dadanya mulai terasa tidak enak.

“Apaan lagi, cok...”

Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Setiap langkah terasa terlalu keras di telinganya sendiri, seolah lantai itu ikut mendengarkan. Matanya bergerak cepat, mencoba mencari sumber suara.

Tok... tok... tok...

Endric berhenti di tengah ruangan. Pandangannya turun perlahan ke lantai kayu tepat di bawahnya. Napasnya tertahan.

“Jangan bilang...”

Tok!

Suara terakhir itu lebih keras, seperti pukulan dari bawah. Endric refleks mundur satu langkah, hampir tersandung kakinya sendiri.

“Gak lucu, Anjir,” katanya pelan.

Ia menatap lantai itu beberapa detik, mencoba memaksa pikirannya tetap rasional. Namun, tidak ada penjelasan logis yang benar-benar terasa masuk akal. Akhirnya, ia buru-buru menjauh.

“Gue ndak mau lihat,” gumamnya.

Ia berjalan cepat ke kamar, lalu duduk di kasur sambil mengacak rambutnya. Napasnya masih belum stabil. Ini sudah terlalu jauh. Ia mencoba berpikir logis. Rumah tua, kayu, mungkin ada tikus, atau pipa, atau apa pun selain yang sedang ia bayangkan.

Namun, suara Gandhul kembali terlintas di kepalanya.

Yang bakal dipanggil.

Endric menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tekanan itu terasa nyata di dadanya.

“Gue harus santai... santai dulu...”

Belum sempat ia menenangkan diri, suara lain muncul. Kali ini dari luar. Banyak orang. Riuh, seperti ada keramaian yang tiba-tiba muncul.

Endric mengangkat kepala. Alisnya mengerut.

“Masih siang udah rame?”

Ia berdiri, lalu berjalan ke jendela dengan langkah pelan. Jantungnya mulai berdegup lagi. Perlahan, ia membuka tirai.

Dan langsung terdiam.

Di luar, beberapa warga berdiri berjejer di jalan. Menghadap ke rumahnya. Diam. Tidak ada yang bicara dan tidak ada yang bergerak. Hanya menatap.

Endric merasakan perutnya mengencang. Pemandangan itu terasa salah.

“Ini... apaan lagi...”

Ia membuka jendela sedikit, cukup untuk berbicara.

“Pak... Bu... ada apa, ya?”

Tidak ada jawaban. Salah satu pria tua di depan hanya tersenyum. Senyum yang terlalu lebar untuk situasi seperti ini.

“Mas Endric,” katanya pelan.

Endric menelan ludah. Dadanya terasa sesak.

“Iya, Pak?”

“Sudah dengar panggilan belum?”

Endric langsung terdiam. Kata itu kembali menghantam pikirannya.

“Panggilan apa, Pak?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu mundur satu langkah. Orang-orang di belakangnya ikut mundur serempak, seperti digerakkan oleh satu perintah yang sama.

Lalu satu per satu mereka berbalik. Pergi tanpa suara. Tidak ada langkah kaki yang terdengar, hanya gerakan yang sunyi.

Endric berdiri di depan jendela tanpa bergerak. Jantungnya berdetak tidak karuan.

“Ini desa atau sekte...” bisiknya.

“Lebih parah.”

Suara itu muncul dari sampingnya.

Endric langsung menoleh. Tubuhnya refleks menegang.

Gandhul sudah duduk di kursi, bersantai, seolah itu hal paling normal di dunia.

“ANJIR!” Endric refleks mundur.

“Lo masuk dari mana, cok?!” lanjutnya.

Gandhul mengangkat bahu santai.

“Ya masuk aja. Masa gue harus ngetok pintu sambil asalamualaikum.”

Endric mengusap wajahnya dengan kasar. Napasnya masih cepat.

“Gue bisa kena jantung, sumpah.”

“Tenang, jantung lo masih kepake,” jawab Gandhul enteng.

Endric menatapnya kesal. Namun, di balik itu, ada rasa lega tipis karena tidak sendirian.

“Lo tadi lihat, kan?”

“Lihat.”

“Mereka kenapa?”

Gandhul menyandarkan tubuhnya, santai seperti biasa.

“Pengecekan.”

Endric mengernyit.

“Pengecekan apaan?”

“Biasanya kalau udah mulai dengar...” Gandhul berhenti sebentar, lalu melirik lantai.

Endric ikut melirik. Rasa dingin langsung menjalar di punggungnya.

“...dengar apa?”

Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Endric beberapa detik, memastikan sesuatu.

“Lo dengar sesuatu tadi?” tanyanya balik.

Endric diam beberapa detik. Ingatan tentang ketukan itu kembali jelas.

“Ketukan,” jawabnya pelan.

Gandhul mengangguk kecil.

“Dari bawah, ya?”

Endric langsung menegang. Matanya membesar.

“Lo tahu?”

“Ya jelas. Semua yang dipanggil pasti mulai dari situ.”

Endric mundur satu langkah. Kakinya terasa ringan, hampir tidak berpijak.

“Dipanggil ke mana, sih, Ndul?”

Gandhul tidak tersenyum kali ini. Wajahnya lebih serius.

“Ke bawah.”

Endric merasakan tenggorokannya kering.

“Bawah... maksud lo tanah?”

Gandhul tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai lagi. Untuk pertama kalinya, Endric merasa Gandhul tidak sedang bercanda.

Beberapa detik kemudian.

Tok... tok... tok...

Suara itu muncul lagi. Lebih dekat. Lebih jelas. Seolah berada tepat di bawah mereka.

Endric langsung mundur menjauh dari tengah ruangan.

“Anjir, anjir, anjir...”

Gandhul berdiri. Ia melompat satu kali ke arah sumber suara.

“Cepat banget,” gumamnya.

“Apaan cepat, cok?!” Endric hampir berteriak.

Gandhul menoleh.

“Biasanya butuh beberapa hari. Lo baru sehari udah diketok.”

Endric menatapnya tidak percaya.

“Dan lo anggap itu kayak prestasi?”

“Bukan prestasi. Tapi Masalah besar.”

Tok!

Suara itu semakin keras. Lantai kayu sedikit bergetar.

Endric merasakan kakinya ikut gemetar. Tubuhnya kaku.

“Gue gak mau buka,” katanya cepat.

“Ya jangan dibuka.”

“Emang bisa dibuka?!”

“Bisa aja, kalau lo mau mati cepat.”

Endric langsung diam. Kalimat itu menancap kuat di kepalanya.

Suara itu berhenti mendadak.

Sunyi.

Endric menahan napas. Ia tidak berani bergerak sedikit pun.

Lalu terdengar suara gesekan dari bawah. Pelan, kasar, seperti sesuatu sedang mencoba naik.

Endric langsung menutup mulutnya. Matanya membesar.

“Ndhul...” bisiknya.

Gandhul tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai dengan fokus.

Kayu di tengah ruangan bergerak sedikit. Naik, lalu turun. Seperti didorong dari bawah.

Endric mundur sampai punggungnya menempel ke dinding.

“Gue ndak kuat kalau ini jebol,” katanya pelan.

Gandhul melompat mendekat ke Endric.

“Dengar gue.”

“Apa?!”

“Kalau dia keluar, lo jangan jawab.”

Endric menelan ludah. Jantungnya berdetak semakin cepat.

“Jawab apaan?!”

“Apapun yang dia bilang.”

Endric menatapnya, panik.

“Dia juga bisa ngomong?”

Gandhul meliriknya.

“Semua yang ada di sini bisa ngomong, rek.”

Endric ingin membantah, tetapi suara kayu retak menghentikannya.

Krek...

Bagian lantai itu mulai terbuka sedikit. Gelap di bawahnya, sangat gelap, seperti lubang tanpa dasar.

Endric menahan napas. Tubuhnya kaku. Dari dalam lubang itu, sesuatu muncul perlahan. Putih, seperti kain.

Tangan.

Kurus.

Kotor.

Mencuat dari bawah lantai. Endric hampir berteriak, tetapi langsung menutup mulutnya sendiri. Tangannya gemetar.

Tangan itu meraba-raba lantai. Lalu berhenti.

Diam.

Beberapa detik kemudian ada Suara Serak.

“...Endric...”

Endric langsung membeku. Matanya membesar. Ia menoleh ke Gandhul.

Gandhul menggeleng cepat.

“...Endric... turun...”

Endric menggigit bibirnya. Napasnya tidak teratur.

“...di bawah... tenang...”

Tangan itu bergerak lagi, mencoba keluar lebih jauh. Kayu berderit. Lubang semakin terbuka.

Endric merasakan lututnya lemas.

“Ndhul...” bisiknya.

“Diam,” jawab Gandhul pelan.

Suara itu berubah, lebih memaksa.

“...Endric... kamu dipanggil...”

Endric menutup mata. Suara itu seperti masuk ke kepalanya, menariknya turun.

“...turun...”

Tangan itu kini sudah setengah keluar. Kuku-kukunya panjang dan hitam, seperti sudah membusuk.

Endric hampir kehilangan kendali. Mulutnya terbuka sedikit.

“Gue...”

Gandhul langsung melompat dan menabrak dadanya.

“JANGAN!”

Endric tersentak. Ia langsung menutup mulutnya rapat. Napasnya terengah.

Suara itu langsung berhenti.

Tangan itu terdiam beberapa detik.

Lalu perlahan turun lagi. Masuk kembali ke dalam lubang. Kayu pun menutup sendiri.

Krek.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Endric jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“...Gue hampir aja jawab,” katanya pelan.

Gandhul duduk di depannya.

“Kalau lo jawab, selesai.”

Endric menatapnya. Matanya masih kosong.

“Yang tadi... itu apa?”

Gandhul diam sebentar. Wajahnya tidak lagi santai.

“Yang jemput kamu,” jawabnya pelan.

Endric merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.

“Jemput ke mana.”

Gandhul tersenyum tipis. Tidak ada nada bercanda.

“Ke tempat mereka.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!