Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simfoni Keabadian
Kemenangan di Singapura meninggalkan keheningan yang berbeda di dalam jet pribadi yang membawa mereka pulang. Tidak ada lagi ketegangan yang memuncak, hanya kelelahan yang dalam dan kesadaran bahwa hidup mereka telah berubah secara permanen. Adrian tertidur di kursi kabin, kepalanya bersandar di pangkuan Aara. Wajah bocah itu tampak begitu tenang, seolah-olah beban sebagai sang Alpha baru saja ia tanggalkan di depan pintu pesawat.
Kenzo duduk di seberang mereka, membersihkan luka di lengannya dengan alkohol. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, menatap hamparan awan yang disinari cahaya bulan.
"Dia bukan lagi sekadar anak kita, Kenzo," bisik Aara, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin pesawat. "Dia adalah penyeimbang. Apa yang dia lakukan pada agen The Syndicate tadi... itu bukan sekadar melumpuhkan. Dia menghapus ancaman itu dari akarnya."
Kenzo mengangguk, meletakkan kapas medisnya. "Aku tahu. Dimitri dan sisa-sisa pengikut Miller sudah habis. Drive yang kita ambil berisi seluruh daftar hitam dan protokol cadangan mereka. Leo sudah mulai menghapusnya dari server global. Malam ini, hantu-hantu dari masa lalu kita benar-benar mati."
Mereka mendarat di pangkalan rahasia Nusantara tepat sebelum subuh. Kali ini, mereka tidak kembali ke Puri Pratama di Bandung, melainkan langsung menuju Lembah Saraswati. Ada sesuatu yang harus diselesaikan di sana sebuah keputusan tentang masa depan.
Eyang Ratri menyambut mereka di gerbang batu. Ia tidak tampak terkejut melihat kepulangan mereka yang mendadak. Matanya tertuju pada Adrian yang berjalan dengan langkah yang lebih mantap, meski wajahnya masih menunjukkan sisa kelelahan.
"Dunia luar tidak bisa lagi menyentuhmu dengan cara yang sama, Nak," ucap Eyang Ratri saat Adrian menyalaminya. "Kau telah menyelaraskan frekuensi keberanianmu dengan frekuensi takdirmu."
Kenzo dan Aara mengikuti Eyang Ratri menuju paviliun utama. Di sana, Baskara sudah menunggu dengan laporan akhir.
"LKS telah resmi dibubarkan oleh pemerintah pusat setelah kebocoran data yang dilakukan Nyonya Aara," lapor Baskara. "Sekar sedang dalam pelarian, namun tanpa dana dan tanpa perlindungan diplomatik, dia hanya menunggu waktu sebelum unit pemburu kita menemukannya. Nusantara kini berdiri sebagai satu-satunya otoritas bayangan yang stabil di wilayah ini."
Sebagai tanda kemenangan dan kedamaian yang baru diraih, Eyang Ratri mengadakan sebuah perayaan kecil di dalam lembah. Bukan pesta mewah dengan gaun pesta dan tuxedo, melainkan sebuah jamuan makan malam di bawah langit terbuka, dikelilingi oleh anak-anak Saraswati lainnya.
Aara mengenakan kebaya sederhana, tampak begitu anggun dan manusiawi. Ia tertawa lepas saat melihat Adrian mencoba mengajari gadis kecil penggerak air cara "mendengarkan" getaran daun yang jatuh. Tidak ada senjata di tangan Aara, tidak ada racun di dalam kipasnya. Malam itu, ia hanya seorang ibu yang bahagia.
Kenzo berdiri di kejauhan, berbincang dengan Baskara tentang masa depan pendidikan di Saraswati. "Aku ingin tempat ini menjadi lebih dari sekadar perlindungan. Aku ingin ini menjadi mercusuar. Jika dunia di luar sana mulai menjadi gila lagi, anak-anak ini akan menjadi orang pertama yang membawa kewarasan kembali."
Malam semakin larut. Saat anak-anak lain sudah kembali ke asrama mereka, Kenzo, Aara, dan Adrian duduk di tepi kolam kristal yang memantulkan cahaya bintang.
"Papa, Mama," Adrian memulai pembicaraan, suaranya terdengar lebih dewasa dari usianya. "Aku ingin tetap belajar di sini. Aku ingin membantu anak-anak lain agar mereka tidak perlu takut pada kekuatan mereka sendiri."
Aara menggenggam tangan putranya. "Kau yakin, Adrian? Kau bisa tinggal di Bandung, atau kita bisa berkeliling dunia seperti yang kau impikan dulu."
Adrian menggeleng. "Dunia luar sangat berisik, Mama. Di sini, aku bisa belajar cara menciptakan musik yang indah dari kebisingan itu. Aku ingin menjadi pelindung Saraswati."
Kenzo menepuk bahu Adrian dengan bangga. "Maka itu yang akan kita lakukan. Aku akan memindahkan pusat komando Nusantara ke dekat sini. Kita akan membangun benteng yang tidak terlihat, namun tidak tertembus."
Aara menarik napas panjang, menghirup udara Lawu yang dingin namun menyegarkan. Ia menoleh ke arah Kenzo, memberikan kerlingan nakalnya yang legendaris namun kali ini penuh dengan kedamaian yang tulus.
"Jadi, Tuan Arkana... sepertinya petualangan kita sebagai buronan internasional sudah berakhir," ucap Aara.
Kenzo merangkul pinggang istrinya, menariknya mendekat. "Petualangan itu berakhir, tapi petualangan sebagai 'orang tua dari seorang legenda' baru saja dimulai. Dan menurutku, itu jauh lebih menantang."
Aara tertawa lembut, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Kenzo. Di sisi lain, Adrian menutup matanya, melakukan sinkronisasi terakhir dengan alam di sekitarnya.
Tiba-tiba, ribuan kunang-kunang muncul dari balik pepohonan, terbang mengelilingi mereka dalam pola yang harmonis, bercahaya seiring dengan detak jantung mereka. Itu adalah simfoni frekuensi yang sempurna—sebuah tanda bahwa sang Alpha telah menemukan rumahnya, dan sang Raja serta Ratu telah menemukan kedamaiannya.
Di kejauhan, fajar mulai menyingsing di ufuk timur Gunung Lawu. Cahaya jingga menyinari lembah tersembunyi itu, menghapus bayang-bayang masa lalu yang penuh darah dan air mata.
Keluarga Arkana kini berdiri tegak. Mereka bukan lagi hantu di Islandia, bukan lagi agen di Singapura, dan bukan lagi buronan di Nusantara. Mereka adalah pelindung masa depan. Dan selama mereka bertiga bersama, simfoni keabadian ini tidak akan pernah berhenti bergema.