Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Bel istirahat siang berbunyi nyaring di seluruh penjuru Akademi Awan Putih. Siswa-siswa Kelas Biasa 3 mulai mengeluarkan kotak bekal mereka atau berjalan keluar menuju kantin. Suasana kelas sangat ramai dengan suara obrolan.
Di barisan paling belakang, Xiao Yan mengeluarkan sebuah kotak makan siang berbentuk persegi dari dalam tasnya. Kotak itu dibungkus dengan kain bermotif kotak-kotak merah. Lin Mei selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal ini. Hari ini, isinya adalah nasi putih, telur dadar gulung, dan sayur tumis daging babi kesukaan Xiao Yan.
"Ugh... Perutku lapar sekali," keluh Lin Fan sambil membuka bungkus rotinya. Dia menoleh ke arah meja Xiao Yan. "Bekalmu terlihat sangat enak, Xiao Yan. Ibumu pandai memasak ya?"
"Ya," jawab Xiao Yan datar. Dia membuka tutup kotak bekalnya. Aroma sedap langsung tercium.
"Kau beruntung bisa bersantai di UKS seharian kemarin," lanjut Lin Fan dengan mulut penuh roti. "Setelah kau dibawa pergi, Guru Li menghukum kami berlari keliling lapangan lima kali karena banyak yang jatuh dari pedang."
"Hah... Itu hal yang wajar. Kalian belum terbiasa menjaga keseimbangan," kata Xiao Yan sambil mengambil sumpitnya.
Lin Fan menelan rotinya dan memajukan badannya. Suaranya diubah menjadi bisikan pelan.
"Tapi kau tahu berita terbesarnya pagi ini?" tanya Lin Fan.
"Tidak," jawab Xiao Yan singkat. Dia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Guru Li benar-benar melaporkan Zhao Wei ke komite kedisiplinan!" ucap Lin Fan bersemangat. "Kudengar izin terbang Zhao Wei di area sekolah dicabut selama satu bulan penuh. Dia juga mendapat poin penalti. Tadi pagi, banyak anak Kelas Unggulan yang menertawakannya karena dia harus berjalan kaki dari gerbang depan."
"Oh," respons Xiao Yan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan reaksi kaget atau senang. Dia terus mengunyah telur dadarnya.
"Menurutku itu tidak masalah bagiku. Selama dia tidak menggangguku lagi, aku bisa menikmati makan siangku dengan tenang," batin Xiao Yan sambil menelan makanannya.
Namun, harapan Xiao Yan untuk makan dengan tenang hancur seketika.
Brak!
Pintu geser kelas Biasa 3 ditendang dari luar dengan sangat keras. Suara benturannya membuat seluruh siswa di dalam kelas langsung terdiam. Beberapa siswa perempuan memekik kaget.
Tiga orang remaja laki-laki berjalan masuk ke dalam kelas. Di tengah mereka adalah Zhao Wei. Dia memakai seragam sutra Kelas Unggulan berwarna emas yang mencolok. Wajahnya memerah dan rahangnya mengeras. Matanya menyapu seluruh penjuru kelas dengan tatapan tajam.
"Ugh... Gawat," gumam Lin Fan panik. Dia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap tidak terlihat.
"Mana yang namanya Xiao Yan?!" teriak Zhao Wei. Suaranya menggema di ruangan yang tiba-tiba sunyi itu.
Tidak ada satu pun siswa Kelas Biasa yang berani menjawab. Mereka semua tahu latar belakang Keluarga Zhao yang kaya dan berpengaruh. Mereka hanya menatap ke arah meja belakang tempat Xiao Yan duduk.
Zhao Wei mengikuti arah pandangan mereka. Dia melihat Xiao Yan yang sedang duduk santai, memegang sumpit, dan menatap lurus ke arahnya dengan wajah datar tanpa emosi.
"Itu dia, Tuan Muda," tunjuk salah satu pengikut Zhao Wei, seorang remaja bertubuh tinggi besar.
Zhao Wei melangkah cepat menyusuri lorong antar meja, langsung menuju bagian belakang kelas. Siswa-siswa lain segera menarik kursi mereka untuk memberi jalan, takut terkena masalah.
Zhao Wei berhenti tepat di depan meja Xiao Yan. Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja Xiao Yan dengan kasar.
Brak!
"Jadi kau yang namanya Xiao Yan, anak Kelas Biasa yang lemah itu?" desis Zhao Wei dari sela-sela giginya.
Xiao Yan meletakkan sumpitnya perlahan di atas kotak bekalnya.
"Ya," jawab Xiao Yan datar.
"Gara-gara laporan palsumu, izin terbangku dicabut!" bentak Zhao Wei. "Kau bilang pedang kayumu yang jelek itu meledak karena angin dari pedangku? Kau pasti sengaja merusaknya sendiri lalu berpura-pura pingsan di semak-semak untuk mencari perhatian, kan?!"
"Tidak. Pedangku benar-benar hancur karena turbulensi," bantah Xiao Yan dengan nada suara yang monoton. Dia mengatakan hal yang sebenarnya, meskipun bagian terbang ke angkasa tentu saja dia sembunyikan.
"Kau berani menjawab?!" Zhao Wei mengangkat tangan kanannya dan mencengkeram kerah kaus Xiao Yan. Dia mencoba menarik tubuh Xiao Yan agar berdiri dari kursinya.
"Ugh!" Lin Fan yang duduk di sebelah reflek berdiri. "Tuan Muda Zhao, lepaskan dia! Xiao Yan tidak salah, Guru Li sendiri yang melihat pedangnya meledak!"
"Diam kau, rakyat jelata!" bentak pengikut Zhao Wei yang berbadan besar. Dia mendorong dada Lin Fan hingga Lin Fan terjatuh kembali ke kursinya.
"Aduh!" keluh Lin Fan sambil memegangi dadanya.
Xiao Yan menatap tangan Zhao Wei yang sedang mencengkeram kerahnya. Otaknya langsung melakukan perhitungan fisik seketika.
"Gaya tarikan dari tangannya adalah lima belas Newton," batin Xiao Yan. "Jika aku membiarkan leher dan punggungku berada dalam posisi rileks normalku, tarikannya tidak akan bisa menggeser tubuhku satu milimeter pun. Jika dia menarik lebih keras lagi, tulang pergelangan tangannya akan patah karena berbenturan dengan massa ototku yang setara dengan baja murni."
Xiao Yan tidak ingin tangan Zhao Wei patah di kelasnya. Itu akan mendatangkan investigasi dari pihak sekolah dan merusak kehidupan damainya.
"Aku harus mengendurkan otot leherku sebesar 0,005 persen dan memajukan tubuhku mengikuti arah tarikannya dengan kecepatan yang sama," kalkulasi Xiao Yan di dalam kepalanya.
Xiao Yan membiarkan tubuhnya tertarik ke depan. Dia berdiri dengan postur tubuh sedikit membungkuk, seolah-olah tarikan Zhao Wei benar-benar menyakitinya.
"Hah... Lepaskan kerahku," kata Xiao Yan. Dia membuat suaranya terdengar sedikit tertekan.
"Kau takut sekarang, pecundang?" ejek Zhao Wei. Dia tersenyum sombong melihat Xiao Yan yang menurutnya tidak berdaya. "Kau harus berlutut di lapangan depan dan meminta maaf kepadaku. Jika tidak, aku akan membuat tiga tahun masa SMA-mu menjadi neraka."
"Aku tidak melakukan kesalahan. Aku tidak akan meminta maaf," tolak Xiao Yan datar. Matanya tetap menatap lurus ke mata Zhao Wei tanpa rasa takut sedikit pun.