NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Fragmen yang Tertinggal dan Bisikan di Balik Dinding

​Cokelat panas di gelas kertasku sudah kehilangan uapnya, menyisakan cairan kental yang mendingin dan terasa hambar di lidah. Namun, aku tetap menggenggamnya erat, seolah-olah suhu hangat yang tersisa di dinding gelas adalah satu-satunya hal yang menjagaku tetap berpijak di atas lantai koridor apartemen ini.

​Aku masih bisa merasakan jantungku berdentum di balik tulang rusuk, ritmenya tidak beraturan, dipicu oleh bayangan cepat yang baru saja kulihat di ujung koridor dekat lift. Bayangan itu terlalu nyata untuk sekadar disebut halusinasi akibat efek putus obat (withdrawal) yang sedang kualami.

​"Anya."

​Suara Devan rendah, nyaris menyerupai desis angin, namun cukup untuk menarikku kembali dari jurang paranoia. Aku menoleh. Devan masih duduk bersandar di bingkai pintunya, tapi postur tubuhnya sudah berubah. Bahunya menegang, dan matanya tidak lagi menatap gelas cokelatnya. Tatapannya tertuju pada titik yang sama denganku—ujung lorong yang kosong.

​"Kau melihatnya juga?" bisikku. Suaraku gemetar, tipis seperti helai benang yang siap putus.

​Devan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelasnya di lantai dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris tanpa suara. "Tim Satria tidak akan membiarkan bayangan berkeliaran tanpa identitas. Mereka bergerak dalam formasi statis di unit 1403. Bayangan itu... terlalu tidak terkoordinasi untuk menjadi salah satu dari mereka."

​Ia berdiri dengan kelincahan seorang predator yang baru saja mencium bau bahaya. Tangannya yang kapalan secara refleks meraba bagian belakang pinggangnya—tempat ia biasanya menyembunyikan benda tajam atau senjata di masa pelariannya. Namun, menyadari ia berada di gedung yang diawasi Kejaksaan, ia hanya mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.

​"Masuk ke dalam, Anya. Kunci pintu dan jangan buka sampai aku mengetuk dinding tiga kali," perintahnya tanpa menoleh padaku.

​"Devan, jangan sendirian..."

​"Masuk," potongnya dengan nada otoritas yang tak terbantahkan.

​Aku mundur ke dalam unit 1401 dengan napas tersengal. Aku menutup pintu kayu berat itu dan memutar kunci ganda. Klik. Klik. Bunyi itu seharusnya memberiku rasa aman, namun yang kurasakan justru isolasi yang mencekik. Aku menyandarkan punggungku di pintu, mendengarkan keheningan koridor dari balik kayu.

​Menit-menit berlalu seperti jam yang bergerak di dalam lumpur. Keheningan itu hanya dipecahkan oleh suara dengung mesin pendingin ruangan yang konstan, suara yang kini terasa seperti ejekan bagi ketidakberdayaanku.

​Tiba-tiba, terdengar suara keributan kecil di luar. Suara gesekan sepatu di atas karpet, erangan tertahan, dan bunyi hantaman tumpul pada dinding. Aku menutup mulutku dengan tangan agar tidak menjerit. Apakah Devan terluka? Apakah bayangan itu adalah orang suruhan Ayah yang datang untuk membawaku kembali ke sangkar lavender itu?

​Lalu, sunyi kembali menyergap.

​Aku mematung selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya mendengar tiga ketukan di dinding yang berbatasan langsung dengan ruang tengahku.

​Tuk. Tuk. Tuk.

​Aku berlari menuju pintu, membukanya dengan tangan gemetar. Devan berdiri di sana, rambutnya sedikit berantakan dan napasnya sedikit memburu. Ada noda debu di bahu kaus putihnya, namun ia tampak utuh.

​"Siapa dia?" tanyaku panik.

​Devan menyeka keringat di dahinya. "Hanya kurir 'pesan'. Seseorang menyusup lewat jalur kargo bawah tanah, menghindari pengawasan Satria dengan cara yang terlalu profesional."

​Ia menyodorkan selembar kertas kecil yang sudah lecek. Kertas itu tampak seperti sobekan dari majalah bisnis lama. Di bagian margin yang kosong, tertulis satu kalimat dengan tinta merah yang tajam:

​'Permainan catur belum selesai, Putri Kecil. Pionmu akan segera dimakan.'

​Darahku seolah membeku. "Pion itu... maksudnya kau, Devan?"

​Devan tersenyum miring, sebuah senyum pahit yang menyimpan seribu luka. "Ayahmu selalu menyukai metafora catur. Baginya, manusia hanyalah bidak kayu yang bisa ia geser atau buang sesuka hati. Dan aku? Aku adalah pion yang seharusnya sudah jatuh sejak tiga tahun lalu."

​Ia melangkah mendekat, namun tetap berhenti di ambang pintu, tidak melanggar batas protokol Satria. "Anya, tempat ini tidak seaman yang Satria janjikan. Ayahmu punya mata di mana-mana. Bahkan di dalam dinding beton ini sekalipun."

​Aku merosot duduk di lantai apartemenku, memeluk lutut. "Kenapa dia tidak membiarkanku pergi saja? Dia sudah mendapatkan segalanya. Perusahaannya, reputasinya, kekuasaannya... kenapa dia harus menghapusmu dari kepalaku?"

​Devan terdiam cukup lama. Ia menatap ke arah dalam unitku yang steril, lalu matanya beralih menatapku dengan sorot mata yang melunak, bercampur dengan kerinduan yang menyayat hati.

​"Karena kau adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia beli dengan uang, Anya," bisik Devan. "Tiga tahun lalu, di malam kecelakaan itu, kau memegang sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar cinta remaja. Kau memegang kebenaran tentang bagaimana kerajaannya dibangun di atas tulang belulang orang lain. Dan aku adalah saksi satu-satunya yang tersisa."

​Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain flanel usang. Ia meletakkannya di lantai, lalu mendorongnya perlahan melewati ambang pintu menuju ke arahku.

​"Apa ini?" tanyanya sambil membuka bungkusan itu.

​Di dalamnya ada sebuah fragmen kaca yang ujungnya sudah tumpul karena sering digosok, dan sebuah tiket bioskop yang sudah menguning, bertanggal 14 Juli tiga tahun lalu.

​"Lihat tanggal di tiket itu," kata Devan.

​Aku mengambil tiket bioskop itu. Tanganku gemetar. 14 Juli. Hari yang sama dengan tanggal folder di harddisk lamaku. Hari kecelakaan itu.

​"Itu adalah hari di mana kita berencana untuk lari," Devan mulai bercerita, suaranya parau membawa gema masa lalu. "Kita tidak menonton film itu sampai selesai. Kita keluar di pertengahan adegan karena kau bilang kau merasa diawasi. Kau membawa tas ransel berisi semua catatan penelitian ayahmu tentang proyek jembatan yang rubuh di Sektor Timur. Kau ingin kita menyerahkannya ke media luar kota."

​Aku memejamkan mata, mencoba menggali ke dalam lubang hitam di kepalaku. Rasa sakit itu datang lagi, tajam dan berdenyut di belakang pelipisku. Bioskop. Bau popcorn. Tangan Devan yang menggenggamku erat di dalam kegelapan studio.

​"Aku... aku ingat lampu-lampu jalan yang bergerak cepat," gumamku, suaraku nyaris tak terdengar. "Aku ingat suara sirene, tapi bukan sirene polisi. Suara sirene yang lebih nyaring... seperti ambulans."

​"Itu adalah mobil pengawal ayahmu yang mengejar kita," Devan mengoreksi, suaranya merendah menjadi geraman. "Mereka menabrak kita dari samping tepat di perempatan jalan raya. Fragmen kaca yang kau pegang itu... itu adalah bagian dari jendela mobil yang pecah dan menancap di telapak tanganmu saat aku mencoba menarikmu keluar."

​Aku menatap telapak tangan kiriku. Ada parut tipis hampir tak terlihat di sana, yang selama ini kukira bekas jatuh dari sepeda saat kecil. Ternyata itu adalah tanda cinta dan kehancuran yang kuterima di hari yang sama.

​"Ayahmu berdiri di sana, Anya," lanjut Devan, matanya berkilat oleh amarah yang tertahan. "Ia berdiri di samping mobil yang terbalik, menatapku seolah aku adalah serangga yang perlu diinjak. Ia tidak memanggil ambulans sampai ia memastikan tas ransel yang kau bawa sudah berada di tangannya. Ia lebih peduli pada rahasia bisnisnya daripada nyawa putrinya yang sedang berdarah."

​Mendengar itu, perutku melilit hebat. Rasa mual menyerbu. Pria yang setiap pagi mencium keningku dan mengatakan bahwa aku adalah hartanya yang paling berharga... pria itu ternyata adalah monster yang membiarkanku sekarat demi kertas-kertas saham.

​"Lalu kenapa kau bisa selamat?" tanyaku, air mata mulai mengalir deras.

​"Karena aku lari," Devan tertawa getir. "Aku lari seperti pengecut karena aku tahu jika aku tertangkap malam itu, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu suatu hari nanti. Aku menghilang ke Sektor Bawah Tanah, hidup di antara tikus dan sampah, memalsukan identitasku selama tiga tahun, hanya untuk memastikan aku punya kesempatan untuk kembali dan menjemputmu."

​Ia menangkup wajahnya dengan satu tangan, bahunya sedikit bergetar. "Tapi aku tidak menyangka... saat aku kembali, kau benar-benar telah menjadi 'boneka' yang sempurna. Kau menatapku seolah-olah aku adalah kuman di sepatumu. Itu jauh lebih sakit daripada pukulan petarung jalanan mana pun, Anya."

​Aku bangkit berdiri, mengabaikan segala protokol, dan melangkah melewati ambang pintu. Aku tidak peduli jika alarm Satria berbunyi. Aku tidak peduli jika seluruh tim intelejen di unit 1403 menyerbu keluar.

​Aku memeluk Devan.

​Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya, membenamkan wajahku di dadanya yang keras dan hangat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu liar, detak jantung yang sama dengan yang kurasakan di ruang musik kampus.

​"Maafkan aku... maaf karena aku melupakanmu," isakku. "Maaf karena aku membiarkan mereka menang."

​Devan tidak membalas pelukanku dengan tangan. Ia tetap menjaga jarak fisiknya demi keselamatanku, namun ia menundukkan kepalanya, menyandarkan keningnya di puncak kepalaku. "Mereka belum menang, Anya. Belum. Selama kaset rusak ini mulai menyambung, mereka sudah mulai kalah."

​Keheningan malam di lantai 14 itu terasa berbeda sekarang. Ia tidak lagi kosong; ia dipenuhi oleh pengakuan dan fragmen-fragmen kebenaran yang menyakitkan namun membebaskan.

​Namun, di tengah keintiman yang rapuh itu, sebuah memori dari masa SMA kembali berkelebat di kepalaku. Memori yang lebih manis, namun sekaligus memberikan alasan mengapa pengkhianatan Ayah terasa begitu dalam.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. PERPUSTAKAAN SEKOLAH - SIANG HARI (MASA LALU)

​Filter visual sangat cerah, debu-debu halus menari di sela cahaya matahari yang menembus jendela kaca besar. Suasana sunyi, hanya terdengar suara membalik kertas.

​ANYA (16 tahun) sedang duduk di pojok perpustakaan yang tersembunyi oleh rak buku Sastra Klasik. Di depannya, DEVAN (17 tahun) sedang pura-pura membaca buku sejarah, namun matanya terus melirik ke arah Anya.

​ANYA

(Sambil menulis sesuatu di buku harian bersampul kulitnya)

"Berhenti melihatku seperti itu, Devan. Aku tidak bisa konsentrasi menulis puisi."

​DEVAN

(Tersenyum miring, meletakkan bukunya)

"Puisi tentang apa? Tentang betapa menyebalkannya tetanggamu ini?"

​ANYA

(Wajahnya memerah)

"Bukan. Tentang... tentang bagaimana rasanya memiliki dunia rahasia di mana tidak ada yang bisa menemukanku kecuali kau."

​Devan bangkit, ia melangkah mendekat dan duduk di lantai di samping kursi Anya. Ia mengambil tangan kiri Anya, lalu dengan jari jempolnya, ia mengusap pergelangan tangan gadis itu yang mulus—titik yang nantinya akan ia tulisi namanya.

​DEVAN

"Anya, jika suatu saat Ayahmu tahu tentang kita... dan dia memaksamu memilih antara dunianya yang mewah atau duniaku yang kotor, apa yang akan kau lakukan?"

​Anya menutup buku hariannya. Ia menatap mata Devan dengan keberanian yang melampaui usianya.

​ANYA

"Aku akan menghancurkan dunianya, Van. Karena tanpamu, kemewahan itu hanya akan terasa seperti penjara yang berlapis emas."

​Devan mengeluarkan sebuah cincin yang terbuat dari jalinan kawat tembaga bekas kabel bengkel, lalu menyelipkannya di jari manis Anya.

​DEVAN

"Ini janjiku. Biarpun aku hanya sebuah pion dalam hidupmu, aku akan melindungimu sampai kotak catur ini hancur."

​Anya tersenyum, ia menyandarkan kepalanya di bahu Devan. Di kejauhan, melalui celah jendela perpustakaan, terlihat mobil sedan hitam milik Ayah Anya yang sedang terparkir menunggu di gerbang sekolah, seperti monster yang sedang mengintai mangsanya.

​Layar perlahan memudar menjadi warna abu-abu yang pekat, transisi ke koridor apartemen masa kini yang dingin.

​FADE OUT.

​Aku melepaskan pelukanku perlahan, menatap mata Devan yang kini dipenuhi oleh tekad baja.

​"Fragmen kaca ini," aku menunjuk benda di bungkusan kain flanel itu. "Aku akan menyimpannya. Sebagai pengingat bahwa rasa sakit ini nyata. Bukan halusinasi."

​Devan mengangguk pelan. "Simpan itu baik-baik. Karena besok, Jaksa Satria akan membawamu ke ruang sidang untuk pertama kalinya. Kau akan melihat wajah Ayahmu lagi. Dan kali ini, kau tidak boleh membuang muka."

​Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku. "Aku tidak akan membuang muka, Devan. Aku akan memastikan dia tahu bahwa porselen yang ia rusak... kini memiliki ujung yang cukup tajam untuk merobek topengnya."

​Malam itu, setelah Devan kembali ke unitnya, aku tidak lagi merasa kosong. Aku merasa penuh. Penuh dengan kemarahan, penuh dengan ingatan, dan penuh dengan dorongan untuk menghancurkan kebohongan yang selama ini kusebut sebagai hidup.

​Namun, di ujung lorong yang gelap, tepat sebelum aku menutup pintu kamarku, aku kembali melihat kilatan bayangan itu. Kali ini, bayangan itu tidak lari. Ia berdiri tegak di bawah lampu yang berkedip, menunjukkan sebuah wajah yang sangat kukenal namun seharusnya tidak ada di sini.

​"Dokter Frans?" bisikku ketakutan.

​Sosok itu menghilang di balik lift tepat saat pintu unit 1403 terbuka dan tim Satria keluar untuk melakukan patroli malam.

​Duniaku baru saja menyambung satu bagian, namun bagian lainnya sedang bersiap untuk meledak.

​[BERSAMBUNG KE BAB 18]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!