NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak Haram Takdir

Waktu berlalu seperti aliran air yang tenang namun menghanyutkan. Tujuh tahun telah terlewati sejak jiwa Adit terbangun di dalam tubuh seorang bayi bernama Arlan Vandermir. Selama tujuh tahun itu, Arlan tidak menghabiskan waktunya untuk bermain seperti anak-anak pada umumnya. Dia menggunakan setiap detiknya untuk mengamati, mendengarkan, dan memahami dunia baru yang kini dia tinggali. Dunia ini sangat berbeda dengan bumi yang dia kenal. Di sini, peradaban dibangun di atas pondasi kekuatan supranatural yang mereka sebut sebagai Berkah Dewa.

Arlan tinggal di sebuah gubuk kecil yang hampir roboh di pinggiran Desa Oakhaven, sebuah desa terpencil yang berfungsi sebagai tempat pengasingan bagi mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Ibunya, Elena, adalah satu-satunya orang yang ada di sisi Arlan. Wanita itu bekerja tanpa lelah dari pagi hingga malam, mencuci pakaian penduduk desa atau bekerja di ladang hanya untuk mendapatkan sepotong roti keras. Arlan sering melihat Elena menangis diam-diam di sudut ruangan saat malam hari, meratapi nasib keluarga Vandermir yang hancur karena fitnah keji.

Namun, Arlan tidak pernah ikut menangis. Di dalam tubuh mungil itu, bersemayam jiwa seorang pria dewasa yang sudah mati rasa karena pengkhianatan. Dia melihat kasih sayang Elena dengan tatapan waspada. Meskipun Elena adalah ibunya, trauma dikhianati oleh Siska di kehidupan sebelumnya membuat Arlan sulit untuk benar-benar mempercayai siapa pun secara total. Dia selalu menjaga jarak di dalam hatinya, bersiap untuk kemungkinan terburuk jika suatu saat kasih sayang itu berubah menjadi duri.

"Arlan, hari ini adalah harinya," ucap Elena dengan suara gemetar sambil merapikan pakaian Arlan yang penuh tambalan. "Hari Upacara Pemberian Berkah. Ibu sangat berharap Dewa akan memberikanmu kekuatan agar hidupmu tidak sesulit ini."

Arlan hanya mengangguk pelan. Dia menatap wajah ibunya yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. "Aku tidak butuh bantuan Dewa untuk hidup, Ibu. Tapi aku akan pergi ke sana hanya untuk melihat bagaimana dunia ini bekerja."

Elena tertegun mendengar kata-kata dingin dari anaknya yang baru berusia tujuh tahun itu. Arlan memang berbeda. Dia jarang tersenyum, jarang bicara, dan selalu memiliki tatapan mata yang sangat tajam, seolah dia bisa melihat menembus kebohongan setiap orang. Elena hanya bisa menghela napas panjang, menganggap bahwa kerasnya hidup di pengasingan telah memaksa anaknya untuk dewasa sebelum waktunya.

Mereka berjalan menuju pusat desa, di mana sebuah kuil megah berdiri kontras dengan rumah-rumah penduduk yang kumuh. Kuil itu adalah tempat suci di mana setiap anak berusia tujuh tahun akan menyentuh Kristal Kebangkitan untuk menerima berkah dari salah satu dewa. Penduduk desa sudah berkumpul di sana. Saat Arlan dan Elena melintas, suasana yang semula bising seketika menjadi sunyi, digantikan oleh bisikan-bisikan penuh kebencian.

"Lihat, si anak pengkhianat itu berani muncul," bisik seorang wanita sambil memeluk anaknya erat-erat, seolah takut Arlan akan menularkan kutukan.

"Ayahnya mengkhianati kerajaan, dan sekarang dia berharap mendapatkan berkah? Dewa tidak buta. Dia hanya akan mendapatkan kehinaan di sana," sahut seorang pria dengan nada mengejek.

Arlan mendengar setiap kata itu, namun wajahnya tetap datar. Dia tidak merasa marah atau malu. Baginya, kata-kata manusia adalah hal yang paling tidak berguna di dunia ini. Dia terus berjalan dengan punggung tegak, melewati kerumunan orang yang menatapnya dengan jijik. Di kehidupan sebelumnya, dia pernah dipuja saat kaya dan diludahi saat bangkrut. Dia sudah tahu bahwa nilai seorang manusia di mata orang lain hanyalah berdasarkan apa yang bisa mereka berikan atau seberapa kuat mereka.

Di dalam kuil, sudah ada sekitar dua puluh anak yang mengantre. Di depan mereka berdiri seorang Pendeta Agung mengenakan jubah putih yang menyilaukan. Di tengah ruangan, sebuah kristal biru besar bercahaya dengan aura yang menenangkan. Satu per satu anak maju dan menyentuh kristal itu.

"Leon dari keluarga Smith! Berkah dari Dewa Api, peringkat Rendah!" seru Pendeta itu.

Seketika, tangan anak bernama Leon mengeluarkan percikan api kecil. Orang tuanya bersorak kegirangan. Meskipun hanya peringkat rendah, itu sudah cukup untuk mengangkat derajat keluarga mereka menjadi pekerja di sektor militer atau pandai besi.

Begitu seterusnya. Ada yang mendapatkan kekuatan angin, kemampuan untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, hingga kekuatan fisik yang meningkat sedikit. Sampai akhirnya, nama yang paling ditunggu-tunggu oleh para pembenci itu dipanggil.

"Arlan Vandermir. Maju ke depan."

Seluruh ruangan menjadi sangat sunyi. Arlan melangkah maju dengan tenang. Dia bisa merasakan tatapan mata ratusan orang menusuk punggungnya. Elena menggenggam tangannya sendiri dengan sangat kencang di barisan belakang, bibirnya terus merapal kan doa. Arlan berdiri di depan kristal itu. Dia melihat pantulan wajahnya di permukaan kristal, seorang anak laki-laki dengan rambut perak dan mata biru yang dingin.

Arlan mengulurkan tangannya dan menyentuh permukaan kristal yang dingin.

Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik berlalu.

Kristal itu tetap tenang. Tidak ada cahaya yang keluar, tidak ada aura elemen yang muncul, bahkan tidak ada getaran sekecil pun. Kristal biru itu seolah-olah menyerap semua keberadaan Arlan dan tidak memberikan jawaban apa pun.

Pendeta Agung itu mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengalirkan sedikit energinya ke kristal untuk memastikan alat itu tidak rusak. Namun, kristal tetap gelap saat bersentuhan dengan tangan Arlan. Pendeta itu kemudian menatap Arlan dengan senyum yang penuh dengan penghinaan yang tidak ditutup-tutupi.

"Kosong. Tidak ada reaksi sama sekali," ucap Pendeta itu dengan suara lantang agar didengar semua orang. "Arlan Vandermir, kamu tidak memiliki koneksi dengan dewa mana pun. Tubuhmu menolak berkah, atau mungkin para Dewa sendiri yang jijik menyentuh darah pengkhianat sepertimu. Kamu adalah individu Tanpa Berkah."

Tawa meledak di dalam kuil. Suara tawa itu begitu keras hingga mengguncang ruangan. Para penduduk desa merasa sangat puas. Bagi mereka, kegagalan Arlan adalah bukti bahwa keadilan Dewa itu ada. Anak dari seorang pengkhianat memang pantas menjadi sampah yang paling bawah.

"Sudah kuduga! Dia hanya sampah!"

"Jangan biarkan dia tinggal di desa ini lagi! Dia membawa sial!"

Elena jatuh terduduk, air matanya tumpah. Harapan terakhirnya agar Arlan bisa memiliki hidup yang lebih baik telah hancur. Namun, Arlan justru menarik tangannya dari kristal dengan sangat pelan. Dia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap Pendeta itu dengan tatapan yang membuat sang Pendeta merasa tidak nyaman.

"Apakah sudah selesai?" tanya Arlan dengan nada datar.

Pendeta itu tertegun. Dia mengharapkan Arlan menangis, memohon, atau setidaknya menunjukkan wajah putus asa. "Ya, pergilah dari sini. Jangan kotori tempat suci ini dengan kehadiranmu."

Arlan berbalik dan berjalan melewati kerumunan orang yang terus menghinanya. Dia menghampiri ibunya yang masih menangis, memegang bahu wanita itu, dan mengajaknya keluar. Dia tidak mengatakan kata-kata penghiburan yang manis, karena dia tahu itu tidak akan berguna. Sepanjang jalan pulang, Arlan dilempari dengan batu kecil dan lumpur oleh anak-anak lain, namun dia tidak bergeming. Dia hanya memastikan ibunya tidak terkena lemparan itu.

Setelah sampai di gubuk mereka, Arlan meninggalkan Elena yang masih terpukul dan pergi menuju hutan yang terletak di belakang desa. Hutan itu dikenal sebagai Hutan Terlarang karena banyak binatang buas, namun bagi Arlan, itu adalah tempat yang paling aman karena tidak ada manusia di sana.

Arlan duduk di bawah pohon besar yang rindang. Dia mengepalkan tinjunya. "Berkah Dewa, ya? Kekuatan yang dipinjamkan oleh makhluk lain." Arlan bergumam sendiri. "Aku tidak butuh itu. Jika Dewa menolak ku, maka aku akan menjadi orang yang menolak Dewa."

"Hahaha! Benar-benar jawaban yang sangat menarik dari seorang bocah ingusan!"

Arlan seketika berdiri dan memasang posisi waspada. Di atas dahan pohon, duduk seorang kakek tua yang penampilannya sangat berantakan. Bajunya compang-camping, rambutnya acak acakan, dan dia sedang asyik menggigit sebuah apel liar. Kakek itu melompat turun dengan sangat ringan, seolah tubuhnya tidak memiliki berat sama sekali.

Arlan tidak mundur. Dia menatap kakek itu dengan mata tajam. "Siapa kamu? Dan sejak kapan kamu di sana?"

"Aku hanya seorang pengembara yang bosan melihat orang-orang memohon pada patung batu," jawab kakek itu sambil membuang sisa apelnya. "Namaku tidak penting. Tapi aku menyukai matamu, Arlan. Mata itu bukan milik seorang anak kecil. Itu mata seseorang yang sudah pernah melihat neraka."

Arlan tetap diam, tidak menurunkan kewaspadaannya. "Apa maumu?"

"Aku ingin menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Dewa-dewa sombong di kuil tadi. Mereka memberikan kekuatan sihir yang bergantung pada jumlah mana di atmosfer. Tapi aku punya sesuatu yang berbeda. Kekuatan yang berasal dari setiap serat otot, setiap aliran darah, dan setiap detak jantungmu sendiri."

Kakek itu melangkah mendekat. Arlan mencoba menghindar, namun dalam sekejap, kakek itu sudah berada di depannya dan menyentuh dada Arlan. Arlan terkejut. Kecepatan kakek ini berada di luar logika manusia.

"Ini disebut Taijutsu Surgawi. Sebuah seni untuk menjadikan tubuhmu sendiri sebagai senjata terkuat. Kamu tidak butuh mantra untuk menghancurkan baja. Kamu tidak butuh tongkat sihir untuk membelah langit. Kamu hanya butuh dirimu sendiri."

Tiba-tiba, sebuah aliran energi panas menjalar dari tangan kakek itu ke seluruh tubuh Arlan. Arlan merasakan tulang tulangnya seolah remuk dan otot ototnya seperti ditarik paksa. Dia terjatuh ke tanah sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, namun dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dia menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan teriakan.

Kakek itu tersenyum lebar melihat ketahanan mental Arlan. "Luar biasa. Kebanyakan orang akan pingsan karena rasa sakit ini. Arlan, mulai hari ini, hutan ini akan menjadi nerakamu. Aku akan mengajarimu cara membunuh pengguna sihir dengan tangan kosong. Tapi ingat, aku tidak melakukan ini karena kasihan. Aku melakukan ini karena aku ingin melihat, seberapa jauh seorang sampah bisa menghancurkan takdir yang sudah ditulis para Dewa."

Arlan bangkit dengan susah payah. Tubuhnya gemetar karena energi asing yang baru saja dimasukkan ke dalam dirinya, namun matanya bersinar dengan ambisi yang baru. Dia menatap kakek itu dan berkata dengan suara dingin.

"Aku akan melakukannya. Ajari aku cara untuk tidak pernah kalah lagi."

Kakek itu tertawa terbahak-bahak, tawanya menggema di seluruh hutan. "Baik! Latihan pertama: Lari keliling hutan ini dengan memikul batu seberat tubuhmu sampai matahari terbenam. Jika kamu berhenti, aku akan mematahkan salah satu tulangmu. Mulailah, anak kecil!"

Arlan tidak membantah. Dia segera mencari batu besar, mengikatnya dengan akar pohon, dan mulai berlari. Dia tidak tahu siapa kakek ini sebenarnya, tapi dia tahu satu hal. ini adalah awal dari jalannya untuk menjadi monster yang akan membuat seluruh kerajaan gemetar.

Di bawah sinar matahari yang mulai meredup, seorang anak berusia tujuh tahun mulai berlari dengan beban yang mustahil bagi usianya. Setiap langkahnya adalah sumpah balas dendam pada takdir yang telah mengkhianatinya. Dia bukan lagi Adit yang naif, dan dia bukan lagi Arlan si sampah. Dia adalah benih kehancuran yang mulai tumbuh di tengah hutan kesunyian.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!