Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Karena kondisi Onur yang terlalu mabuk dan tidak stabil untuk menyetir, Maria tidak punya pilihan lain selain membawanya ke rumah kecil mereka.
Malam itu, Maria terjaga di ruang tamu, duduk di kursi kayu sambil memperhatikan Onur yang tertidur gelisah di sofa, sesekali menggumamkan nama Maria dan Aliya dalam tidurnya.
Sinar matahari pagi mulai menembus jendela kaca yang tipis, membawa kehangatan yang kontras dengan ketegangan yang akan terjadi.
Zartan turun dari kamarnya dengan wajah mengantuk, namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap sosok pria yang paling ia benci sedang terbaring di sofa ruang tamu mereka.
"Ibu!" suara Zartan meninggi, penuh dengan nada tidak percaya dan kemarahan.
Maria yang sedang menyiapkan teh di dapur segera berlari ke ruang tamu.
"Zartan, kecilkan suaramu..."
"Kenapa dia ada di sini?!" potong Zartan sambil menunjuk Onur dengan jari bergetar.
"Apa dia belum puas menyakiti adikku, Aliya? Apa keluarga Karadağ ingin merampas sisa ketenangan kita di rumah ini juga?"
Suara lantang Zartan bagaikan petir yang menyambar kesadaran Onur.
Onur perlahan membuka matanya, merasakan denyut di kepalanya akibat sisa alkohol semalam.
Ia mengerjap, mencoba mengenali langit-langit ruangan yang asing baginya, sampai matanya tertuju pada Zartan yang berdiri dengan kepalan tangan erat.
Onur perlahan duduk di sofa, mengabaikan rasa peningnya.
Ia menatap Zartan, namun kali ini tidak ada tatapan angkuh atau dingin.
Ada sorot mata yang bergetar—tatapan seorang pria yang baru menyadari bahwa pemuda pemarah di depannya adalah darah dagingnya sendiri.
"Zartan..." ucap Onur pelan, suaranya parau.
"Jangan sebut namaku!" bentak Zartan.
"Keluar dari sini sekarang sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal!"
Maria melangkah di antara mereka, mencoba menengahi.
"Zartan, cukup. Dia sedang dalam masalah semalam, Ibu tidak bisa membiarkannya di jalanan."
"Masalah? Dia adalah masalahnya, Bu!" Zartan
masih enggan menurunkan tensi bicaranya.
Onur berdiri dengan perlahan, meskipun kakinya masih sedikit lemas.
Ia menatap Zartan dalam-dalam, mencari kemiripan fitur wajahnya pada pemuda itu.
Garis rahang itu, sorot mata yang keras itu adalah aku, batin Onur pedih.
"Maafkan aku, Zartan," kata Onur tiba-tiba, membuat Zartan dan Maria terdiam terpaku. Onur Karadağ, sang singa dari klan Karadağ, baru saja meminta maaf.
"Aku tidak bermaksud mengusik rumah kalian. Aku akan pergi sekarang."
Onur menoleh ke arah Maria, memberikan tatapan terima kasih yang dalam sebelum berjalan menuju pintu. Namun di ambang pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali pada Zartan.
"Jaga Aliya baik-baik di rumah sakit. Emirhan sedang menunggunya di sana."
Maria hanya bisa terdiam, memegang dadanya yang bergemuruh.
Ia tahu, mulai hari ini, rahasia itu akan terus menghantuinya setiap kali ia melihat Zartan dan Onur berada di satu ruangan yang sama.
Pagi yang semula tenang di kediaman Maria mendadak berubah menjadi medan pertempuran emosi.
Zartan berdiri mematung di tengah ruangan, napasnya memburu saat melihat Onur Karadağ—pria yang ia anggap sebagai simbol penindasan—berada di bawah atap rumahnya.
"Pergi dari sini! Aku tidak peduli siapa kamu di luar sana, jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi!" teriak Zartan dengan suara menggelegar.
Onur yang baru saja terbangun mencoba berdiri, namun kepalanya masih terasa berputar hebat.
Ia tampak rapuh, jauh dari citra penguasa yang biasanya ia tunjukkan.
Melihat Onur yang nyaris terjatuh kembali, Maria tidak bisa lagi menahan diri. Rasa iba dan beban rahasia yang ia pikul selama belasan tahun akhirnya meledak.
Maria berlari menuju ke Onur, menahan lengan pria itu dengan kuat agar tidak jatuh, lalu dengan tegas ia menuntunnya kembali duduk di sofa.
"Zartan, cukup! Berhenti berteriak!" bentak Maria dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu membela dia? Setelah apa yang keluarganya lakukan pada Aliya?!"
Zartan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Maria menarik napas panjang, air matanya kini mengalir deras membasahi pipi.
Ia menatap putranya dengan tatapan yang sangat pedih, seolah sedang meminta maaf atas apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.
"Zartan... dengarkan Ibu baik-baik," suara Maria bergetar hebat.
"Dia tidak akan pergi ke mana-mana. Karena pria ini, Zartan, dia ayahmu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Zartan. Kata "Ayah" itu bergema di telinganya seperti lonceng kematian.
Tangannya yang semula mengepal kini melemas, dan wajahnya berubah pucat pasi.
"Ayah?" bisik Zartan, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia menatap Maria, lalu beralih menatap Onur yang kini tertunduk dengan bahu yang bergetar hebat.
"Ibu bercanda, kan? Katakan kalau ini hanya lelucon agar aku tidak memukulnya! Dia, pria kaya yang sombong ini... tidak mungkin!"
"Ibu tidak berbohong, Nak," isak Maria.
"Dia adalah pria dari masa lalu Ibu. Darahnya mengalir di tubuhmu. Itulah alasan kenapa Ibu selalu melarangmu berurusan dengan keluarga Karadağ. Ibu takut kenyataan ini akan menghancurkanmu."
Zartan mundur beberapa langkah hingga punggungnya menghantam dinding.
Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap Onur dengan rasa jijik dan ngeri yang bercampur menjadi satu.
Sementara itu, Onur perlahan mengangkat kepalanya, menatap Zartan dengan mata yang basah oleh penyesalan.
"Zartan, maafkan aku," ucap Onur parau.
"Jangan panggil namaku!" Zartan berteriak, air mata amarah mulai jatuh.
"Selama ini aku membenci setiap inci dari keluarga Karadağ, dan sekarang Ibu bilang aku adalah bagian dari mereka? Aku lebih baik tidak punya ayah daripada harus menjadi putra dari orang sepertimu!"
Zartan menyambar jaketnya dan berlari keluar rumah, membanting pintu dengan kekuatan yang membuat seluruh rumah bergetar.
Maria jatuh terduduk di lantai, menangis sejadi-jadinya, sementara Onur hanya bisa terdiam membisu, menyadari bahwa pengakuan ini adalah luka baru yang mungkin tidak akan pernah bisa sembuh.
Di dalam keheningan ruang tamu yang kini terasa begitu menyesakkan, Onur perlahan bangkit dari sofa.
Ia melangkah mendekati Maria yang masih terduduk lemas di lantai, lalu berlutut di hadapannya.
Tanpa ragu, Onur menarik Maria ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang penuh dengan rasa bersalah dan janji yang telah tertunda selama belasan tahun.
"Maafkan aku, Maria. Maafkan aku karena membiarkanmu menanggung beban ini sendirian," bisik Onur, suaranya parau namun penuh ketegasan.
Maria terisak di bahu Onur, tangannya mencengkeram erat kemeja pria itu.
"Dia sangat membencimu, Onur. Dia tidak akan pernah mau menerimamu. Aku sudah menghancurkan hatinya pagi ini."
Onur merenggangkan pelukannya, memegang kedua bahu Maria dan menatap matanya dengan keyakinan yang baru.
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela seolah mempertegas gurat tekad di wajahnya.
"Jangan katakan itu. Darah lebih kental daripada kebencian mana pun. Aku tidak akan membiarkan putraku merasa sendirian lagi," ucap Onur dengan nada yang tenang namun berwibawa.
"Aku berjanji padamu, Maria. Aku akan membawa Zartan pulang. Bukan dengan paksaan, bukan dengan uang, tapi sebagai seorang ayah yang ingin menebus dosanya."
"Bagaimana caranya? Dia bahkan tidak mau melihat wajahmu," gumam Maria dengan putus asa.
"Aku akan menunggunya sampai kemarahannya mereda. Aku akan membuktikan padanya bahwa dia bukan hanya 'bagian dari Karadağ', tapi dia adalah kekuatanku yang hilang," Onur menghapus air mata di pipi Maria dengan ibu jarinya.
"Mulai saat ini, kamu dan anak-anak tidak akan lagi berjuang sendirian. Aku akan membereskan semua kekacauan di mansion, dan aku akan memastikan Zartan berdiri di samping Emirhan sebagai saudara yang sah."
Onur berdiri, merapikan pakaiannya yang kusut. Meskipun kepalanya masih sedikit pening, tujuan hidupnya kini telah berubah sepenuhnya.
Ia tidak lagi peduli pada kehormatan klan yang semu; ia hanya ingin menyatukan kembali potongan-potongan keluarganya yang hancur.
"Tetaplah di sini, Maria. Aku akan pergi ke rumah sakit menemui Emirhan, lalu aku akan mencari Zartan," ucap Onur sebelum melangkah keluar.
Di luar rumah, Onur menatap jalanan tempat Zartan pergi tadi.
Di dalam hatinya, ia tahu bahwa memenangkan hati Zartan akan jauh lebih sulit daripada memenangkan persaingan bisnis apa pun yang pernah ia hadapi. Namun, demi Maria dan demi menebus waktu yang telah ia sia-siakan, Onur bersumpah tidak akan berhenti sampai Zartan memanggilnya dengan sebutan "Ayah".