Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria bertopeng
"Silakan, Nona Adira," ucap pria berjas rapi itu.
Adira, yang sejak tadi hanya menatap ujung sepatunya, perlahan mengangkat pandangan. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia menatap sosok asing yang berdiri menjulang di hadapannya.
Tatapannya tertahan selama beberapa detik; kosong, namun tersimpan tanda tanya di sana. Yang jelas, gadis itu sudah menduga bahwa ia akan menghadapi sesuatu yang lebih serius daripada sekadar jeruji penjara.
Tanpa sepatah kata pun, Adira menyeret langkahnya yang terasa berat. Ia berjalan mendekati kendaraan mewah yang terparkir menunggunya. Pria berjas yang dikenal sebagai Wira itu menutup pintu mobil, lalu segera duduk di balik kemudi. Ia menginjak gas, meninggalkan pelataran penjara yang telah menjadi rumah bagi Adira selama delapan tahun lamanya.
Sepanjang perjalanan, Adira hanya membisu. Delapan tahun berlalu, segalanya telah berubah. Banyak gedung baru yang kini berdiri menjulang tinggi. Dan... selama itu pula, Ayah tidak pernah datang menjengukku. Batin Adira mulai merana; air matanya menetes satu demi satu.
Tes... tes... tes...
Selama delapan tahun ini ia tidak pernah menangis. Namun, untuk pertama kalinya, pertahanan gadis itu runtuh.
"Ya Tuhan... ujian ini begitu berat. Dan aku... ternyata masih bisa menghirup udara segar..." lirih gadis itu di tengah isakannya yang tertahan.
Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Adira tiba di sebuah mansion megah. Bangunan itu begitu luas, hingga sejauh mata memandang, sulit bagi Adira untuk menerka di mana batas kemewahannya.
"Silakan, Nona," ujar Wira lagi. Ia mempersilakan Adira turun saat melihat tak ada tanda-tanda gadis itu akan beranjak.
Namun bukannya turun, Adira tetap bergeming di dalam mobil, seolah memang tak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan tempat duduknya.
"Nona, tolong jangan persulit saya," kata Wira dengan nada yang lebih tegas.
Adira akhirnya memilih untuk turun karena ia tidak ingin memperumit urusan pria itu.
"Mari lewat sini, Nona," ujar Wira sembari memberikan isyarat sopan. Ia mengajak Adira mengikuti langkahnya melintasi pintu besar yang terbuka lebar menuju bagian dalam mansion.
Sepanjang langkahnya, Adira melewati begitu banyak kemewahan yang menyilaukan mata. Namun, ia memilih untuk tetap menundukkan pandangan; seolah semua kemegahan itu sama sekali tidak berarti baginya.
Mereka berjalan cukup jauh menyusuri koridor panjang hingga tiba di depan sebuah pintu berwarna emas yang tampak jauh lebih megah dari pintu lainnya. Wira menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Adira dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ingat, Nona. Di dalam nanti, saat Tuan mengatakan sesuatu, Anda hanya boleh mengiyakan tanpa membantah. Jika Anda melanggar, Anda sendiri yang akan menanggung akibatnya," pesan Wira dengan nada memperingatkan.
Pria itu kemudian mengetuk pintu kayu yang kokoh tersebut perlahan.
Tok, tok, tok.
"Saya datang, Tuan. Saya sudah membawa Nona Adira sesuai perintah Anda," kata Wira menghadap pintu emas itu, seolah sosok di dalam bisa melihatnya.
Pintu besar itu terbuka perlahan. Adira tampak ragu; kakinya seolah terpaku di lantai, enggan melangkah masuk ke ruangan asing tersebut.
Namun, Wira berbisik pelan, "Silakan masuk, Tuan sudah menunggu Anda di dalam."
Mau tidak mau, dengan perasaan berkecamuk, gadis itu mulai mengayunkan kaki. Ia melangkah perlahan memasuki ruangan luas yang terasa sunyi dan mencekam.
Begitu pintu tertutup rapat, puluhan pelayan yang tersebar di lorong saling melempar pandang. Mereka berbisik dalam diam; mata mereka tak lepas dari daun pintu emas yang baru saja dilewati Adira. Di dalam benak masing-masing tersimpan keterkejutan yang sama: inilah pertama kalinya seseorang diperbolehkan menginjakkan kaki ke dalam kamar pribadi sang Tuan, selain kedua asisten pribadinya.
"Siapa sebenarnya wanita itu?" gumam mereka penuh tanya, mencoba menebak identitas gadis asing yang tampak hancur namun mendapatkan perlakuan luar biasa tersebut.
Di dalam kamar yang luas itu, Adira tak menemukan siapa pun. Ruangan tersebut sepi dan dibalut kegelapan pekat. Gadis itu perlahan melangkahkan kakinya yang rapuh, mendekati jendela yang terbuka lebar di salah satu sudut.
Gadis itu pun melangkah mendekati jendela tersebut.
Sambil berdiri di depan jendela yang menyuguhkan pemandangan luar, ia menutup mata sejenak, berusaha menggali kepingan kenangan yang hilang. Di tengah keheningan itu, wajah kakak perempuannya tiba-tiba terlintas di benak.
Selama aku di penjara, Kakak sama sekali tidak pernah menjengukku. Ayah pun sama. Apakah kalian benar-benar tidak peduli padaku? Apakah aku benar-benar sendirian? Apakah aku memang sudah kalian buang?
Air matanya kembali menetes, hangat di pipinya yang pucat. Namun, lamunan itu seketika buyar saat sebuah suara berat terdengar dari kegelapan."
"Kau tahu apa tujuanmu berada di sini?"
Suara bariton itu terdengar sangat dingin dan seketika mencengkam suasana. Adira langsung berdiri tegak, mengusap cepat air matanya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba mencari sumber suara di tengah kegelapan, namun tak ada seorang pun yang tampak. Meski begitu, ia bisa merasakan kehadiran seseorang yang sedang mengawasinya.
"Jika kedatangan saya ke sini atas jemputan Anda untuk suatu urusan... dan jika Anda berniat menanyakan apakah saya bersedia atau tidak, maka jawaban saya adalah tidak."
Adira berbicara dengan nada tenang namun tegas. Ia menolak mentah-mentah tawaran apa pun yang mungkin diajukan, meskipun ia sama sekali tidak tahu siapa pria yang tengah ia ajak bicara.
"Lebih baik Anda kembalikan saja saya ke penjara. Saya tidak suka berada di sini," lanjutnya, menatap lurus ke arah kegelapan.
Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar berirama, namun sedikit menyeret. Ternyata pria itu berjalan dengan kaki kanan yang tidak seimbang. Begitu ia keluar dari kegelapan dan menampakkan sosoknya, Adira terkejut. Kaki kanan pria itu tampak bermasalah.
Namun, Adira melihat jelas bahwa pria itu memiliki perawakan kekar dengan otot yang tercetak di balik pakaian hitam ketatnya. Ada sesuatu yang terasa ganjil; wajah pria itu tertutup rapat oleh topeng plastik yang menyembunyikan hampir seluruh fitur wajahnya, hanya menyisakan sedikit bagian garis bibir.
Pria itu semakin mengikis jarak. Adira bisa merasakan aura dingin yang memancar—sebuah tatapan yang meski tersembunyi, seolah menyimpan kemarahan dan dendam mendalam.
Namun, Adira tidak merasa takut. Baginya, sosok pria itu bukanlah ancaman berarti dibandingkan penderitaan yang telah ia lalui. Langkah pria itu terus mendesak, membuat Adira terpaksa mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur dinding dingin. Ia terkunci.
Adira hanya diam, menatap tajam ke arah sepasang mata di balik topeng itu, menunggu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.
Apakah dia akan membunuhku? pikir Adira. Jika benar begitu, baginya itu jauh lebih baik. Menumpahkan darah dan mengakhiri hidup terasa lebih masuk akal daripada terus bernapas tanpa tujuan.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang