Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekasih Katanya?
Liam tetap duduk santai di kursinya, menyilangkan kaki sambil menyesap kopi yang kini sudah mendingin, matanya sama sekali tidak lepas dari pergerakan Cassie.
Ia memperhatikan bagaimana Cassie dengan sangat telaten, dan sedikit emosi menyedot debu di sofa, lalu beralih ke karpet bulu di ruang tengah.
Setiap gerakan Cassie, mulai dari cara ia membungkuk hingga peluh kecil yang muncul di pelipisnya, membuat Liam merasa bersalah sekaligus makin gemas.
Saat moncong vacuum cleaner itu mulai mendekat ke arah kakinya, Liam tidak bergerak menjauh. Justru, saat Cassie tepat berada di depannya, Liam dengan gerakan secepat kilat menyambar pinggang Cassie.
"Ah! Liam!" pekik Cassie kaget saat tubuhnya ditarik paksa hingga terduduk tepat di pangkuan Liam.
Liam mematikan tombol vacuum cleaner dengan tangan satunya, menciptakan keheningan mendadak di ruangan itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Cassie, menguncinya agar tidak bisa kabur.
"Dengar, Mahasiswa," ucap Liam sambil menatap wajah Cassie yang jaraknya hanya beberapa senti.
"Aku baru sadar sesuatu. Sepertinya kau tidak usah beres-beres rumah lagi. Mulai besok, aku akan panggil jasa pembersih harian saja untuk mengurus semua debu ini."
Mendengar itu, bukannya merasa senang karena beban kerjanya hilang, mata Cassie justru membulat penuh kepanikan. Napasnya memburu.
"Apa?! Kau... kau mau memecatku?!" suara Cassie meninggi, nada bicaranya berubah menjadi sangat cemas.
"Liam, kau tidak bisa melakukan itu secara sepihak! Aku bahkan belum sempat mencari tempat tinggal baru. Kau tahu sendiri aku tidak mungkin kembali ke apartemen lamaku yang mengerikan itu!"
Liam hendak menyela, tapi Cassie sudah terlanjur panik dan terus mengoceh.
"Kebutuhan kuliahku di semester ini banyak sekali, Liam! Biaya penelitian, biaya cetak tugas... dari mana lagi aku dapat uang tambahan secepat ini kalau kau memecatku sekarang? Aku janji tidak akan marah-marah lagi soal ejekanmu, tapi tolong jangan pecat aku!"
Liam menatap Cassie dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sebenarnya ingin bilang bahwa ia ingin Cassie berhenti bekerja agar ia bisa memperlakukannya sebagai "kekasih" seutuhnya, bukan pelayan. Ia ingin membiayai semuanya tanpa Cassie harus memegang sapu lagi.
Tapi melihat bibir Cassie yang terus bergerak panik menjelaskan masalah keuangannya, Liam merasa penjelasan panjang lebar hanya akan membuang waktu.
Maka, Liam melakukan hal yang paling efektif untuk membungkam gadis itu. Ia memajukan wajahnya dan langsung mencium Cassie. Lagi.
Ciuman kali ini tidak menuntut atau penuh gairah seperti semalam, melainkan ciuman yang dalam dan posesif, seolah ingin menyalurkan jawaban bahwa Liam tidak akan pernah membiarkannya pergi ke mana pun, apalagi kembali ke apartemen kumuh itu.
Cassie yang tadinya tegang dan panik, perlahan mulai melemas. Tangannya yang semula mendorong dada Liam kini beralih meremas bahu pria itu. Liam melepaskan ciumannya perlahan, namun tetap membiarkan wajah mereka bersentuhan.
"Siapa yang bilang mau memecatmu, bodoh?" bisik Liam serak, ibu jarinya mengusap bibir Cassie yang sedikit bengkak.
"Aku cuma bilang kau tidak usah bersih-bersih lagi. Kau tetap tinggal di sini, uang kuliahmu tetap urusanku, tapi posisimu berubah. Paham?"
Cassie segera melepaskan tautan tangan Liam dari pinggangnya, meskipun ia masih tetap duduk di pangkuan pria itu karena Liam tidak benar-benar melepaskannya.
Ia menatap Liam dengan tatapan tidak setuju yang sangat tegas.
"Tidak mau," sahut Cassie mantap.
Liam mengerutkan dahi, merasa tawarannya baru saja ditolak mentah-mentah.
"Kenapa? Kau baru saja mengeluh soal biaya penelitian dan uang sewa."
"Aku memang butuh uang, Liam. Aku sangat suka uang, apalagi kalau jumlahnya banyak. Tapi aku tidak mau mendapatkannya cuma-cuma dari pemberianmu," jelas Cassie sambil melipat tangan di dada.
"Aku lebih puas kalau uang itu hasil keringatku sendiri. Aku ingin bekerja untuk mendapatkan hakku. Kalau kau melarangku bersih-bersih, lalu aku dapat uang dari mana? Aku tidak mau jadi pajangan di rumah ini."
Liam mendengus kasar, ia mulai merasa gemas dengan harga diri Cassie yang setinggi langit itu.
"Memangnya salah kalau aku ingin memastikan kekasihku hidup layak tanpa harus pegang sapu setiap hari?"
Mata Cassie membelalak. Ia langsung menyela dengan nada protes yang kencang.
"Tunggu! Kekasih? Sejak kapan kita jadi kekasih? Kau tidak pernah memintaku secara resmi. Kita ini cuma majikan dan pelayan yang... yang hubungannya agak membingungkan!"
Liam memutar bola matanya, ia menatap Cassie seolah gadis itu baru saja menanyakan pertanyaan paling bodoh di dunia.
"Kau bercanda? Cassie, mana ada orang yang bukan kekasih tapi melakukan hal-hal seperti yang kita lakukan semalam di sofa itu? Kau pikir aku ini tipe pria yang suka berpelukan dengan sembarang orang?"
"Bisa saja kan! Kau kan bos besar yang bebas melakukan apa saja!" balas Cassie tidak mau kalah.
"Lagi pula, semalam itu kan... keadaan yang mendukung! Belum ada status yang jelas!"
"Status apa lagi? Aku sudah membawamu ke gudangku, mengenalkanmu pada Jino dan Marco, bahkan hampir membuatmu 'ahli' semalam!"
Liam mulai menaikkan suaranya, bukan karena marah, tapi karena frustrasi.
"Di duniaku, kalau aku sudah memberikan akses sedalam itu, artinya kau milikku. Titik."
"Enak saja main klaim milikmu!" Cassie mulai terbawa suasana debat.
"Kekasih itu butuh komitmen, butuh kata-kata yang jelas, bukan cuma main tarik pangku dan cium-cium saja!"
"Oh, jadi kau mau aku berlutut dan membawa bunga begitu? Di Verovska?" ledek Liam dengan nada sinis yang menyebalkan.
"Jangan terlalu banyak baca novel, Mahasiswa. Realitanya, kau sudah ada di rumahku, di pangkuanku, dan kau sudah setuju untuk tidak kembali ke apartemen lamamu. Itu sudah lebih dari cukup untuk status 'kekasih'."
"Tidak bisa! Pokoknya aku tetap mau bekerja! Kalau kau panggil jasa bersih-bersih, aku akan tetap mencari pekerjaan sampingan di luar!" ancam Cassie.
"Jangan coba-coba, Cassie! Kalau kau berani kerja di tempat lain, aku akan beli tempat itu dan memecatmu di hari pertama!"
Debat kusir itu terus berlanjut di ruang tengah yang sepi. Mereka berdua saling melempar argumen, sama-sama keras kepala, dan sama-sama tidak mau mengalah. Ironisnya, mereka berdebat tentang status kekasih sambil masih dalam posisi Cassie yang duduk di pangkuan Liam.
***
Baru saja Cassie hendak membalas argumen Liam dengan kalimat yang lebih pedas, suara mesin mobil yang sangat familiar menderu di halaman depan. Tak butuh waktu lama sampai pintu depan terbuka dengan sentakan keras, diiringi suara tawa Jino yang menggema bahkan sebelum orangnya terlihat.
"LIAM! KAMI PULANG! Ternyata gudang timur benar-benar sepi, Marco hanya berhalusinasi soal dokumen tertinggal itu!" seru Jino sambil melangkah masuk dengan gaya angkuhnya.
Cassie yang tersadar masih berada di pangkuan Liam langsung panik setengah mati. Ia mencoba melompat turun, tapi tangan Liam justru mengunci pinggangnya lebih erat, seolah sengaja ingin menunjukkan pada kedua sahabatnya, siapa yang memenangkan perdebatan tadi.
"Liam! Lepaskan! Mereka datang!" bisik Cassie panik sambil memukul bahu Liam.
"Biarkan saja. Biar mereka tahu kau itu keras kepala," sahut Liam tenang, tanpa bergeming sedikit pun.
Jino menghentikan langkahnya tepat di ruang tengah. Ia melihat pemandangan itu, Liam yang duduk santai di sofa dengan Cassie yang masih duduk di pangkuannya, wajah Cassie memerah sempurna sementara Liam memasang wajah datar seolah itu adalah hal paling normal di dunia.
"Wah, wah, wah..." Jino bersiul panjang, matanya berbinar jenaka.
"Sepertinya 'rapat koordinasi' kalian belum selesai ya? Marco, lihat ini!"
Marco masuk di belakang Jino, membawa beberapa kantong plastik berisi makanan. Ia melirik posisi Liam dan Cassie sejenak, lalu mendesah pelan sambil menggelengkan kepala.
Tanpa kata, Marco langsung berjalan menuju dapur, mengabaikan drama di depannya.
"Liam, aku serius! Turunkan aku!" Cassie menyikut perut Liam, membuat pria itu akhirnya sedikit melonggarkan pelukannya.
Begitu terlepas, Cassie langsung berdiri dan merapikan bajunya dengan gerakan sangat kikuk.
"Jino, kalau kau buka mulut lagi, aku akan benar-benar mengirimmu ke pelabuhan malam ini sendirian," ancam Liam sambil berdiri, mencoba mengembalikan wibawanya yang sedikit berantakan.
"Galak sekali, Bos," ledek Jino sambil meletakkan kunci mobil di meja.
"Padahal aku baru saja mau menawarkan bantuan. Tadi di jalan aku melihat papan iklan lowongan kerja, siapa tahu Cassie butuh pekerjaan sampingan agar tidak perlu bekerja lembur di sofa terus."
Cassie langsung menoleh ke arah Jino.
"Lowongan apa, Jino?"
Liam langsung melotot ke arah Jino. "Jino, jangan berani-berani."
Ia menyeringai, tahu betul cara memancing emosi Liam.
"Begini saja, Cassie. Daripada kau berdebat dengan si Posesif ini, lebih baik kau ikut Marco dan aku makan siang dulu. Kami beli ayam goreng banyak sekali."
"Aku ikut!" seru Cassie cepat, ia segera melesat menuju dapur menyusul Marco, meninggalkan Liam yang berdiri sendirian di ruang tengah dengan tangan mengepal.
"Dia kekasihku, Jino! Berhenti menggodanya!" teriak Liam kesal.
"Kekasih? Sejak kapan kalian jadi sepasang kekasih?" balas Jino sambil tertawa kencang dan berlari menuju dapur sebelum Liam sempat melempar bantal sofa ke arahnya.
Malah memperburuk keadaan
Kasian Cassie 😭