NovelToon NovelToon
Aku Istri Kedua Yang Dibuang… 3 Tahun Kemudian, Mereka Berlutut Di Hadapanku

Aku Istri Kedua Yang Dibuang… 3 Tahun Kemudian, Mereka Berlutut Di Hadapanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Dibuang. Dihina. Dilupakan.
Sebagai istri kedua, aku tak pernah lebih dari bayangan—alat politik yang bisa disingkirkan kapan saja.
Saat mereka mengusirku dalam keadaan hancur, tidak ada satu pun yang tahu… aku membawa sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Tiga tahun berlalu.
Aku kembali—bukan sebagai wanita yang sama.
Bukan sebagai istri yang menangis memohon.
Tapi sebagai ratu yang bahkan takdir pun tak berani sentuh.
Sekarang, satu per satu mereka datang…
dengan lutut menyentuh tanah.
Memohon ampun.
Sayangnya…
aku sudah lupa bagaimana cara memaafkan
Mengingat alur cerita yang dramatis, saya telah membuat sampul yang menonjolkan elemen pemberdayaan, transformasi, dan pembalasan. Anda akan melihat visual yang menunjukkan perubahan drastis pada protagonis, dari sosok yang teraniaya menjadi wanita yang kuat dan mandiri, serta momen emosional saat karakter lain 'berlutut' di hadapannya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YANG TERSISA

Udara berhenti.

Bukan bergerak lambat.

Tapi… benar-benar berhenti.

Seolah dunia itu sendiri—

menunggu.

Di tengah kehancuran—

Reina berdiri.

Tangannya terangkat.

Sedikit saja lagi—

dan semuanya akan berakhir.

Pemimpin Unit ke-7 tidak bergerak.

Tidak mundur.

Tidak menghindar.

Dia hanya berdiri.

Menatap Reina.

Tanpa takut.

“…lakukan.”

Satu kata.

Sunyi.

Darven, yang masih terjatuh di kejauhan—

membeku.

Apa?

Dia tidak mencoba bertahan.

Tidak mencoba melawan.

Dia… menerima?

Reina memiringkan kepala sedikit.

Tatapannya dalam.

“Menerima kematian?”

Wanita itu tersenyum tipis.

“Tidak.”

Jawaban itu datang tenang.

“Aku menerima… hasilnya.”

Sunyi.

Dan untuk pertama kalinya—

Reina berhenti.

Bukan karena ragu.

Tapi karena…

tertarik.

“Kalau kau mati di sini…”

Reina berbicara pelan.

“…semuanya selesai.”

“Tidak.”

Jawaban itu langsung.

“Kalau aku mati di sini…”

Dia menatap langsung ke mata Reina.

“…mereka akan datang.”

Udara berubah sedikit.

“Lebih banyak.”

Senyumnya tipis.

“Lebih kuat.”

Sunyi.

Dan di detik itu—

Reina memahami sesuatu.

Ini bukan ujung.

Ini… pembuka.

Kalau dia membunuh wanita ini—

dunia luar tidak akan diam.

Mereka akan mengirim lebih banyak.

Lebih besar.

Lebih brutal.

Dan itu—

bukan ancaman.

Itu fakta.

Reina menurunkan tangannya perlahan.

Tekanan itu tidak hilang.

Tapi tidak lagi mematikan.

Pemimpin Unit ke-7 memperhatikannya.

“…kau memilih.”

Reina tidak menjawab.

Karena ini bukan pilihan.

Ini… strategi.

“Pergi.”

Satu kata.

Udara kembali bergerak.

Tekanan menurun.

Anggota Unit ke-7 yang tersisa langsung terengah.

Beberapa jatuh.

Beberapa bahkan tidak bisa berdiri.

Pemimpin mereka tetap diam.

Beberapa detik.

Seolah memastikan sesuatu.

Lalu—

dia mengangguk kecil.

“Dimengerti.”

Dia berbalik.

“Tarik mundur.”

Perintah itu keluar.

Tanpa emosi.

Timnya tidak bertanya.

Tidak ragu.

Mereka bergerak.

Pelan.

Tertatih.

Tapi hidup.

Mereka meninggalkan wilayah itu.

Tanpa menoleh.

Tanpa mencoba lagi.

Beberapa saat kemudian—

hutan kembali sunyi.

Tapi tidak sama.

Karena sekarang—

sesuatu telah berubah.

Darven masih tergeletak.

Tubuhnya penuh luka.

Napasnya berat.

Tapi dia hidup.

Dengan susah payah—

dia bangkit.

Langkahnya goyah.

Tapi matanya—

tetap tertuju pada Reina.

“Kenapa…”

Suaranya serak.

“…kau biarkan mereka pergi?”

Sunyi.

Reina berdiri di tengah domainnya.

Tidak menoleh.

“Karena mereka akan kembali.”

Jawaban itu sederhana.

Tapi berat.

Darven menggertakkan gigi.

“Itu berbahaya.”

Reina akhirnya menoleh.

Tatapannya dingin.

“Aku tahu.”

Sunyi.

“Kalau mereka kembali…”

Darven menelan ludah.

“…mereka akan lebih siap.”

Reina menatapnya beberapa detik.

Lalu—

senyum kecil muncul.

“Bagus.”

Satu kata.

Dan di detik itu—

Darven mengerti.

Ini bukan sesuatu yang dia hindari.

Ini sesuatu yang dia tunggu.

Reina melangkah kembali ke tengah.

Domain itu perlahan mereda.

Tidak sepenuhnya hilang.

Tapi kembali… stabil.

Lebih kuat dari sebelumnya.

Lebih dalam.

Seolah setelah pertempuran itu—

ia telah “belajar”.

Reina menutup mata sejenak.

Dan untuk pertama kalinya—

sebuah gambaran muncul.

Bukan dari hutan.

Bukan dari wilayahnya.

Tapi…

dari masa lalu.

Sebuah gerbang besar.

Dinding tinggi.

Suara tawa.

Dan satu kalimat—

yang tidak pernah hilang.

“Kau tidak dibutuhkan di keluarga ini.”

Mata Reina terbuka.

Tatapannya berubah.

Lebih dingin.

Lebih tajam.

“…aku akan kembali.”

Bisikan itu hampir tidak terdengar.

Tapi cukup.

Darven yang berdiri tidak jauh—

merasakan sesuatu di tulang belakangnya.

Bukan tekanan.

Bukan ketakutan.

Tapi…

arah.

Untuk pertama kalinya—

dia melihat tujuan Reina.

Dan itu—

bukan sekadar bertahan hidup.

Itu…

balas dendam.

Di tempat yang jauh—

pemimpin Unit ke-7 berhenti.

Dia menoleh ke belakang.

Ke arah hutan.

Matanya tenang.

“…laporkan.”

Suaranya pelan.

“Target tidak bisa dieliminasi.”

Sunyi.

“…naikkan level ancaman.”

Dia berhenti sejenak.

Lalu—

senyum tipis muncul.

“…dan siapkan yang lain.”

Dunia luar bergerak.

Dan di tengah semua itu—

Reina berdiri.

Sebagai pusat badai yang baru saja dimulai.

1
Rosma mossely
Bagus.
Tetap semangat berkarya Thor
Elvandem Putra: terima kasih kak
total 2 replies
Rosma mossely
Awal yang menarik.
Semangat berkarya Thor.
Elvandem Putra: @rosma mossely

terima kasih kak.
Dukunganmu Semangatku💪😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!