Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tio ketemu Rani
Deru mesin motor Bagas baru saja berhenti ketika dirinya sampai di pinggir danau yang tak pernah dilalui penduduk desa selama bertahun-tahun lamanya.
Bukan tanpa alasan Bagas berada didaerah itu.
Kemarin malam, sosok yang mirip kakaknya mendatangi Bagas lewat mimpi.
Dalam mimpi itu, Rani mengajaknya kesebuah tempat yaitu danau yang berada di perbatasan desa Lestari dengan desa lainnya.
Dulu tempat itu ramai tapi karena ada satu peristiwa membuat danau itu bagaikan tempat yang patut dihindari selain hutan pinus.
Bagas berjalan melewati semak belukar dengan ranting pohon yang menutupi jalan setapak.
Ilalang tumbuh melebihi tinggi badannya.
Dengan alat seadanya, Bagas mencoba membersihkam jalan setapak agar bisa dilewati.
Matanya memicing saat mendapati sisa-sisa pembakaran.
"Kayaknya ada yang pernah datang kemari setelah bertahun-tahun lamanya..." gumam Bagas.
Dengan langkah berat, Bagas kemudian mengitari tempat tersebut.
Kuduknya merinding karena takut ada hewan buas seperti ular atau beruang yang katanya masih jadi penghuni hutan desa Lestari.
Sebuah ponsel murah terangkat dengan kamera mengarah pada tumpukan kayu bekas bakaran.
Belum lagi sebuah lubang yang telah tertutupi semak.
Ting...
Bagas mengirim hasil fotonya pada seseorang.
Kresek.....
Bunyi ranting di pijak mengejutkan Bagas hingga ponselnya terjatuh.
Bagas segera berbalik dengan wajah takut.
"Siapa disana?" teriak Bagas dengan suara bergetar.
Aroma menyan dan anyir bersatu begitu kuat tercium di hidungnya.
"Hueekk...." Bagas tanpa sengaja jadi mual.
"Bocah.... Sedang apa kau disini?" tanya seorang wanita tua dengan penampilan begitu kotor dan lusuh.
Bagas refleks mundur selangkah dan terjungkal kebelakang.
Jakunnya naik turun menelan ludah yang tiba-tiba keset.
"Ma~aaf mbah... A~ku hanya mencari petunjuk...." jawab Bagas ketakutan.
"Hheeehhh.... Cari petunjuk?" ulang wanita tua.
Bagas mengangguk "I~iya...."
Wanita itu berjalan semakin dekat bahkan tanpa disadari oleh Bagas.
Bagas menahan nafasnya.
Wanita tua berjarak sekepal tinju dari wajah Bagas.
Aroma nafasnya benar-benar membuat isi perut hendak keluar.
Bagas melipat bibirnya agar tidak mengeluarkan isi perutnya.
"Pergilah! Kau sudah melewati batas....!" tukas si wanita tua dingin.
Bagas tanpa aba-aba meraih ponselnya dan langsung lari terbirit-birit tanpa memperdulikan ranting pohon yang bisa melukainya.
"Huuuhhh... huuhhhh...." nafas Bagas tersengal-sengal setelah jaih dari lokasi.
Ia terbungkuk dengan kedua tangan memegangi lututnya.
"Apa itu wujud mbah Djani yang selama ini dibicarakan oleh para orangtua?" gumam Bagas.
"Penampilannya sungguh mengerikan..."
Tak lagi punya nyali, Bagas segera menghidupkan mesin motornya dan segera tancap gas dari sana.
Dirinya tak ingin jadi korban nenek tua itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tio membuka ponselnya.
Ada pesan dari Bagas yang berupa beberapa foto.
"Kenapa? Pesan dari siapa?" selidik Ujang yang menyadari perubahan Tio.
"Kita harus ketempat ini... Ayo..." ajak Tio dadakan.
"Tapi ada kasus yang perlu kita tangani... Kasus hilangnya ternak warga..." teriak Hasan dari balik meja kerjanya.
"Kamu tangani saja... Aku dan Ujang ada perlu" teriak Tio dari ambang pintu ruang penyidik.
Hasan mendesis.
"Mereka sedang ngerjain apasih? Kok kayak mencurigakan" gumam Hasan penuh curiga.
"Kita mau kemana?" tanya Ujang saat berada dimobil Tio.
"Daerah ini... Kamu tahu jalannya?" ujar Tio menunjukkan foto kepada Ujang.
"Daerah tepi danau? Tempat itu udah lama ditutup dan nggak boleh didatengi karena menurut cerita, itu tempat angker yang banyak dedemitnya" ringis Ujang bergidik ngeri.
Tio mengangkat kedua bahunya.
"Darimana kamu dapat foto itu?"
"Dari Bagas, putra bungsu pak Rahman"
"Kok dia dapat foto itu? Darimana dia dapatnya? Apa jangan-jangan, dia kesana?" Ujang bermonolog sendiri tapi bisa didengar oleh Tio.
"Bisa saja, kita harus selidiki, siapa tahu disana ada petunjuk lain" usul Tio yang akhirnya disetujui oleh Ujang walaupun laki-laki yang baru saja menikah itu agak ngeri.
Tak lama, keduanya tiba di lokasi.
Mata Ujang memandang kesegala arah.
Jari Ujang menjepit ujung jaket kulit yang dikenakan Tio hingga laki-laki itu risih.
"Kita kesana! Kayaknya ini jalan yang dilalui oleh Bagas" tunjuk Tio tanpa takut sedikit pun.
"Aku disini saja"cicit Ujang pucat.
Tio berdecak " Kamu polisi, kenapa harus takut?"
"Kalau penjahat aku tidak takut, tapi kalau dedemit....hiiiii...." Ujang bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri.
"Mau ditinggal disini atau ikut?" Tio memberi pilihan.
Ujang menoleh ke berbagai arah, dan dia memutuskan untuk mengikuti Tio yang telah lebih dulu berjalan mendekati sisi danau.
Langkah keduanya sampai di objek yang dikirim Bagas lewat pesan foto.
Tio berjongkok.
Meraba sisa-sisa kayu bakar yang telah jadi arang sebagian.
"Ini kayak sengaja dibakar" telisik Tio.
"Yo, lihat tanah bekas galian itu..." tunjuk Ujang pada galian tanah yang tak lagi rata.
Keduanya bergegas.
Mata Tio terus menelisik tanah bekas digali yang ditumbuhi semak.
Hingga kemudian matanya memicing seperti menangkap sebuah objek yang lebih mencurigakan.
Dengan alat seadanya, Tio mencoba menggali tanah tersebut hingga dirinya mendapati helaian rambut.
Tio yang dibantu oleh Ujang terus menggali hingga mendapati sesuatu yang mereka cari-cari selama ini.
"Wuaaaaaa....." Ujang sampai menjerit karena penemuan tersebut.
"Panggil tim forensik....!" perintah Tio.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa petugas yang menggunakan anj*ng pelacak terus menyisir tempat tersebut.
Police line dipasangi disepanjang tempat kejadian.
"Disini ada tulang belulang... Sepertinya may*t laki-laki" teriak petugas.
Tio mendekat.
Dia dan Ujang saling pandang.
"Ada rangka sepeda juga..." teriak petugas lainnya ditempat tak jauh dari penemuan kerangka.
"Disini juga ada mayat lagi...." lagi petugas berteriak.
Kali ini Tio dan Ujang mendapat hal besar.
"Dilihat dari kerusakan may*t sepertinya ini baru-baru saja dikubur..." gumam Ujang.
"Apa jangan-jangan, dia adalah nona Lira yang selama ini kita cari?" sambung Ujang lagi.
"Bisa jadi" sahut Tio.
"Siapapun yang melakukannya, pastilah orang-orang yang sangat peritungan.. Ini lokasi yang sulit ditebak karena tak masuk radar penelusuran kita...." gumam Tio tapi masih bisa didengar oleh Ujang.
Lagi, Tio teringat tulisan di layar komputernya tempo hari.
Jika ini akan mengungkap kasus-kasus besar lainnya.
Semua barang bukti telah diamankan.
Sementara penemuan may*t dan kerangka manusia sudah berada di laboratorium forensik untuk di otopsi dan akan keluar laporannya beberapa hari lagi.
Tim juga terus menelusuri tempat tersebut.
Jauh di balik pohon besar, Rani menyunggingkan senyum.
Dia memang ingin memb*n*h Andre langsung dengan tangannya tapi dirinya juga ingin semua orang tahu betapa busuk dan kejamnya laki-laki itu.
Tio yang menyadari sedang diawasi menoleh tepat kearah Rani.
Langkahnya cepat hendak menghampirinya.
"Apa ini petunjuk darimu?" tanya Tio saat keduanya berada dalam jarak yang cukup untuk berbicara.
"Aku hanya memberimu ini, urusan laki-laki itu aku akan mengeksekusinya sendiri!" tegas Rani.
"Tidak bisa! Ini ranah hukum dan aku yang akan menangkap serta mengadilinya"
"Cih... Kalian para manusia ingin mengadili? Ini saja kalau bukan karena petunjukku dan Bagas kau tidak akan bisa sampai disini! Kalian lamban!" ujar Rani terkesan mengejek kinerja Tio dan rekan-rekannya yang lain.
Tio kesal tapi ingin menjawab, Rani telah lebih dulu hilang ditelan kabut tebal yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Bersambung....