SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Deru Mesin dan Suara Hati
Langit di atas bengkel perlahan berubah warna menjadi ungu kemerahan, menciptakan siluet gedung-gedung tinggi Jakarta di kejauhan.
Aruna masih duduk di kursi plastik biru yang sedikit goyang, memegang buku panduan mesin motor yang kertasnya sudah agak berminyak. Di hadapannya, Aska sedang berjongkok, fokus dengan kunci pas di tangan kanan dan obeng di tangan kiri.
Suasana ini sangat jauh dari bayangan Aruna tentang "belajar". Tidak ada keheningan perpustakaan, tidak ada aroma buku baru, dan tidak ada tekanan untuk mendapatkan nilai sempurna. Yang ada hanyalah suara gesekan logam, aroma bensin yang kuat, dan sesekali umpatan pelan Aska saat baut yang ia putar terasa keras.
"Halaman dua belas, poin empat," ucap Aruna dengan suara yang kini jauh lebih santai. "Katanya, lu harus pastiin *valve clearance*-nya pas. Kalau terlalu renggang, suaranya bakal kasar. Tapi kalau terlalu rapat, mesinnya cepet panas."
Aska mendongak, menyeka keringat di pelipisnya dengan lengan baju yang sudah hitam kena oli. "Coba baca angkanya. Berapa toleransinya buat mesin *bore-up* kayak gini?"
Aruna memicingkan mata, membaca deretan angka teknis yang biasanya hanya ia temui di soal-soal fisika terapan. "Nol koma satu sampai nol koma satu lima milimeter buat klep masuk."
"Nah, itu dia masalahnya," gumam Aska. Ia kembali berkutat dengan mesin di depannya. "Pantesan tadi pas gue tes, tarikannya agak telat. Makasih ya, Na. Ternyata otak pinter lu berguna juga di sini, nggak cuma buat ngitung jumlah kaki serangga."
Aruna tertawa kecil—sebuah tawa yang tulus tanpa beban. "Serangga itu menarik, Ka. Tapi gue akui, ngebenerin benda mati yang bisa lari kencang kayak gini... ada kepuasan tersendiri."
Aska berhenti sejenak dari pekerjaannya. Ia menatap Aruna yang kini tampak lebih rileks. Garis-garis stres yang tadi pagi ia lihat di pameran sains—lewat foto kiriman teman-temannya—perlahan mulai memudar.
"Lu tau nggak kenapa gue nyuruh lu ke sini?" tanya Aska tiba-tiba, suaranya merendah.
Aruna menaikkan sebelah alisnya. "Katanya butuh bantuan baca manual?"
"Itu alasan kedua," jawab Aska sambil meletakkan kunci pasnya. Ia duduk di lantai semen yang dingin, bersandar pada ban motor. "Alasan pertamanya... karena gue kasihan liat lu. Lu tuh kayak burung di dalem sangkar emas, Na. Semuanya tercukupi, semuanya rapi, tapi lu nggak bisa terbang. Lu dipaksa belajar seolah-olah dunia bakal kiamat kalau nilai lu turun satu poin."
Aruna terdiam. Kata-kata Aska barusan menghujam tepat di ulu hatinya. Ia menutup buku panduan itu perlahan. "Gue cuma nggak mau ngecewain orang-orang, Ka. Orang tua gue, guru-guru, bahkan Kak Adrian. Mereka naruh harapan besar di pundak gue."
"Tapi siapa yang naruh harapan buat kebahagiaan lu sendiri?" potong Aska tajam namun tidak kasar. "Si Adrian? Dia cuma peduli sama piala yang bisa lu berdua bawa pulang. Dia pengen lu jadi partner yang sempurna buat citra dia. Tapi dia nggak pernah nanya kan, lu capek atau enggak?"
Aruna menunduk, memainkan ujung buku manual. "Dia baik, Ka. Dia jagain gue dengan caranya sendiri."
"Jagain atau ngekang?" Aska mendengus. "Jagain itu ngebukain jalan biar lu bisa lari, bukan bikin pagar biar lu tetep di tempat. Gue emang urakan, gue emang nggak pinter soal biologi, tapi gue tau rasanya bebas. Dan gue pengen lu ngerasain itu juga, meski cuma sejam di bengkel kotor ini."
Aruna menatap Aska. Di balik noda oli dan sikap berandalan itu, ternyata ada empati yang sangat besar. Aska melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat kelelahan di balik prestasi, dan ia melihat kesepian di balik keramaian dukungan.
"Makasih ya, Ka," bisik Aruna.
"Jangan makasih terus, bosen gue dengernya," sahut Aska kembali ke gaya aslinya yang menyebalkan. "Sekarang mending lu bantu gue pegangin lampu senter ini. Gue mau pasang blok mesinnya lagi."
Selama satu jam berikutnya, Aruna benar-benar melepaskan identitasnya sebagai "Si Juara Kelas". Ia membantu Aska, mendengarkan cerita cowok itu tentang bagaimana ia belajar mesin secara otodidak sejak SMP, dan bagaimana ia merasa lebih dihargai di bengkel ini daripada di dalam kelas yang membosankan.
Tiba-tiba, ponsel Aruna di saku kemejanya bergetar berkali-kali. Ia merogohnya dan melihat layar. Lima panggilan tak terjawab dari Adrian, dan satu pesan WhatsApp.
**Adrian:** *Na, kamu sudah di rumah kan? Aku baru ingat ada jurnal internasional tentang genetika yang mau aku kirim link-nya buat bahan bacaan kamu malam ini. Penting buat simulasi Senin nanti.*
Aruna menatap pesan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa sesak yang kembali muncul. Jurnal lagi. Belajar lagi. Simulasi lagi. Seolah-olah hidupnya adalah sebuah garis lurus yang tidak boleh belok sedikit pun.
Aska yang menyadari perubahan raut wajah Aruna hanya melirik sekilas. "Si Pangeran lagi?"
Aruna hanya mengangguk pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku tanpa membalas pesan tersebut. Ia memilih untuk tetap di tempatnya, memegang senter untuk Aska.
"Gue nggak mau baca jurnal malem ini," ucap Aruna mantap.
Aska menyeringai puas. "Bagus. Itu baru Aruna yang gue kenal."
---
Setelah pekerjaan selesai, Aska membersihkan tangannya dengan kain lap dan sabun batangan di wastafel pojok bengkel. Ia mengambil jaket kulitnya dan menghampiri Aruna.
"Ayo, gue anter balik. Udah makin gelap, ntar pangeran lu lapor polisi kalau lu nggak ada di kamar lagi belajar," ajak Aska.
"Gue naik ojek aja, Ka. Ntar motor lu bikin tetangga gue bangun," canda Aruna.
"Dih, motor gue ini suaranya merdu, Na. Kayak musik buat orang yang tau selera," balas Aska sombong. "Udah, naik aja. Gue bakal lewat jalan tikus biar nggak ketauan."
Aruna akhirnya naik ke jok belakang motor sport hitam Aska. Saat mesin menderu, Aruna tidak merasa takut seperti pertama kali. Ia justru merasa bebas.
Angin malam menerpa wajahnya, menghapus sisa-sisa penat dari pameran sains tadi pagi. Ia memegang pundak Aska dengan mantap saat motor itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota.
Di sepanjang jalan, Aruna menyadari bahwa hidup memang tidak bisa hanya berisi satu variabel. Ia membutuhkan ambisi untuk maju, tapi ia juga membutuhkan ruang untuk bernapas. Dan malam ini, di atas motor yang bising dan di antara aroma aspal, Aruna merasa ia telah menemukan keseimbangan yang selama ini ia cari.
Saat Aska menurunkannya di gang dekat rumahnya agar tidak terlihat, Aska melepas helmnya dan menatap Aruna.
"Besok Minggu, jangan belajar. Keluar sama temen-temen lu, atau tidur seharian. Pokoknya jangan buka buku," pesan Aska tegas.
Aruna tersenyum, "Iya, Bos. Gue usahain."
"Nggak usah diusahain, lakuin aja. Sampai ketemu Senin, Anak Pintar."
Aruna memperhatikan motor Aska yang menjauh hingga suaranya hilang ditelan jarak. Ia masuk ke rumah dengan langkah yang lebih ringan.
Meskipun di atas meja belajarnya masih menumpuk tugas dan di ponselnya masih ada pesan dari Adrian, Aruna tahu satu hal: malam ini, ia telah memenangkan satu pertempuran kecil untuk dirinya sendiri. Ia bukan lagi sekadar robot belajar; ia adalah Aruna yang berani memilih warnanya sendiri.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻