NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tamu yang diinginkan

Dua minggu telah berlalu sejak kedatangan keluarga Wang yang memalukan itu. Kehidupan di kompleks militer kembali tenang, bahkan mungkin terlalu tenang bagi seorang mantan ratu iblis.

Pagi itu, Jinyu terbangun dengan perasaan aneh. Ia duduk di ranjang, menatap langit-langit, lalu menghela napas panjang.

"Yoyo," panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

"Yoyo?"

Masih tak ada jawaban. Jinyu mengernyit. Biasanya ular itu langsung muncul begitu dipanggil. Ia mencoba merasakan keberadaan Yoyo melalui ikatan batin mereka—dan mendapati ular itu sedang... tertidur pulas di dalam dimensi.

"Dasar ular pemalas," gumamnya.

Jinyu bangkit, mengambil baju merah kesukaannya, lalu bersiap untuk sarapan. Tapi pikirannya melayang.

Hidupku kok damai amat, ya? keluhnya dalam hati. Di buku-buku yang pernah kubaca, protagonis selalu dapat konflik. Ada yang dikejar musuh, ada yang nemu harta karun, ada yang diserang monster. Aku? Paling banter nemu preman di gang.

Shshsss~ "Kamu ngomong sendiri?" Suara Yoyo tiba-tiba muncul, setengah mengantuk.

"Kamu bangun?"

Shshsss~ "Ya, gara-gara kamu mengeluh dalam pikiran. Suara keluhanmu sampai ke dimensi."

Jinyu memutar mata. "Aku hanya berpikir."

Shshsss~ "Kamu berpikir hidupmu terlalu damai?" Yoyo mendesis geli. Shshsss~ "Udah dikasih hidup damai, malah cari masalah. Dasar manusia aneh."

"Aku bukan manusia, aku iblis."

Shshsss~ "Iblis yang tinggal di tubuh manusia. Sama aja."

Jinyu mendengus. "Sudah, sana tidur lagi."

Shshsss~ "Nggak, aku penasaran kamu mau ngapain."

"Ke gunung. Cari angin."

Shshsss~ "Bosen, ya?"

Jinyu tak menjawab. Tapi diam-diam, Yoyo tahu itu tanda setuju.

Setelah sarapan dan pamit pada Ibu Liu—dengan alasan "jalan-jalan sebentar"—Jinyu melangkah menuju gunung di belakang kompleks. Jalur ini sudah begitu akrab baginya. Setiap batu, setiap pohon, setiap belokan, ia hafal.

Udara pagi masih segar, embun masih menempel di dedaunan. Jinyu berjalan santai, sesekali menendang kerikil kecil. Yoyo melingkar di lehernya, ikut menikmati pemandangan.

Shshsss~ "Kamu tadi bilang cari angin. Yang benar cari gosip, kan?"

"Bisa jadi."

Shshsss~ "Dasar ratu gosip."

Jinyu mengabaikannya. Ia terus berjalan, masuk semakin dalam ke hutan. Pepohonan semakin rapat, suara burung semakin ramai. Dan di antara ribuan kicauan itu, telinga Jinyu menangkap suara yang dikenalnya.

Cuit cuit! Cuit cuit cuit!

Dua burung pipit sahabat lamanya sedang asyik berceloteh di atas pohon waru. Jinyu tersenyum. Ia merogoh saku, mengeluarkan segenggam biji jagung, lalu melemparkannya ke tanah.

"Hei, turun!" serunya.

Kedua burung itu langsung hinggap di tanah, mematuk-matuk jagung dengan lahap.

"Cuit! Manusia baik datang lagi!"

"Bawa jagung lagi! Asyik!"

Jinyu duduk bersandar di pohon, siap mendengarkan gosip terbaru. Tapi baru saja hendak bertanya, salah satu burung pipit berkata,

"Cuit! Eh, aku bawa teman!"

Teman? Jinyu mengerjapkan mata.

Dari atas, terdengar suara kepakan sayap besar. Bayangan hitam melintas, lalu hinggap di cabang pohon di atas Jinyu. Seekor elang—cokelat gelap, paruh bengkok tajam, mata kuning yang menyipit angkuh.

Jinyu menatapnya. Elang itu menatap balik.

"..."

"..."

KRAK! "Hei, manusia, kau bisa mengerti bicaraku?"

Jinyu mengangkat alis. "Bisa."

Elang itu terkejut, nyaris jatuh dari cabang. KRAK! "Apa?! Manusia bisa bicara bahasa kami?"

"Sudah kubilang bisa." Jinyu mengeluarkan segenggam biji jagung lagi. "Mau?"

Elang itu menatap biji jagung dengan jijik. KRAK! "Aku elang! Pemangsa ulung! Rajanya langit! Aku tidak makan jagung seperti—"

Cuit! "Dia enak, Kak Elang! Coba aja!"

Cuit cuit! "Iya! Manis!"

Elang itu ragu. Tapi melihat kedua burung pipit makan dengan lahap, dan aroma jagung yang memang... agak menggoda... akhirnya ia terbang turun, hinggap di tanah dengan kikuk.

KRAK! "Baiklah, sekali coba."

Ia mematuk beberapa biji. Lalu beberapa lagi. Lalu...

KRAK! "Ini... lumayan."

Jinyu tersenyum. "Kan kubilang."

Elang itu akhirnya duduk di tanah posisi yang tidak biasa bagi seekor elang dan mulai makan dengan lahap. Setelah kenyang, ia menatap Jinyu dengan rasa hormat.

KRAK! "Kau manusia aneh. Tapi baik. Aku suka."

"Terima kasih. Ngomong-ngomong, kau banyak gosip?"

KRAK! "Gosip?" Elang itu mengangkat kepala dengan bangga. KRAK! "Aku elang! Aku terbang tinggi, lihat banyak hal. Tentu saja aku tahu banyak gosip!"

Jinyu menyandarkan punggung di pohon, siap mendengar. "Ceritakan."

Elang itu bercerita panjang lebar. Tentang desa-desa di balik gunung, tentang para petani yang bertengkar soal batas sawah, tentang sepasang kekasih yang bertemu diam-diam di hutan. Tapi satu hal yang membuat Jinyu langsung waspada.

KRAK! "Oh, iya! Di gunung ini, ada banyak benda kuning!"

Jinyu mengerutkan dahi. "Benda kuning?"

KRAK! "Iya. Di gua dekat puncak. Manusia-manusia datang diam-diam, bawa benda kuning itu keluar. Aku lihat dari atas."

"Manusia? Berapa banyak?"

KRAK! "Lima atau enam. Kadang datang, kadang pergi. Mereka bersembunyi-sembunyi, kayak takut ketahuan."

Jinyu menajamkan tatapan. "Apa yang mereka lakukan dengan benda kuning itu?"

KRAK! "Entahlah. Aku hanya lihat mereka bawa masuk, bawa keluar. Yang pasti, benda kuning itu banyak sekali di dalam gua."

Jantung Jinyu berdetak lebih cepat. Benda kuning... di gua... manusia datang diam-diam...

Shshsss~ "Jinyu," bisik Yoyo pelan, "itu kedengarannya mencurigakan."

"Aku tahu."

Jinyu bertanya lebih detail. Di mana persisnya gua itu? Kapan biasanya mereka datang? Apa ciri-ciri orang-orang itu? Elang itu menjawab semua dengan antusias—senang bisa membantu manusia baik yang memberinya jagung.

Setelah puas bertanya, Jinyu mengeluarkan segenggam biji jagung lagi. "Ini untukmu. Terima kasih infonya."

Elang itu menerima dengan senang hati. KRAK! "Sama-sama, manusia aneh! Kalau mau tahu gosip lagi, panggil saja!"

Jinyu tersenyum, lalu pamit. Ia harus segera pulang sebentar lagi makan siang. Tapi pikirannya sudah dipenuhi informasi baru.

Saat berjalan menuruni gunung, Jinyu merenung. Benda kuning... bisa jadi emas. Atau kuningan. Atau... apa pun itu, yang pasti mereka menyembunyikannya.

Tiba-tiba...

[DING!]

Jinyu menghentikan langkah.

[Sistem Kehidupan versi 7.63 aktif. Selamat datang kembali, Pengguna Jinyu.]

Jinyu terbelalak. "Apa?!"

Di dalam kepalanya, suara itu terdengar jelas seperti bel kecil berdenging, lalu diikuti nada bicara yang... jahil.

["Lama tidak bertemu, ya? Aku kira kau sudah mati kedinginan waktu di gang dulu."]

"K-KAU?!" Jinyu nyaris berteriak. "Sistem kehidupan?! Tapi kau mati saat aku transmigrasi!"

["Ya, aku mati. Tapi ternyata aku reboot. Sayangnya, koneksi terlambat. Baru nyambung sekarang."]

"Terlambat? Sudah empat bulan!"

["Ya, koneksi lemot. Maklum, lewat antar dimensi mana harus bayar pula lagi, habis sudah poin yang ku kumpulin selama ini"]

Jinyu memegang kepala. Yoyo yang melingkar di lehernya ikut bingung.

Shshsss~ "Ada apa, Jinyu?"

"Sistemku hidup lagi."

Shshsss~ "Yang suka nyuruh-nyuruh itu?"

["Heh! Aku dengar itu, Ular Perak. Aku bukan suka nyuruh-nyuruh. Aku adalah asisten pribadi yang sangat membantu."]

Shshsss~ "Asisten yang suka nyuruh-nyuruh."

["Diam kau! Dasar kau ular jelek"]

Jinyu menghela napas. "Sudah, sudah. Sistem, kenapa baru muncul sekarang?"

["Sudah kujelaskan, koneksi lemot. Tapi yang penting, aku di sini sekarang. Dan aku punya tugas untukmu."]

"Tugas?"

["Iya. Sepanjang jalan turun ini, ada banyak herbal China berharga. Ambil semuanya."]

Jinyu mengerjapkan mata. "Herbal? Aku tidak tahu apa-apa tentang herbal! baruu datang udah nyuruh-nyuruh"

["Ya, aku tahu. Kau ini iblis, bisanya cuma perang. Tapi sekarang kau di dunia manusia, dan herbal itu bisa dijual mahal. Atau dipakai kalau sakit."]

"Tubuh iblis bisa sembuh sendiri. Aku butuh herbal buat apa?"

["Untuk jaga-jaga! Kau sekarang di tubuh manusia, ingat? Manusia itu lemah. Bisa sakit, bisa demam, bisa keracunan. Herbal itu berguna."]

Jinyu mendengus. "Males."

["JINYU! Ambil herbal! Itu di sebelah kiri! Yang daunnya hijau bergerigi! Itu rumput jiaogulan, bagus untuk kesehatan!"]

Jinyu memutar mata. Tapi entah kenapa, kakinya berhenti. Ia menoleh ke kiri. Benar saja, ada tanaman dengan daun hijau bergerigi.

["Ambil! Tau tidak sudah berapa banyak poin yang ku bayarkan untuk menemukan mu, cepat ambil!!"]

Jinyu menghela napas, lalu memetik beberapa helai. "Ini? Sekarang?"

["Masukin ke dimensi. Nanti aku kategorikan."]

Jinyu menurut. Ia memasukkan daun-daun itu ke ruang dimensi.

Lima langkah kemudian...

["Itu! Di kanan! Akar ginseng liar! Gali!"]

"Akar? Aku gali pakai apa?"

["Pakai tangan! Kau kan iblis, kuat."]

"Tapi aku kan hanya seorang manusia biasa, mana masih anak anak lagi"

Sistem : ..

["AMBIL GAK!!"]

Jinyu menggerutu tapi tetap berjongkok dan menggali tanah. Akar ginseng kecil berhasil ia dapatkan.

Tiga langkah kemudian...

["Itu! Jamur lingzhi! Di batang pohon tumbang!"]

Jinyu memetiknya.

["Itu! Jahe merah liar!"]

Jinyu mengambilnya.

["Itu! Daun artemisia!"]

Jinyu memetik.

Dan seterusnya, sepanjang jalan turun. Setiap beberapa langkah, sistem berteriak menyuruhnya mengambil sesuatu. Jinyu yang tadinya santai, kini sibuk memetik, menggali, dan memotong sana-sini.

Yoyo di lehernya hanya bisa tertawa.

Shshsss~ "Katanya mau cari angin? Malah jadi petani herbal."

"Diam, kau ular."

["Iya, diam, kau ular jelek! Jangan ganggu konsentrasi!"]

Shshsss~ "Kalian berdua cocok jadi komedian."

Akhirnya, setelah hampir satu jam penuh dengan perintah sistem, Jinyu sampai di kaki gunung. Bajunya kotor, tangannya penuh tanah, dan rambutnya berantakan. Tapi di ruang dimensinya, sudah ada puluhan jenis herbal menumpuk.

["Kerja bagus, Jinyu! Lain kali kita lanjut."]

"Lain kali?" Jinyu mengerut. "Aku tidak janji."

["Aku yang atur, kau yang jalan. Itu sistemnya."]

"Kau jahil banget, tahu?"

["Makasih pujiannya."]

Jinyu : ..

Jinyu menghela napas panjang. Yoyo mendesis geli.

Shshsss~ "Hidupmu jadi lebih 'seru', ya?"

Jinyu hanya bisa memutar mata. Dikasih hidup damai, malah cari masalah. Kena batunya.

Tapi di sudut hatinya... ia tersenyum kecil. Mungkin hidup damai memang agak membosankan. Sedikit gangguan dari sistem yang jahil dan gosip tentang benda kuning di gunung mungkin justru membuat hidup lebih... berwarna.

Ia melanjutkan langkah menuju rumah. Perutnya keroncongan, makan siang sudah menunggu. Tapi pikirannya masih berkutat pada informasi dari elang.

Lima atau enam orang, bersembunyi-sembunyi, benda kuning di dalam gua...

Senyum kecil mengembang di wajahnya.

"Sepertinya," gumamnya, "gunung ini menyimpan lebih dari sekadar gosip burung."

1
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Dewiendahsetiowati: Karena biasanya ikut Jinyu kemana2 apalagi Yoyo selalu ada disekitar Jinyu
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
Marsya
kk udah kirim kopi biar smangat nulis novelnya y!.😉😉😉😉😉
Marsya
ceritanya keren,👍👍👍👍👍👍👍
Ellasama
suka banget, akhirnya yg satu ini si fl punya ruang angkasa/ dimensi, semangat /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!