NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Bab 5

Dengan mata yang masih belum melek sepenuhnya, Bumi terbangun dengan dikelilingi dua orang perempuan cantik.

“Miss Shopia sudah menunggu untuk sarapan,” kata salah satu dari mereka yang tampak lebih muda.

“Baik, aku ganti baju dulu.” Bumi bangkit dan berusaha membuka baju ketatnya. Ia tidak suka kalau harus selalu me makai baju itu. Tapi kedua perempuan itu terus menatapnya. “Halo? Aku mau ganti baju dulu!”

“Ya, ganti saja.”

“Bisa keluar dulu? Masa aku ganti baju diliatin gini?”

“Memangnya kamu malu? Atau ada yang kamu mau sembunyikan dari baju yang kamu ganti itu?”

“Oke! Terserah kalian.” Bumi membuka bajunya sambil menatap ke dua peremuan yang ada di hadapannya. Ia tidak peduli mereka memperhatikan badannya yang sekarang kotak kotak tidak seperti waktu masih tahun 2026. Ia mengambil baju lamanya, baju dengan rompi kulit.

Setelah selesai, ia merogoh isi kantung rompi kulitnya, “Kenapa tidak ada apa-apa? Kemana barang barang aku?”

“Semua disimpan di tempat yang aman,” kata salah satu dari perempuan cantik itu.

Bumi menggelengkan kepala, “Ya sudah, terserah kalian.”

Bumi lalu dibawa ke sebuah aula besar yang ada meja di tengahnya. Di atas meja ada banyak makanan. Tapi tidak ada makanan yang ia kenal. Tidak ada nasi goreng, spageti, atau pizza. Tentu saja.

“Ayo, makan,” kata Shopia tersenyum menggoda.

“Iya,” Bumi duduk di hadapan Shopia. Bingung harus memulai dari mana, “Ini semua boleh di makan?”

“Iya, kalau kamu lapar.”

“Lapar sih. Tapi ini makanan apa?”

“Ikan, ayam, daging biasa. Kenapa?”

“Tidak. Aku cuma tidak pernah melihatnya.” Bumi mengambil salah satu daging yang ada paling dekat dengannya.

Shopia memperhatikan dengan seksama. “Enak?”

Bumi mengangguk, “Enak.” Walau dalam hatinya, ia merasa makanan ini tidak begitu enak. Hambar, tidak ada rasa asin atau manis, tidak ada gurih bawang atau micin. Sungguh aneh. Tapi bagaimana pun juga ia harus makan, karena perutnya keroncongan semalaman.

“Bagus lah. Makanlah yang banyak, karena kamu akan banyak yang harus dikerjakan hari ini.”

Bumi sedikit heran, “Kenapa aku? Kenapa kalian tidak minta tolong koloni yang lain, yang lebih banyak jumlah cowoknya?”

“Karena kamu orang yang baik,” jawab Shopia sambil tersenyum.

“Alasan macam apa itu,” Bumi bergumam.

“Apa?”

“Tidak,” Bumi tersenyum lalu melanjutkan milih makanan yang lain, yang ada sausnya. Tapi ternyata baunya lebih tidak mengenakan, seperti amis. “Ini daging apa?”

“Oh itu daging fermentasi. Di sini kita harus menjaga jumlah makanan. Jadi proses fermentasi membuat makanan jadi lebih awet.”

“Oh.” Bumi tiba-tiba merasa kenyang. “Jadi apa yang harus aku lakukan hari ini?” tanyanya sambil meminum air putih yang ternyata tidak kalah bau amis. Bumi meminumnya sambil tahan napas.

“Kamu mau membantu kami hamil atau …”

Bumi memuncratkan minuman yang ada di mulutnya. Kaget mendengar kata hamil. “Apa tidak ada tugas lain?”

“Ada. Bikin pesawat.”

“Ya sudah, aku bikin pesawat dulu aja.” Walau Bumi tidak tahu bagaimana cara dia bisa menduplikasi pesawat kapsulnya, tapi setidaknya dia tidak harus membuat wanita hamil di luar nikah.

Kalau ibu dan ayah aseli aku tahu, aku menghamili perempuan di luar nikah, bisa digantung dan dibakar hidup hidup, kata Bumi dalam hati.

“Baiklah, Anya akan mengantarkan kamu ke pesawat,” Shopia mengelap mulutnya dengan serbet.

Bumi lalu diantar oleh lima orang pasukan permpuan yang dipimpin oleh Anya. Mereka berjalan kembali ke tengah reruntuhan kota menggunakan kuda. Bumi dibonceng oleh Anya.

“Kalian sudah lama di sini?” tanya Bumi.

Anya diam saja.

“Kalau ada pesawat banyak, buat apa?”

Anya tetap diam saja.

“Shopia itu ibu kalian?”

Anya menghentikan kudanya dan menoleh, “Kamu terlalu banyak bicara. Lakukan saja apa yang disuruh.”

“Nggak bisa lah. Kalau disuruh ke jurang, masa lakukan saja!” Bumi kesal.

Anya menjalankan kudanya dengan cepat, membuat Bumi hampir saja terjengkang jatuh ke belakang.

“Hati-hati!” kata Bumi kaget.

Mereka lalu tiba di jalan tol yang sudah berlumut dan sepi. Pesawat kapsul Bumi masih ada di tengah jalanan. Tidak tersentuh. Kelima pasukan mengellilingi pesawat itu.

Bumi masuk ke pesawat yang pintunya masih terbuka.

“Apa dia akan kabur?” bisik salah satu ajudan ke Anya.

“Kalau kabur, kita tembak.” Anya membidik pesawat dengan panah yang terbuat dari metal keras. Semua pasukan yang ikut mengellilingi peasawt juga melakukan hal yang sama.

Di dalam pesawat Bumi kaget, “Kalian mau apa?”

Tidak ada jawaban.

Bumi menyalakan pesawat.

“Halo,” kata Emma. “Kita mau pergi dari sini?”

“Tidak mungkin, kamu bisa mati! Kamu nggak liat kita ditodong begini?”

“Yah, tapi aku bisa membuat langsung terbang dengan kecepatan cahaya. Walau mungkin kamu dan aku akan jadi serpihan tidak berguna. Tapi bukankah kalau kita tinggal di sini akan sama saja.”

Bumi menghela napas, “Menurut kamu mereka berbahaya?”

“Tidak ada yang bisa dipercaya di dunia tahun ini, Bumi.”

“Katanya kamu deprogram untuk jadi positif?”

“Dan kamu juga program aku untuk jadi melindungi kamu.”

“Wah, aku boleh juga ya?”

“Jadi gimana? Kita kabur atau gimana?”

“Kamu tahu cara bikin pesawat ini?”

“Tentu saja.” Emma mengeluarkan gambar dan bahan-bahan membuat pesawat di layar monitor dashboard.

“Apa mereka punya bahan-bahan ini semua?”

“Sepertinya punya.”

“Kalau gitu, aku bisa membuatnya.”

“Tapi aku tidak menyarankannya,” suara nenek-nenek muncul di belakang Bumi.

Bumi teriak kaget, “Astaga! Kamu hantu yang tadi malam!”

“Dia bukan hantu,” kata Emma. “Dan dia itu benar, aku juga tidak menyarankan kamu membuat pesawat ini untuk mereka.

“Tunggu, kamu siapa?”

“Aku Emma, robot pesawat ini.”

“Iya, aku tahu kamu, tapi kamu, siapa?” Bumi melirik ke nenek-nenek di belakangnya.

“Kalau aku cerita, kamu mau membantu aku?” kata nenek-nenek bersuara serak itu.

“Membantu apa?”

“Janji dulu.”

“Aku nggak bisa janji kalau kamu belum cerita. Siapa tahu cerita kamu membayahakan aku?”

“Tidak. Dia tidak berbahaya,” kata Emma.

Bumi mau menoleh ke arah nenek-nenek tua di belakangnya, tapi kemudian nenek itu melarangnya, “Jangan menoleh, mereka bisa curiga.”

“Oke. Jadi apa ceritanya?”

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!