NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalinya Amanda ?

Langkah Cassie yang semula ceria seketika terhenti. Di depan sebuah butik mewah yang mereka lewati, seorang wanita baru saja keluar.

Dunia seolah melambat saat mata Liam bertemu dengan wanita itu.

​Dia adalah Amanda.

​Cassie merasa seluruh keberanian dan rasa percaya dirinya luruh ke lantai dalam hitungan detik.

Amanda adalah definisi kesempurnaan yang tidak terjangkau. Dia tinggi, memiliki gestur yang sangat elegan, dan kecantikannya terasa begitu alami, tipe wajah yang tetap terlihat memukau meski tanpa riasan tebal. Wajahnya memancarkan kelembutan yang sangat kontras dengan aura keras Verovska.

​Namun, yang paling menghancurkan hati Cassie adalah perubahan pada diri Liam.

​Garis wajah Liam yang biasanya tegang, sinis, dan penuh ejekan, mendadak melunak. Matanya yang tajam kini meredup, memancarkan binar kerinduan yang sangat dalam—jenis tatapan yang belum pernah diberikan Liam pada Cassie. Tidak ada ledekan, tidak ada sarkasme.

Di depan Amanda, Liam terlihat seperti pria yang baru saja menemukan rumah yang hilang.

​"Liam?" suara Amanda lembut, mengalun seperti melodi yang indah.

​"Amanda," sahut Liam dengan suara yang begitu rendah, hampir seperti bisikan penuh luka.

​Cassie teringat cerita Jino. Liam membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bangkit sejak Amanda pergi.

Dulu, Liam bahkan pernah membuang harga dirinya, memohon di bawah guyuran hujan agar Amanda tidak meninggalkannya. Namun Amanda pergi, bukan karena dia tidak mencintai Liam, tapi karena dia tidak sanggup hidup di dalam "kegelapan" bisnis Liam yang tidak pernah menempatkannya sebagai prioritas utama.

Amanda tidak pernah benar-benar mengerti bahwa di balik sikap dingin Liam, pria itu sangat mencintainya.

​Keduanya berdiri berhadapan, seolah-olah Cassie hanyalah bayangan yang tidak terlihat. Mereka terlihat seperti pasangan dewasa yang sangat serasi, si pria keras yang akhirnya menemukan kelembutan pada wanitanya.

​"Kau terlihat baik, Liam," ucap Amanda sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat tulus hingga membuat Cassie merasa semakin ciut.

​"Ya, aku terus mencoba," jawab Liam singkat. Matanya sejenak melirik ke arah Cassie, namun segera kembali pada Amanda, seolah-olah ia takut jika ia berkedip, Amanda akan menghilang lagi.

​Cassie menundukkan kepalanya, jari-jarinya meremas ujung mantelnya. Ia merasa seperti anak kecil yang sedang mencoba memakai sepatu orang dewasa, tidak pas dan terlihat konyol.

Semua ledekan Liam, semua perhatian kecil, dan momen manis di bioskop tadi malam mendadak terasa hambar.

Ia sadar, ia hanyalah "obat penenang" sementara, sementara Amanda adalah "candu" yang sesungguhnya bagi Liam.

​Perasaan cemburu dan rasa rendah diri bercampur aduk di dada Cassie. Ia merasa ingin segera menghilang dari tempat itu, kembali ke apartemen kumuhnya, atau setidaknya ke kantor polisi untuk melihat Ethan, satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar "dilihat".

​"Liam," bisik Cassie pelan, suaranya bergetar.

"Aku... aku tunggu di mobil ya?"

​Liam seolah baru tersadar dari transnya. Ia menatap Cassie, lalu kembali menatap Amanda yang kini memperhatikan Cassie dengan tatapan penasaran yang lembut.

Liam tidak menahan langkahnya. Pandangan Liam seolah terkunci pada magnet yang jauh lebih kuat, membuat keberadaan Cassie di sisinya mengabur begitu saja.

​"Ya, pergilah dulu," jawab Liam pendek, suaranya terdengar jauh dan tidak fokus.

​Cassie berbalik tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan menjauh dengan langkah cepat.

Di belakangnya, ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara lembut Amanda yang bertanya siapa gadis itu, dan jawaban Liam yang tidak terdengar jelas—atau mungkin Liam memang tidak punya jawaban yang pasti.

​Di dalam mobil, Cassie duduk mematung. Ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela yang dingin, menatap trotoar dari kejauhan. Dari sana, ia bisa melihat Liam dan Amanda masih berdiri berdekatan.

Liam tampak jauh lebih "hidup" saat berbicara dengan Amanda. Tidak ada jarak, tidak ada sarkasme yang menyakitkan.

Hanya ada dua orang dewasa yang tampak memiliki sejarah yang terlalu berat untuk digantikan oleh siapa pun.

Semua perhatian Liam, jemputan di kampus, makan malam mewah, hingga ciuman yang hampir terjadi semalam... semuanya terasa seperti cara Liam untuk melarikan diri dari bayang-bayang Amanda.

Cassie hanyalah gangguan yang menyenangkan, seseorang yang "berisik" untuk menutupi kesunyian yang ditinggalkan wanita sesempurna Amanda.

​Aku benar-benar bodoh, batin Cassie. Ia melihat gantungan kunci kelinci di tasnya, yang dulu terasa sangat manis, kini hanya terlihat seperti barang murah yang diberikan Liam untuk sekadar menyenangkan pelayannya.

​Hampir dua puluh menit berlalu sebelum pintu mobil terbuka. Liam masuk dan duduk di kursi kemudi. Suasana di dalam mobil mendadak menjadi sangat dingin dan kaku.

​Liam tidak langsung menjalankan mobil. Ia terdiam cukup lama, tangannya menggenggam kemudi namun tidak menyalakan mesin.

Wajahnya kembali mengeras, garis-garis tegang muncul lagi di rahangnya.

​"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Liam datar, tanpa menoleh.

​Cassie hanya menatap lurus ke depan. "Tidak apa-apa. Amanda cantik ya?!"

​Liam tidak menjawab. Ia hanya menyalakan mesin dan memacu mobilnya menjauh dari tempat itu. Kali ini, tidak ada ledekan. Tidak ada godaan.

Liam kembali menjadi pria asing yang dingin, meninggalkan Cassie yang merasa lebih sendirian daripada saat ia tinggal di apartemen Raven's Gate yang kumuh.

***

Sesampainya di rumah, keheningan menyelimuti interior mobil mewah itu hingga mesin benar-benar mati.

Cassie tidak menunggu Liam membukakan pintu atau sekadar memberikan perintah. Ia segera keluar, berjalan mendahului masuk ke dalam rumah dengan langkah yang tegar, meski hatinya terasa seperti diremas.

​Begitu menginjakkan kaki di dapur, Cassie langsung menyambar celemeknya. Ia mengikat talinya dengan kencang, seolah ikatan itu bisa menahan perasaannya agar tidak meluap.

Ia mulai sibuk dengan sisa pekerjaan yang belum selesai, mengelap meja, mencuci gelas, dan menyiapkan bahan masakan untuk makan malam nanti.

​Ia mencoba menulikan telinganya saat mendengar langkah sepatu Liam yang mendekat ke arah dapur.

​"Cassie," panggil Liam pelan. Nada suaranya tidak lagi dingin seperti di mobil, tapi juga tidak sehangat saat mereka di mercusuar tadi.

​Cassie tetap membelakanginya, sibuk memotong bawang dengan presisi.

"Ya, tuan? Kau membutuhkan sesuatu? Oh, atau kau mau aku membersihkan ruang kerjamu sekarang?"

​Liam terdiam di ambang pintu dapur. Ia menyadari perubahan nada bicara Cassie. Tidak ada lagi bantahan lucu atau wajah cemberut yang menggemaskan.

​"Berhenti memanggilku begitu," ucap Liam, rahangnya mengeras. "Tadi di mercusuar, aku bilang..."

​"Tadi di mercusuar adalah kesalahan, Liam," potong Cassie cepat, akhirnya ia berbalik namun tidak menatap mata Liam. Ia fokus pada kancing kemeja pria itu.

"Aku mengerti. Aku di sini untuk bekerja. Aku akan tetap tinggal karena aku butuh uang dan tempat tinggal yang aman. Kita lupakan saja kalimat terakhirmu sebelum kita bertemu Amanda."

​Liam melangkah maju satu langkah, mencoba mencari sorot mata Cassie.

"Cassie, aku hanya..."

​"Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa," Cassie tersenyum tipis, sebuah senyum profesional yang paling palsu yang pernah ia buat.

"Amanda benar-benar cantik. Kau terlihat sangat berbeda saat bersamanya. Aku senang kau bisa bertemu dengannya lagi. Sekarang, kalau kau tidak keberatan, aku harus menyiapkan makan malam karena Jino dan Marco pasti akan segera pulang dengan perut lapar."

​Cassie kembali berbalik, menumpahkan seluruh fokusnya pada panci di depannya. Ia memaksa otaknya untuk menghapus memori saat Liam menyentuh rambutnya tadi siang.

Ia harus ingat posisinya, dia bukan Amanda, dia bukan kekasih sejati, dia hanya mahasiswi malang yang sedang beruntung mendapat pekerjaan dengan bayaran lumayan.

​Liam berdiri mematung selama beberapa saat, menatap punggung Cassie yang tampak rapuh namun keras kepala. Ia ingin bicara, ingin membantah bahwa Cassie bukan sekadar pelarian, tapi kenyataannya, bayangan Amanda memang masih menghantuinya. Ia pun berbalik dan meninggalkan dapur tanpa berkata apa-apa lagi.

​Malam itu, Cassie memasak dengan sangat tenang. Tidak ada lagi keceriaan saat Jino mencoba menggodanya di meja makan. Cassie hanya menjawab seperlunya, tersenyum sopan, dan segera kembali ke kamarnya begitu urusannya selesai.

​Di dalam kamar, ia menatap gantungan kunci kelinci itu lagi. "Tetaplah di tempatmu, Cassie," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan terbang terlalu tinggi jika kau belum siap jatuh."

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!