NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:504
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kabur!!

Di tengah keheningan malam Skyrosia yang mencekam, saat napas Cyprian terdengar teratur dalam tidurnya, seberkas pendar perak redup bergetar di lantai balkon. Itu adalah sisa energi Dewi Selene yang tertinggal, sebuah bisikan cahaya yang memanggil nama aslinya dengan pilu.

"Elysianne... lari... kembalilah ke asalmu..."

Suara itu menghantam kesadaran Elysianne yang rapuh. Dengan tangan gemetar, ia menjauhkan diri dari pelukan posesif Cyprian. Ia turun dari ranjang dengan langkah tanpa suara, mengenakan jubah tipis, dan berlari keluar dari kamar yang terasa seperti penjara bawah tanah itu.

Jiwanya terus berbisik: Lari, lari, dan lari. Elysianne berlari menembus koridor istana yang gelap, melewati gerbang yang entah mengapa terbuka seolah memberinya jalan. Ia berlari melewati desa-desa sunyi di bawah kaki bukit Skyrosia, hingga kakinya yang kini beralas daging dan darah mulai lecet dan berdarah. Ia masuk ke dalam hutan yang lebat, tersesat di antara pepohonan raksasa yang seolah-olah mengawasinya.

Di puncak menara istana, Cyprian berdiri di kegelapan. Ia tidak mengejarnya. Ia hanya menyeringai gelap, matanya yang merah ruby berkilat penuh kemenangan. Ia membiarkan burung perajaannya terbang bebas sejenak, hanya agar sang burung tahu betapa luasnya dunia yang tak bisa ia kuasai sendirian.

Elysianne sampai di tepian sungai yang jernih di tengah hutan. Napasnya tersengal, dadanya sesak oleh kelelahan manusiawi. Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang lembut mendekat. Dari balik kabut fajar, seekor Pegasus Putih yang indah muncul. Makhluk itu meringkik pelan, menatapnya dengan mata yang teduh seolah-olah dikirim langsung oleh Kayangan untuk menjemputnya.

"Kau datang untukku?" bisik Elysianne penuh harap.

Ia mengelus leher jenjang Pegasus itu, merasakan kehangatan yang sudah lama ia rindukan. Dengan sisa tenaganya, ia naik ke punggung makhluk itu. Begitu Pegasus itu terbang membubung ke angkasa, Elysianne merasa bebannya terangkat. Ia memejamkan mata, membiarkan angin hutan menerpa wajahnya. Ia pikir ia selamat. Ia pikir ia telah lepas dari cengkeraman sang Lord Demon.

Itu adalah pikiran naif dari jiwa manusia yang baru lahir.

Saat Elysianne membuka matanya kembali, ia tidak menemukan awan putih Kayangan atau wajah Selene yang penuh kasih. Ia justru mendapati dirinya berbaring di atas ranjang yang jauh lebih mewah, di dalam sebuah ruangan asing yang megah namun tertutup rapat.

Di sudut ruangan, seorang pria gagah berdiri membelakangi jendela. Pria itu berbalik, menatapnya dengan pandangan yang meluap akan cinta yang gila dan obsesi yang gelap.

Pria itu adalah Cyprian.

Namun, kali ini sayap hitam raksasanya telah menghilang, terlipat sempurna di bawah jubah kebangsaraannya yang berwarna hitam emas. Ia telah belajar mengendalikan wujud iblisnya, menyembunyikannya di balik topeng seorang Duke yang mempesona.

"Tidurmu nyenyak, My Duchess?" suara Cyprian terdengar lembut, namun menyimpan ancaman yang nyata.

Ia melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang dan membelai rambut hitam Elysianne yang berantakan. "Hutan itu sangat dingin di malam hari. Untung saja Pegasus kesayanganku membawamu kembali ke tempat yang seharusnya. Ke sampingku."

Elysianne gemetar hebat. Ia menyadari bahwa pelariannya hanyalah permainan kucing dan tikus yang dirancang oleh Cyprian. Pegasus itu bukan utusan surga, melainkan hewan peliharaan sang Lord Demon yang telah dicemari kegelapan.

"Kau tidak bisa pergi, Elysianne," bisik Cyprian, mencium keningnya dengan penuh kemenangan. "Bahkan jika kau terbang ke ujung dunia sekalipun, napasku sudah ada di dalam darahmu. Kau akan selalu kembali padaku."

.

.

.

Sore itu, cahaya matahari terbenam menyusup masuk melalui celah jendela kamar yang terkunci, menyinari debu-debu yang menari di udara yang pengap. Elysianne duduk di tepi ranjang, menatap dinding dengan tatapan kosong. Pikirannya seperti hamparan salju yang baru. Putih, dingin, dan tanpa jejak.

Klik.

Pintu terbuka. Seorang pelayan muda masuk membawa nampan berisi buah-buahan dan segelas susu hangat. Pelayan itu sempat tertegun, matanya membelalak menatap rambut hitam legam milik Elysianne yang seharusnya seputih perak. Ia bingung, namun ia tidak berani bertanya; di istana Skyrosia yang baru ini, keheningan adalah cara terbaik untuk tetap hidup.

Saat pelayan itu membungkuk untuk meletakkan nampan, Elysianne melihat celah.

Dengan gerakan yang tidak terduga, Elysianne melompat dari ranjang. Kakinya yang telanjang menghantam lantai dingin, namun ia tidak merasakan sakit. Seolah-olah sisa kekuatan dewinya memberikan dorongan adrenalin yang luar biasa, ia menerobos pintu yang terbuka.

"My Lady! Berhenti!" teriak pelayan itu dengan suara gemetar karena ketakutan.

Elysianne tidak menoleh. Ia berlari kencang menyusuri koridor panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan tua yang seolah mengikutinya dengan mata mereka. Jantungnya berdegup kencap, napasnya memburu. Saat mencapai pertigaan koridor utama, ia berbelok dengan kecepatan tinggi dan-

BRAK!

Elysianne menghantam sebuah dada bidang yang keras seperti batu. Dampaknya begitu kuat hingga ia terpental ke belakang, jatuh terduduk di atas karpet beludru merah. Gaun tipisnya tersingkap hingga menampakkan paha pucatnya yang halus, rambut hitamnya tersebar menutupi sebagian wajahnya yang syok.

Pelayan tadi muncul dari tikungan, wajahnya pucat pasi saat melihat siapa yang berdiri di sana. Ia langsung bersujud di lantai, tubuhnya gemetar hebat.

Cyprian berdiri tegak di sana. Ia tidak lagi mengenakan zirah, melainkan jubah sutra hitam yang mewah. Rambut hitamnya tertata rapi, dan matanya yang merah ruby menatap ke bawah, ke arah "burung kecilnya" yang mencoba terbang dari sangkar.

Cyprian tidak marah. Ia justru tersenyum tipis. Sebuah seringai yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. Ia membungkuk perlahan, bukan untuk menghormat, melainkan untuk meraih tubuh Elysianne.

"Kau sangat bersemangat sore ini, My Duchess," suara Cyprian berat dan bergema di koridor yang sepi.

Tanpa mempedulikan rontaan kecil Elysianne, Cyprian menyambar pinggangnya dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas bahunya seperti barang jarahan. Elysianne memukul-mukul punggung Cyprian, namun sang Lord Demon hanya tertawa rendah.

Cyprian melangkah kembali menuju kamar mereka yang terkunci. Begitu sampai di dalam, ia melepaskan Elysianne dari bahunya namun tetap memegangi lengannya dengan erat.

Plak!

Cyprian memberikan satu pukulan gemas pada bokong Elysianne yang terbalut kain gaun tipis, membuat sang mantan dewi memekik kaget dan wajahnya memerah padam antara malu dan kesal.

"Lari lagi, dan aku akan memastikan kau tidak bisa berjalan selama seminggu," bisik Cyprian di telinga Elysianne, sambil mengunci pintu kamar dari dalam dengan kunci emas yang berat.

Ia kemudian menjatuhkan Elysianne kembali ke atas ranjang empuk, menindihnya dengan berat tubuhnya yang posesif. "Sekarang, beri tahu aku... ke mana kau pikir bisa pergi tanpa izinku, hmm?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!