NovelToon NovelToon
GOMA: THE REBORN

GOMA: THE REBORN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Action
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu Redupnya Cahaya Ungu

Episode 24

Aku melangkah dengan sangat teratur menyusuri koridor koridor panjang yang dipenuhi oleh ukiran tulang naga yang tampak sangat angkuh di setiap dindingnya. Di tanganku nampan perak yang sekarang sudah kosong itu terasa sedikit bergetar bukan karena tanganku lemah namun karena adanya sisa energi dari botol botol esensi yang tadi sempat ku taruh di sana. Aku menundukkan kepalaku dalam dalam saat berpapasan dengan rombongan prajurit Silent Watchers yang sedang melakukan pergantian jaga. Suara dentingan zirah mereka yang terbuat dari logam hitam terdengar sangat berat dan berirama seolah olah detak jantung besi yang sedang berpatroli di jantung kekuasaan Lord Valos.

Dug... dug... dug...

Jantung esensi ku sendiri berdenyut dengan frekuensi yang sangat rendah sesuai dengan instruksi sistem agar keberadaan ku tetap tidak menonjol di antara ribuan pelayan lainnya. Aku merasakan bagaimana otot otot punggungku yang sudah dilapisi kulit metalik bergerak dengan sangat fleksibel di balik jubah abu abu pelayan ini. Sebagai seorang pendaki aku tahu bahwa momen paling berbahaya bukanlah saat kau sedang memanjat tebing yang curam namun saat kau sedang berada di tengah tengah wilayah musuh yang tampak tenang. Ketenangan adalah ilusi yang paling sering menelan nyawa pendaki yang ceroboh.

"Goma kau melakukannya dengan sangat baik tadi. Aku benar benar hampir pingsan karena takut saat melihat mata hitam Lord Valos itu menatap ke arah kita. Rasanya seolah olah jiwaku sedang ditarik paksa keluar dari saku jubahmu," bisik Kharis dengan nada suara yang masih sedikit bergetar.

Aku tidak menjawab secara lisan. Aku hanya memberikan sinyal melalui denyut energi jiwa yang sangat halus untuk menenangkan roh kecil itu. Aku sampai di area dapur istana yang masih sangat sibuk. Bau daging iblis yang sedang dibakar dengan api esensi tercium sangat kuat mengisi seluruh ruangan yang luas itu. Aku meletakkan nampan perak di atas tumpukan alat makan yang kotor kemudian berjalan keluar melalui pintu samping yang menuju ke arah asrama pelayan.

[ SISTEM: PEMINDAIAN INTERNAL SELESAI ]

[ SISTEM: CADANGAN ENERGI ESENSI: 80 % ]

[ SISTEM: INTEGRITAS KULIT METALIK: PRIMA ]

[ SISTEM: STATUS TUBUH: SIAP UNTUK OPERASI PENYUSUPAN MALAM HARI ]

Aku menemukan sebuah sudut yang sangat gelap di dekat gudang penyimpanan air esensi. Tempat ini sangat sunyi serta tertutup oleh bayangan pilar tulang yang besar sangat cocok untuk menunggu hingga siklus energi kota ini berada di titik terendah. Aku duduk bersila di atas lantai batu yang dingin membiarkan punggungku bersandar pada permukaan kalsium yang kasar. Aku memejamkan mata kuning keemasan ku mencoba masuk ke dalam mode meditasi untuk mengumpulkan fokus jiwaku.

Ibu Widya sebentar lagi aku akan memegang peta itu. Aku bisa merasakan bahwa takdir sedang memberikan celah kecil bagiku untuk merangkak naik. Aku tidak akan membiarkan kesempatan ini hilang begitu saja meskipun aku harus berhadapan dengan kucing api atau Lord Valos sekali lagi.

Waktu di Gehenna tidak dihitung berdasarkan rotasi matahari namun berdasarkan fluktuasi energi dari inti bumi neraka. Cahaya ungu dari lampu lampu kristal di koridor mulai meredup secara perlahan lahan menandakan bahwa sebagian besar penghuni istana akan segera memasuki masa istirahat jiwa. Aku bisa merasakan suhu udara di sekitarku turun beberapa derajat menjadi sangat dingin dan menusuk. Ini adalah saat yang paling ideal bagi mahluk sepertiku yang sudah memiliki kulit metalik yang tahan terhadap suhu ekstrem.

"Kharis beritahu aku tentang mahluk kucing api itu sekali lagi. Aku butuh detail tentang bagaimana ia mendeteksi penyusup," perintahku melalui transmisi batin yang sangat jernih.

Kharis keluar sedikit dari balik kerah jubahku kemudian duduk di atas lututku. "Namanya adalah Ember Stalker Goma. Ia bukan mahluk hidup biasa melainkan entitas yang lahir dari api esensi murni. Ia tidak melihat dengan mata fisik namun ia melihat dengan mendeteksi perubahan suhu energi di sekitarnya. Jika kau bergerak terlalu cepat atau jika emosimu meluap maka suhu tubuhmu akan naik serta ia akan langsung menyerang dengan ekor kalajengkingnya yang beracun."

Deteksi suhu energi. Itu artinya jubah isolasi ku harus bekerja secara maksimal malam ini. Aku juga harus menjaga agar otot ototku tidak menghasilkan panas berlebih saat aku melakukan manuver pendakian di dalam ruangan itu nanti.

Aku mulai melakukan simulasi gerakan di dalam kepalaku. Aku membayangkan kembali letak rak buku nomor tiga ketinggiannya serta jaraknya dari meja kerja Lord Valos. Aku harus merayap melalui langit langit ruangan yang gelap memanfaatkan celah celah pada ukiran tulang untuk menggantungkan tubuhku. Aku tidak boleh menyentuh lantai sedikit pun karena lantai di ruang belajar itu dilapisi oleh sensor tekanan jiwa yang sangat sensitif.

"Aku akan menggunakan teknik pendakian horizontal di langit langit Kharis. Aku akan tetap berada di dalam area bayangan yang paling pekat. Kau harus memantau pergerakan Lord Valos di tempat tidur esensinya yang ada di balik tirai itu."

"Aku akan melakukannya Goma. Aku akan menjadi matamu di dalam kegelapan. Tapi berjanjilah padaku jika keadaan menjadi tidak terkendali kau harus segera lari melalui jendela besar itu dan jangan memikirkan aku," ucap Kharis dengan nada yang sangat tulus.

Aku membuka mataku menatap roh kecil itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Kita masuk bersama serta kita akan keluar bersama Kharis. Tidak ada pendaki yang meninggalkan rekannya di tengah badai."

Mendengar ucapanku Kharis tampak sedikit terharu. Ia kembali masuk ke dalam jubahku bersiap untuk misi yang akan menentukan masa depan kami. Aku berdiri perlahan lahan kemudian melakukan peregangan pada seluruh sendi tubuhku. Suara krak krak kecil terdengar dari tulang belulangku yang kini sudah sangat padat berisi. Aku merasa sangat ringan namun sekaligus sangat kuat.

[ SISTEM: MENDETEKSI PENURUNAN ENERGI LINGKUNGAN SEBESAR 60 % ]

[ SISTEM: MODE SILUMAN DAPAT DIAKTIFKAN SEKARANG ]

[ SISTEM: GUNAKAN KEMAMPUAN SHADOW VEIL SAAT MELEWATI PERSIMPANGAN UTAMA ]

Aku menarik tudung jubah pelayanku kemudian mulai berjalan keluar dari gudang. Suasana istana sekarang sudah sangat sepi. Hanya ada suara dengkuran beberapa pelayan di kejauhan serta suara langkah kaki penjaga yang jumlahnya jauh lebih sedikit daripada saat siang hari tadi. Cahaya ungu yang tadinya terang kini hanya tersisa sebagai pendaran redup yang memberikan bayangan panjang di setiap koridor.

Aku bergerak dengan sangat senyap. Setiap kali kakiku menapak pada karpet hitam aku memastikan bahwa tidak ada tekanan yang berlebihan. Aku menggunakan dinding sebagai panduan tanganku sesekali merayap di bagian atas dinding jika aku melihat ada patroli yang mendekat. Kemampuan daki tebing ku benar benar menjadi senjata yang sangat mematikan di dalam lingkungan interior seperti ini.

Satu langkah satu napas. Jaga emosi tetap datar. Fokus pada target.

Aku sampai di persimpangan menuju koridor ruang belajar. Aku melihat dua ekor Hell Hounds tadi masih ada di sana namun sekarang mereka sedang berbaring diam dengan mata tertutup. Meskipun mereka tampak tidur aku tahu bahwa indera penciuman mereka tetap aktif. Aku mengaktifkan kemampuan Shadow Veil membuat wujud fisiku seolah olah larut ke dalam kegelapan dinding.

[ SISTEM: KEMAMPUAN AKTIF: SHADOW VEIL ]

[ SISTEM: KONSUMSI ESENSI: 2 % PER DETIK ]

[ SISTEM: DURASI TERGANTUNG PADA KESTABILAN EMOSI ANDA ]

Aku melewati dua mahluk penjaga itu dengan gerakan yang sangat halus hampir tidak ada aliran udara yang terganggu oleh pergerakanku. Begitu aku sampai di depan pintu kayu hitam besar itu aku tidak mencoba membukanya melalui gagang pintu. Aku mendongak ke atas melihat adanya celah ventilasi udara yang sangat kecil di bagian atas kusen pintu. Celah itu hanya berukuran sekitar lima belas sentimeter namun bagi mahluk yang bisa memanipulasi struktur ototnya sepertiku itu adalah gerbang yang cukup luas.

Aku merayap naik ke dinding pintu dengan gerakan yang sangat presisi. Aku menusukkan jari jari Black Iron ku ke celah kayu yang keras tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Begitu sampai di atas aku mulai melesakkan tubuhku ke dalam celah ventilasi tersebut. Aku merapatkan tulang rusukku serta otot dadaku agar bisa masuk ke dalam lubang yang sempit itu.

Ugh... rasanya sangat sesak. Tapi ini jauh lebih aman daripada membuka pintu yang bersensor.

Perlahan lahan aku berhasil menyeberangi celah ventilasi tersebut kemudian aku menggantungkan tubuhku di sisi dalam pintu ruangan Lord Valos. Suasana di dalam ruangan ini sangat gelap hanya ada pendaran merah redup dari jantung mahluk kucing api yang sedang tidur di pojok ruangan. Bau kertas tua dan tinta esensi terasa jauh lebih menyengat di malam hari ini.

Aku melihat ke arah meja kerja Lord Valos. Kursi besarnya kosong. Lord Valos sepertinya sudah masuk ke dalam ruang peristirahatan di balik tirai ungu yang ada di sisi kanan. Aku tetap diam di langit langit ruangan menempel pada balok kayu tulang yang besar. Aku memindai setiap sudut ruangan memastikan tidak ada jebakan baru yang dipasang setelah aku pergi tadi sore.

Pendakian mautku di dalam istana ini sudah dimulai. Aku sudah berada di puncaknya dan sekarang aku tinggal menjangkau hadiahnya.

Aku menatap ke arah rak buku nomor tiga yang berada beberapa meter di sebelah kiriku. Peta dimensi Terra ada di sana menunggu untuk kuambil. Aku mengepalkan tangan kananku dengan sangat hati hati bersiap untuk melakukan gerakan akrobatik yang akan menentukan apakah aku bisa pulang ke Bumi atau aku akan berakhir sebagai debu di dalam ruangan ini.

1
diy
hadir thor🤭
diy
tetap semangat 💪
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
diy
hmmm menarik☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
semakin menarik ☕
M Agus Salim: terima kasih sudah mampir untuk membaca karya novelku 🙏
total 1 replies
diy
dibanyakin dong bab nya hehe 🤭
diy
semangat author💪
M Agus Salim: selalu 💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!