NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Tawa Canggung dan Dada yang Terhimpit Batu

Pagi itu, sinar matahari pagi menerobos masuk melalui deretan jendela kaca ruang kelas Pengantar Akuntansi, memandikan barisan bangku kayu dengan cahaya keemasan. Suasana kelas masih dipenuhi oleh dengung obrolan puluhan mahasiswa yang menunggu dosen masuk. Di barisan tengah, geng Akuntansi itu sedang berkumpul dalam formasi melingkar, menciptakan pulau keributan kecil mereka sendiri di tengah lautan mahasiswa.

Namun, bagi Anandara Arunika, cahaya matahari pagi itu sama sekali tidak membawa kehangatan. Di balik kemeja putih rapinya, hatinya sedang duduk di sudut ruangan yang gelap, kedinginan, dan menahan beban yang luar biasa menyiksa.

"Nan, lo harus percaya sama gue kali ini," celoteh Sinta dengan suara setengah berbisik namun dipenuhi antusiasme yang meletup-letup. Gadis berlesung pipi itu mencondongkan tubuhnya ke arah Anandara, kedua tangannya bertaut di atas meja. Matanya berbinar sangat terang, lebih terang dari pantulan cahaya matahari di jendela. "Gue rasa gue beneran udah jatuh cinta sedalam-dalamnya sama Angga. Bukan cuma sekadar kagum gara-gara fisiknya doang."

Anandara menelan ludah. "Oh ya?"

"Iya!" Sinta mengangguk cepat. "Semalam gue mikirin dia terus. Lo tahu nggak apa yang bikin gue makin klepek-klepek? Cara dia ngomong, Nan. Suara baritonnya itu tenang banget, nggak pernah terburu-buru. Terus, waktu gue ajarin dia materi utilitariannya Bu Santi tempo hari, gue bisa lihat matanya tuh fokus banget. Dia pendengar yang baik. Di balik sikap kulkas dua pintunya itu, gue yakin dia aslinya hangat. Pokoknya, gue tekad bulat semester ini mau naklukin hati dia!"

Mendengar deklarasi cinta yang begitu gamblang dan penuh harapan itu, dada Anandara terasa seperti dihimpit oleh bongkahan batu besar berton-ton. Saluran napasnya seakan menyempit, membuat setiap tarikan oksigen terasa membakar paru-parunya.

Anandara ingin menutup telinganya. Ia ingin berteriak bahwa pemuda bersuara bariton yang pendengarannya baik itu adalah pemuda yang sama yang membuat jantungnya sendiri berdebar gila. Ia ingin menangis dan memeluk Sinta, memohon ampun karena ia juga menyimpan perasaan kotor itu.

Tapi, Nyonya Es itu adalah aktris teater kehidupan yang terlalu profesional.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kewarasan yang ia kumpulkan dari serpihan hatinya yang hancur malam sebelumnya, Anandara memaksakan otot-otot di wajahnya untuk bekerja. Ia menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang sangat lebar dan tampak begitu natural. Ia menatap Sinta dengan binar mata bahagia buatan yang sempurna.

"Gue dukung lo seribu persen, Sin," ucap Anandara, suaranya riang dan stabil, menyembunyikan getaran perih di pita suaranya. Ia menepuk tangan Sinta pelan. "Lo cantik, lo ceria, lo peduli sama dia. Cowok sebatu apa pun pasti bakal luluh lihat ketulusan lo. Berjuang aja terus, gue bakal selalu ada buat bantuin taktik lo."

Sinta memekik tertahan saking senangnya, memeluk lengan Anandara dengan gemas. "Aaa! Makasih, Nanda! Lo emang jimat keberuntungan gue!"

Di saat Anandara sedang sibuk meredam rintihan batinnya, keributan bernada komedi tiba-tiba meledak dari barisan kursi di depan mereka, memecah fokus melankolis meja tersebut.

Rehan, yang sedari tadi sedang asyik menelusuri lini masa Instagram, tiba-tiba menghentikan scroll-nya. Ia menyadari bahwa sedari tadi, sahabat karibnya tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Reza, yang biasanya tidak pernah bisa diam atau selalu mengomel soal game, kini duduk mematung seperti patung pancoran.

Rehan menoleh ke samping. Matanya langsung menangkap arah pandangan Reza.

Reza sedang duduk dengan punggung tegak, matanya tak berkedip menatap lurus ke arah Ami yang duduk di seberang meja bersama Kiera. Reza seolah terhipnotis oleh cara Ami menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga saat gadis eks-anak IPS itu sedang serius membaca slide presentasi di ponselnya. Reza bahkan menopang dagunya dengan tangan, senyum tipis dan konyol menghiasi bibirnya.

Melihat adegan bucin (budak cinta) yang sangat tidak pada tempatnya itu, insting jahil Rehan langsung meronta-ronta.

Dengan gerakan dramatis, Rehan mengangkat tangannya dan langsung mengusap wajah Reza dengan sangat kasar, seolah sedang menghapus noda dari sebuah papan tulis.

"Woy! Sadar, Bro!" seru Rehan dengan suara yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa anak di kelas menoleh. "Mata lo bisa copot tuh mandangin anak orang segitunya! Iler lo netes tuh dalam hati! Istighfar, Za, istighfar!"

Reza tersentak kaget. Wajahnya yang kepergok sedang memandangi Ami langsung memerah padam seperti kepiting rebus. Ia gelagapan menepis tangan Rehan. "Apaan sih lo, Han! Siapa yang mandangin?! Gue... gue lagi lihatin tulisan di papan tulis!"

"Papan tulis mata lo peyang! Orang di depan lo Ami, papan tulisnya di sebelah sana!" Rehan menunjuk ke arah papan tulis yang berlawanan arah dengan tatapan Reza tadi.

Sontak, seluruh meja itu memusatkan perhatian pada mereka.

Ami, yang baru menyadari bahwa dirinya sedari tadi menjadi objek observasi Reza, langsung terkesiap. Buku di tangannya nyaris terjatuh. Wajah Ami seketika berubah merah merona hingga ke telinga. Ia menunduk dalam-dalam, salah tingkah bukan kepalang, tangannya bergerak gelisah merapikan ujung kemejanya yang sebenarnya sudah rapi.

"E-eh... apaan sih, Rehan," cicit Ami dengan suara yang nyaris tak terdengar, tak berani menatap Reza sama sekali.

Kiera, yang duduk di sebelah Ami, menoleh ke arah Ami, lalu ke arah Reza, lalu kembali ke Ami. Kiera melipat tangannya di dada, mengerutkan dahi, dan memasang ekspresi kebingungan yang sangat teatrikal dan dibuat-buat.

"Tunggu, tunggu, tunggu," Kiera memicingkan matanya. "Ini ada apa sih hawanya mendadak kayak lagi nonton FTV siang-siang? Yang satu mukanya merah kayak tomat, yang satu salah tingkah kayak maling jemuran ketahuan ronda."

Kiera lalu menggebrak meja pelan dengan telapak tangannya. "Astaga, kelamaan lo berdua! Jadian aja deh lo pada daripada salah tingkah mulu tiap hari bikin mata gue sepet!"

Komentar telak dari Kiera itu bagaikan bensin yang disiram ke kobaran api.

Tawa Rehan langsung meledak terbahak-bahak. Ia tertawa lepas sambil memegangi perutnya, sesekali memukul punggung Reza yang masih membeku karena malu. "Hahaha! Bener kata Kiera, Za! Nembak Lord di Mobile Legends aja lo berani, masa nembak Ami aja lo keringat dingin begini!"

"Diam lo berdua!" desis Reza panik, berusaha membungkam mulut Rehan dengan tangannya namun gagal karena Rehan terus menghindar sambil terbahak-bahak.

Ami semakin salah tingkah, menutupi wajahnya dengan buku catatannya. "Kiera! Rehan! Udah ih, malu diliatin orang-orang!"

Sinta dan Anandara ikut tertawa melihat kekacauan di depan mereka. Beban batu raksasa di dada Anandara sejenak terasa sedikit lebih ringan. Tawa renyah Kiera dan tawa menggelegar Rehan adalah pengalih perhatian yang sangat ia butuhkan agar Sinta tidak menyadari bahwa senyumnya tadi adalah senyum yang berdarah.

Namun, di tengah riuhnya tawa dan kecanggungan di barisan tengah itu, panggung sandiwara ini sedang diamati dengan sangat tajam dari sudut lain ruangan.

Jauh di barisan paling belakang kelas, Angga Raditya duduk bersandar santai. Posturnya terlihat cool dan tak acuh, lengannya bersedekap di depan dada. Mahasiswi yang duduk beberapa baris di depannya mungkin mengira Angga sedang bosan menunggu dosen, tetapi kenyataannya, fokus pemuda itu sedang terkunci rapat pada satu objek.

Mata tajam Angga tidak melewatkan sedetik pun dari adegan di meja geng Akuntansi itu. Ia tidak peduli pada Reza yang sedang digoda habis-habisan oleh Rehan. Ia tidak peduli pada Ami yang wajahnya memerah. Fokus utamanya hanya satu: Anandara Arunika.

Angga melihat bagaimana Anandara tersenyum lebar pada Sinta beberapa saat yang lalu. Ia melihat bagaimana bibir gadis itu melengkung ke atas, dan bagaimana mata gadis itu menyipit. Dari kejauhan, senyum itu terlihat seperti senyum bahagia seorang sahabat.

Namun, Angga adalah seorang pemikir yang analitis. Ia tidak mudah tertipu oleh permukaan.

Saat ia memusatkan pandangannya pada mata hitam legam Anandara, Angga menangkap sebuah disonansi. Ada ketidakselarasan antara bibir yang tersenyum dan sorot mata yang dipancarkan. Senyum itu tidak mencapai dasar matanya. Mata Anandara memancarkan sebuah kepedihan yang sangat sunyi, kekosongan yang dipaksakan. Senyum yang ditarik secara mekanis itu mengingatkan Angga pada senyum sebuah manekin di etalase toko—indah, namun tak bernyawa.

Rahang Angga sedikit mengeras. Pertanyaannya kembali berputar di kepalanya: Kenapa? Kenapa gadis yang menolaknya mentah-mentah ini memaksakan senyum yang begitu menyakitkan saat sahabatnya bercerita? Apa yang sedang disembunyikan oleh Nyonya Es ini?

Di sebelah Angga, sebuah pertunjukan kebohongan lainnya juga sedang berlangsung.

Dimas duduk dengan kacamata yang sedikit merosot di hidungnya, menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut, seolah sedang berkonsentrasi penuh mengerjakan sebuah algoritma yang luar biasa rumit. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard. Klak-klik-klak-klik.

Terdengar sangat meyakinkan.

"Sibuk banget lo, Dim," gumam Angga tanpa mengalihkan pandangannya dari Anandara di depan sana. "Tugas apaan? Perasaan Bu Santi belum ngasih tugas baru."

Dimas menghentikan ketikannya sejenak. Ia membenarkan letak kacamatanya dengan ujung jari telunjuk. "Ada aja. Gue lagi nge- draft laporan buat UKM. Mending lo baca buku daripada ngeliatin anak orang sampai segitunya. Nanti dikira stalker."

Angga mendengus pelan, sebuah senyum sinis yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. "Gue cuma heran. Ada orang yang bisa senyum lebar banget, padahal kelihatan jelas kalau dia lagi nahan napas."

Kalimat Angga itu membuat ujung jari Dimas yang menempel di keyboard sedikit menegang. Pemuda berkacamata itu tahu persis siapa yang dimaksud oleh Angga. Dan ia tahu persis bahwa tebakan Angga seratus persen akurat.

Dimas pura-pura tidak acuh, membuang pandangannya ke arah layar laptop. "Mata lo aja kali yang minus. Nggak usah terlalu dianalisa."

Dan dengan itu, Dimas kembali melanjutkan ketikannya. Klak-klik-klak-klik. Jari-jarinya bergerak cepat.

Namun, jika ada orang yang berdiri di belakang Dimas dan mengintip layar laptopnya, mereka tidak akan menemukan draf laporan UKM, tidak akan menemukan jurnal akuntansi, dan tidak akan menemukan satu pun tugas kuliah.

Di layar laptop Dimas yang terang, hanya terbuka aplikasi Notepad kosong. Pemuda pendiam itu sejak tadi hanya mengetik huruf-huruf acak tanpa arti—asdfghjkl—hanya sekadar untuk menciptakan suara ketikan, berpura-pura sibuk agar ia tidak perlu menoleh dan memperlihatkan raut wajah aslinya pada Angga.

Dimas tidak sanggup melihat Sinta yang terus-menerus memancarkan cinta pada Angga, dan ia tidak sanggup melihat Angga yang terus-menerus menembus pertahanan Anandara. Di balik layar laptopnya, Dimas menjadi saksi bisu, menyembunyikan rasa frustrasinya sendiri dalam barisan huruf acak, sementara drama cinta bertepuk sebelah tangan di kelas itu semakin lama semakin menguras emosi mereka semua.

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!