Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 – PERTAHANAN AKHIR DI DESA HUA
Malam telah menjelang saat seluruh penduduk Desa Hua berkumpul di halaman tengah desa. Udara dingin menyelimuti setiap sudut, namun semangat mereka tetap membara seperti bara yang tidak pernah padam. Nam Ling berdiri di depan gerbang desa utama, matanya merah menyala terang sambil mengamati setiap gerakan dari arah hutan.
“Kita tidak bisa hanya berdiri diam lagi,” ucap Nam Ling dengan suara yang kuat namun tenang. “Segel di desa sudah mulai melemah – jika tidak segera ditangani, seluruh wilayah sekitar akan terpuruk oleh kegelapan.”
Pak Zhang segera mendekat dengan membawa ember berisi air jeruk nipis yang dipercaya bisa melawan energi gelap. “Kita sudah siap, Pak Nam Ling. Seluruh pria desa telah bersiap untuk membantu – bahkan jika hanya dengan membawa alat kerja atau menyediakan makanan untukmu.”
Sementara itu, Yue Xin datang membawa tali temali yang dibuat dari akar pohon kemuning – barang yang dipercaya bisa menangkap energi jahat. “Ini dari nenek moyangku,” katanya sambil menunjukkan tali itu. “Dia bilang, tali ini bisa mengikat makhluk jahat selama beberapa saat jika digunakan dengan benar.”
Nam Ling mengangguk, lalu mulai menjelaskan rencana mereka. “Kita akan membentuk tiga kelompok – satu kelompok menjaga gerbang utama, kelompok kedua menjaga sisi desa, dan kelompok terakhir akan mengikuti aku ke arah gua kecil di kaki Gunung Tianwu untuk mencari sumber energi yang membuat segel melemah.”
Tanpa berlama-lama, mereka membagi tugas. Chen Feng bersama tiga pria desa menjaga gerbang utama, sementara Yue Xin dan beberapa anak muda desa menjaga sisi kanan dan kiri. Nam Ling sendiri membawa dua orang muda yang ingin belajar cara menggunakan energi alam untuk melawan bahaya.
“Saat aku memberi sinyal,” ucap Nam Ling, “semua orang harus mengulang mantra yang telah kita pelajari – ‘Tanah melindungi kita, langit membimbing kita, energi alam menyatu dengan kita!’”
Setelah itu, mereka bergerak masing-masing ke posisi. Nam Ling pergi ke arah gua kecil yang terletak tidak jauh dari sungai kecil di belakang desa. Di sana, dia menemukan jejak kaki besar yang tidak seperti manusia atau iblis – lebih seperti makhluk yang diciptakan secara buatan dengan energi alam bawah.
“Siapa yang membuatmu?” gumam Nam Ling sambil menyentuh jejak tersebut. Segera, dia merasakan getaran kuat yang membuat tubuhnya terbangun seketika. Makhluk besar dengan tubuh setinggi tiga meter muncul dari balik semak – kulitnya hitam pekat dengan mata merah menyala seperti bara api.
“Kamu tidak akan menyelamatkan siapa pun!” teriak makhluk itu dengan suara seperti guntur. “Energi alam bawah akan menguasai semua – termasuk desa kecilmu itu!”
Nam Ling hanya berdiri tenang, mengeluarkan Pedang Abadi dengan perlahan. “Kamu salah besar jika berpikir bisa menguasai kekuatan yang bukan milikmu,” ucapnya dengan nada tegas.
Makhluk itu langsung melesat ke arah Nam Ling dengan cepat. Namun sebelum menyentuhnya, Pedang Abadi menyala dengan cahaya keemasan yang menyilaukan. CLASH! Bunyi keras menggema saat bilah pedang bertabrakan dengan cakar makhluk itu.
Sementara itu, di desa, Yue Xin melihat energi gelap mulai menyebar dari arah hutan. Dia segera berteriak, “Semua orang ke rumah! Jaga diri kalian!” Namun beberapa anak muda justru datang dengan membawa alat seperti sabit dan cangkul untuk membantu.
“Kita tidak akan biarkanmu sendirian, Kak Yue Xin!” teriak salah satu anak muda. “Desa ini juga rumah kita – kita harus melindunginya bersama!”
Yue Xin tersenyum hangat lalu mengangguk. “Baiklah – mari kita bentuk lingkaran perlindungan bersama!”
Mereka berdiri membentuk lingkaran dengan tangan saling menggenggam. Yue Xin mengangkat tangan ke atas, lalu merasakan energi mengalir dari dalam dirinya. Cahaya putih mulai muncul dari tengah lingkaran mereka, membentuk tembok pelindung yang kuat.
Di sisi Nam Ling, pertempuran semakin sengit. Makhluk besar itu mengeluarkan energi gelap yang hampir membuat Nam Ling terpental. Namun saat dia melihat cincin kecil yang diberikan Yue Xin – sebuah hadiah dari desa – dia merasakan kekuatan baru mengalir ke tubuhnya.
“Kamu bukan hanya pemburu iblis,” ucap makhluk itu dengan suara pelan. “Kamu adalah bagian dari kita – dari keluarga yang dulu menjaga keseimbangan.”
Nam Ling mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Keluarga kamu dulu pernah bersatu dengan keluarga Wei untuk menjaga keseimbangan,” jawab makhluk itu sambil mulai melemah. “Namun ada yang ingin memecah belah persatuan itu – menyebabkan energi alam bawah keluar dan membahayakan banyak orang.”
Sebelum bisa menjawab, makhluk itu mulai menghilang dengan meninggalkan sebuah batu kecil berbentuk bulan. Nam Ling mengambilnya dengan hati-hati, lalu segera kembali ke desa.
Ketika tiba di desa, dia melihat seluruh penduduk sudah berkumpul dengan tangan saling menggenggam, membentuk tembok cahaya yang kuat. Yue Xin berdiri di tengahnya, tangan diangkat ke atas sambil mengucapkan mantra yang sama dengan yang diajarkan keluarga Wei.
“Kita sudah selesai, Pak Nam Ling!” teriak Yue Xin dengan senyum lebar. “Segel sudah diperkuat – desa aman sekarang!”
Nam Ling mengangguk dengan senyum hangat. “Tidak hanya desa yang aman,” ucapnya sambil menatap seluruh penduduk desa. “Kita semua aman – karena kita saling melindungi satu sama lain.”
Di kejauhan, Gunung Tianwu tampak bersinar dengan cahaya keemasan – menandakan bahwa keseimbangan telah kembali.