Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Jakarta seolah menahan napas saat papan reklame digital di sepanjang jalan protokol menampilkan satu nama: Immortal Love oleh Dirgantara Group. Kaelan Dirgantara tidak tanggung-tanggung. Ia menyewa seluruh lantai atas Hotel Mulia, mendekorasinya dengan nuansa emas yang megah, dan mengundang jurnalis mode dari Singapura hingga Milan.
Di kantor Valerine’s Secret, suasananya justru berbanding terbalik. Keheningan menyelimuti ruangan. Aeryn duduk di kursi kerjanya, menatap layar televisi yang menyiarkan secara langsung persiapan acara Kaelan. Di kolom komentar media sosial, hujatan mengalir deras untuknya.
"Aeryn Valerine ternyata hanya gertakan sambal. Mana brand tandingannya? Kenapa Dirgantara yang justru merilis mahakarya?" tulis salah satu akun.
"Pecundang tetaplah pecundang. Dia kehilangan momentum karena terlalu sibuk pamer kemesraan dengan Xavier," timpal yang lain.
"Nyonya, tim media kita bertanya apakah kita harus memberikan pernyataan resmi untuk menahan penurunan sentimen publik?" Hugo masuk dengan wajah tegang. "Saham gabungan kita mulai goyah."
Aeryn menyesap tehnya perlahan. Matanya tetap terpaku pada layar televisi. "Biarkan saja, Hugo. Biarkan mereka menulis nisan untukku. Semakin dalam mereka menggali lubang itu, semakin sulit bagi Kaelan untuk keluar darinya nanti."
"Tapi Tuan Xavier..."
"Xavier tahu apa yang kulakukan," potong Aeryn tenang. "Dia tidak akan menghentikan ini. Dia suka melihat pertunjukan yang dramatis."
Malam puncaknya tiba. Ballroom Hotel Mulia dipenuhi aroma parfum mahal dan denting gelas kristal. Kaelan Dirgantara berdiri di tengah ruangan dengan jas bespoke berwarna biru malam, wajahnya memancarkan kemenangan yang mutlak. Di sampingnya, Bianca Valerine tampil dengan gaun yang sangat terbuka, seolah ingin menegaskan siapa ratu Jakarta yang sebenarnya malam ini.
"Selamat, Kaelan. Ini benar-benar pukulan telak untuk mantan tunanganmu," ucap seorang investor besar sambil menjabat tangan Kaelan.
"Bisnis adalah soal siapa yang lebih cepat dan lebih pintar, Pak Broto," sahut Kaelan dengan nada sombong. "Aeryn terlalu sibuk dengan emosinya, sementara aku fokus pada masa depan."
Lampu ballroom perlahan meredup. Sebuah podium di tengah ruangan diterangi oleh lampu sorot berkekuatan tinggi—lampu halogen khusus yang dirancang untuk membuat batu permata berpendar maksimal. Di atas manekin beludru hitam, melingkar sebuah kalung yang sangat akrab di mata Aeryn: "The Eternal Heart"—atau yang sekarang dinamai Kaelan sebagai "Immortal Love".
Rubi merah darah di pusat kalung itu berkilau tajam di bawah paparan panas lampu sorot. Ribuan mata terpaku pada keindahannya. Kaelan melangkah maju ke depan mikrofon, siap memberikan pidato kemenangannya.
"Koleksi ini adalah bukti bahwa Dirgantara Group tidak bisa dijatuhkan oleh intrik murahan. Ini adalah desain orisinal yang saya kembangkan sendiri, terinspirasi dari cinta yang tak pernah mati..."
Tepat saat Kaelan mengucapkan kata "cinta", sebuah suara retakan kecil terdengar. Sangat halus, namun karena ruangan itu begitu sunyi, suara itu terdengar menyeramkan.
Krak.
Aeryn, yang menonton lewat layar tablet di dalam mobilnya yang terparkir di depan hotel, menyunggingkan senyum tipis. "Sekarang."
Di atas podium, rubi pusat pada kalung itu mulai bereaksi. Metode tension setting yang dimasukkan Aeryn ke dalam desain palsu itu bekerja dengan presisi yang mengerikan. Logam emas putih di sekeliling batu itu memuai akibat panas lampu halogen yang ekstrem, namun ruang untuk pemuaian itu sengaja tidak dibuat. Tekanan luar biasa mulai menekan batu rubi dari empat sisi secara tidak merata.
KRAK!
Kali ini suaranya lebih keras. Di bawah sorotan kamera makro yang disiarkan ke layar besar, sebuah retakan diagonal muncul di tengah permata merah itu. Para tamu mulai berbisik panik.
"Kaelan, ada apa dengan batunya?" teriak Bianca pelan, wajahnya mulai pucat.
Kaelan membeku. Ia menoleh ke arah kalung itu. Sebelum ia sempat melakukan apa pun, tekanan fisik pada struktur kalung itu mencapai titik jenuh. Logam penyangganya melengkung keluar secara mendadak, dan batu rubi seharga miliaran rupiah itu pecah menjadi belasan kepingan kecil yang jatuh berhamburan ke lantai podium.
Suara desahan kaget memenuhi ruangan. Para wartawan berebut memotret kehancuran itu.
"Ini... ini pasti sabotase!" teriak Kaelan, suaranya melengking panik. "Ini kesalahan teknis pada lampu! Teknisi! Matikan lampunya!"
"Kesalahan teknis?" sebuah suara wanita yang jernih dan dingin bergema dari arah pintu masuk ballroom.
Kerumunan terbelah. Aeryn Valerine melangkah masuk, didampingi oleh Xavier Arkananta di sisi kirinya. Aeryn mengenakan gaun hitam sederhana, namun auranya begitu mengintimidasi hingga para tamu mundur secara otomatis.
"Batu permata yang asli tidak akan hancur hanya karena lampu sorot, Kaelan," ucap Aeryn sambil terus berjalan mendekati podium. "Kecuali jika konstruksi perhiasan itu cacat sejak awal. Atau lebih tepatnya... jika pencuri desainnya tidak memahami ilmu metalurgi di balik karya yang ia curi."
"Kau! Kau yang melakukan ini, Aeryn!" Kaelan menunjuk dengan jari gemetar. "Kau merusak reputasiku di depan tamu-tamuku!"
"Aku tidak merusak apa pun," sahut Aeryn, berhenti tepat di depan podium yang kini berantakan dengan pecahan batu. "Kau sendiri yang menghancurkan dirimu saat kau memutuskan untuk mencuri apa yang bukan milikmu."
Xavier melangkah maju, tangannya masuk ke saku celana, menatap Kaelan dengan pandangan merendahkan yang sangat khas Arkananta. "Menyedihkan sekali. Dirgantara Group merilis produk gagal yang membahayakan reputasi industri perhiasan kita."
"Diam kau, Arkananta! Aku memegang hak ciptanya! Desain ini milikku secara sah!" Kaelan mencoba membela diri, meski keringat dingin membanjiri dahinya.
"Secara sah?" Aeryn mengangkat alisnya. Ia memberikan isyarat ke arah pintu.
Sepuluh orang pria dan wanita berpakaian setelan formal gelap masuk ke dalam ruangan. Di depan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan kacamata perak—Kepala Legal Arkananta Group.
"Tuan Kaelan Dirgantara," suara pengacara itu berat dan berwibawa. "Nama saya Bramantyo. Saya mewakili Nyonya Aeryn Arkananta dan firma hukum internasional yang memegang aset warisan mendiang Maryam Valerine."
Ruangan mendadak menjadi sangat dingin. Nama Maryam Valerine disebut layaknya sebuah mantra.
"Kami datang ke sini untuk menyampaikan surat perintah penghentian usaha dan surat gugatan pelanggaran hak cipta berat," lanjut Bramantyo sambil menyerahkan map hitam kepada Kaelan yang kini tampak seperti mayat hidup.
"Pelanggaran apa?! Aku baru saja mendaftarkannya!" teriak Kaelan parau.
Aeryn menatap Kaelan dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. "Kau mendaftarkan desain yang mengandung elemen 'Lili Kalimantan', Kaelan. Sebuah teknik yang sudah dipatenkan oleh ibuku, Maryam, dua puluh tahun yang lalu. Hak cipta yang kau klaim pagi ini otomatis gugur karena desain itu mengandung komponen yang sudah terdaftar atas nama individu lain jauh sebelum kau bahkan tahu cara menggambar sketsa."
Aeryn mencondongkan tubuhnya ke arah Kaelan, berbisik cukup keras agar mikrofon yang masih menyala menangkap suaranya. "Kau baru saja mengakui secara terbuka di depan seluruh media internasional bahwa kau menggunakan desain milik orang lain tanpa izin. Itu bukan hanya plagiarisme, Kaelan. Itu adalah bunuh diri."
Kaelan terhuyung mundur, map di tangannya terjatuh. Polisi yang mendampingi tim legal Arkananta mulai bergerak maju untuk mengamankan bukti-bukti di lokasi. Wartawan merubung Kaelan seperti lalat, memberikan pertanyaan yang menghujam jantungnya.
"Tuan Kaelan, benarkah Anda mencuri dari mantan ibu mertua Anda sendiri?"
"Bagaimana nasib saham Dirgantara besok pagi setelah skandal ini?"
Di tengah kekacauan itu, Xavier merangkul bahu Aeryn, membimbingnya berbalik untuk meninggalkan ruangan. Aeryn menatap Bianca yang sedang menangis ketakutan di sudut, lalu beralih ke Kaelan yang kini terduduk di lantai, dikelilingi oleh tim hukum Arkananta yang membacakan rincian hukuman yang akan ia hadapi.
"Kau puas?" bisik Xavier di telinga Aeryn saat mereka melangkah menuju lift.
"Ini baru permulaan, Xavier," jawab Aeryn tanpa menoleh. "Aku ingin melihat mereka kehilangan segalanya, sampai tidak ada sepotong emas pun yang tersisa di tangan mereka."