NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Puing-Puing Kerajaan dan Gema di Balik Tirai

​Terbangun dengan ingatan yang utuh ternyata jauh lebih menyakitkan daripada terbangun dalam kekosongan.

​Jika dulu duniaku adalah siaran televisi hitam-putih dengan sinyal yang statis, kini duniamu adalah sebuah proyektor yang memutar film beresolusi tinggi tanpa henti—dan film itu adalah sebuah tragedi. Setiap wajah, setiap aroma, dan setiap pengkhianatan kini terpatri jelas di dinding kesadaranku. Aku bisa mengingat rasa dingin sarung tangan kulit Ayah saat ia mengusap pipiku setelah kecelakaan, aku bisa mengingat bau antiseptik yang tajam saat Dokter Frans memasukkan jarum suntik pertama ke lenganku, dan yang paling menyesakkan, aku bisa mengingat setiap janji yang pernah kubisikkan pada Devan di bawah pohon beringin yang kini terasa seperti ribuan tahun yang lalu.

​Aku membuka mataku perlahan. Langit-langit putih rumah sakit kejaksaan ini tampak lebih ramah daripada dinding-dinding mercusuar pesisir, namun tetap saja, ini adalah sebuah tempat yang menandakan bahwa aku belum sepenuhnya bebas. Suara pip dari monitor jantung di samping tempat tidurku terdengar konstan, sebuah ritme mekanis yang mengingatkanku bahwa tubuhku masih bergantung pada teknologi untuk tetap stabil.

​"Anya?"

​Suara itu. Berat, parau, dan dipenuhi dengan rasa cemas yang tak terkatakan. Aku menoleh perlahan. Devan duduk di kursi kayu di samping ranjangku. Ia masih mengenakan jaket kulit hitam yang kotor dan robek di bagian bahu. Wajahnya yang tajam tampak kusam karena kurang tidur, dan bayangan janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya yang kokoh. Namun, saat matanya bertemu dengan mataku, aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya selama tiga tahun ini.

​Cahaya. Sebuah binar kehidupan yang jernih, bebas dari kabut keputusasaan.

​"Devan..." bisikku. Suaraku masih terasa serak, seolah-olah pita suaraku baru saja dipaksa keluar dari hibernasi panjang.

​Ia segera menggenggam tanganku. Jemarinya yang kasar terasa begitu hangat, memberikan sensasi realitas yang sangat kubutuhkan. "Jangan banyak bicara dulu. Dokter bilang resonansi di Ruang Musik itu... itu benar-benar menghancurkan blokade biokimia di otakmu. Kau sempat mengalami kejang ringan, tapi sekarang kondisimu stabil."

​Aku menarik napas panjang, merasakan udara segar memenuhi paru-paruku. "Aku mengingat semuanya, Van. Semuanya. Tentang Oren, tentang malam di Jalan Lingkar Selatan... tentang Ayah."

​Genggaman Devan mengencang. Ia menundukkan kepalanya sejenak, bahunya bergetar. "Aku tahu. Aku bisa melihatnya dari cara kau menatapku sekarang. Kau tidak lagi melihatku sebagai mahasiswa pindahan yang aneh. Kau melihatku sebagai... Devan-mu."

​"Ya. Devan-ku," aku mengulangi kata-kata itu, merasakannya seperti melodi yang paling indah di lidahku.

​Namun, di tengah kemanisan momen itu, sebuah bayangan gelap tetap membayang. Aku mengingat ancaman terakhir Frans sebelum ia ditarik paksa oleh Satria. Tentang Bima. Tentang fakta bahwa kebenaran yang kini kumiliki adalah ancaman bagi orang-orang yang jauh lebih kuat daripada ayahku.

​"Di mana Pak Satria?" tanyaku.

​"Sedang melakukan interogasi awal terhadap Frans di gedung pusat," jawab Devan, suaranya kembali mengeras. "Ayahmu juga sudah dipindahkan ke sel isolasi. Pengacaranya sedang mencoba segala cara untuk membebaskannya dengan jaminan kesehatan, tapi Satria memegang kartu SD itu. Bukti korupsi Proyek Sudirman sudah lebih dari cukup untuk menahannya selamanya."

​"Dan Bima?"

​Devan terdiam. Ia melepaskan genggaman tangannya dan berdiri, berjalan menuju jendela ruangan yang tertutup gorden tebal. Ia menyibak gorden itu sedikit, mengintip ke arah halaman rumah sakit yang dijaga ketat.

​"Bima Dirgantara bukan cuma mantan kakak kelas yang obsesif, Anya," ujar Devan tanpa menoleh. "Keluarga Dirgantara adalah konsorsium yang membiayai sebagian besar kampanye politik rekan-rekan ayahmu. Jika ayahmu adalah rajanya, maka Dirgantara adalah orang-orang yang membangun tahtanya. Satria bilang, Bima sudah mulai bergerak. Dia menggunakan pengaruh medianya untuk menyebarkan narasi bahwa kau diculik dan dicuci otaknya olehku. Di luar sana, aku masih dianggap sebagai penjahat."

​Aku mengepalkan tangan di atas seprai putih yang dingin. "Mereka akan terus mencoba memutarbalikkan fakta. Mereka ingin aku dianggap sebagai saksi yang tidak stabil secara mental."

​"Itulah sebabnya kita tidak boleh lengah," Devan berbalik, menatapku dengan tatapan elang yang tajam. "Frans mungkin tertangkap, tapi 'Proyek Elegia' belum benar-benar mati. Selama data penelitiannya masih ada di suatu tempat, kau tetap menjadi incaran mereka."

​Terdengar ketukan pelan di pintu. Jaksa Satria melangkah masuk. Ia terlihat luar biasa lelah; kemejanya kusut dan dasinya sudah dilonggarkan. Namun, ia membawa sebuah map biru yang dipegangnya dengan sangat erat.

​"Anya, senang melihatmu sudah sadar sepenuhnya," Satria mengangguk kecil, memberikan rasa hormat yang tulus. "Aku baru saja kembali dari markas. Frans tutup mulut. Dia bersikap seolah-olah dia adalah martir bagi ilmu pengetahuan. Tapi kita menemukan sesuatu di dalam komputernya."

​Satria meletakkan map itu di meja nakas. Ia membukanya, memperlihatkan beberapa lembar foto hasil pindaian dokumen lama.

​"Hendra Kusuma tidak bertindak sendirian saat memutuskan untuk menghapus memorimu," Satria menunjuk pada sebuah tanda tangan di bagian bawah dokumen kesepakatan medis. "Ada nama lain di sana. Wijaya Dirgantara. Ayah Bima."

​Darahku serasa berhenti mengalir. "Jadi... keluarga Bima terlibat sejak awal?"

​"Ya," Satria menghela napas panjang. "Tiga tahun lalu, saat kecelakaan itu terjadi, ayahmu panik karena kau membawa data korupsi baja rongsokan Proyek Sudirman. Dia ingin membunuh Devan, tapi Wijaya Dirgantara menyarankan cara yang lebih 'bersih'. Dia menawarkan jasa Dokter Frans untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa bersaksi, dan sebagai imbalannya, ayahmu harus menjanjikan penggabungan perusahaan melalui pernikahanmu dengan Bima di masa depan. Kau bukan cuma putri bagi mereka, Anya. Kau adalah 'polis asuransi' bagi kejahatan mereka."

​Aku merasa mual. Setiap inci dari hidupku selama tiga tahun ini ternyata adalah sebuah transaksi dagang yang kotor. Pakaian yang kupakai, makanan yang kumakan, hingga pendidikan sastranya... semuanya adalah persiapan untuk menjadikanku pengantin bagi seorang predator demi menutupi noda darah di pondasi gedung-gedung mereka.

​"Lalu apa langkah kita selanjutnya, Pak Jaksa?" tanya Devan, suaranya mengandung nada ancaman yang tidak disembunyikan.

​"Kita akan menyerang balik," Satria menatap kami berdua. "Besok pagi, aku akan mengatur konferensi pers rahasia. Anya, kau harus bicara. Dunia harus mendengar suara asli korban 'Proyek Elegia'. Begitu pengakuanmu keluar, pengaruh media Dirgantara akan hancur. Tapi risikonya... mereka akan mencoba menghentikanmu sebelum kau sampai ke podium itu."

​"Aku akan menjaganya," sela Devan cepat. "Biarpun aku harus menjadi perisai hidupnya sekali lagi."

​"Aku tahu kau akan melakukannya, Devan," Satria menepuk bahu pemuda itu. "Tapi kali ini, kau tidak sendiri. Aku sudah menempatkan tim penembak jitu di sekitar fasilitas ini. Kita sedang berada dalam status siaga satu."

​Malam pun turun menyelimuti rumah sakit. Satria pamit untuk mengurus detail teknis, meninggalkan aku dan Devan dalam kesunyian yang mencekam. Udara di ruangan ini terasa berat oleh antisipasi.

​Aku mencoba untuk tidur, namun setiap kali aku memejamkan mata, memori tentang malam aku menemukan rahasia Ayah kembali muncul. Bukan lagi sebagai potongan statis, melainkan sebagai adegan yang utuh dan berdarah.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. RUANG KERJA HENDRA KUSUMA - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)

​Suasana sangat mencekam. Hanya ada satu lampu meja yang menyala, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan di dinding penuh buku-buku hukum dan bisnis. ANYA (16 tahun) sedang bersembunyi di balik lemari besar, menahan napasnya.

​HENDRA (Ayah Anya) sedang berbicara di telepon dengan nada suara yang rendah namun sangat marah.

​HENDRA

"Aku tidak peduli berapa banyak semen yang kau butuhkan! Tutupi retakan di tiang penyangga blok C itu sekarang juga! Jika audit besok pagi melihat besi berkarat itu, kita semua akan hancur!"

​Anya menutup mulutnya dengan tangan, air mata mengalir di pipinya. Ia memegang sebuah map merah yang baru saja ia curi dari brankas Ayahnya—map berisi daftar belanja baja rongsokan yang digunakan untuk membangun jembatan dan gedung di Proyek Sudirman.

​ANYA

(Berbisik sangat pelan)

"Ayah... kau benar-benar melakukannya..."

​Tiba-tiba, sebuah suara berat terdengar dari arah pintu. BIMA (18 tahun) berdiri di sana, mengenakan jaket almamater sekolahnya. Ia menatap ke arah tempat persembunyian Anya dengan senyum yang sangat licik.

​BIMA

"Tuan Hendra, sepertinya ada tikus kecil yang sedang mendengarkan rahasia kerajaanmu."

​Hendra tersentak, ia membanting teleponnya dan menoleh ke arah lemari. Anya tidak punya pilihan lain. Ia berlari keluar dari persembunyiannya, mencoba mencapai pintu.

​HENDRA

"ANYA! BERHENTI!"

​Anya berhasil keluar dari ruangan, berlari menyusuri koridor rumah yang luas dan gelap. Ia melihat DEVAN (17 tahun) sudah menunggunya di depan gerbang dengan motornya yang menderu.

​ANYA

(Berteriak sambil berlari)

"DEVAN! LARI! MEREKA TAHU!"

​Anya melompat ke boncengan motor Devan. Saat mereka melesat pergi, kamera fokus pada wajah Bima yang berdiri di balkon lantai dua, memegang ponselnya sambil memberikan instruksi pada seseorang.

​BIMA

"Unit 4, target baru saja keluar. Lakukan tabrakan 'bersih' di perempatan Lingkar Selatan. Pastikan laptop dan map merah itu hancur. Gadis itu... jangan sampai mati. Dia calon pengantinku."

​Suara decitan rem mobil yang memekakkan telinga tiba-tiba memotong adegan, berganti dengan suara kaca yang pecah berantakan.

​FADE OUT.

​Aku tersentak bangun, napasku memburu. Keringat dingin membasahi punggungku. Aku menatap ke sekeliling ruangan dan melihat Devan masih setia duduk di sampingku, tertidur dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur sambil tetap menggenggam ujung kain selimutku.

​Rasa takut itu masih ada, namun kini ia ditemani oleh kemarahan yang membara. Ayahku, Bima, Frans... mereka semua menganggapku sebagai objek yang bisa ditransaksikan. Mereka menganggap hidupku hanyalah sekadar variabel dalam angka-angka keuntungan mereka.

​Aku menyentuh pergelangan tanganku sendiri. Parut tipis itu terasa seperti sebuah medali kehormatan sekarang.

​"Kali ini, kasetnya tidak akan bisa kau rusak lagi, Ayah," bisikku pada kegelapan malam.

​Aku meraih laptop di meja nakas, membukanya perlahan. Cahaya dari layar menyinari wajahku. Di sana, di folder tersembunyi yang baru saja dipulihkan Satria, aku melihat satu dokumen yang belum sempat dibaca oleh siapa pun. Dokumen berjudul: 'PROJECT ELEGIA - PHASE 3: TOTAL INTEGRATION'.

​Aku membacanya dengan napas tertahan. Isi dokumen itu menyatakan bahwa pernikahan dengan Bima bukan hanya untuk bisnis, melainkan untuk memulai eksperimen fase terakhir: penghapusan seluruh emosi empati pada subjek agar bisa menjadi 'pemimpin' korporat yang dingin dan efisien.

​Aku menutup laptop itu dengan gemetar. Mereka tidak hanya ingin ingatanku; mereka ingin jiwaku.

​"Devan..." panggilku pelan.

​Devan terbangun seketika, matanya langsung waspada. "Ada apa? Kau sakit lagi?"

​"Tidak," aku menatapnya dengan tekad yang bulat. "Besok, saat konferensi pers... aku ingin kau berdiri tepat di sampingku. Aku tidak peduli apa yang dikatakan Satria soal keamanan. Aku ingin dunia tahu bahwa 'penjahat' yang mereka bicarakan adalah satu-satunya manusia yang menjaga kemanusiaanku tetap utuh."

​Devan terdiam lama, menatapku dengan tatapan yang sarat akan rasa haru dan perlindungan. "Aku akan ada di sana, Anya. Sampai kata terakhir kau ucapkan."

​Di luar sana, gema pengkhianatan masa lalu mungkin masih terdengar, namun di dalam ruangan ini, sebuah elegi baru sedang ditulis—elegi tentang pemberontakan dua jiwa yang menolak untuk menjadi puing-puing kerajaan orang lain.

​[BERSAMBUNG KE BAB 24]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!