Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden tebal di kamar tidurnya. Suara burung berkicau terdengar sayup-sayup dari taman luas di halaman rumah.
Sulthan perlahan membuka matanya. Tidurnya semalam sangat nyenyak dan pulas, membuatnya bangun dengan kondisi tubuh yang sangat segar dan bugar. Dia meregangkan kedua tangannya ke atas, otot-otot tubuhnya terasa lentur dan siap beraktivitas.
Dia berjalan telanjang menuju kamar mandi dalam yang berukuran sangat luas dan mewah. Air hangat langsung dialirkan membasahi seluruh tubuhnya. Dia membersihkan diri dengan teliti, membasuh sisa-sisa kenikmatan semalam, dan menyegarkan pikirannya.
Setelah merasa bersih dan wangi, Sulthan mengenakan setelan jas yang rapi dan mahal. Kemeja putih bersih dipadukan dengan celana bahan dan dasi yang disesuaikan dengan sempurna. Sekarang, dia kembali berubah menjadi sosok CEO yang tegas dan berwibawa.
Ketika turun ke lantai dasar, aroma masakan yang sangat menggugah selera sudah tercium dari tangga. Di ruang makan yang luas, meja makan sudah tertata rapi dengan berbagai menu sarapan bergizi.
"Selamat pagi, Tuan Muda," sapa suara ramah dan hangat.
Itu Bi Lastri. Wanita paruh baya berusia sekitar 55 tahun itu sedang merapikan piring dan gelas dengan sigap. Wajahnya yang teduh selalu menyambut kedatangan Sulthan setiap pagi. Bi Lastri sudah bekerja melayani keluarga Aditama selama puluhan tahun, bahkan sejak Sulthan masih kecil. Baginya, Sulthan bukan sekedar majikan, tapi seperti anak sendiri.
"Pagi, Bi Lastri," jawab Sulthan ramah sambil menarik kursi dan duduk.
"Monggo sarapannya, Tuan. Hari ini Bi Lastri buatin bubur ayam kesukaan Tuan, sama telur dadar tipis kayak biasa. Ada juga buah-buahan segar biar sehat," kata Bi Lastri penuh perhatian sambil menuangkan teh hangat ke cangkir keramik kesukaan Sulthan.
"Makasih ya, Bi. Wangi banget masaknya," puji Sulthan lalu mulai menyendok makanannya dengan lahap.
Suasana pagi itu terasa hangat dan akrab. Mereka pun mengobrol santai, basa-basi seperti biasa sebelum hari yang sibuk dimulai.
"Bagaimana kabar cucunya, Bi? Yang sekolah di SD itu sehatkan?" tanya Sulthan disela-sela makannya.
"Alhamdulillah sehat, Tuan. Rajin juga sekolahnya. Cuma kadang kalau minta jajan agak banyak aja," jawab Bi Lastri sambil tertawa renyah. "Terima kasih ya Tuan selama ini sudah baik banget sama keluarga kami."
"Santai saja, Bi. Bibi kan sudah seperti orang tua sendiri di rumah ini. Kalau Bibi bahagia, saya juga senang," sahut Sulthan santai. "Oh iya, nanti kalau ada cucian jas saya yang kemarin kena tumpahan sesuatu, titip cuci bersih ya Bi."
"Baik Tuan, nanti saya urus sendiri biar bersih kinclong. Jas mahal kan harus dirawat khusus," jawab Bi Lastri sigap.
Obrolan mereka mengalir ringan, tentang kondisi rumah, tentang tanaman di taman, hingga saran Bi Lastri agar Sulthan segera mencari istri supaya ada yang merawat lebih dekat. Sulthan hanya tersenyum mendengarnya, tidak menjawab tapi juga tidak tersinggung.
Tak terasa piring di depannya sudah kosong bersih. Perut terasa penuh dan hangat, energi terkumpul sempurna.
"Nah, sudah kenyang. Terima kasih makanannya enak sekali, Bi Lastri," ucap Sulthan sambil mengelap mulut dengan serbet.
"Sama-sama Tuan Muda. Hati-hati berangkat ke ya," balas Bi Lastri.
Sulthan berjalan keluar menuju halaman depan. Di sana, mobil mewah hitam legamnya sudah terparkir rapi. Pak Didik berdiri tegap di samping pintu mobil.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Pak Didik hormat lalu membukakan pintu belakang.
"Pagi, Pak Didik. Ayo berangkat," kata Sulthan lalu masuk dan duduk dengan nyaman.
Pintu ditutup rapat, mesin mobil menderum halus, dan kendaraan itu pun melaju meninggalkan halaman rumah besar Sulthan, menuju pusat kota Surabaya di mana gedung perkantoran Aditama Gold Group berdiri megah, menyala di bawah sinar matahari pagi.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di area parkir khusus gedung pencakar langit milik Aditama Group.
Sulthan turun dengan langkah tegap dan wibawa. Setiap karyawan yang berpapasan langsung membungkuk hormat, tak berani berani menatap lama wajah dingin sang CEO. Dia langsung menuju lift eksekutif yang membawanya langsung ke lantai paling atas, area khusus pemilik perusahaan.
Ting!
Pintu lift terbuka, dan Sulthan langsung melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya yang luas dan mewah.
"Putri!" panggil Sulthan lantang begitu sampai di meja kerjanya, tanpa perlu berjalan mendekat meja sekretaris.
Sesaat kemudian, Putri muncul dengan sigap membawa buku catatan dan pena di tangannya. Wajahnya terlihat segar dan siap kerja.
"Siap, Pak. Saya di sini," jawab Putri cepat.
Belum sempat Sulthan duduk, ternyata Juniarta sudah lebih dulu ada di ruangan itu, sedang merapikan beberapa berkas di meja tamu kecil. Dia pun langsung berjalan mendekat.
"Sudah siap semua ya, Bos?" tanya Juniarta sigap.
Sulthan mengangguk singkat, lalu duduk di kursi kebesarannya. Dia menatap kedua bawahannya itu dengan tatapan tajam namun profesional.
"Oke, saya mau pastikan sekali lagi sebelum kita berangkat. Semua sudah siap?" tanya Sulthan membuka pembicaraan.
"Sudah 100% siap, Pak," jawab Putri cepat sambil membuka catatannya. "Berkas laporan tanah, data kontraktor, dan surat izin semua sudah saya masukkan ke dalam briefcase kulit ini. Sudah diurutkan sesuai urutan kunjungan."
"Bagus," sahut Sulthan singkat.
Lalu dia menoleh ke arah Juniarta. "Bagaimana dengan rute dan pengamanan, Jun?"
Juniarta langsung maju selangkah, melapor dengan penuh keyakinan.
"Siap Bos. Rute yang kita pakai sudah saya survei tadi pagi subuh, aman dan lancar. Kita pakai jalan tol terus lanjut jalan provinsi yang mulus, nggak lewat jalan rusak. Untuk pengawalan, sudah disiapkan dua mobil tambahan, satu di depan dan satu di belakang. Personilnya adalah tim terbaik kita."
Sulthan mengangguk-angguk mendengar laporan itu. Terlihat dia cukup puas dengan persiapan yang matang.
"Oke, bagus. Ingat, tujuan utama kita ke sana bukan hanya melihat proyek, tapi juga mengecek langsung keamanan lokasi. Jadi jangan ada kecerobohan sedikitpun," pesan Sulthan tegas.
"Siap, mengerti Pak!" serentak Putri dan Juniarta menjawab kompak.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Jangan buang waktu," perintah Sulthan sambil berdiri dan merapikan jasnya.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan meninggalkan ruangan, menuju lift dan turun ke area parkir. Ketiganya sampai di area parkir bawah tanah yang luas dan tertutup. Di sana sudah terparkir rapi beberapa kendaraan dinas yang sudah disiapkan.
Pak Didik sudah berdiri tegap di samping mobil mewah hitam legam yang biasa dipakai Sulthan. Namun, Juniarta langsung memberikan instruksi.
"Pak Didik, sebentar ya. Untuk perjalanan kali ini, mending Bos naik mobil dinas yang satuan saja ya. Yang warna hitam doff itu," kata Juniarta sambil menunjuk sebuah SUV tangguh yang terlihat lebih kokoh dan netral.
Sulthan menoleh, lalu mengangguk setuju. "Boleh. Lebih aman dan stabil di jalan."
"Betul itu Bos. Biar tidak terlalu mencolok tapi tetap nyaman," jawab Juniarta. "Pak Didik, Bapak yang menyetir saja mobil dinas itu."
"Siap, Mas Jun," jawab Pak Didik sigap lalu segera berpindah ke kemudi mobil dinas tersebut.
Sulthan pun masuk ke kursi belakang mobil dinas itu. Ruangnya lega dan fasilitasnya lengkap, sangat cocok untuk perjalanan jauh.
Sementara itu, Juniarta dan Putri menuju mobil dinas lainnya yang berukuran sedikit lebih kecil namun tetap mewah.
"Putri, kamu duduk di depan sama saya. Saya yang nyetir biar lebih enak ngawasin jalan," perintah Juniarta.
"Oke siap, Jun," sahut Putri lalu masuk dan duduk di kursi penumpang depan.
Formasi perjalanan pun sudah tersusun rapi dan sangat aman. Di posisi pertama, Mobil Pengawal / Pioneer di paling depan (berisi tim keamanan). Kedua, mobil Dinas Sulthan di tengah, dikemudikan Pak Didik. Berikutnya, mobil dinas Juniarta & Putri tepat di belakangnya, dikemudikan Juniarta sendiri. Dan terakhir, mobil penutup di posisi paling belakang sebagai keamanan tambahan.
"Oke, semua sudah siap posisi?" tanya Sulthan lewat handy talky yang terhubung ke semua mobil.
"Siap Bos, siap berangkat!" jawab Juniarta dari mobil belakang.
Tuuut... Tuuut!
Suara klakson pendek menjadi tanda mulai bergerak. Satu iring-iringan mobil perlahan melaju keluar dari area parkir gedung perkantoran menuju jalan raya utama.
Mereka tidak mengambil jalan biasa yang padat dan berisik. Sesuai rencana matang yang dibuat semalam, rombongan langsung mengarah ke jalan tol utama. Jalur yang dipilih adalah jalur tercepat, teraman, dan paling lancar menuju arah Mojokerto.
Di dalam mobil, Sulthan duduk santai sambil sesekali melihat layar tablet yang berisi data proyek. Pak Didik mengemudi dengan sangat halus dan stabil, menjaga kecepatan tetap aman namun tidak lambat.
Di belakang mereka, Juniarta memegang setir dengan fokus penuh. Matanya awas memperhatikan sekeliling, sesekali melihat spion memastikan mobil pengawal tetap dalam formasi. Putri di sampingnya sibuk mengecek ulang dokumen dan jadwal kegiatan agar semuanya berjalan tepat waktu.
Iring-iringan mobil itu membelah jalan raya dengan gagah, penuh kewaspadaan demi keselamatan sang CEO.