Menghilang selama lima belas tahun, ia akhirnya kembali karena tuntutan pekerjaan. Luka masa lalu mengajarkannya bahwa apa yang bukan milikmu, tak akan pernah bisa dipaksa menjadi milikmu. Kini ia hadir dengan versi terbaik, bertekad menjalani hidup lebih dewasa.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan sosok menyebalkan yang menjadi atasannya. Kesabaran pun terus diasah karena harus bertemu setiap saat.
Lantas, mampukah benih cinta tumbuh di antara pertemuan mereka? Atau justru mereka akan tetap memilih jalan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yurnalis Lidar0306, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode-05
Ke esokan harinya...
Pagi yang cerah menyapa kota, namun tidak dengan suasana hati Nara Amanda. Wanita berusia 43 tahun itu sudah berdiri tegak di depan meja kerjanya dengan penampilan yang rapi dan profesional. Rambut panjangnya dikuncir kuda, wajah terlihat segar, namun matanya menyiratkan rasa lelah yang mendalam.
Hari ini adalah hari Senin, artinya... perang kembali dimulai!
Belum sempat Nara meletakkan tasnya dengan tenang, suara bariton yang sangat ia benci namun harus ia hormati sudah terdengar dari balik pintu ruangan besar di depannya.
Klek!
Pintu terbuka luas. Tampak Arkan berdiri dengan setelan jas hitam yang rapi, wajahnya tampan namun datar tanpa ekspresi, dan aura dinginnya yang menguap begitu saja. Meski kemarin baru saja sakit parah, hari ini pria itu sudah kembali menjadi 'Bos galak' seperti biasa.
"Nara!" panggilnya singkat tanpa menoleh.
"Siap, Pak!" jawab Nara sigap meski dalam hati menggerutu. Astagaaa... suaranya udah nyaring lagi. Cepat banget sembuhnya, padahal kemarin rengek minta ini itu, batinnya mencelos.
Arkan berjalan santai melewati meja Nara, lalu melemparkan setumpuk berkas tebal ke atas meja dengan cukup keras.
Dug!
"Ini laporan keuangan bulan lalu. Saya mau diperiksa ulang, direvisi, dan disusun ulang. Saya mau lihat hasilnya di meja saya sebelum jam sebelas siang. Jangan ada salah satu angka pun yang meleset!" perintahnya ketus.
Nara menatap tumpukan berkas itu dengan mata terbelalak. "T-tapi Pak, ini banyak banget. Kemarin kan Bapak yang pegang, masa sekarang saya yang kerjain?"
Arkan menatap Nara tajam dari balik kacamata hitamnya, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum menyebalkan.
"Kamu sekretaris saya atau temen ngobrol saya? Kalau gak mampu bilang saja, saya cari yang lain. Atau... kamu mau saya potong gajinya karena kurang kerjaan?" ancamnya santai.
Nara mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Tangannya terkepal di bawah meja. Tahan Nara... ingat cicilan... ingat harga beras...
"Siap, Pak! Akan segera saya kerjakan!" jawabnya dengan senyum palsu paling manis yang bisa ia tampilkan.
"Bagus." Arkan berbalik hendak masuk ke ruangannya, tapi tiba-tiba berhenti lagi. "Oh iya, buatin kopi hitam manis. Gula pasirnya jangan dikit-dikit, saya lagi butuh tenaga ekstra. Jangan kayak kemarin yang rasanya kayak air got!"
Nara hampir meledak. "Air got apaan sih?! Kemarin kan Bapak yang minta manis terus!" gerutunya dalam hati.
"Siap, Kopi hitam manis tingkat dewa segera datang, Pak!" jawab Nara setengah terpaksa.
Arkan masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan keras.
Brak!
Nara menghela napas panjang sampai mengembungkan pipinya. "Hahhhhh... dasar bos tidak tahu terima kasih! Kemarin aku yang rawat, aku yang beliin bubur, aku juga yang pijitin, eh sekarang diperintah kayak budak lagi. Nasib nasib..."
Meski mengomel sepuas hati, Nara beranjak dari duduknya lalu menuju ke pojok ruangan dimana pantri khusus berada ,meski kesal tangan Nara tetap sigap bekerja. Ia menyeduh kopi.
Begitulah rutinitasnya setiap hari. Diledek, dimaki, diperintah seenaknya, dan diancam potong gaji. Tapi entah kenapa, Nara merasa aneh... hidupnya jadi terasa lebih berwarna dan penuh tantangan dari pada saat ia masih menjadi model dan istri seseorang.
Tiba-tiba interkom di meja Nara berbunyi nyaring.
🔈 "Nara!!! KOPINYA KAPAN SAMPAI?! SAYA SUDAH HAUS DARI TADI,KAMU MAU BIKIN TENGGOROKAN SAYA KERING HAH!!!"
Nara memijat pelipisnya perlahan. "Iyaaaaa sebentar, Tuan Bos!!! Jangan teriak-teriak suaranya bagus banget sih dipake buat ganggu ketenangan orang aja!!!" teriak Nara membalas dari luar, lalu buru-buru membawa cangkir kopi dengan langkah tergesa namun tetap anggun, Nara membawa nampan berisi cangkir kopi panas menuju ruangan utama. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena takut si Bos lagi-lagi mencari-cari kesalahan.
Knock... Knock...
"Masuk!" terdengar suara ketus dari dalam.
Nara membuka pintu dan berjalan mendekati meja kerja Arkan yang sangat luas dan megah itu. Pria itu tampak sibuk menatap layar komputer dengan wajah datar dan serius, seolah-olah Nara hanyalah sebuah benda tak bernyawa.
"Ini kopinya, Pak," ucap Nara lembut sambil meletakkan cangkir itu dengan hati-hati.
Arkan tidak menoleh. Tangannya yang panjang masih terus mengetik cepat di atas keyboard. "Taruh situ. Jangan ganggu!"
Nara menghembuskan napas pelan. Alhamdulillah, aman dulu, batinnya lega. Ia berniat ingin undur diri segera kembali ke meja kerjanya.
Namun, baru saja ia berbalik badan...
"SIAPA YANG SURUH KAMU PERGI?!"
Teriakan Arkan membuat Nara tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan nampan kosong di tangannya.
"A-ada apa lagi, Pak?!" tanya Nara kaget.
Arkan akhirnya menoleh, menatap Nara dengan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk merinding. Ia menunjuk cangkir kopi di depannya.
"Kopi ini kurang manis! Kamu ini punya indera perasa gak sih? Kemarin minta gula banyak, hari ini malah hemat banget! Kamu mau hemat biaya kantor biar bisa korupsi apa gimana?!" serbu Arkan dengan logika yang tak masuk akal.
Nara mengerjap bingung. Hah? Korupsi? Masalah kopi aja dibawa-bawa sampai korupsi!
"Tapi Pak, tadi kan Bapak bilang mau kopi hitam, jadi saya buatkan pas... Aduh bukan maksud saya begitu kok Pak!" Nara mulai panik melihat wajah bosnya yang semakin merah padam.
"Gak mau tahu! Buat yang baru! Ini gak enak! Buang!" Arkan mendorong cangkir itu hingga hampir tumpah.
Dengan terpaksa dan hati yang mendidih, Nara mengambil kembali cangkir itu. Sabar Nara... ini cuma orang kurang kasih sayang... sabar... gumamnya dalam hati.
"Baik Pak... saya buatkan yang baru. Kali ini saya tambahin gula pasirnya satu kilo sekalian ya Pak biar manisnya sampai ke ubun-ubun!" gumam Nara pelan tapi cukup terdengar.
"Apa katamu?!"
"Nggak ada! Saya cuma bilang siap Pak!" Nara buru-buru kabur keluar dari ruangan itu secepat kilat.
Begitu pintu tertutup, Nara menghentakkan kakinya kesal. "Aaaaaaa dasar bos aneh! Kemarin manja banget kayak bayi, hari ini galak kayak harimau lapar! Apa sih maunya?!"
Belum sempat ia tenang, interkom kembali berbunyi nyaring.
🔈 "NARA! FILE PROYEK SINGAPORE KEMANA?! CEPAT CARIKAN SEKARANG JUGA! RAPAT DALAM LIMA MENIT!!!"
"IYA PAK SUDAH DATANG!!!" teriak Nara sambil buru-buru mencari berkas yang dimaksud dengan tangan gemetar.
Benar-benar hari yang melelahkan! Bekerja dengan bos yang mood-nya berubah-ubah lebih cepat daripada cuaca di musim hujan ini benar-benar menguras kesabaran Nara sampai ke titik terdalam.
Sepertinya ia akan cepat keriput dibuat dengan tingkah laku bos nya itu...
BERSAMBUNG...
Kasih Nara, tiap hari harus ngadepi bos yang galak🤭 sabar ya Ra, si bos mah emang begitu dia😅