NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Apa yang Dia Lihat”

Arkan tiba-tiba berkata polos,

“Papah… Papah naksir ya sama Kakak?”

Nayla langsung tersentak. Ia tersedak hebat, tenggorokannya terasa perih, kepalanya seperti diremas, dan telinganya berdenging. Dengan buru-buru ia mengambil air mineral yang disodorkan Kak Danu dan meminumnya.

Sekilas, ia menangkap tatapan sinis dari ayah Arkan—padahal pria itu juga sempat menyodorkan air. Namun Nayla memilih milik Kak Danu karena posisinya lebih dekat.

Arkan, dengan penuh perhatian, menepuk-nepuk punggung dan leher belakang Nayla. Anak itu tampak sigap, seolah tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini.

Setelah napasnya mulai teratur, Arkan kembali melanjutkan celetukannya.

“Papah naksir sama Kakak! Soalnya dari tadi Papah ngeliatin Kakak terus.”

Nayla mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar Arkan berhenti.

“Udah…”

Namun Arkan tetap melanjutkan, nada suaranya serius penuh rasa ingin tahu.

“Kata Kakak, kalau ada orang yang ngeliatin terus, itu tandanya orang itu naksir.”

Nayla kembali terbatuk kecil. Tenggorokannya masih terasa tidak nyaman.

Nayla berusaha menghentikannya, tapi Arkan tak peduli. Ia justru melanjutkan dengan nada penuh rasa ingin tahu.

Ia menarik napas dalam-dalam. Sepertinya ia memang harus lebih berhati-hati.

Kejadian ini sebenarnya berawal dari pagi tadi.

Saat itu, Nayla duduk di kursi ayunan bersama Arkan. Iseng, ia menatap wajah anak itu dengan penuh kekaguman. Arkan hanya tersenyum kikuk, jelas salah tingkah.

Ketika tak tahan terus ditatap, Arkan akhirnya bertanya dengan wajah malu-malu,

“Kakak, kenapa ngeliatin aku terus?”

Nayla tertawa kecil.

“Itu tandanya Kakak naksir sama kamu,” jawabnya spontan, lalu mencubit gemas pipi tembem Arkan.

Arkan semakin tersipu. Namun beberapa detik kemudian, ia justru bertanya polos,

“Naksir itu apa?”

Nayla tertegun, lalu tertawa geli. Ia mengira Arkan sudah mengerti. Dengan sabar, ia pun menjelaskan arti kata itu. Arkan mendengarkan sambil tersenyum malu, wajahnya semakin memerah, karena salting.

Dan sekarang—

Ucapan polos itu kembali menghantuinya.

Kak Danu berusaha keras untuk tidak tertawa. Sementara ayah Arkan justru semakin menatap Nayla dengan intens, membuatnya semakin kikuk.

“Papah? Papah naksir ya?” tanya Arkan lagi, tidak sabar.

Hening sejenak.

“Iya.”

Jawaban singkat itu keluar tanpa ragu.

Nayla kembali tersedak—kali ini lebih parah. Wajahnya memanas, napasnya tersendat, bahkan air yang diminumnya terasa salah jalur.

Ia memukul-mukul dadanya pelan sebelum akhirnya berdiri dan berlari menjauh sambil membawa botol air mineral.

Itu orang tua Kenapa sihh,

aneh banget. Dasar Sialan

Arkan menatapnya dengan cemas, langsung berlarian menyusulnya.

Pria itu masih menatap ke arah Nayla yang menjauh.

Diam.

Tatapannya tetap tertuju pada Nayla.

**

Setelah kondisinya membaik, Nayla perlahan menjauh dari pondok pantai, meninggalkan hiruk-pikuk yang tadi sempat membuatnya tersedak berkali-kali. Arkan mengikutinya dari belakang, diam tanpa suara.

Ia memilih duduk di bawah pohon kelapa yang cukup rindang. Daun-daunnya bergoyang pelan tertiup angin laut, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas pasir.

Arkan duduk di sampingnya sambil bermain pasir. Wajahnya cerah penuh semangat. Tanpa banyak bicara, mereka langsung larut dalam permainan, tawa kecil sesekali pecah di antara mereka, hingga waktu berlalu tanpa terasa.

Di tengah keasyikan itu, tiba-tiba suara lantang Kak Danu memecah suasana.

“Yuk, kita main jet ski!”

Arkan langsung melonjak kegirangan. Ia berseru riang, tawanya lepas, seolah tak ada lagi yang lebih menyenangkan dari hari itu.

Mereka bertiga pun langsung menuju tempat dimana jet ski terparkir.

Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin yang khas, bercampur dengan suara ombak yang bergulung dan pecah di kejauhan.

Semakin mendekat ke area parkir jet ski, suasana mulai berubah. Suara mesin yang menderu-deru terdengar bersahut-sahutan, memecah ketenangan pantai. Beberapa jet ski tampak berjejer rapi di atas pasir, sebagian lain sedang didorong ke air oleh para petugas.

Percikan air sesekali menyambar ke udara saat kendaraan itu melaju, disertai tawa dan teriakan para pengendara yang terdengar penuh kegembiraan.

Setibanya di dekat jet ski, seorang petugas mulai membantu mereka mengenakan pelampung. Arkan sudah tidak sabar, bolak-balik berdiri sambil melihat ke arah laut.

“Cepet dong… cepet dong… aku mau naik itu!” Arkan menunjuk ke arah jet ski dengan mata berbinar.

Nayla tersenyum tipis, tangannya masih sibuk merapikan tali pelampung di tubuhnya. “Arkan, sabar. Nanti juga naik.”

“Tapi lautnya udah manggil,” gumam Arkan serius.

Nayla menahan tawa. “Lautnya manggil apa, coba?”

Arkan menoleh cepat, wajahnya penuh keyakinan. “Katanya, ‘Arkan sini, Arkan sini…’”

Kak Danu yang berdiri di samping mereka

akhirnya angkat bicara pelan, “Lautnya tahu nama kamu ya.”

Arkan langsung mengangguk mantap. “Iya. Soalnya aku pemberani.”

“Hmm,” Kak Danu memasang helm dengan tenang, “nanti jangan malah nangis ya.”

“Aku gak nangis!” Arkan protes cepat, lalu menoleh ke Nayla. “Kakak juga jangan nangis ya.”

Nayla sedikit tersedak. “Loh, kenapa aku yang jadi ikut-ikutan?”

Arkan mendekat sedikit, suaranya diturunkan seperti membocorkan rahasia, “Soalnya biasanya yang gede lebih takut.”

Nayla terdiam sebentar, lalu menghela napas pelan. “Iya deh… kita lihat nanti siapa yang paling berani.”

Kak Danu hanya melirik sekilas, sudut bibirnya naik tipis sebelum ia berkata singkat, “Udah siap?”

Arkan langsung melompat kecil. “Siap!”

Nayla menarik napas, lalu mengangguk, meski tangannya tanpa sadar kembali mengecek pegangan pelampungnya.

“Iya… siap.”

Kak Danu lebih dulu naik ke jet ski, memastikan posisinya stabil sebelum menoleh ke belakang.

“Arkan, sini dulu.”

Anak kecil itu langsung mendekat tanpa ragu, tangannya disambut dan dibantu naik ke bagian depan. Ia duduk dengan semangat, kedua tangannya langsung memegang setang kecil di depannya meski sebenarnya tidak berfungsi.

“Pegangan yang benar,” ujar Kak Danu singkat.

“Iya!” jawab Arkan cepat, meski matanya masih sibuk melihat ke laut.

Nayla berdiri sebentar di samping,

memperhatikan keduanya. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya memberanikan diri naik. Begitu duduk di belakang Kak Danu, tubuhnya sedikit kaku. Tangannya ragu sejenak, lalu perlahan berpegangan di sisi kursi.

“Pegang saya aja, biar gak jatuh.”

Suara Kak Danu terdengar tenang, tanpa menoleh.

Nayla terdiam sepersekian detik. Ucapannya sederhana, tapi entah kenapa membuatnya semakin sadar dengan jarak di antara mereka. Perlahan, ia mengangkat tangan dan berpegangan pada bagian belakang jaket pria itu—tidak terlalu erat, tapi cukup untuk menjaga keseimbangan.

Udah siap?” tanya Kak Danu lagi.

Arkan langsung menjawab, “Siap!”

Nayla mengangguk kecil, meski tak terlihat. “Iya…”

Mesin dinyalakan. Suaranya langsung memecah udara pantai yang tadinya tenang. Nayla sedikit tersentak, bahunya menegang.

Perlahan, jet ski mulai bergerak menjauh dari tepian.

Saat laju bertambah, tubuh Nayla refleks terdorong ke belakang sebelum akhirnya ia tanpa sadar mendekat, pegangannya menguat. Angin langsung menerpa wajahnya, membawa aroma asin laut yang terasa jelas di ujung napasnya.

“Wooaaah!” suara Arkan terdengar paling keras.

Nayla tidak menjawab. Napasnya sempat tertahan ketika jet ski menghantam ombak kecil. Jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya makin erat mencengkeram.

Tapi di sela rasa tegang itu, matanya sempat terbuka lebar.

Laut terbentang luas.

Angin, cahaya, dan suara air seperti bercampur jadi satu.

Ada rasa takut, tapi… juga sesuatu yang anehnya menyenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!