"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Perempuan Seperti Itu
Cya mendongakkan kepalanya lalu mengelus jidatnya yang barusan disentuh oleh laki-laki di sampingnya.
Eh, makasih, Kak,” ucap Cya sambil tersenyum kikuk.
“Sama-sama.” Lelaki itu tersenyum, lalu mengulurkan tangan. “Gue Brian.”
Cya ikut mengangkat tangannya untuk menyambut. Namun, sebelum tangannya menyentuh tangan Brian, seseorang lebih dulu menahannya.
“Ck… lama.” Rajendra berdecak pelan, jelas tidak suka.
“Pak Rajendra.” Brian tetap tersenyum ramah.
Cya langsung menoleh, kaget. Ia tidak menyangka mereka saling mengenal. Sementara Rajendra hanya membalas dengan anggukan singkat.
“Ya ampun, ini orang kayaknya memang judes dari lahir,” gumam Cya, cukup keras untuk didengar.
“Saya dengar, Cya,” ucap Rajendra dingin tanpa mengalihkan tatapan.
“Oh, jadi nama lo Cya?” tanya Brian santai.
“Iya, Kak. Makasih ya udah nolongin gue tadi,” jawab Cya ramah.
Rahang Rajendra langsung mengeras. Ia tau Brian masih ingin mengajak Cya mengobrol, tapi ia tidak berniat memberi kesempatan. Tanpa aba-aba, ia menarik tangan Cya.
“Ayo pulang.”
“Eh—”
Cya berusaha melepaskan tangannya, tapi genggaman Rajendra terlalu kuat. “Aduh, Om! Lepasin tangan saya! Nggak sopan banget sih main tarik-tarik!” gerutu Cya kesal.
“Apanya yang gak sopan?”
“Ya itu! Harusnya Om gak langsung narik saya. Saya belum pamit sama… orang yang barusan nolongin saya!”
Rajendra langsung berhenti. Ia berbalik, menatap Cya tajam. “Dia bukan teman saya.”
Cya terdiam sesaat.
“Kamu suka sama laki-laki itu?”
Nada suaranya rendah, tapi menekan. Genggamannya bahkan semakin kuat.
“Awh! Om, tangan saya sakit!”
Rajendra melirik tangan Cya. Saat melihat kulitnya mulai memerah, ia langsung melepaskan genggamannya.
Ia menghela napas panjang, berusaha menahan emosi.
“Kamu gak usah genit sama cowok lain. Kamu itu sudah mau menikah,” ucapnya lebih pelan, tapi tetap tegas.
Cya memutar bola mata, jengah. “Jangan ngomong yang macam-macam deh, Om. Saya gak genit.”
Rajendra diam.
“Lagi pula…” Cya melanjutkan dengan nada lebih pelan, tapi menusuk, “saya juga cuma terpaksa menikah sama Om.”
Kalimat itu langsung memancing emosi Rajendra lagi.
“Kamu pikir saya tidak terpaksa?”
Cya langsung menatapnya. “Kalau memang Om terpaksa, kenapa gak bilang aja ke orang tua Om? Mereka gak sekeras orang tua saya, kan? Om juga gak diancam seperti saya.”
Ucapan itu membuat Rajendra terdiam.
Untuk sesaat, tidak ada suara di antara mereka.
Apa yang dikatakan Cya memang benar. Orang tuanya tidak pernah benar-benar memaksanya. Tapi… sejak pertama kali melihat Cya, entah kenapa ia tidak ingin menolak perjodohan tersebut.
Ia sendiri tidak mengerti alasannya.
“Kita pulang sekarang.”
Bukannya menjawab, Rajendra malah kembali berjalan.
Cya langsung mengepalkan kedua tangannya di udara, seolah ingin memukul punggung lelaki itu.
“Nyebelin banget sih!” gerutunya.
Tapi pada akhirnya, ia tetap mengikuti langkah Rajendra menuju mobil.
Mau tidak mau Cya terpaksa mengekori langkah Rajendra ke mobil laki-laki itu daripada nantinya ia ditinggal.
***
Begitu Rajendra menghentikan mobilnya, Cya langsung celingak-celinguk ke kanan dan kiri.
“Loh, kok berhenti di sini, Om? Ini kan bukan rumah saya,” protesnya.
“Cepat turun!”
Bukannya menjelaskan, Rajendra justru menyuruhnya turun.
Cya menyipitkan mata curiga. “Om mau jual saya di sini, ya?”
“Jangan mengada-ngada.” Rajendra menyentil kening Cya lagi.
“Duh!” Cya mengelus keningnya sambil mengerucutkan bibir. Dalam hati ia menggerutu—laki-laki ini memang ringan tangan. Entah sudah berapa kali keningnya jadi korban.
“Terus kalau saya gak dijual, saya mau diapain? Ini kan bukan rumah saya,” lanjutnya.
“Bawel banget.”
Rajendra keluar dari mobil, lalu berputar membukakan pintu untuk Cya.
“Turun.”
“Gak mau, saya takut.”
“Mau turun sendiri atau saya gendong seperti tadi?”
“Iya, iya! Saya turun!”
Tanpa banyak drama lagi, Cya langsung turun sendiri.
Begitu kakinya menapak tanah, Rajendra langsung menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam bangunan mewah di hadapan mereka.
“Ini rumah siapa sih?” tanya Cya sambil setengah berlari kecil mengikuti langkah panjang Rajendra.
“Rumah orang tua saya.” Akhirnya Rajendra menjawab.
Cya langsung melotot. “Kok saya dibawa ke sini? Kan kita belum nikah, Om! Masa sudah diajak tinggal bareng? Jangan bilang Om mau ngajak saya tidur bareng kayak di novel atau film—”
Tak!
Sentilan mendarat lagi di keningnya. “Otak kamu ternyata ngeres juga, ya.”
“Bukan ngeres, Om. Ini namanya waspada,” balas Cya penuh penekanan.
Rajendra menghela napas. “Mama saya yang nyuruh saya bawa kamu ke sini. Dia mau ngajak kamu makan malam.”
Cya mengerjap. “Loh, ini kan masih siang…”
“Bukan sekarang. Nanti malam.”
“Oh…”
Tak terasa, mereka sudah sampai di depan pintu. Rajendra langsung mendorong pintu tanpa mengetuk.
Begitu Cya melihat ke dalam, matanya langsung membesar.
Interior rumah itu tak kalah mewah dari luarnya—bahkan mungkin lebih. Lampu kristal menggantung elegan, perabotannya terlihat mahal, dan semuanya tertata rapi.
“Eh, Cya… kamu sudah datang, Nak.”
Belum sempat ia puas mengagumi, seorang wanita paruh baya datang dan langsung memeluknya hangat.
“Sudah, Tante,” jawab Cya agak kaget tapi ikut tersenyum.
“Selamat datang di rumah Tante, sayang.”
“Iya, Tante. Terima kasih.”
Cya langsung merasa lebih tenang. Setidaknya benar—ini memang rumah orang tua Rajendra.
“Oh iya, Tante. Boleh Cya tanya sesuatu?”
“Tanya saja, sayang.”
Cya sedikit mendekat, menatap wajah Bu Kiran dengan serius. “Waktu pertama kali Cya lihat Tante di rumah Papi… Cya merasa seperti pernah lihat Tante sebelumnya. Kita pernah ketemu ya?”
Bu Kiran tersenyum lembut. Tangannya naik, mengusap rambut Cya penuh kasih. “Kamu benar, sayang.”
Cya langsung berbinar. “Kapan ya, Tante? Kok aku gak ingat?”
“Tante ini sahabat lama mami kamu. Tapi sudah lama sekali tidak bertemu. Kita baru bertemu lagi waktu kamu umur sepuluh tahun.”
Cya mengernyit, mencoba mengingat.
“Itu pun tidak sengaja,” lanjut Bu Kiran. “Waktu itu kamu menolong Tante yang hampir tertabrak motor.”
Cya terdiam, berusaha keras mengingat. Namun bayangan itu tetap samar.
“Ah… pasti kamu sudah lupa,” ucap Bu Kiran lembut.
Cya nyengir canggung. “Hehe… iya, Tante. Maaf.”
“Tidak apa-apa, Nak.”
Sementara itu, Rajendra yang berdiri tak jauh dari mereka hanya diam memperhatikan.
Kini semuanya terasa masuk akal.
Dulu, ia heran kenapa mamanya begitu lama merestui hubungannya dengan Aurel. Selain alasan tidak menyukai Aurel ternyata karena alasan lain juga.
Ternyata sejak awal—mamanya sudah punya pilihan sendiri.
Dan pilihan itu… adalah Cya.
“Kamu pasti capek. Istirahat saja dulu di kamar tamu, ya. Tante mau bantuin bibik masak,” ucap Bu Kiran lembut.
Lalu ia menoleh ke arah putranya. “Jendra, kamu antar Cya ke kamar tamu.”
“Gak usah, Tante. Aku bantuin Tante aja,” sahut Cya cepat, refleks.
“Jangan dong, sayang. Kalau gak mau tidur, kamu ngobrol saja sama Rajendra di ruang tamu,” balas Bu Kiran sambil tersenyum hangat.
Tentu saja, mana mungkin ia membiarkan calon menantunya ikut ke dapur di kunjungan pertama.
Cya langsung terdiam.
Ngobrol… sama Rajendra?
Ia melirik ke arah lelaki itu. Rajendra berdiri santai dengan ekspresi datarnya yang khas, seolah tidak terlalu peduli dengan situasi.
“Yaudah…,” gumam Cya pelan.
Bu Kiran tersenyum puas, lalu pergi menuju dapur, meninggalkan mereka berdua.
Dan…
hening.
Cya berdiri kikuk. Rajendra diam.
Suasana tiba-tiba terasa canggung.
“Jadi…” Cya membuka suara, mencoba mencairkan suasana. “Mau ngobrol apa, Om?”
Rajendra menatapnya sekilas, lalu berjalan ke arah sofa tanpa menjawab. Ia duduk santai, menyandarkan punggungnya.
Cya mendengus pelan.
Dih, nyebelin banget.
Dengan langkah malas, ia ikut duduk di ujung sofa, memberi jarak cukup jauh dari Rajendra.
Beberapa detik berlalu…
Sunyi lagi.
Cya mulai gelisah. Ia memainkan ujung bajunya, lalu melirik diam-diam ke arah Rajendra.
“Om…”
“Hmm?”
“Om itu emang dari lahir pendiam, atau lagi irit ngomong aja?”
Rajendra menoleh, menatapnya datar. “Saya bicara kalau perlu.”
“Berarti saya gak penting dong?” celetuk Cya spontan.
Rajendra menghela napas pelan. “Kamu banyak bicara. Itu sudah cukup untuk dua orang.”
Cya langsung melotot. “Ih! Maksudnya saya cerewet gitu?”
Rajendra tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya… sedikit terangkat.
Dan itu tidak luput dari perhatian Cya.
Cya langsung menyipitkan mata.
“Om…”
“Apa lagi?”
“Barusan Om senyum, ya?”
“Tidak.”
“Boong.”
“Tidak.”
Cya maju sedikit, memperhatikan wajah Rajendra lebih dekat.
Rajendra refleks menahan napas sesaat.
“Om ini sebenarnya bisa senyum, kan?”
“Cya…” nada suara Rajendra berubah, sedikit rendah.
“Iya?”
“Menjauh.”
Cya malah semakin mendekat, sengaja mengganggu. “Nggak mau.”
Rajendra berpindah tempat, duduk sedikit menjauh lalu sibuk dengan ponselnya.
Cya mengerucutkan bibir.
Ia merasa… diabaikan.
“Om…” panggilnya lagi.
“Hmm…” sahut Rajendra tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
“Mau nanya dong.”
“Nanya apa?”
Cya ragu sebentar, tapi rasa penasarannya lebih besar. “Kenapa Om bisa bercerai sama istri Om? Istri pertama Om selingkuh ya?”
Suasana yang tadinya hening… langsung berubah. “Jaga ucapan kamu, Cya!” Suara Rajendra meninggi. “Aurel bukan perempuan seperti itu.”
Cya terdiam.
Ia benar-benar tidak menyangka akan dibentak seperti itu.
Dadanya terasa sedikit sesak, bukan karena takut—tapi lebih ke arah kaget dan… tersinggung.
“Aku cuma nanya baik-baik, Om…” ucapnya pelan.
Rajendra tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di atas ponsel.
Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Cya di ruang tamu.
apa Bela itu sebenarnya Aurel