NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Kamar Angga

Malam itu. Rumah mereka.

Hujan tidak turun. Langit di luar gelap tanpa bintang, hanya angin malam yang sesekali masuk melalui celah jendela, menggerakkan tirai tipis. Tapi di dalam ruang tengah, kehangatan menyelimuti setiap sudut.

Televisi menyala dengan volume kecil. Sebuah film komedi romantis sedang diputar. Adea yang memilih karena katanya "butuh tontonan ringan setelah seminggu penuh tekanan." Tapi matanya tidak benar-benar fokus ke layar. Sesekali ia tertawa, sesekali ia berkomentar, tapi sebagian besar waktunya ia habiskan dengan bersandar.

Bersandar di dada Angga.

Sofa ruang tengah yang biasa mereka berdua gunakan kini terasa lebih sempit, atau mungkin terasa lebih pas. Adea duduk di antara kedua kaki Angga yang diluruskan di sofa, punggungnya menempel di dada bidang pria itu. Selimut tebal menutupi mereka berdua, dan di pangkuan Adea, Cumi meringkuk seperti bola abu-abu, mendengkur pelan setiap kali jari-jari mungil Adea mengelus bulu tebalnya.

Angga duduk di belakangnya, satu tangan bertumpu pada sandaran sofa di samping kepala Adea, tangan lainnya sibuk mengelus surai gadis itu. Rambut panjang yang terurai bebas, kadang ia sela-sela jarinya di antaranya, kadang ia memainkan ujung rambut yang menyentuh bahu.

Mereka tidak bicara.

Hanya ada suara televisi, dengkur Cumi, dan napas mereka yang berirama.

Tapi di dalam keheningan itu, ada percakapan yang tidak diucapkan. Ada desahan kecil ketika tangan Angga tanpa sengaja menyentuh leher Adea. Ada getaran ketika Adea menggeser tubuhnya sedikit agar lebih nyaman di dada Angga.

Cumi yang ada di pangkuan Adea mulai gelisah. Kucing itu mengangkat kepala, menatap kedua majikannya bergantian, lalu melompat turun dari sofa dan berlari ke lorong.

Mungkin Cumi tahu. Mungkin kucing itu merasa bahwa sebentar lagi ia tidak akan nyaman berada di ruangan yang sama dengan dua manusia yang sedang tenggelam dalam perasaan masing-masing.

Adea mendongak.

Perlahan.

Dagunya bersandar di dada Angga, tepat di tengah tulang dada pria itu. Wajahnya menghadap ke atas, menatap Angga dari jarak sangat dekat.

Matanya berbinar di bawah lampu ruang tamu yang redup.

Bibirnya manyun menggemaskan. Satu ekspresi yang sudah ia kuasai sejak kecil, ekspresi yang selalu membuat Angga luluh. Tapi malam ini, ekspresi itu tidak membuat Angga luluh.

Itu membuatnya lapar.

Angga tersenyum.

Bukan senyum biasa. Senyum gelap. Senyum yang tidak pernah Adea lihat sebelumnya. Matanya menyipit, bibirnya melengkung tipis ke satu sisi, dan ada sesuatu di balik senyum itu.

Sesuatu yang membuat Adea tiba-tiba sadar bahwa ia sedang berada dalam bahaya yang sangat menyenangkan.

"Angga... lo kenapa senyum gitu?" bisik Adea.

"Gak kenapa-kenapa."

"Seram."

"Iya."

Angga mendekatkan wajahnya.

Perlahan.

Sengaja dibuat lambat.

Adea melihat bibir tebal itu mendekat. Ia merasa jantungnya berhenti sejenak, lalu berdetak kencang tidak karuan. Tanpa berpikir, ia menghindar sedikit menoleh ke samping, cukup untuk membuat bibir Angga tidak mendarat di bibirnya.

Tapi Angga lebih cepat.

Tangannya yang sedari tadi mengelus rambut Adea kini turun ke tengkuk. Jari-jarinya yang besar dan kasar menggenggam leher belakang gadis itu, bukan menekan, tapi menahan. Memastikan Adea tidak bisa menghindar lagi.

Dan Angga tidak mencium bibir Adea.

Ia melumat pipi chubby gadis itu.

Bibir tebalnya menempel di pipi kanan Adea, menggigitnya dengan gemas, tidak keras sampai sakit, tapi cukup untuk membuat Adea merasakan tekanan gigi di kulit pipinya yang lembut.

"Adegh!" suara Adea terbata karena pipinya sedang dikunyah.

Angga melepaskan gigitannya, tapi bibirnya masih menempel di pipi Adea. Ia mengecupnya sekali. Dua kali. Tiga kali.

Adea meringis bukan karena sakit, tapi karena geli. Tangannya naik mencoba mendorong dada Angga, tapi pria itu tidak bergeming. Tubuhnya kekar, tangannya yang memegang tengkuk Adea kokoh, dan Adea yang kecil tidak punya kekuatan untuk melepaskan diri.

Atau mungkin tidak benar-benar ingin melepaskan diri.

"Angga! Sakit tau!" protes Adea setelah Angga akhirnya melepaskan pipinya.

"Gak sakit."

"Sakit!"

"Bohong."

Adea ingin mengomel lebih panjang. Bibirnya sudah terbuka, kata-kata sudah siap di lidah. Tapi tidak ada suara yang keluar.

Karena bibir Angga sudah mendarat di bibirnya.

Bukan ciuman kasar seperti sebelumnya. Bukan ciuman penuh nafsu yang membuat mereka kehabisan napas.

Ciuman ini lembut.

Bibir tebal Angga menyentuh bibir mungil Adea seperti sayap kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga. Gerakannya pelan, eksploratif, seolah ia sedang belajar lagi tentang bentuk bibir gadis ini, tentang kelembutannya, tentang rasa manis alami yang tidak pernah ia temukan di tempat lain.

Adea tidak bisa berkata-kata.

Matanya terpejam setengah. Tangannya yang semula mencoba mendorong Angga kini menggenggam kerah kemeja pria itu, menariknya agar lebih dekat.

Angga bergerak.

Tangannya yang memegang tengkuk Adea menarik sedikit ke belakang, mengubah sudut ciuman mereka. Bibirnya membuka sedikit, lidahnya menyentuh bibir bawah Adea, meminta. Dan Adea memberikannya.

Ciuman itu berubah menjadi lebih dalam. Lebih basah. Lebih panas.

Angga menarik tubuh Adea.

Gadis itu ia tarik ke atas. Bukan sekadar mendekat, tapi benar-benar ia angkat hingga Adea kini duduk di pangkuannya, menghadapnya, kedua lutut di sisi paha Angga. Rok tipis Adea naik sedikit, tapi tidak ada yang peduli.

Adea memeluk leher Angga. Jari-jarinya bermain-main di rambut pria itu yang sedikit panjang di bagian belakang. Kadang ia menariknya pelan, kadang ia mengelusnya lembut, seolah ia sedang memainkan alat musik yang hanya ia yang tahu nadanya.

Cumi sudah lama menghilang ke lorong. Kucing itu tidak ingin menjadi saksi.

Suasana memanas.

Angga menekan tubuh Adea semakin menempel padanya. Tidak ada jarak di antara mereka, hanya kain tipis yang memisahkan dada Adea dari dada bidang Angga. Dan Angga bisa merasakan semuanya. Setiap lekuk. Setiap tonjolan. Setiap desahan kecil yang keluar dari bibir gadis itu di sela-sela ciuman.

Adea melepaskan ciuman itu lebih dulu.

Napasnya pendek. Dadanya naik turun. Bibirnya basah dan sedikit bengkak, lebih merah dari biasanya. Matanya sayu, seperti orang yang baru bangun dari mimpi indah.

Dagu Adea masih basah. Ada jejak benang-benang saliva yang menghubungkan bibir bawahnya dengan bibir atas Angga. Tipis. Transparan. Dan begitu intim.

Angga tidak bergerak.

Ia menatap benang itu, lalu menatap mata Adea. Matanya gelap. Gelap yang sama seperti beberapa malam lalu. Gelap yang membuat Adea mengerti bahwa pria ini sedang menahan sesuatu yang sangat besar.

Tapi tidak malam ini.

Angga meraih remote dari samping sofa. Matanya tidak lepas dari Adea. Ia menekan tombol merah dan televisi-pun mati. Ruangan menjadi lebih sunyi, hanya suara napas mereka berdua dan detak jantung yang saling beradu.

"Dea," bisik Angga. Suaranya serak.

"Hm."

"Mau ke kamar?"

Adea menggigit bibir bawahnya. Bibir yang sudah bengkak itu ia gigit lagi, membuatnya semakin merah.

"Iya."

Angga tidak menunggu lebih lama.

Ia mengangkat Adea dengan satu tangan di punggung, satu tangan di bawah paha, dan berdiri dari sofa. Gadis itu melingkarkan kaki mungilnya di pinggang Angga, tangannya di leher pria itu, wajahnya mengubur di leher Angga.

Mereka melewati lorong sempit.

Melewati pintu kamar Adea yang sedikit terbuka, seperti biasa.

Melewati pintu kamar mandi.

Dan berhenti di depan pintu kamar Angga.

Pintu itu tertutup. Tidak seperti pintu kamar Adea yang selalu sedikit terbuka. Pintu kamar Angga selalu tertutup rapat. Kecuali ketika ia tidur, dan itupun hanya celah kecil.

Angga membuka pintu dengan satu tangan, masih menggendong Adea dengan tangan lainnya. Pintu terbuka. Gelap di dalam, hanya cahaya dari lorong yang masuk, menerangi tepi kasur.

Angga masuk.

Ia menutup pintu di belakang mereka dengan kaki.

Terkunci.

Bukan terkunci dari dalam seperti pintu kamar Adea dulu. Tapi tertutup rapat. Tidak ada celah.

Mereka berdua di dalam. Di kamar Angga. Di ruang yang paling pribadi milik pria itu. Ruang yang selama ini Adea jarang masuki, bukan karena dilarang, tapi karena Adea tidak pernah meminta.

Angga berjalan ke kasur. Kasurnya lebih sederhana dari kasur Adea. Seprei abu-abu polos, satu bantal, selimut tipis yang terlipat rapi di ujung. Tidak ada boneka. Tidak ada bantal lucu. Hanya satu bantal.

Karena selama ini, Angga tidur sendirian.

Tapi malam ini, ia tidak sendirian.

Angga meletakkan Adea di atas kasur.

Perlahan.

Seperti meletakkan sesuatu yang sangat rapuh.

Adea merebahkan diri di atas sprei abu-abu itu. Rambutnya yang panjang terurai di atas bantal. Bantal Angga. Wangi sampo nya bercampur dengan wangi sabun Angga yang masih tersisa di sarung bantal.

Gadis itu menatap Angga yang masih berdiri di tepi kasur, menatapnya dengan mata gelap yang sama.

"Angga."

"Hmm."

"Kamar lo... beda ya."

"Beda gimana?"

"Lebih... sepi. Lebih... laki-laki."

"Emang gue laki-laki."

"Gue tahu."

Adea tersenyum. Ia merentangkan tangannya seperti pagi hari di dapur, seperti malam ketika ia minta digendong.

"Peluk."

Angga tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia membungkuk. Tubuhnya yang besar turun ke atas kasur, di samping Adea. Satu tangannya menyusup di bawah leher gadis itu, menjadi bantal. Tangan lainnya melingkar di pinggang Adea, menariknya mendekat.

Adea memeluknya balik. Wajahnya mengubur di dada Angga. Kakinya yang dingin menyelip di sela-sela kaki Angga, dan pria itu tidak protes, ia hanya menarik selimut tipis di ujung kasur dan menyelimuti mereka berdua.

"Angga."

"Hmm."

"Gue mau cerita sesuatu."

"Cerita apa?"

"Mimpiku tadi malam."

Angga diam. Ia menunggu.

"Gue mimpi kita nikah," bisik Adea. Suaranya kecil, hampir tidak terdengar. "Di gereja. Lo pake jas hitam. Gue pake gaun putih. Cumi jadi kucing pembawa cincin."

Angga tidak bisa menahan senyumnya.

"Terus?"

"Terus... kita ciuman di depan altar. Dan semua orang tepuk tangan. Bibi Era nangis. Seoul Lee datang dari Korea bawa oleh-oleh. Dan Eli jadi saksi."

"Kedokterannya gimana? Lo kan masih kuliah."

"Ya itu mimpi. Di mimpi, gue udah lulus."

Angga tertawa kecil. Suaranya bergetar di dada, dan Adea merasakannya, getaran itu menjalar dari dada Angga ke pipinya.

"Dea."

"Hm."

"Lo yakin mimpi itu?"

"Yakin. Kenapa?"

Angga menarik sedikit tubuh Adea hingga gadis itu mendongak. Matanya bertemu dengan mata Angga yang gelap, lembut, dan penuh dengan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Karena gue juga pernah mimpi yang sama," bisik Angga. "Tapi gue gak berani cerita."

Adea terdiam.

Matanya berkaca-kaca.

"Kenapa gak berani?"

"Karena takut mimpi itu gak jadi nyata."

"Dan sekarang?"

Angga mengecup dahi Adea. Lama. Lembut.

"Sekarang... gue mulai percaya."

Mereka berdua diam. Hanya ada suara napas yang saling beradu, detak jantung yang semakin seirama, dan hangatnya tubuh yang saling merangkul di bawah selimut tipis.

Cumi di luar kamar mengeong pelan, mungkin meminta masuk, mungkin hanya memastikan kedua majikannya baik-baik saja. Tapi tidak ada yang membukakan pintu.

Malam ini, pintu kamar Angga tertutup rapat.

Untuk pertama kalinya, pria itu tidak ingin diganggu.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!