NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama

Malam itu, langit di atas kampung itu terasa berbeda. Bulan bersinar penuh, tapi cahayanya tidak sampai ke tanah—terhalang oleh awan tebal yang bergerak pelan, seolah sedang menutupi sesuatu yang tidak ingin dilihat oleh langit.

Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering di halaman rumah kecil Rafiq, membuat pepohonan di sekitarnya bergoyang dengan ritme yang tidak wajar.

Rafiq duduk bersila di tengah ruang tamu rumah orang tuanya. Lantai kayu yang dingin terasa keras di bawah kakinya. Di sekelilingnya, ruangan gelap—tidak ada satu pun lampu yang ia nyalakan.

Hanya sebatang lilin kecil yang ia letakkan di depannya, tepat di luar lingkaran abu yang masih tersisa dari ritual di rumah Mbah Jaya. Api lilin itu tidak bergerak, tidak berkedip, meskipun angin dari luar bertiup cukup kencang hingga membuat jendela-jendela kayu bergetar pelan.

Ia tidak lagi mengenakan kemeja putih. Malam ini, Rafiq memakai kemeja hitam lengan panjang, gelap seperti langit di atasnya. Kemeja yang sengaja ia beli di pasar desa sore tadi, ketika ia untuk pertama kalinya keluar rumah setelah tiga hari mengurung diri.

Warna hitam itu sengaja ia pilih. Warna yang dulu ia hindari karena terlalu gelap, terlalu suram. Sekarang warna itu terasa tepat. Warna yang mencerminkan isi hatinya. Warna yang tidak perlu bersembunyi.

Jenggotnya yang mulai panjang tidak lagi ia rapikan, tumbuh liar di pipi dan dagunya yang tirus. Rambutnya yang dulu selalu rapi disisir kini terurai sedikit menutupi dahi—tapi tidak cukup untuk menutupi tulisan hitam yang menghiasi jidatnya.

Tiga huruf itu terlihat jelas di bawah cahaya lilin yang redup, kaf fa ro, hitam pekat seperti terbakar, berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya.

Ia memejamkan mata.

Kini saatnya.

Pikiran itu muncul bukan dari pikirannya sendiri. Atau mungkin iya. Sulit membedakan mana pikirannya dan mana yang datang dari stempel di dahinya. Keduanya telah menyatu dalam tiga hari terakhir, seperti dua sungai yang bertemu dan menjadi satu aliran yang tidak bisa dipisahkan lagi.

Rafiq menarik napas panjang. Udara malam masuk ke paru-parunya, terasa lebih dingin dari biasanya. Ia menghembuskannya perlahan, membiarkan seluruh tubuhnya rileks, membiarkan pikirannya kosong.

Kosong seperti kuburan di malam hari. Kosong seperti hatinya setelah Fatih pergi.

Dan di dalam kekosongan itu, ia memanggil.

Ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Tidak ada yang mengajarinya.

Mbah Jaya hanya memberikan mantra-mantra yang tertulis di lembaran kertas usang, dengan tulisan tangan yang nyaris tidak terbaca.

Tapi ketika Rafiq membacanya sore tadi, kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Bukan karena ia tidak mengerti artinya—ia memang tidak mengerti sama sekali. Bukan bahasa Arab, bukan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia.

Tapi ada sesuatu yang aneh: ketika matanya menyentuh tulisan itu, ketika mulutnya mulai membentuk kata-kata itu, lidahnya bergerak dengan sendirinya. Seperti ia sudah hafal sejak lahir. Seperti mantra-mantra itu sudah tertanam di suatu tempat di dalam dirinya, dan hanya perlu dipanggil untuk keluar.

Ia membuka matanya.

Tono.

Nama itu muncul di benaknya. Dan seketika, seperti ada layar yang terbentang di depan matanya, Rafiq melihat.

Rumah itu. Rumah Tono di pinggiran kota, rumah modern dengan pagar besi dan taman kecil di depan. Rumah yang dulu sering ia kunjungi untuk bermain catur atau sekadar ngopi bersama.

Rumah yang dulu terasa hangat dan ramah. Sekarang, di dalam pandangan Rafiq yang baru, rumah itu terlihat berbeda. Terlihat... rapuh.

Seperti ada lapisan pelindung yang mulai mengelupas, memperlihatkan sesuatu di dalamnya yang gelap dan rentan.

Ia melihat ke dalam rumah itu. Melalui dinding. Melalui atap. Melalui semua yang bersifat fisik. Ia melihat Tono.

Tono sedang duduk di ruang tamu. Rumahnya terang benderang dengan lampu-lampu yang menyala di setiap sudut.

Di tangannya ada gelas berisi minuman berwarna coklat—whisky, seperti biasanya. Wajah Tono terlihat lelah. Matanya cekung, ada lingkaran hitam di bawahnya. Ia tidak terlihat seperti pria yang baru saja mencuri perusahaan senilai miliaran rupiah. Ia terlihat seperti pria yang tidak bisa tidur dalam beberapa hari terakhir.

Di samping Tono, di sofa yang sama, Aisyah duduk meringkuk. mantan istrinya, mengenakan daster rumah berwarna krem, rambutnya terurai panjang, wajahnya pucat. Di pangkuannya ada ponsel, tapi ia tidak menatapnya. Matanya kosong menatap lantai.

Rafiq tersenyum.

Kalian terlihat tidak bahagia. Bagus. Itu baru permulaan.

Tono bergerak gelisah di kursinya. Ia meneguk minumannya, lalu meletakkan gelas dengan gerakan kasar. Ia berdiri, berjalan ke jendela, membukanya lebar-lebar seolah membutuhkan udara segar.

Tapi udara malam yang masuk tidak membuatnya tenang. Rafiq bisa melihatnya dari jauh—lihat punggung Tono yang tegang, bahunya yang naik turun dengan napas yang tidak teratur.

Gelisah, Ton? Kau pantas merasakannya.

Rafiq menutup matanya. Di dalam kegelapan kelopak matanya, ia masih bisa melihat Tono. Lebih jelas sekarang. Lebih dekat. Seperti ia berada tepat di belakang Tono, bukan di rumah kampung yang berjarak satu jam perjalanan.

Mulutnya mulai bergerak.

Mantra-mantra itu keluar. Bukan dengan suara keras. Bukan dengan teriakan. Keluar dengan bisikan, dengan getaran di tenggorokannya yang dalam dan berat.

Kata-kata yang tidak ia mengerti. Suku kata yang tidak pernah ia ucapkan sebelumnya. Tapi lidahnya bergerak dengan pasti, seperti sedang membaca sesuatu yang sudah ia hafal di dalam tidurnya.

Tulisan di dahinya mulai terasa hangat. Kemudian panas. Kemudian membara. Rafiq tidak membuka matanya. Ia tidak perlu. Ia bisa merasakan tiga huruf di jidatnya itu menyala—bukan hanya hangat seperti biasanya, tapi benar-benar menyala, seperti bara api yang ditiup angin hingga berpijar merah.

Asap mulai muncul.

Bukan asap dari lilin. Rafiq bisa membedakannya. Lilin di depannya masih menyala dengan api kecil yang tenang, tidak bergerak. Asap yang muncul bukan dari sana.

Asap itu keluar dari tubuhnya sendiri. Dari pori-porinya. Dari ujung jarinya. Dari sudut matanya. Dari tulisan di dahinya.

Asap hitam. Gelap pekat. Lebih hitam dari malam. Asap itu tidak membubung ke atas seperti asap biasa. Ia mengalir, seperti air, seperti ular, membentuk aliran-aliran yang berputar di sekeliling tubuh Rafiq yang duduk bersila.

Asap itu mengelilinginya, membentuk pusaran yang semakin cepat, semakin padat, semakin gelap.

Dan di tengah pusaran itu, Rafiq terus membacakan mantra. Suaranya tidak lagi terdengar seperti suara manusia. Ada getaran di dalamnya, getaran yang membuat lantai kayu bergetar, membuat dinding-dinding rumah bergetar, membuat atap seng bergetar.

Getaran yang tidak berasal dari pita suaranya. Getaran yang datang dari suatu tempat yang lebih dalam. Dari stempel di dahinya. Dari sesuatu yang telah merasuk ke dalam dirinya.

Asap hitam itu berputar semakin cepat. Dan ketika pusarannya mencapai puncaknya, ketika udara di sekeliling Rafiq terasa seperti akan meledak, asap itu melesat.

Melesat ke luar rumah. Menembus dinding kayu seperti menembus kabut. Melesat ke angkasa malam, membelah awan, melesat ke arah timur. Ke arah kota. Ke arah rumah Tono.

Rafiq membuka matanya.

Layar di depan matanya kembali muncul. Ia melihat asap hitam itu terbang melintasi langit, melintasi sawah-sawah gelap, melintasi perbukitan, melintasi pemukiman warga yang sudah gelap. Ia melihat asap itu turun, menembus atap rumah Tono, masuk ke dalam ruang tamu yang terang benderang.

Dan ia melihat Tono merasakannya.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!