NovelToon NovelToon
Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Ekuilibrium:Antara Janji Dan Jarak

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anime / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.

Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.

Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Ruang rapat itu terasa kedap suara, hanya deru AC yang mengisi kekosongan sebelum presentasi dimulai. Di ujung meja oval, Afisa duduk dengan wibawa seorang pemimpin, sementara Citra di sampingnya sibuk membolak-balik berkas. Guntur berdiri di depan layar proyektor, kemejanya sudah lebih rapi meski gurat kelelahan di matanya tak bisa disembunyikan.

"Silakan, Guntur. Waktu kita tidak banyak," suara Afisa memecah keheningan. Dingin dan tanpa basa-basi.

Guntur menarik napas panjang, lalu mulai memaparkan draf argumen hukum yang ia susun semalam suntuk. Suaranya yang berat dan tenang menggema, menjelaskan setiap pasal dengan presisi yang mengejutkan. Ia tidak hanya sekadar membaca; ia membedah celah hukum agraria yang selama ini luput dari perhatian tim.

Citra berkali-kali menaikkan kacamata ke atas kepalanya, tampak sangat fokus. "Tunggu, Guntur. Kamu yakin yurisprudensi tahun 2018 itu bisa kita pakai untuk mematahkan klaim sertifikat ganda mereka?"

"Sangat yakin, Bu Citra," jawab Guntur mantap sambil menampilkan data pendukung di layar. "Jika kita menggunakan pendekatan ini, pihak lawan tidak akan punya celah untuk melakukan banding administratif. Kita mengunci mereka di tahap pembuktian fisik."

Afisa terdiam, jemarinya mengetuk meja perlahan. Ia memperhatikan bagaimana Guntur menguasai materi itu seolah nyawanya dipertaruhkan di sana. Ketajaman analisis Guntur mengingatkannya pada masa lalu—saat Guntur menjadi kapten yang mengatur strategi di lapangan hijau. Bedanya, sekarang ia bertarung di "lapangan" yang dikuasai Afisa.

Setelah tiga puluh menit presentasi yang intens, Guntur menutup salindianya. "Demikian draf argumen dari saya, Bu."

Hening sejenak. Citra menoleh ke arah Afisa, memberikan kode lewat tatapan mata yang seolah berkata, 'Anak ini gila, drafnya sempurna.'

Afisa berdeham, merapikan letak pulpennya. "Argumen yang bagus, Guntur. Tajam dan sangat taktis." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Guntur lurus-lurus. "Besok sidang pertama di Pengadilan Negeri Semarang. Saya butuh orang yang paham detail celah ini untuk mendampingi saya di meja hijau."

Citra terbelalak. "Fis? Kamu mau bawa dia langsung ke persidangan? Dia baru masuk kemarin."

"Pak Baskoro menaruhnya di sini karena dia dianggap kompeten, Cit. Dan draf ini membuktikannya," balas Afisa tanpa beralih pandang dari Guntur. "Guntur, kamu ikut saya besok. Siapkan diri sebagai asisten hukum utama dalam kasus ini. Kita berangkat dari kantor jam delapan pagi."

Guntur terpaku. Ini lebih dari sekadar pekerjaan; ini adalah kepercayaan profesional pertama yang diberikan Afisa setelah sembilan tahun luka. "Baik, Bu Afisa. Saya akan bersiap."

"Rapat selesai," tutup Afisa sambil berdiri.

Saat Guntur mulai merapikan laptopnya, Citra mendekat dan berbisik pelan, "Kamu beruntung, Guntur. Jangan bikin Afisa malu di depan hakim besok. Ingat, satu kesalahan kecil saja, namamu taruhannya."

Guntur hanya mengangguk kecil. Ia merasa beban di pundaknya makin berat, namun ada desiran kebanggaan yang aneh. Ia akan berdiri di samping Afisa, bukan lagi sebagai pemuda yang meninggalkannya, tapi sebagai "perisai" hukumnya.

Ia tidak sadar bahwa di saat yang sama, Bintang sudah mendarat di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Bintang melangkah keluar dari gerbang kedatangan, membawa buket bunga kecil dan senyum yang siap menyapa istrinya, tanpa tahu bahwa esok harinya, Afisa akan menghabiskan waktu seharian penuh di pengadilan bersama pria yang paling ia hindari.

Sore itu, suasana kantor firma hukum mulai melandai. Cahaya matahari Semarang yang keemasan menyeruak masuk melalui jendela besar, menyinari meja kerja Guntur yang masih dipenuhi tumpukan dokumen agraria. Guntur sedang meninjau draf terakhir saat pintu lift di ujung koridor berdenting terbuka.

Seorang pria jangkung dengan kemeja flanel yang rapi dan jaket kulit ringan melangkah masuk. Di tangannya, ia menggenggam sebuket kecil bunga tulip kuning—bunga kesukaan Afisa yang selalu ia ingat sejak zaman sekolah. Pria itu melangkah dengan kepercayaan diri yang tenang, khas seorang dokter yang terbiasa mengendalikan situasi darurat.

Langkah pria itu terhenti tepat di depan meja Guntur.

Guntur mendongak, bermaksud menyapa tamu yang datang. Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Sosok di depannya bukan sekadar tamu biasa. Itu adalah Bintang. Rival abadinya dulu, pria yang pernah tersisih karena Afisa lebih memilih Guntur yang saat itu adalah bintang lapangan pujaan sekolah.

Dua pasang mata itu bertemu. Udara di ruangan yang dingin karena AC mendadak terasa statis dan menyesakkan.

Bintang tertegun. Senyum kejutan yang tadinya menghiasi wajahnya perlahan memudar, berganti dengan kilat pengenalan yang tajam. Ia menatap Guntur dari atas ke bawah—melihat kemeja staf yang rapi namun sederhana, sangat kontras dengan bayangan "bintang lapangan" yang dulu selalu ia cemburui.

"Guntur?" Suara Bintang rendah, ada nada tak percaya yang berbaur dengan insting waspada yang langsung bangkit.

Guntur perlahan berdiri, mencoba mengimbangi tatapan Bintang yang kini tampak jauh lebih matang dan berwibawa. "Bintang. Lama tidak jumpa."

Tepat saat itu, pintu ruangan kaca terbuka. Afisa melangkah keluar dengan raut lelah yang langsung berubah menjadi pucat pasi saat melihat suaminya berdiri tepat di depan meja Guntur.

"Bintang? Kamu... kamu kok di sini?" suara Afisa bergetar halus. Ia mematung di ambang pintu, tangannya meremas ujung blazernya. Ia sama sekali tidak siap dengan pertemuan dua pria dari masa lalunya ini.

Bintang menoleh pada Afisa, lalu kembali menatap Guntur. Ia menyadari sesuatu. Tanpa berkata-kata, Bintang melangkah melewati meja Guntur dan menghampiri Afisa. Dengan gerakan yang sangat natural namun penuh penekanan, ia merangkul pinggang Afisa dan mengecup keningnya di depan mata Guntur.

"Kejutan, Sayang," ujar Bintang lembut, namun matanya tetap tertuju pada Guntur. "Aku tidak tenang di Jakarta setelah dengar mobilmu bermasalah semalam. Ternyata, aku yang lebih terkejut di sini melihat siapa yang sekarang membantumu di kantor."

Afisa mendeham, mencoba menetralkan suasana yang mendadak mencekam. "Iya, Sayang. Pak Baskoro yang menempatkan Guntur di timku. Aku... aku baru mau cerita nanti malam."

Bintang mengangguk pelan, jemarinya mengetuk pelan pinggang Afisa—sebuah gerakan protektif yang sangat disadari oleh Guntur. "Dunia memang sempit ya, Guntur? Dulu kamu yang memegang kendali di lapangan, sekarang kamu bekerja di bawah kendali istriku."

Kalimat Bintang terdengar ramah di permukaan, namun ada tekanan tajam di setiap katanya. Bintang belum lupa bagaimana dulu ia harus pergi meninggalkan kota ini dengan hati hancur karena Afisa tidak bisa memberinya alasan untuk tinggal demi tetap bersama Guntur. Kini, roda berputar.

"Saya di sini murni untuk bekerja profesional, Mas Bintang," sahut Guntur tenang, meski hatinya perih melihat tangan Bintang yang begitu posesif di pinggang Afisa.

"Baguslah," Bintang tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang sopan. "Tolong bantu Afisa ya. Dia sangat perfeksionis. Jangan sampai masa lalu yang... kurang menyenangkan itu mengganggu kinerjamu di sini."

Bintang lalu beralih sepenuhnya pada Afisa, seolah Guntur tak lagi ada di sana. "Ayo pulang, Sayang. Aku sudah pesan tempat makan malam yang tenang. Kita butuh bicara banyak, bukan?"

Afisa hanya bisa mengangguk pasrah. Sebelum pergi, ia melirik singkat pada Guntur—tatapan yang penuh rasa bersalah namun juga jarak yang tegas. "Guntur, siapkan berkas sidang besok pagi. Jangan terlambat."

"Baik, Bu," jawab Guntur pendek.

Saat pintu lift tertutup membawa pasangan itu pergi, Guntur kembali terduduk lesu. Ruangan itu kini terasa sangat kosong dan menyakitkan. Aroma tulip kuning dan parfum Bintang yang tertinggal seolah mengejeknya. Ternyata, melihat musuh lamanya menjadi pelindung bagi wanita yang ia cintai adalah hukuman yang jauh lebih berat daripada lembur semalaman.

1
falea sezi
oalah pak mati saat kau belum minta maaf ke orang yg kau sakiti
falea sezi
bintang kayak terobsesi
falea sezi
bintang g salah toh dia g tau apa yg di perbuat anak nya yg gila
falea sezi
baca novel malah mood berantakan hadeh
falea sezi
klo dia yg ngendalikan firma hukum dimana nafisa krja pasti dia tau nafisa fi pindah ke Semarang
falea sezi
lah lu aja perhatian amat ma mantan masih belom. move on ya aneh
falea sezi
anehh di ewe suami g mau maunya apa di ewe gunturheran y
falea sezi
sumpah fisa ini. bego
falea sezi
di sini yg goblok itu Nafisa
falea sezi
sama mantan kok baper pdhl bersuami be cwek oon sepanjang novel q baca di sini
falea sezi
siapa mau. punya istri g paham. kewajipan ngurus krjaan doank. mana krja luar kota terus mending jd perawan tua lu g usa nikah
falea sezi
istri egois demi karir rmh tangga lu bakal ancur
falea sezi
mending jd ibu rmh tangga lah ngorbanin karir demi rmh tangga jangan egois sok mau krja ujungnya rmh tangga berantakan kecuali suami mu g sanggup kasih nafkah baru deh qm krja
byyyycaaaa
iya bes sampai ketemu di cerita selanjutnya 🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
tamat kah tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
gk lanjut tor
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
oke tor fita apa kabar tor
byyyycaaaa: Fita jadi guru di SMA negeri di bandung
total 1 replies
byyyycaaaa
nanti siang up lagi🙏
㉿ˢᵉˡˡᵒʷ͢🦢 Neng Anggun
lanju dong tor
byyyycaaaa
jangan dong,ntar nggak ada yang buat bintang sakit kepala 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!